Tidak semua orang lahir dengan pena di tangannya. Saya justru sebaliknya. Menulis dulu terasa seperti hukuman sekolah yang ingin saya hindari selamanya. Sampai dua bocah kecil datang membawa keajaiban: Reza dan Lukman. Sejak itu, kata-kata tak lagi sekadar tulisan; mereka berubah jadi cara saya menyimpan tawa, pertanyaan aneh, bahkan air mata yang hadir di perjalanan …
Continue reading Dari Email ke Blog: Reza, Lukman, dan Cerita-Cerita yang Menemukan Jalannya