Welcome!

Selamat datang ke blognya Reza & Lukman!

Blog ini adalah kumpulan cerita kesehariannya Reza dan Lukman. Sejak Reza lahir, kemudian disusul adek Lukman, saya selalu ingin membuat dokumentasi tentang mereka. Ada saja yang saya ingin tulis: celoteh mereka, kelucuan mereka, kemajuan perkembangan mereka dan ‘petualangan’ kami sekeluarga. Kegiatan menulis menjadi cara saya untuk mendokumentasikan saat-saat yang menyenangkan. Saya memang agak-agak maniak dokumentasi, segala perkembangan Reza dan Lukman saya foto, mulai dari umur 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 2 bulan dan teruuss…  Dan saya menjaga kumpulan foto tersebut dengan sangat hati-hati.

Ketika ada teman yang menyarankan agar saya membuat blog, saya merasa sangat tertarik. Namun karena masih bekerja ide itu saya simpan dahulu. Kantor yang jauh dari rumah, kesempatan langka bermain bersama anak di saat weekend, membuat saya kurang punya waktu untuk merealisasikan blog tersebut. Sampai akhirnya Lukman di diagnosa autis, lalu saya berhenti bekerja.

Banyak hal yang berputar dipikiran saya ketika Lukman di diagnosa. Saking banyaknya, saya sering sekali tidak bisa langsung tidur dan terjaga cukup larut, karena memikirkan rencana, mengevaluasi hasil pertemuan dengan para terapis, atau karena mengingat kembali percakapan dengan teman yang juga orangtua anak autis. Sampai suatu malam saya terbangun, tidak bisa tidur, dan menulis apa yang ada didalam kepala. Ternyata, walau belum menemukan jalan keluarnya, saya mendapat rasa lega luar biasa karena apa yang berputar-putar dikepala sudah tertulis diatas kertas. Dan ini yang membuat – awalnya- saya menulis di blog.

Semakin lama, semakin banyak hal yang saya tuliskan di blog, utamanya perkembangan anak-anak. Dan ternyata ini juga sangat bermanfaat ketika saya bertemu lagi dengan para ahli untuk membicarakan mereka. Memori manusia memang terbatas, kadang kita lupa hal-hal yang penting, karena itu saya sengaja mencatat perkembangan Reza dan Lukman, sehingga punya catatan yang cukup lengkap, walau dimulai dari saat balita, ketika blog ini baru dibuat.

Dengan berjalannya waktu, ketika blog ini mulai dibaca oleh teman-teman baru – yang menemukan blog dari googling – saya membuat halaman khusus tentang Reza dan Lukman: Reza’s Story dan Lukman’s Story. Hal ini dipicu oleh makin banyaknya pembaca yang bertanya: “Lukman di diagnosa autis setelah melalui proses seperti apa?”. Karena itu saya buatlah Lukman’s Story, dan disusul Reza’s Story.

Ternyata dengan semakin bertambah banyaknya anak di diagnosa autis, semakin banyak juga pembaca yang berkunjung ke blog ini. Terutama dua tahun terakhir. Bisa dilihat pada komentar diberbagai post blog ini, yang dimulai dengan kalimat: “Kondisi anakku mirip Lukman…” atau kalimat “Anak saya masalahnya hampir sama dengan Lukman…” juga dari email-email yang masuk menanyakan tentang tempat terapi, penanganan sehari-hari, atau hanya mengucapkan terimakasih karena saya sudah berbagi cerita tentang Lukman. Tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya bahwa pengalaman kami mengasuh anak-anak akan menjadi cerita yang memberikan semangat, harapan dan kekuatan baru bagi orangtua lain. Namun itulah yang terjadi dan saya sangat bersyukur karenanya.

Semoga blog ini terus dapat memberikan manfaat baik kepada para pembacanya…

Salam🙂

40 thoughts on “Welcome!

  1. salam kenal rosa……
    secara kebetulan saya membuka blog anda…. sewaktu saya buka sekolah tetum, selama ini saya mencari-cari cerita pengalaman ibu yang di anugerahi anak istimewa… sungguh saya salut dengan ibu-ibu sperti ini, betapa tanggung jawab nya sangat berat tapi… saya percaya tentunya ibu adalah ibu pilihanNya yg mana semua masalah yg diberikan dipercayaNya ibu mampu.

    membaca blog ibu, seperti saya membuka lembaran memori saya sendiri, betapa beruntungnya reza n lukman, catatan perjalanan hidupnya di tulis rapi n lengkap yg nantinya bisa berguna utk mereka.

    saya juga punya 2 anak laki2, umur 19 n 14 thn, yg bisa saya share adalah, nikmatilah bu kebersamaan itu krn saya rasakan ah… begitu singkatnya sangat singkat moment dimana anak sangat ingin perhatian 100% dari kita itu. krn moment itu tdk bisa saya rasakan lagi. 2 anak saya sdh jauh di kota lain jadi hari2 cuma kami (n suami) berdua saja.

    • Terimakasih sudah mampir diblog ini, Ibu Pupus….
      Menjadi orangtua memang karunia terindah yang diberikan Allah SWT pada kami. Membesarkan anak memberikan pengalaman, kebahagiaan, kesenangan, kadang keharuan ber-ganti2 yang membuat kami makin menyadari kebesaranNya.
      Saya senang berbagi cerita tentang anak-anak kepada saudara dan teman, dan bersyukur punya tempat untuk menyalurkan kesenangan itu sekaligus menyimpan catatan tumbuh kembang anak2. Saya sadari memori manusia itu terbatas, dalam waktu beberapa tahun pasti sudah melupakan hal2 yang terjadi saat ini. Sedangkan memori itu tentunya sangat berharga, baik untuk saya sendiri, untuk anak2, bahkan dapat menjadi sarana berbagi dengan orangtua lainnya. Selain itu tanpa saya sangka dengan menulis disini saya mendapat kenalan2 baru yang memberikan inspirasi seperti ibu Pupus ini.
      Salam untuk keluarga ya bu😀

  2. Salam kenal,saya punya anak special jg,dani umur 6th,tp prilaku,bcr,pemikiran spt anak bwh 2th,sy pny fb dg nama mona mamanya dani,kl ibu pny fb tolong add sy,makasi

    • Salam kenal juga mama Keiko, senang bisa berbagi cerita dengan sesama ibu dan saya jadi lebih senang lagi kalau ternyata cerita itu bermanfaat untuk pembacanya🙂

  3. halo mba rosa, saya indah

    saya mampir ke blog ini sewaktu browsing tentang anak autis. saya curiga anak sulung saya juga mengalami PDD-NOS seperti halnya anak mba rosa. share mba di sini bermanfaat sekali untuk saya. dulu anak saya (sewaktu masih 2th) pernah diterapi selama setahun tapi sempat off dulu sekarang karena kami pindah kota dan dalam waiting list. Apa betul mba gejala PDD ini nampak jelas di anak usia 3 th ke atas? Bagaimana dengan anak mba dulu? Saye tertarik sekali untuk tahu ceritanya🙂

    kalau berkenan, boleh saya link ya mba blognya. TIA🙂

    • Hai mbak Indah, salam kenal🙂

      Cerita Lukman ada khusus halamannya di https://mamanya.wordpress.com/cerita-lukman/ disana saya cerita dg detail soal diagnosa dari awal mulanya. Kalau Lukman treatmentnya lebih mengikuti ke autis ringan, karena PDD Nos lebih luas range-nya dan bisa bingung kalau berpatokan pd terminologi itu jadi sayapun lebih mempelajari autis ringan karena makin lama makin tahu soal itu makin melihat kecocokannya dg kondisi Lukman.

      Pengamatan mbak Indah bagus sekali, saya sudah baca di blognya, dan list yg mbak buat utk Atar itu bakalan membantu saat nanti bertemu dengan para ahli nanti. Tetap cari info update dan tetap semangat ya mbak Indah…

      Tentu saja blog ini boleh di link, it’s an honour… semoga berguna ya mbak.

  4. aslm…mama rosa
    saya punya anak laki sekarang 30 bulan, tp sampe sekarang masih belum lancar bicaranya.baru bisa ngomong gajah (lancar banget nyebutnya), uuuk sambil garuk2 (monyet), mbeek (kambing), meong (kucing), auuum (singa dan harimau), mooo (sapi), jejes (kereta api), mbem (mobil), minyum(minum).ek (naik), ee (bab),dan (kalo ditanya sudah melakuka sesuatu), umi, bah (abahnya), nenek , nay (sepupunya) tapi sepupu yang lain ga bisa nyebut, dan kalo ditanya namanya belum bisa juga nyebutnya. saya khawatir banget ma, soalnya sepupu yang 1 bln lebih tua dr anak saya dah bisa ngomong dr umur 18bln dan sekarang lancar banget bicarany.
    dia senang banget nonton tv thomas, shaun the sheep, timmy, kalo udah nonton dipanggil cuek sekali, dia juga senang main bola, kadang sama saya, kadang ma abahnya,kadang sama anak tetangga.anak seperti ini apa harus dibawa ketempat terapi? katanya biayanya mahal ya ma? soalnya saya cuma ibu rumah tangga dan suami jual buku, boleh tau berapa biaya terapi waktu pertamakali lukman terapi dikancil dan tempat lainnya?
    kalo kata ibu sya ggp anak laki mmg agak lama bicaranya, nnt 3tahun juga lancar, tapi saya takut kalo anak saya belum lancar juga. mohon advisenya mama….makash banyak

  5. Waalaikumsalaam bu Latifona.

    Memang wajar kalau ibu kawatir karena anak umur 30 bulan belum lancar bicaranya, tapi sudah mulai ya ada kata yang cukup jelas diucapkan. Kondisi spt anak ibu memang sebaiknya dibawa pada ahlinya, karena darisana kita bisa tahu cara yang tepat utk mengatasi kendala bicaranya. Kemana dibawa? Saya sarankan ke klinik tumbuh kembang karena mereka sudah biasa menangani anak-anak yang terlambat bicara, dan bisa beri saran yang tepat. Tidak semua anak yang terlambat bicara harus terapi lho Bu, kadang cukup distimulasi dirumah, orangtuanya belajar cara-cara agar anak lebih mau bicara dan berkomunikasi dengan jelas, dan ini bisa membawa perkembangan lebih baik pada sang anak.

    Saya kutip lagi ya jawaban saya di Lukman’s Story, karena disitu ada seorang Ibu, lbu Surti namanya, yang juga concern dengan masalah biaya. Selain itu kalau Ibu Latifonna punya akun facebook, bisa bergabung dengan group LRD Member, dimana disana berkumpul para orangtua dengan anak berkebutuhan khusus yang bertukar info yang bermanfaat bagi perkembangan anaknya. Berikut ini jawaban saya pada Ibu Surti:

    Salah satu hal yang perlu disadari orangtua dengan anak berkebutuhan khusus bahwa pendidikan anak dirumah adalah yang terpenting dari berbagai usaha yang dilakukan. Terapi, ya tentu perlu, sekolah, apalagi. Tapi jika kita hanya melepaskan anak kita dengan usaha diluar, dan tidak mengupayakan mendidik dirumah agar anak mandiri, agar anak lebih mau bersosialisasi, tentunya hasilnya tidak akan optimal.

    Jadi jangan terlalu ‘patah hati’ dengan kondisi keuangan yang tidak memungkinkan mbak Surti membawa anak ke klinik untuk terapi. Banyak kenalan saya ibu-ibu hebat yang menerapi anaknya dirumah sendiri, baik karena alasan yang sama dengan mbak Surti, maupun karena memang tidak ada klinik dilingkungan tempat tinggalnya, dan mereka dapat membuat perkembangan anaknya menjadi lebih baik.

    Karena itu tetaplah semangat utk bertanya dan cari tahu cara penanganan bagi sang buah hati, kalau memang bisa ber internet, bergabunglah dengan komunitas2 pendukung anak berkebutuhan khusus, dan cari tahu dimana bisa mendapatkan bantuan, seperti ke Rumah Autis yang dapat memberikan beasiswa terapi (http://www.rumahautis.org) atau ke Yayasan Mpati yang memberikan buku-buku dan video gratis (http://autismindonesia.org/). Mungkin masih banyak lagi yayasan dan orang-orang berhati mulia yang tidak segan membantu siapapun yang membutuhkan.

  6. Salam kenal mbak rosa saya ingin ikut bergabung karena saya punya anak dengan ciri yang sama seperti Lukman… Nabil (2tahun 2bulan) tapi belum ada diagnosa setelah diperiksa ke dokter anak dan psikiater… Sekarang sedang menjalani terapi wicara baru 9 hari.. Sampai hari ini setiap baru datang di tempat terapi dia selalu menangis tapi ketika dijemput sudah tidak menangis lagi. Mohon masukannya ya mbak, apa dulu Lukman juga begitu..? Dan berapa lama?

    • Iya mbak tentu ada tahap penyesuaian. Bayangkan anak kita masih sangat muda umurnya, masih belum terbiasa pada orang asing, juga pada tempat asing. Tergantung sifat anaknya juga, ada yang mudah menyesuaikan, ada yang sulit dengan perubahan/situasi baru. Tapi kalau Nabil ketika dijemput sudah tdk menangis, berarti bisa diatasi oleh terapisnya. Apa Ibu tidak menunggui Nabil ketika di terapi?

  7. salam kenal mba. saya senang ternyata ada tmpt untk pengalaman tentang ank telat bicara.saya mau crt soal ank sy. Karna anak saya juga mengalami telat bicara. Skrng dia sudah berumur 5.8. Bln. Seingat saya perkembangan byan dr kecil sama dngn ank2 pada umumny. Tp krn sy n suami bekerja. Suami sering dinas luar mba. Byanny dirmh tinggal sama mbakny. Byan ankny g cengeng. Anteng maen sendiri. Jd saya pikir wajar. masalh telat bicara wkt umur 2-3 thn. Suami sdh suruh sy untuk cek kedr. tp krn biasalah orng tua n orng sekitar blng tidak perlu. Palingan cm telat aj. Mungkin krn dijmn orng tuakan tdk ada yg nmny penyakit autis yg bnyk terjadi pd ank jmn sekrng. Umur 3thn byan udh sy mskin PG. Dan panggil guru terapi untk byan. Tp berhubng suami diluar kt. Kdng sy nyusl suami. Jdny sklh n terapiny sering tinggal. Suami krn melihat g ad perkembangn dngn byan. Blom bs bicara. Mata tdk pernah fokus. Dipanggil g pernah liat. Kdng ada juga saatny dia mau. Byan dirmh mang dimanja sama ma2 n mbakny. Jd kyk apa yg dia mau. Kyk su2 dll. Sebelum dia minta tp udh disiapin. mungkin itu salah 1 penyebab dia berfikir tanpa perlu bicara dia udh disiapin kok. Krn suami dah ribut untk bw byan keDR. alangkah kagetny saya ketika dr memberi tahu byan kena autis. Saya n ma2 sampe nangis dengerny. krn kykny sy g percaya. Malah sy berfikir DRny asal ngmng aj. Ms br liat 1jam dong. Enk aja udh blng ank qt autis. Byan mo dikasi obt untk ank autis. Sy g mau. Krn tkt ntar sembarangan minum obt. krn sy menolak byan diblng autis. Tp setelah itu byan sy mskkan ketmpt terapi bicara. Ditmpt terapi jg diblng byan autis. Tp autis ringan. Setelah terapi byan sudh lumyan mau bicara. Walau msh berapa kt. masalhny msh difokus msh kurng smpe skrng. Dngn kontak mata. Tp sudah jauh lebih baik dr pd sebelumny. Sy pikir krn byan sdh mulai bs bicara walau sedikit. Akhirny sy mutuskan bwt kembali bekerja n pindah. Tmpt krj sy sama tempat terapi byan beda kota. Byan sy mskin PG setempt dngn didampingin shadow teacher. Byan pas pertama seklh dia sk minta keluar kelas. Mkny kepala sekolahnya minta byan pake shadow. jd biar dia maen diluar. te2p belajr dngn shadowny. Perkembngn byan sdh lumyn. Cm yg sy takutkan. byan sebentar lg 6thn. Bicara msh satu2. Ntr klw mo msk sd gmn,klw dia msh susah komunikasinya? Menurut mba rosa gmn? Apa byan sy terapikan lg, atw tetap lanjut dngan PG dia aj. Sy bersukur ada blog ini. Jd bs nanya2. Soalny sy bingung masalh autis ringan n telat bicara apakah sama atw gmn mba? tnx untk saling shareny mba. Sorry jd panjang bngt ceritany.

  8. Mbak salam kenal. Setelah sy baca histori lukman, kenapa mbak tidak kategorikan lukman anak normal tapi terlambat bicara. Krn skrg banyak sekali diagnosa tidak tepat yang dikeluarkan oleh dokter sekalipun.
    Saya pengalaman dengan anak sy terlambat bicara waktu usia 2,5 thn saya sempat menuduh anak sy autis krn perhatiannya kurang dan dipanggil tidak noleh. Untungnya sy ke
    Dokter tumbuh kembang yg tepat dimn dokter tidak gampang menjudge autis.
    Stl bisa bicara baru sy yakin anak sy bukan autis. Krn stl bicara perhatian dan konsentrasinya meningkat.
    Menurut mbak gimana ?
    Krn banyak sekali dengan mudahnya diagnosa autis padahhal normal. Krn terlambat paste perkembangan tidak bisa sama seperti seusianya. Menurut dokter pada titik trtentu akan sama .
    Bisa bicara usia 2 thn atau 4 thn pada umur 6 thn hasilnya akan sama saja

    • Salam kenal juga Christina, saya senang sekali mendapat message ini

      Kenapa saya yakin Lukman autis, bukan hanya terlambat bicara?

      Diagnosa autis bukanlah hanya tuduhan yang saya berikan pada Lukman. Diagnosa itu kami dapatkan dari Ibu Alzena Masykouri, psikolog yang berpengalaman menangani anak-anak berkebutuhan khusus, dan mengeluarkan diagnosa tersebut dengan acuan DSM-IV. Ketika itu kepala sekolahnya Lukman minta kami konsultasi pada beliau untuk mencari tahu penanganan yang tepat bagi Lukman.

      Meskipun begitu, ketika diagnosa itu diberikan, awalnya kami juga masih ragu-ragu. Seperti yang saya tuliskan pada Lukman’s Story: tidak semua karakteristik autis ada pada Lukman. Karena itu tidak heran, ketika kami mencari second opinion pada Prof. Hardiono diagnosa yang diberikan adalah PDD Nos. Namun baik saran dari Ibu Alzena maupun Prof Hardiono tentang apa yang harus kami lakukan untuk perkembangan Lukman kurang lebih sama, sehingga kami berpikir: tidak perlu memusingkan ‘judul’nya, yang penting kami teruskan intervensi dini agar perkembangan Lukman membaik.

      Ada satu momen dimana akhirnya saya menemukan kekhasan Lukman yang menunjukan ciri autistiknya. Dan pada momen itulah saya pada akhirnya betul-betul menerima bahwa memang Lukman itu autis, bukan hanya terlambat bicara, bukan juga PDD Nos. Christina bisa membacanya pada cerita Baju Hijau (https://mamanya.wordpress.com/2014/01/10/baju-hijau/) yang sudah saya posting di blog ini hari ini. Sejak saat itu, saya jadi lebih mempelajari tentang autisme, dan makin hari makin terlihat kecocokannya dengan diagnosa tersebut. Dari perkembangannya terbukti sampai di umurnya yang hampir 9 tahun ini Lukman memanglah autistik.

      Sampai sekarang, kami terus konsultasi dengan Ibu Alzena, karena beliau memang partner dari sekolahnya Lukman. Dari waktu ke waktu selalu ada pertemuan tiga pihak (kami, Ibu Alzena dan pihak sekolah) yang membahas berbagai hal yang berkaitan dengan perkembangan Lukman. Kami bersyukur mendapatkan kerjasama yang sangat baik dari team ini, sehingga Lukman mendapat penanganan yang optimal di sekolahnya.

      Terimakasih untuk messagenya, dan Christina benar sekali, banyak kesalahan diagnosa yang terjadi diluar sana. Karena itu orangtua harus hati-hati, jangan hanya menerima diagnosa dari dokter/ahli begitu saja. Pelajari baik-baik apa yang menjadi keistimewaan/keunikan anak kita dan selalu pertimbangkan baik-baik segala tindakan yang disarankan para ahli tersebut bagi anak kita.

  9. Salam mbak rosa,

    Mbak aku mau tanya gmn cara penanganan sehari2 dirumah, krn saat ini saya suka terkadang bingung hrs memulai seperti apa mengajak anak saya belajar n bermain, saat ini anak saya sdh mulai terapi sekitar 1 bln.

    Terima ksh mbak rosa sebelumnya ?

    Nita

    • Bisa cerita lebih banyak tentang anaknya mbak Nita? Umur berapa, diagnosanya apa, dan sekarang bagaimana kesehariannya?
      Kalau anak mbak Nita di diagnosa autis, ada banyak hal yang bisa dilakukan orangtua untuk membantu anak-anak dengan autisme mengatasi tantangan mereka. Mbak Nita bisa baca di artikel ini http://www.helpguide.org/mental/autism_help.htm

      Secara singkat, tips yang diberikan untuk orangtua anak autistik sbb:
      1. Pelajari tentang autisme. Semakin banyak Anda tahu tentang gangguan spektrum autisme, semakin siap Anda untuk membuat keputusan bagi anak Anda. Abda dapat mendidik diri sendiri tentang pilihan terapi, mengajukan pertanyaan, dan berpartisipasi dalam semua keputusan pengobatan .
      2. Menjadi seorang ahli pada anak Anda. Mencari tahu apa yang memicu perilaku ” buruk” atau mengganggu anak Anda dan apa yang memunculkan respons positif. Apa anak autis Anda sedang stres ? Tenang? Tidak nyaman ? Senang? Jika Anda memahami apa yang mempengaruhi anak Anda, Anda akan lebih bisa memecahkan permasalahan dan situasi sehingga dapat mencegah kesulitan .
      3. Terima anak Anda , kebiasaan2nya dan semuanya. Daripada berfokus pada bagaimana anak autis Anda berbeda dari anak-anak lain dan apa yang hilang dari dirinya, cobalah menerima. Nikmati kebiasaan khusus anak Anda, merayakan keberhasilan sekecil apapun, dan berhenti membandingkan anak Anda dengan orang lain. Merasa dicintai dan diterima tanpa syarat akan membantu anak Anda lebih dari apa pun.
      4. Jangan menyerah. Tidak mungkin untuk memprediksi jalannya gangguan spektrum autisme. Jangan melompat ke kesimpulan tentang apa hidup akan menjadi seperti untuk anak Anda. Seperti orang lain, orang dengan autisme memiliki waktu seumur hidup untuk tumbuh dan mengembangkan kemampuan mereka.

      Begitu mbak Nina, detilnya bisa dibaca pada artikel tersebut, semoga membantu ya…

  10. Sebelumnya terima ksh mama lukman sdh memberikan masukannya😉

    Anak saya skrng usianya 3 thn, sebelumnya waktu pertama usia 2,5 thn saya bawa ke Hermina dgn dokter tumbuh kembang anak, dokter Hermina tdk menyebutkan anak saya autis, itu msh Ada waktu u dilatih bicara dirmh klu tdk ikut terapi wicara, tapi saat ini saya berdomisili di Singapore mbak, jadi waktu itu saya hanya konsultasi aja n selanjutnya saya tdk ambil terapi krn waktu itu saya mau coba dirmh dilatihnya, mungkin krn saya keasyikan slalu dikasih gadget smp usia 2 thn lebih akhirnya anak saya sama sekali blm bs wicara sebelum kenal gadget anak sdh bs bilang mbak, teteh, tapi itu jg asal keluar kata2.
    Waktu di Singapore saya konsultasi dgn dokter anak bkn tumbuh kembang anak, saya bilang anak sy blm bs bicara smp sekarang waktu itu usianya blm 3 thn, dokter kasih private therapist, tapi Suami g mau ambil ktnya nanti jg bs sendiri, akhirnya saya waktu itu sdh tdk pernah lg bawa anak saya ke dokter tumbuh kembang anak.

    Baru saya bawa lg ke dokter tumbuh kembang anak waktu saya liburan ke Bandung kemarin bln maret saya konsultasi dgn dokter tumbuh kembang, iya sama dokter tdk bilang anak saya autis hanya menyarankan terapi perilaku n wicara. Akhirnya pas plng liburan saya bawa ke rs Singapore konsultasi dgn dokter tumbuh kembang anak Dan anak saya di diagnosa autis. Krn klu konsultasi disini itu mbak ortunya ditanya2 dl smp 6 Kali pertemuan dgn dokternya sekitar 6 bln, akhirnya saya ambil keputusan sendiri u ambil terapi sendiri, keseharian anak saya klu dirmh biasa mbak klu Ada teman main dia mau main tapi klu g Ada teman main, main dgn sendiri ya seperti lihat2 Mobil tapi yg di lihat rodanya, trus blm mau diajak bicara krn blm bs ngomong dua arah tapi sekarang sdh byk kosakata yg keluar krn dia senang main flash card.

    Trus semenjak terapi 1 bln skrng udah mau bilang bye2 sm orang walaupun msh cuek, mbak apakah Ada Kendala dgn dua bhs g yah? Krn kami dirmh menggunakan bhs indo sm English?

    Dan anak saya sblm terapi sdh sekolah playgroup 1 thn ini mbak.

    Apakah anak yg tdk Ada kontak mata n konsentrasi itu bs sembuh n bs bicara g mbak?

    Maaf ya mbak rosa saya jadi cerita panjang Lebar disini, sebelumnya terima ksh sekali atlas bantuan n sarannya.

    Salam

    • Sekarang di Singapore apakah ananda sekolah dengan berbahasa Inggris? kalau dirumah pun dengan dua bahasa, bisa saja ini bisa jadi kendala untuk perkembangan wicara ananda.

      Mengingat sudah terlihat perkembangan sesudah terapi, sebaiknya teruskan dengan konsisten ya mbak, dan banyaklah bertanya pd terapisnya untuk saran2 apa yang sebaiknya dilakukan untuk stimulasi dirumah.

      Soal kontak mata dan konsentrasi bisa diperbaiki dengan terapi juga mbak, dan lagi-lagi dengan dukungan stimulasi dirumah.

      Harus diingat, ananda ditempat terapi hanya beberapa menit, sedangkan selain itu sangat banyak waktunya dihabiskan dirumah. Jadi kalau ingin berhasil dan ingin mengefektifkan hasil terapi, harus didukung juga dengan stimulasi dirumah. Sekali lagi, harus banyak bertanya, biasanya para terapis pasti mau berbagi karena dengan stimulasi dirumah maka hasil terapi juga akan semakin optimal.

      Salam🙂

  11. Bunda lukman,sy terbantu skali dgn artikel soal perkembngan ananda lukman,kebtulan sy ibu dri anak cowo umur 2thn5bln…sy sdh bwa devan ke tempat terapi dan selama seminggu di lakukan observasi oleh psikolog dan hasilnya devan PDD NOS,devan blm bisa bicara kalo pun bcra msi bahasa planet blm bsa di mengerti,kurang kontak mata,crita soal lukman dgn baju hijaunya,prn sy alamai…devan pernah skali ke tmpt mainan anak2 devab naik mobil2 wrna putih dia senang skali,sbln kemudian sy ajak ketempat yg sma devan maunya naik mobil yg sma,awalnya sy pikir devan daya ingatnya kuat tpi setalah baca crita lukman sy jd berpikir lg….terus terang sy blm siap menerima kenyataan devan di blg autis berbagai ke kwatiran muncul di benak sy,bgmna devan kedepan….devan jg di sarankn untuk diet tepung dkk……
    Yg ingin sy tanyakn apakah anak seperti devan bisa tumbuh selayaknya anak normal lainnya walaupun punya kekurangan?
    Bagaimna untuk terapi devan di rmh apa sj yg hrs sy lakukan,selain terapi di klinik?
    Trimakasi bunda lukman atas sharingnya….

    • Hai bunda Devan,

      Syukurlah Devan sudah mulai di terapi ya, semoga dengan sudah mulai terapi yang konsisten di usia yang masih kecil Devan dapat berkembang lebih baik.

      Saya tidak bisa menjawab pertanyaan bunda apakah Devan bisa tumbuh selayaknya anak normal. Bahkan untuk anak normalpun, kita tidak bisa meramalkan seperti apakah nanti jadinya anak kita. Yang terpenting menurut saya, dan yang saya terapkan pada Lukman: mengenali siapa anak kita, apa yang dibutuhkannya, apa yang bisa dilakukannya dan secara konsisten mendidik dan mengasuh agar ia berkembang lebih baik.

      Tentang apa yang perlu dilakukan dirumah, bunda bisa tanyakan pada terapis apa yang menjadi target program mereka, dan bunda bantu secara bermain dirumah. Maksud saya, tidak perlu meniru bagaimana terapi dilakukan di tempat terapi, namun lakukan dengan kegiatan sehari-hari. Begitu juga dengan bahasa planetnya, stimulasi agar ia mau meniru mengucapkan nama benda, dan beri pujian, tepuk tangan jika ia mulai mau menirukan.

      Salam manis untuk Devan…

  12. Makasi sarannya bunda,maaf sy brtanya lg dulu lukman sempat diet tepung+susu dll ga?kalo iya brpa lama,sy msi kebingungn mknan+mnm+buah apa yg boleh dan tdk untuk anak brkebutuhan khusus,mksi sblmnya

    • Lukman tidak diet bunda, tapi Lukman tidak minum susu, dan mengkonsumsi makanan sehat: tidak makan/minum yang kemasan, tidak makan yg ber-msg, tidak makan yg berpengawet/pewarna, sebisa mungkin makan/minum yg segar/fresh.

      Memang saya mendengar banyak pengakuan teman2 yang anaknya diet dan menunjukkan perkembangannya semakin membaik.

      Kalau bunda Devan punya facebook, saya sarankan bergabung di group LRD Member, disitu bukan hanya berkumpul para ortu anak berkebutuhan khusus, tapi juga terapis, dokter dan ahli lainnya. Disana banyak teman yang menerapkan diet untuk anak2nya, banyak resep2 yang dishare, bunda bisa bertanya segala sesuatunya ttg ananda, bahkan curhat disitu🙂

  13. Salam kenal bun,
    saya seorang ibu muda memilki anak laki2 19 bulan. Melihat blog ini sy mulai khawatir dgn kondisi anak sy, krn smpai saat ini Kiel blm bs bicara ia masih babling saja, kalau d panggil susah tengoknya, bahkan dy blm mngenali nmnya sndiri, blm bs blng mama jg, dy hnya merespon jika kami sebut nm boneka kesayangannya, senang sekali nonton belanja lewat tv ky lejel Home shoping gitu, trus menghindar main dgn teman seumurannya tp saat k rmh neneknya ketemu kponakan sy yg 5 thn dy senang sekali saat d ajak main. Smoga Kiel hnya spechdelay sj krna kbnyakan nonton tv n jarang sekali keluar rmh. Krna Kiel senang sekali jika di sapa melihat muka si penyapa dy lngsung senyum2 tersipu,udh gitu dy senang sekali d ajak main cilukba smpai tertawa cekikikan, udh gitu dy mudah sekali digendong sm org dewasa, udh gitu dy senang sekali d peluk. Jd kesimpulannya Kiel blm bs bcra apapun,apatis mendekati takut terhadap anak seumurannya,dan susah sekali menengok saat d panggil. Jadi menurut bunda sm tidak kondisi Kiel dgn lukman? kalau beda kondisi mn yg membedakannya?
    maaf ya bunda jadi panjang bgini ceritanya. Trims ya bun

    • Salam kenal juga🙂
      Saya rasa bundanya Kiel sudah tahu jawabannya dari kalimat ini:
      “Smoga Kiel hnya spechdelay sj krna kbnyakan nonton tv n jarang sekali keluar rmh”
      Kalau boleh saya perlu tekankan lagi pentingnya pengasuhan sehari-hari untuk tumbuh kembang anak kita, dimana mereka belajar dari apa yang dilakukan dan dialami sehari-hari. Kalau kurang stimulasi, kurang dipancing kemampuannya, tidak heran kalau tidak ada perkembangan🙂

  14. Salam Kenal Bunda…
    Saat saya sedang mencari klinik terapi wicara secara tidak sengaja saya membaca blog anda. Terus terang saat ini saya sedang bingung bun. Anak saya umurnya 2.5 thn, dan sampai saat ini anak saya belum bisa bicara hanya babling saja seperti mamamam papapa saja dan kurang fokus (jika dipanggil semaunya saja kadang nengok kadang tidak). Saya sudah periksakan ke dokter dan diagnosanya telat bicara sehingga kami hanya dikasih untuk menjalani terapi wicara dan sensori integrasi.
    Saya sudah cari info untuk klinik tumbuh kembang yang melayani terapi tersebut, dan wow biayanya cukup mahal. Saya dan suami akhirnya memutuskan akan menyekolahkan saja anak kami mengingat kurangnya sosialisasi teman sebaya untuk anak kami. Yaa kami harap dengan adanya anak yg sebaya bisa merangsang bicaranya.
    Menurut bunda, langkah yang kami ambil bagaimana ya ? jika memang harus terapi saya minta info tempat terapi yang murah bun…
    Terima kasih ya bun saya sudah boleh sharing…

    • Saya tetap sarankan ke klinik tumbuh kembang untuk mendptkan saran yg tepat. Setidaknya bertemu dg ahli disana, lalu kemukakan masalah biaya tsb, sehingga bisa didapatkan saran2 agar ibu dpt melatih sendiri ananda dirumah.

  15. uniiiiii ocaaaa..
    ini mila, temen ka yunus dulu di Mitsui..
    masih inget kah?
    anak ke dua mila, ara, didiagnosa autis ringan..
    hiks.. berattttt ya ni..
    teh uli/orang mitsui juga, bilang ka yunus anaknya yg kedua juga sama dulunya,
    tapi sekarang udah kerennn deh..

    makanya.. mila semangattt.. bismillah..
    baca blog uni ini, bikin semangattttt..
    semoga ara juga bisa jadi sepintar lukman yaa..

    makasiii blognya, sharing seperti ini bikin orang lain semangat..
    hebat!!!

  16. Salam kenal mamanya Lukman, anak saya Fatih 3,4 tahun. Saat ini speech delay.. Sudah dibawa ke DSA cuma dokter hanya mendiagnosis fatih speech delay kemungkinan karena ada virus cmv. Dari bayi selalu dirumah, dilingkungan sepi, sangat jarang bertemu anak2 lain dan orang baru. Jujur saya masih ragu, takut. Karena Fatih social awarenessnya kurang sekali. Usia 3,4 tahun tetapi dr segi sosial emosional sosial masih seperti anak 2 tahun bahkan kurang. Jika ada keinginan harus dituruti, belum bisa menerima penjelasan. Belum bisa identifikasi diri sendiri. Sudah masuk PG, sangat suka kegiatan outdoor..tetapi dengan temannya seperti tidak ‘klik’. Sekedar ikut2 saja kejar2an, main puzzle bareng tetapi tanpa komunikasi. Kadang asyik sendiri. Dipanggil teman atau guru cuek, tetapi jika dipanggil oleh saya, atau orang yg sudah terbiasa Fatih gampang nengok, ada kontak mata dan sudah mengerti instruksi. Dirumah suka bercanda, bahkan ngerjain saya. Problem solving ada, komunikasi 2 arah ada, kadang suka cerita kalo habis jatuh, sakit, n nunjukin tempat dia jatuh walau dng bahasa isyarat. Suka minta jajan, katanya minta, trus bilang duit, bisa takut kalo ada adegan kartun yg sedikit seram, komen ‘lucu’ jika ada sesuatu yg buat dia tertawa. Tetapi yg saya risaukan, fatih tidak aware dengan orang lain dengan lingkungan sekitar. di rumah cenderung hanya enjoy main dengan kakak n teman2 kakaknya. Tidak mau main dengan yg lebih kecil atau sebaya. Apakah ada kesamaan dengan Lukman? Terimakasih sebelumnya Mama Lukman

  17. Salam kenal bu
    Saya orang tua dari fawwaz nur sekarang umur 4 tahun, awalnya saat umur 3 tahun anak saya bawa ke klinik tumbuh kembang, dan didiagnosa spech delay, pernah di terapi ,tapi lama kelamaan saya curiga, sepertinya ada masalah di telinga, karena setiap sakit flu, malemnya selalu nangis, dan setelah dicek ternyata ada penyumbatan di gendang telinga, sudah satu tahun ini kami fokus untuk menghilangkan sumbatan tersebut, dan alhamdulilah pendengaranya sudah mulai normal. kalau dari ciri keluhan . anak saya mirip dengan lukman, kira kira kalau baru mulai terapi saat umur 4 tahun apakah terlambat.

    Terima kasih atas ilmunya bu

    • Salam kenal juga🙂
      Syukurlah problem telinga ananda sudah diatasi ya bu, berarti kedepannya siap berlari mengejar ketinggalan speech delaynya.
      Saran saya terus konsul ke klinik tumbuh kembang bu, jika konsisten ikuti terapi, selalu distimulasi dirumah, tidak ada kata terlambat, bu…
      Minta saran dari terapisnya apa yang perlu dilalukan dirumah, dan jalankan dengan sebaik mungkin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s