Lukman’s Story

img_0042-copy

Setelah membaca tulisan-tulisan di blog ini, umumnya pembaca bertanya kepada saya: Lukman di diagnosa autis setelah melalui proses seperti apa? Karena jawabannya akan panjang sekali, saya membuat halaman khusus ini untuk menceritakan kembali prosesnya, semoga cerita ini bermanfaat…

Perkembangan Lukman

Perkembangan Lukman dari bayi (lahir 14 Maret 2005 dengan berat 3,3 kg panjang 50 cm) cukup baik. Lukman melewati semua tahap perkembangan fisik dengan baik. Lukman melewati tahapan berguling, telungkup, merangkak, dan Lukman mulai berjalan pada umur 11 bulan. Motorik halus maupun kasarnya cukup baik. Karena saat itu saya masih bekerja dari hari Senin s/d Jumat, sehari-hari Lukman diasuh babysitter. Kami mulai sadari kurang bicaranya Lukman saat umurnya 1.5 tahun. Saya berlangganan buletin babycenter, dimana tiap bulan saya dikirimi info tahapan perkembangan anak, jadi saya bisa mengukur apakah perkembangan Lukman sudah sewajarnya atau ada hal-hal yang perlu diwaspadai. Dari buletin itu saya memang dapat menilai bahwa Lukman agak terlambat kemampuan bahasanya. Ada sih babbling, ada mengeluarkan suara-suara, tapi memang Lukman cenderung lebih pendiam dibandingkan kakak Reza. Saat diayun-ayun semasa masih bayi, biasanya kalau Reza sudah ketawa cekikikan, kalau Lukman hanya nyengir lebaaar banget dan tidak bersuara.

Karena berpikir tiap anak berbeda karakternya, dan karena selain masalah bahasa itu Lukman perkembangannya normal kami masih tenang saja. Walaupun begitu saya mulai tanya-tanya kepada beberapa teman yang berprofesi psikolog dan mereka mengatakan untuk melihat saja dulu perkembangan bicaranya Lukman sampai sekitar 2 tahun. Nah karena sampai HUT kedua Lukman masih belum banyak perkembangan bicaranya, saya mulai lebih intensif mencari info tentang perkembangan wicara, dan setelah pilah-pilih akhirnya membawa Lukman ke salah satu klinik tumbuh kembang tahun di tahun 2007.

Pemeriksaan Klinik Pertama: Mei 2007 (Umur 2 tahun 2 bulan)

Saat itu Lukman diobservasi oleh 2 orang sekaligus: dokter spesialis neurologi anak dan seorang psikolog. Setelah observasi (Lukman main sendiri, Lukman ditanya, Lukman disuruh main puzzle) dan juga menginterview kami berdua, kesimpulan mereka Lukman tidak ada kelainan: intelegensi normal, motorik bagus, tapi terlambat bicara (speech delayed) sepertinya Lukman kurang distimulasi untuk bicaranya. Kami juga ditanyai tentang kakak Reza, dan mereka kami beritahu kalau kakaknya justru kemampuan bicaranya justru diatas rata-rata anak seusianya. Menurut mereka, kemampuan bicara itu memang ada yang modalnya sudah lebih sehingga dengan sedikit stimulasi bisa berkembang dengan baik. Tapi ada juga anak yang modalnya kurang dan perlu banyak stimulasi untuk bisa berkembang kemampuan bicaranya dengan baik. Kemudian bu dokter berikan resep racikan vitamin utk perkembangan otaknya dan kami diminta untuk mulai terapi utk Lukman: terapi wicara dan terapi okupasi. Untuk rencana kami memasukkan Lukman ke playgroup disemester ganjil 2007 tidak didukung oleh mereka karena dikawatirkan Lukman malah frustasi, sehubungan dengan belum bisa bicaranya itu.

Untuk resep racikan akhirnya kami putuskan tidak diberikan kepada Lukman. Sedangkan untuk terapi, kami langsung daftarkan Lukman ikut terapi di klinik tersebut. Periode awal terapi ini berat sekali utk kami, karena kami sangat concern dengan ‘happy atau tidak’nya Lukman ditempat terapi. Kami sangat melindungi Lukman, jangan sampai dia trauma dan malahan jadi tidak mau terapi sama sekali. Beberapa kali terapi tidak berjalan sukses, apakah itu karena Lukman mengantuk karena tidak tidur siang, atau karena terapis yang modelnya ‘keras’ sehingga jangankan mau belajar Lukman malahan menangis kencang.

Pertama kali melihat Lukman diterapi, saya sampai tidak bisa tidur malamnya, karena merasa kasihan sekali, anak umur 2 th 3 bulan dipaksa duduk manis, dan diminta menirukan kata-kata yg diucapkan dengan suara keras oleh terapisnya. Terus terang walaupun terapisnya sudah sangat berpengalaman, saya tidak setuju dengan cara ini, dan saya pikir mustinya terapis untuk anak sekecil itu modelnya seperti guru playgroup dan guru TK, bisa membujuk anak ‘belajar’ tanpa anak harus menangis karena dipaksa. Apalagi waktu di klinik tersebut setelah 2 kali terapi ortu dilarang ikut masuk kedalam ruang terapi, karena takut anaknya jadi tidak konsentrasi kalau ortunya didalam ruangan. Saya jadi mempertanyakan benarkah keputusan kami untuk mengikutkan Lukman terapi di klinik dengan cara seperti itu, karena kami tidak punya pengalaman sebelumnya.

Untungnya Lukman dipegang oleh 2 orang terapis di klinik tsb. Yang pertama terapis senior spt yg saya ceritakan diatas, dan yg kedua terapis yang junior, baru beberapa bulan lulus sekolah untuk terapis wicara. Namun saya lebih sreg dengan terapis junior tersebut, karena pembawaannya riang, berusaha mengajak Lukman mau dengan senyum manis dan gaya bahasa yang menarik. Contohnya, agar Lukman mau memperhatikan mainan jeruk yang dipegangnya, ia berkata: “Wah ada buah jeruk, gimana rasanya ya? nyem nyem nyem… Asem!!” actingnya memakan jeruk dan berseru asem itu membuat Lukman senyum, dan mau memandang mata sang terapis. Setelah Lukman memperhatikannya, barulah sang terapis mengucap: “Buah apa ini Lukman? Jeruk, coba bilang jeee ruuuk”. Lukmanpun berusaha menirukannya. Selain menarik, terapis ini pun tidak mengharuskan Lukman duduk manis sepanjang terapi. Kemana Lukman pergi ia ikuti, dan dengan tidak dipaksakan duduk manis Lukmanpun jarang menangis. Karena lebih sreg dengan terapis junior ini, akhirnya saya minta pada pihak klinik untuk menjadwalkan kedua kedatangan Lukman tiap minggu dengan terapis junior, dan menghentikan sessi dengan terapis senior.

Selain terus dengan sang terapis junior, saya mulai cari-cari terapis yang bisa datang kerumah. Saat Lukman baru mulai terapi, 2 kali seminggu, hari Rabu dan hari Jumat (karena jadwal di klinik tersebut sangat penuh) saya terpaksa ijin dari kantor untuk hanya masuk setengah hari. Hal ini karena saya sendiri yang mengantar dan menunggui Lukman di klinik. Syukurlah atasan saya waktu itu dapat memahami pentingnya tindakan untuk Lukman, dan memberikan ijin dengan catatan pekerjaan tidak boleh ada yang tertunda karenanya. Dari kantor kerumah makan waktu perjalanan 1 jam 15 menit. Dari rumah ke klinik 1 jam, dan pulangnya kami singgah dulu ke Blok M, untuk bertemu Papanya Lukman dan pulang bersama saat sudah cukup malam.

Saya pikir kalau kami bisa mendapat terapis yang datang kerumah Lukman tidak capek mundar-mandir ke klinik, tidak terganggu jadwal makan dan istirahatnya, dan bisa lebih nyaman karena dirumah sendiri. Akhirnya sesudah 1,5 bulan terapi diklinik itu kami bertemu dengan Ibu Yanti dan rekannya, yang bisa memberikan terapi dirumah. Syukurlah kedua orang terapis ini (bergantian hari Senin dan Jumat) tipe pengajar yang sabar sekali , mengajari Lukman dengan tahapan yang nyaman baginya, dan tidak perhitungan dengan waktu terapi. Walaupun satu session hitungannya 1 jam, asalkan Lukman masih mau terus ya mereka teruskan, bisa sampai 1,5 jam.

Terapi wicara dirumah

Kata Pertama

Setelah 3 minggu diterapi dirumah, tanggal 20 Juli 2007  pada umur 2 tahun 3 bulan Lukman bisa bilang “Mama” utk pertama kalinya😀. Hari itu saya dan suami bisa cepat pulang ke rumah, sekitar jam 18.00 sudah sampai. Terapisnya Ibu Yanti, masih dikamar belajar, walaupun sudah selesai belajar masih menulis dibuku laporannya. Waktu kita masuk kekamar itu, Lukman sedang asik main peluit, jadi tidak sadar kita masuk kamar. Ibu Yanti-nya bertanya pada Lukman: “Wah siapa tuh yang sudah pulang, Lukman?” Begitu lihat saya, Lukman langsung ngomong “Mama!” Waaah saya senengnya minta ampun.

Sejak saat itu mulai cukup banyak kemajuan bicaranya Lukman. Lukman sudah bisa bilang Papa, Mama, kakak Eza, dan nama semua anggota keluarga dirumah. Untuk bilang Papa, Lukman awalnya bilang Ha Ha, krn utk Lukman sulit sekali mengucap P, B, dan M tapi sejak awal tahun 2008 sudah bisa bilang Papa. Lukman sudah kenal dan ucapkan nama-nama binatang, bentuk geometris (hati, bintang, bulat) juga sudah bisa komentar “mmm, enak” “makasi” “misiii” (permisi) atau “bagus”. Lukman sudah bisa menghitung 1-10 walaupun pengucapannya belum sempurna, tapi sudah kenal angka-angka. Dan karena sering nonton vcd seri Barney, seri Brainy Baby, atau seri First Impression, Lukman juga bisa hitung 1-10 dlm bhs Inggris. Kalau nonton vcd lagu anak-anak, Lukman ikutan menari, meloncat-loncat.

Melihat perkembangannya itu saya dan suami mantap mau masukkan Lukman ke playgroup di Sekolah Tetum pada awal Maret 2008 (saat berumur 3 tahun). Kakak Lukman, Reza, bersekolah playgroup dan TK disana. Kami sangat senang dengan metode pengajarannya, dan hasilnya memang Reza jadi anak yang mandiri dan bakatnya bisa terungkap saat bersekolah disana. Sebelum masuk sekolah, kami sudah jelaskan kesulitan komunikasinya Lukman kepada pendiri Sekolah Tetum, dan beliau tetap mau menerima Lukman menjadi muridnya, bahkan seterusnya sangat mendukung dengan selalu memberikan informasi perkembangan Lukman di sekolah dan juga memberikan masukan kepada kami.

Pemeriksaan Psikolog 26 April 2008 (Umur 3 tahun 1 bulan)

Setelah sebulan Lukman sekolah di playgroup Sekolah Tetum kami diminta memeriksakan Lukman kembali ke psikolog, untuk rekomendasi bagaimana melakukan treatment pendidikan terbaik untuk Lukman. Kami bawa Lukman ke sebuah klinik tumbuh kembang, untuk bertemu psikolog yang menjadi konsultan untuk Sekolah Tetum. Saat itu pertamanya saya dan suami berbincang-bincang dulu sekitar 30 menit, tidak terlalu lama karena saya sudah email cerita perkembangannya Lukman. Jadi sang psikolog cuma menambahkan beberapa pertanyaan utk melengkapi info yang sudah kami tulis di form pasien, seperti penyakit yang pernah diderita Lukman, kebiasaan makannya sekarang, bagaimana Lukman bermain dirumah, dan apa kesulitan yg dihadapi disekolah. Kemudian sang psikolog ajak Lukman (berdua saja) masuk keruangan lain. Lukman pede saja masuk kesana, mungkin senang dengan situasi ruangan klinik tersebut sehingga tdk ragu masuk berdua saja dengan orang yang baru dikenalnya. Kami menunggu diluar, sekitar 30 menit lamanya. Setelah keluar dari ruangan itu sang psikolog bicara lagi dg kami, menceritakan apa yang dilakukan Lukman diruangan lain tersebut.

Saat baru masuk Lukman berkeliling, explore ruangan itu. Berbagai macam isi didalam ruangan diperhatikan, sampai Lukman melihat ada bak pasir. Langsung Lukman bermain pasir, tuang dari satu tempat ke tempat lain, asyik sekali. Saat sang psikolog coba memanggil, Lukman tidak menengok. Demikian juga saat dicoba diganggu, tidak ada respon, untuk melihat siapa sih yang mengganggu. Kalaupun Lukman menengok, yang dilihatnya ‘apa yg mengganggu’ bukannya ‘siapa yang mengganggu’. Saat sang psikolog menggosokkan pasir ke tangannya, Lukman cuma melihat ketangan sang psikolog, dan meneruskan mainnya lagi. Lukman tidak berusaha menghilangkan pasir yg menempel ditangannya itu.

Sudah selesai main pasir, Lukman diajak cuci tangan di keran. Awalnya air terasa dingin, kemudian berubah menjadi hangat. Pada saat suhu airnya berubah, Lukman tidak kelihatan berreaksi. Habis cuci tangan, Lukman diajak menggambar, menggunakan white board. Tapi saat melihat kaleng tempat spidol, Lukman ambil kaleng itu dan kembali ke bak pasir, main pasir lagi. Bisa dibilang selama 30 menit itu tidak ada kontak mata Lukman dengan sang psikolog. Kalaupun ada cuma sebentar, satu kali, dan itupun sekilas saja. Dan saat main pasir, mukanya tekun, serius, tidak terlihat perasaan senang, hanya serius. Ada kecenderungan untuk mengulang-ulang yang dilakukan, tidak keluar suara sedikitpun, hanya sekali bilang “Ah”.

Semua ini membuat sang psikolog mengambil kesimpulan bahwa Lukman termasuk anak dengan autisme ringan. Saya sendiri tidak terlalu kaget, karena kecurigaan kearah situ selalu ada. Tapi karena banyak kriteria anak autis yg tidak cocok utk Lukman, contohnya: anak autis sering tantrum sedangkan Lukman tdk begitu, anak autis menghindar kalau dipeluk kalau Lukman malahan suka meluk/dipeluk, anak autis tidak ada kontak mata sedangkan Lukman menurut saya cukup kontak matanya, anak autis suka berputer-puter/flapping sedangkan Lukman tidak begitu, jadi saya pikir bukan autis penyebab Lukman belum bicara. Kalau suami saya memang cukup shock, mungkin salah saya juga karena tidak pernah sharing soal kecurigaan kearah autis, namun syukurnya suami saya tipe yang sangat care dengan anak-anaknya, apapun yang harus dijalankan apabila itu yang terbaik untuk mereka pasti didukungnya, 100%. Suami saya selalu mendukung baik secara moril maupun financial. Ini yang saya sangat syukuri, jadi kami bisa langsung melakukan apa yang terbaik untuk Lukman, tanpa harus beradu argumentasi.

Karena itu kami tanyakan ke sang psikolog apa yg baiknya dilakukan untuk Lukman seterusnya? Sang psikolog menganjurkan tetap lanjutkan terapi wicara, karena sudah kelihatan hasilnya positif. Selain itu Lukman dianjurkan juga untuk terapi sensori intergrasi (SI). Karena kami bisa menerima penjelasannya, langsung kami daftarkan Lukman utk ikuti terapi SI di klinik Kancil tersebut. Selain itu sang psikolog juga menganjurkan agar kami lebih banyak memberi stimulasi dirumah. Kami harus sangat memperhatikan cara pengasuhan sehari-hari karena akan sangat mempengaruhi keberhasilan dari terapi-terapi tersebut. Saat mendengar rencana saya yang akan berhenti bekerja, sang psikolog kelihatan sangat lega, karena sebetulnya beliau ingin menyarankan hal tersebut. Saat itu memang perusahaan tempat saya bekerja akan diambil alih kepemilikannya oleh investor baru, dan semua karyawan memang akan di PHK oleh owner lama dan kemudian dipekerjakan kembali oleh owner baru. Karena adanya perkembangan Lukman seperti ini, saya sudah berniat akan berhenti kerja, tidak lanjut melamar kembali kepada owner baru.

Pertanyaan kami yang lain adalah mengenai diet. Sering kami mendengar bahwa anak autis perlu menjalani diet CFGF, dan bahkan ada yang perlu makan obat rutin. Sang psikolog menjelaskan bahwa umumnya anak autis yang perlu menjalani pengobatan dan juga diet adalah anak autis yang hiperaktif, yang selalu bergerak, sehingga perlu penenang atau menghindari makanan/minuman yang menimbulkan hiperaktifitasnya itu. Sedangkan Lukman malah cenderung pasif, sehingga tidak menjalani diet maupun makan obat.

Terapi SI Pertama

Hari Sabtu tanggal 3 Mei 2008, Lukman mulai terapi SI-nya. Karena baru pertama ketemu dg terapisnya, ibu itu bilang mau observasi Lukman dulu, jadi Lukman masuk ruangan terapi tanpa kita temani. Lagi-lagi Lukman pede banget, masuk ruangan tanpa ditemani Papa/Mamanya dengan terapis yg baru dikenal tidak masalah untuknya. Setengah jam di observasi, kita kemudian dipanggil terapisnya tersebut, dan diinterview. Dia tanyakan, apa sih sebetulnya keluhan untuk Lukman. Saya katakan keluhannya adalah komunikasinya yg masih kurang sekali. Walaupun sudah setahun terapi wicara, dan sudah banyak kosakatanya, Lukman masih ‘cuek’ kalau dipanggil, masih tidak menjawab kalau ditanya. Ibu terapis itu kemudian bicarakan hasil observasinya. Menurutnya kontak mata Lukman ada, walaupun mudah beralih. Lukman pandai menirukan, dan menurut terapis itu kemampuan ini aset utk perkembangan bahasanya. Pendengaran Lukman cukup baik.  Walaupun atensinya kurang, konsentrasinya bagus, jadi Lukman mau dan bisa menyelesaikan semua tugas yang diberikan sampai selesai. Motorik halus dan kasarnya baik. Yang kurang adalah perencanaan gerak, sehingga sepertinya Lukman kurang tahu resiko gerakannya (misalnya kalau melangkah kearah situ Lukman bisa jatuh, dsb). Jadi menurut ibu terapis Lukman tidak seperti anak autistik. Hanya ada gangguan komunikasi, dan kalau lihat dari observasi pertamanya ini mudah-mudahan cepat dapat diatasi.

Saat itu kami cukup lega mendengar kesimpulannya ini. Pendapat terapis di klinik Kancil tersebut sesuai dengan pendapat ibu Yanti terapis wicaranya Lukman dirumah. Ibu Yanti juga bekerja diklinik tumbuh kembang dimana banyak kliennya anak autistik. Beliau ini pun katakan Lukman hanya speech delay, terlambat bicara saja. Apalagi saat kami bicara dg bu Yanti, Lukman manja-manja sama Papanya. Pegang-pegang jenggot, memeluk, pokoknya manja-manja banget. Ibu Yanti sampai bilang, “Anak autis nggak bisa seperti itu lho Bu, manja-manja begitu tidak ada dikamusnya anak autis”. Walaupun begitu, kami kemudian terus mencari tahu tentang autisme, mengikuti seminar-seminar tentang itu, dan banyak sharing dengan orangtua dari anak autistik.

Kami bahkan sempat mencari second opinion, dengan konsultasi ke Dr. Hardiono Pusponegoro SpAK, seorang dokter ahli syaraf anak yang sangat dikenal sebagai salah satu pakar autisme di Indonesia. Lihat posting Lukman ke Dr. Hardiono. Beliau ini mengatakan Lukman bukan autis melainkan PDD NOS (Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified). Namun apa yang telah kami lakukan untuk Lukman beliau katakan sudah tepat: terus di stimulasi dirumah, terapi wicara, terapi SI, dan belajar bersosialisasi disekolah. Setelah itu kami tidak mau berlama-lama bingung dengan apa ‘label’nya kekhususan Lukman, mau autis kah, mau PDD NOS kah, yang penting treatment yang dianjurkan kedua ahli sama saja. Jadi kami teruskan terapi-terapi itu, dan tetap menstimulasi Lukman dirumah.

Setelah Berhenti Bekerja & Kesimpulan Mengenai Autisme

Saya mulai berhenti bekerja pada bulan September 2008. Rasanya lega bisa meninggalkan pekerjaan pada saat yang tepat, dan memulai kebiasaan-kebiasaan baru dirumah. Kebetulan saat itu habis lebaran, dan babysitter yang biasa mengurus anak-anak setelah mudik berlebaran saya minta untuk mencari pekerjaan ditempat lain saja, karena mulai saat itu saya yang akan mengurus sendiri anak-anak. Dengan begitu, saya bisa mengajak main Lukman setiap hari, mengajarkan hal-hal baru sambil bermain, dan lebih mendisiplinkan kebiasaan-kebiasaan anak-anak sehari-hari dan bisa sepuasnya memanfaatkan waktu untuk mempelajari tentang tentang autisme.

Semakin lama belajar, semakin saya mengerti bahwa memang tidak mudah untuk menegakkan diagnosa autis. Ada berbagai kriteria seperti: keterlambatan/abnormalitas pada ketrampilan berkomunikasi, bersosialisasi, dan berimajinasi. Kemudian ada daftar yg disebut criteria DSM IV. Tentunya yang dapat memberikan diagnosa memang harus ahli dalam bidang ini. Sulitnya autis itu sangat bervariasi gejalanya pada masing-masing anak. Ada yg sangat parah: memang asik dengan dunianya sendiri, tidak bicara sama sekali, tidak mau menatap mata orang lain, seperti tidak butuh dunia luar. Tapi ada juga yang high functioning: bisa berkomunikasi, mampu mengurus diri sendiri, bahkan sampai bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Terus terang makan waktu yang cukup lama sebelum saya yakin bahwa Lukman itu autis, bukan hanya terganggu kemampuan komunikasinya. Keyakinan itu saya dapatkan karena selalu mencari tahu dengan membaca berbagai buku, mengikuti berbagai workshop/seminar, sharing dengan banyak narasumber, dan juga mengalami hal-hal yang menunjukkan kecocokan perilaku Lukman dg perilaku anak autis.

Saya bersyukur sepanjang perjalanan itu hingga sekarang saya mendapat banyak dukungan, baik support dari suami, keluarga, terapis, sekolah, juga teman-teman, bahkan dari para pakar dan teman-teman baru yang saya kenal dikomunitas orangtua anak autis sehingga menambah semangat untuk terus melakukan yang terbaik untuk Lukman.

Perkembangan Lukman Sampai Umur 5 Tahun

Dari sisi perkembangan bahasa:

kiki 2th 2bln: hampir tidak ada kata bermakna

kiki 2th 4bln: mengucapkan kata pertama “Mama”

kiki 2th 7bln: semakin banyak kata, walaupun masih banyak yang belum terlalu jelas, contoh: pensil -> ensi, balon -> aon, bola: oa, tivi: hihi, jaket: jasjes

kiki 3th 9bln: sudah bisa meminta dengan kalimat yang benar (di prompt) “Mama, Lukman mau buku”

kiki 4th: sudah bisa bilang “Nggak” saat menolak sesuatu, bisa mengeluarkan kalimat permintaan tanpa prompt “Mama tolong pasang Tupi ya Ping-ping”

kiki 4 – 5th: sudah bisa ‘nyeletuk’, bisa menambahi dengan kata “ya ampun…”, bisa menambahi kalimat dengan kata “dan”, bisa bertanya  (bukan untuk kepentingannya: bukan untuk minta makan/minum, bukan untuk dibacakan/diambilkan sesuatu) : “Hey Mama kemana?” atau bertanya utk minta ijin “Boleh?”, banyak kalimat baru yg diucapkan spontan

kiki 5th: mulai bisa bicara dengan aksen, tidak hanya bicara dg bahasa yang ‘baku’. Mulai bisa bicara tanya jawab berkesinambungan (“tek-tok”). Senang mengajak bicara orang yg baru dikenal (walaupun masih sering membingungkan bicaranya). Dan: sudah bisa protes!

kiki 6th: Lukman berhenti terapi wicara. Cara bicara Lukman sudah sangat baik, pelafalan katanya sangat jelas, daya tangkapnya untuk kata-kata baru juga sangat baik, sehingga yang perlu distimulasi lagi adalah kemampuan komunikasinya, dalam tanya-jawab, dalam pemahaman pembicaraan, dan ini bukan lagi area yang ditangani seorang terapis wicara. Baca: It’s Time To Move On

Perkembangan kognitif

Alhamdulillah kemampuan kognitif Lukman cukup baik, ia mampu mengikuti ‘pelajaran’ diTK reguler, sudah bisa mengeja, menulis, berhitung sesuai usianya, bahkan ia unggul dalam mempelajari computer. Lukman sudah bisa mengoperasikan computer, mengerti cara connect ke internet, login facebook, searching dengan google, membuat gambar dg program Paint, dan tanpa penjelasan apa2  hanya dengan melihat kakak Reza main Lukman dapat memainkan games Marine Park Empire yang saya sendiri tidak terlalu bisa karena banyaknya instruksi yg harus dipelajari sblmnya.

Perkembangan sosial dan emosi

Kalau saat di playgroup Lukman lebih banyak diluar kelas, lebih nyaman berada dihalaman sekolah, saat naik ke TK A Lukman mulai dilatih untuk ikut masuk kedalam kelas. Alhamdulillah hanya dalam waktu yang cukup singkat, Lukman akhirnya bisa mau masuk kedalam kelas, mau ikuti kegiatan, dan mulai nyaman  bermain bersama. Kalau sesekali ia memisahkan diri dari kelompok, tanpa disuruh ia akan kembali lagi begitu kegiatan kelompok akan dimulai. Kondisi Lukman disekolah up ‘n down, kadang bagus dalam artian dia dapat mengikuti kegiatan, mau patuhi aturan, namun bisa juga kondisinya turun jadi dia hanya mau kerjakan yang dimaunya, dan sering menyendiri. Kondisi turun seperti itu biasanya karena sedang tidak enak badan, sehingga saya berhati-hati sekali menjaga agar Lukman tidak sampai jatuh sakit.

Kemandirian

Lukman sudah bisa kekamar mandi kalau mau BAK dan BAB, walaupun harus dibantu kalau cebok habis BAB. Lukman sudah bisa gosok gigi sendiri, sampai umur 5 tahun masih dimandikan. Update: diumur 8 tahun Lukman sudah bisa cebok dan mandi sendiri. Lukman bisa makan sendiri, bisa meras jeruk sendiri, pakai/buka baju dan sepatu sendiri. Lukman bisa menaruh barang2 pada tempatnya, dan juga bisa menjaga barangnya (kalau kesekolah bawa topi, bawa barang, sebelum masuk mobil utk pulang pasti di’absen’ dulu barang2nya ada atau tidak). Ia juga sangat menjaga untuk tidak buang sampah sembarangan, kalau habis pakai barang pasti ditaruh pada tempatnya lagi, habis makan piring dan gelas ditaruh ke dapur.

Update Diumur 10 Tahun: Konsultasi Dengan Dr. Melly Budhiman

Hari Kamis tanggal 28 Mei 2015 kami bertemu Dr. Melly Budhiman. Setelah menanyakan ada masalah apa, beliau menanyakan sejarahnya sejak Lukman di diagnosa sampai sekarang. Saya ceritakan semua, dan beritahu sekarang Lukman sudah bisa lebih kontrol emosi, sudah bisa ikuti kelas biasa lagi, bisa presentasi, bisa tampil dipentas, bisa travelling naik pesawat, dll. Sesekali memang masih ada marah, tapi tidak sampai tantrum. Dr Melly bertanya lebih lanjut sambil mengamati Lukman, lalu berikan beberapa puzzle untuk Lukman kerjakan. Puzzle yang diberi makin lama makin sulit, tapi Lukman bisa kerjakan semua sampai selesai. Lalu dr Melly menanyai Lukman juga, seperti: “Siapa nama teman/sahabatmu disekolah?” lalu “Pelajaran apa yang susah?”.Setelah cukup lama mengobrol, Dr Melly simpulkan bahwa perkembangan Lukman sudah sangat baik, “Ibu tidak usah terlalu khawatir, sepertinya ibu tdk perlu konsultasi dengan saya”. Lalu beliau teruskan: “Kalaupun mau ada tambahan, dicoba saja ekskul atau les hobi apa yang Lukman sukai. Untuk olahraga saya sarankan renang, dan utamanya gaya bebas karena ada gerakan menyilang yang baik untuk brain gym”. Beliau katakan “Tidak perlu test-test, perkembangannya sudah baik, dan jaga saja makanan tidak usah yang terlalu manis”. Saya katakan dirumah memang tidak minum susu dan membiasakan Lukman tidak makan permen, coklat,  diusahakan selalu makan makanan yang sehat dan segar saja, beliau katakan “Ya mungkin itulah yang juga mendukung perkembangannya baik, teruskan saja”. Cerita lengkapnya dapat dibaca di: Lukman Bertemu Dr. Melly Budhiman.

Update Diumur Hampir 11 Tahun: Terapi Lagi & Aku Penyandang Autis Ya?

Sejak terapis di sekolah Lukman berhenti karena akan menikah, otomatis Lukman berhenti terapinya. Kami tidak mencari ganti terapi di tempat lain, karena menurut kepala sekolahnya saat itu kondisi Lukman sudah cukup baik, tidak perlu tambahan terapi. Kecuali kalau ada perkembangan yang menunjukkan perlu Lukman di terapi lagi. Setahun berjalan, Lukman memang baik-baik saja, namun ada satu dua hal yang menyebabkan kami merasa Lukman perlu terapi lagi. Akhirnya di bulan Januari 2016 Lukman mulai terapi SI lagi. Cerita lengkapnya dapat dibaca di: Mulai Terapi Lagi.

Hari Rabu tanggal 2 Maret 2016, sepulang sekolah, Lukman bersantai baca komik pengetahuan seri Why, saya duduk disebelahnya, buka facebook di handphone saya. Melirik ada link trailer film tentang autisme yang saya share, Lukman tanya: “Itu apa?” Jadi saya klik link tsb, lalu Lukman nonton videonya. Selesai putar sekali, dia minta ulang diputar lagi. Saat masih berjalan videonya, dia tanya: “Aku penyandang autis ya Mama?”. Wah saya terharu, ini pertama kalinya dia tanya hal tsb pada saya. Selama ini memang kami tidak pernah bicarakan langsung, tapi kami juga selalu terbuka tentang kondisi spesial Lukman. Kami sering datangi acara autisme bareng sekeluarga, Lukman tahu Mamanya suka baca-baca buku tentang autisme, dan pernah kami sekeluarga datang kesekolah kakak Reza untuk parent sharing session tentang kondisi autisnya Lukman. Ketika itu Lukman juga ikut, membacakan data diri didepan teman-teman kakaknya, dan tentunya mendengar penjelasan saya tentang pengalaman kami mengasuh Lukman sejak bayi, lalu apa yang kami lakukan setelah ia di diagnosa autis, sampai sekarang. Cerita lengkapnya dapat dibaca di: Aku Penyandang Autis Ya

Lukman di Media: Masuk Tabloid Nakita, What Will I Be, Superkids Indonesia, Berbagi Cerita, A Mothers Unconditional Love

Posting yang berhubungan: Autis itu apa sih Mama? Cerita Bicaranya Lukman Kids’ Talk Lukman: Sebuah Potret Dalam Paradigma Pertumbuhan Adekku Sayang Terapi 4 September 2009 Gestures Kalimatnya Lukman Pesiapan Ke Taman Safari Lukman dan Baju Seragamnya (Lagi) Aku Sahabat Anak Spesial Liburan & Perkembangan Lukman Cerita Barunya Lukman Kau Sedih Ya? Lukman Nonton Lagi Lukman Membaca, Lukman Mengetik Kenapa? Lukman Bertemu dr. Melly Budhiman, SpKJ Mulai Terapi Lagi

Cerita-cerita Lukman di Sekolah Dasar: 

Lukman Mau Jadi Anak SD

Lukman Pulang Sekolah Sendiri

Hari Pertama Lukman di SD

Off To A Good Start

Yang Baru Dari Lukman

Anak Bandel?

Semester Istimewa Untuk Lukman

Lukman ke Kidzania!

Lukman ke Dokter Gigi

Lukman Berkemah

What Will I Be

Datang Tidak Ya?

Lukman Outing Lagi

PR Lukman

Drama

Lukman Berkemah Lagi

Musical Surprises

Naik Ke Kelas 3!

Peribahasa Dan Konsep Abstrak

PR IPA

Lukman Dapat Rapor DikNas!

Kelas Pelangi

Pejuang Lingkungan Hidup dan Angkot

Mural Lukman

Lukman Masuk TV!

Laporan Perkembangan Lukman Semester Ganjil Kelas 4

Lukman Dan Suaranya

Lukman Presentasi

SuperCamp 2015

Baju Batik Lukman

Lukman Naik ke Kelas 5

Mulai Terapi Lagi

Aku Penyandang Autis Ya

177 thoughts on “Lukman’s Story

  1. Salam kenal mba Rosa,
    Cerita Lukman di atas, hampir sama dgn putra ke2 saya, Fatih (2thn 5bln) yg sampai skrg blm bisa bicara (speech delay), dan baru menjalani 3x terapi wicara di sebuah klinik tumbuh kembang di dareah cibubur…Cerita mba Rosa inspiring banget…jadi pengen share dan nanya2 tentang pola asuh yg tepat buat anak spt Fatih dan Lukman…add saya di fb mba, please…Makasih sblmnya…^^

    • Salam kenal untuk bu Erna, senang bisa berbagi, memang tujuan saya menceritakan disini adalah juga agar dapat menyemangati ortu anak berkebutuhan khusus lainnya. Untuk menangani anak-anak kita memang membutuhkan banyak kesabaran dan konsistensi penanganan. Silahkan jika ingin berteman di fb, saya tunggu ya Bu…

  2. Salam kenal Mbak. cerita Mbak juga mirip dengan cerita anak saya, Alif. Hampir 2 tahun, anak saya belum mengucapkan kata apapun juga, tapi cering berceloteh. Waktu diajak ke dokter KTK (1 tahun 11 bulan), diagnosanya juga autisme ringan, bahkan mereka mendiagnosa bahwa anak saya selain telat berbicara juga tidak fokus bila mengerjakan sesuatu. Sebelum ke Terapi Wicara, Alif disuruh ke Terapi apaa gitu yg mengajarkan untuk fokus. Hal ini membuat saya shock ditambah dengan caranya yang melayaninya yang tidak menyenangkan membuat saya ogah kesana lagi. Saya pun mengambil cara sendiri karena saya rasa anak saya tidak separah yg didiagnosa dokter KTK. Saya masukkan Alif ke Playgroup Kinderfield. Walo awalnya dia nangis, tapi ternyata Alif tidak trauma. Dia lumayan senang berteman disana dan menyenangi kegiatannya. Perlahan2 Alif mulai mengucapkan kata pertamanya dengan sangat jelas, “Ayah”, waktu umur 2 tahun 2 minggu. Memang sih untuk “Ibu” masih “Abu” :p. Sudah bisa bilang “air” dan “udah”. Bermainpun Alif menjadi lebih fokus. Sekarang semua anak mau ditegornya. Kesimpulannya, saya rasa menjalani terapi di dokter KTK memang bagus, tapi mencoba playgroup dulu juga tidak ada salahnya. Oleh psikolog anak di playgroup itu, anak saya dianggap normal2 saja. Maaf ya kalo kepanjangan, hanya sekedar sharing🙂

    • Senang berkenalan dengan mbak Febrie😀
      Biasanya perasaan Ibu itu nggak pernah salah. Walaupun kita berhadapan dengan ahli, namun beliau itu kan cuma beberapa kali ya ketemu anak kita, sedangkan kita setiap hari mengasuh dan memantau perkembangan anak kita.
      Karena itu setiap ada masukan dari ahli, kita juga harus pertimbangkan, harus kita pelajari juga hal2 yang diinformasikan beliau kepada kita. Jadi kita nggak ‘buta’ dan melepaskan keputusan kepada ahli saja.
      Tetap semangat ya Mama Alif, terus berikan stimulasi, kelihatannya Alif perkembangannya sangat baik😉

  3. Alhamdulillaah…
    Saya turut senang dengan perkembangan Lukman…

    Sudah lama saya ga komen di sini, Mbak Rosa…
    Semoga Reza dan Lukman tumbuh dengan baik, menjadi anak-anak baik…

    Salam saya, Mbak…

    • Terimakasih untuk doanya, senang sekali dimampiri kembali, apa kabar mama Ray?
      Ray sudah mulai sekolah ya… makin pinter pastinya…
      Semoga mama Ray sekeluarga sehat2 saja, dan tetap semangat ya🙂

      • mama lukman salam kenal..maaf boleh tahu fb nya. saya mau add..anak saya juga ada sdkit mirip dgn lukman. makasih

  4. Salam kenal Mbak Rosa, saja juga pengen ikutan sharing niy..Lukman dan Andra (anak saya, skrg 7 thn, kls 1 SD). Ada sedikit kemiripan. Tp menurut saya, Lukman jauh lebih baik.Kontak mata Lukman bagus, sementara Andra kurang.Lukman sdh bisa mengucapkan kata”boleh?” untuk minta izin sesuatu, sementara andra belum. Terkdng, andra cuma menatap lama mata saya utk “isyarat minta ijin’ (ketika mo main ke rmh tetangga sebelah). Andai sy tak bereaksi, tidak melarang hanya tersenyum, Andra langsung kabur. ha..ha.. Andra jg paling suka dipeluk, dicium dan bermanja2 dg saya. Andra baru di terapi wicara secara intensif ketika berumur 3 thn 11 bulan. Ketika kami sudah menetap di Lampung (suami pindah tugas). Agak sedikit terlambat ya..Sebelumnya, kami tinggal di Aceh. sebuah kota yg minim dgn fasilitas terapi utk anak Autis. Bahkan, pada waktu itu, sama sekali gak ada.(entah sekarang ya…?). Andra baru bisa mengucapkan kata “SUSU” ketika pas berumur 4 thn. itu jg setelah mati2an dia menangis dan menarik tangan saya utk membuatkan susu-nya, tp saya bertahan dengan membujuk dia agar mau mengucapkan kata2 SUSU. tnyata, berhasil…ha..ha..Ada banyak sekali perkembangan stlh di terapi walo belum bisa memuaskan hati saya sbg ortu. Tp..kita mmg hrs byk2 bsabar ya bu…Kosa kata-nya sudah byk, sudah bisa menulis, berhitung, dan mgk sbgn kata-kata di dalam kamus bhs inggris dia hapal. Komputernya jg bagus. sama spt Lukman. tidak diajari.Sptnya ilmu itu diperoleh dari membaca buku di perpusakaan sekolahnya (Andra hobi baca buku).Akan tetapi, komunikasi 2 arahnya masih kurang. dia hanya mau bicara, kalau dia ada maunya..itu jg pake bhs yg sepatah2. Hanya sy yg tau bu…ha..ha..Tp, sy sdh bersyukur sekali dengan perkembangan Andra sekarang, apabila dibandingkan 3 thn yg lalu…..Mdh2an, tiap tahunnya ada perkembangan…Salam ibu Rosa, lain kali sy curhat lg ya…salam utk Lukman kecilnya…

    • Senang sekali bisa berkenalan dg Ibu Deski🙂

      Tidak banyak ibu dari anak spesial yang bisa bercerita dengan nada yang riang seperti ibu, sayang disini nggak ada jempol utk kasih tanda ‘I like this’ hehehe, jadi saya tulis saja: jempol untuk Ibu Deski!

      Memang kondisi tiap anak spesial berbeda-beda ya Bu, kalau Lukman memang kontak matanya baik, tapi saya lihat Andra tanpa menatap matapun komunikasinya cukup baik ya, apalagi sudah bisa membaca dan menulis, waahh hebat sekali karena sampai sekarang Lukman masih suka kabuuurr kalau diajak membaca dan menulis. Padahal kalau main komputer, googling hal2 favoritnya, dia sudah bisa mengenali kata/sight words. Tapi ya itu, masih kabur2an kalau diajak membaca/menulis.

      Saya ingin tahu tentang bagaimana Andra disekolah, kalau boleh kita berteman difacebook ya bu, saya sudah request friend disana.
      Salam….

  5. Tentu…, tentu…, bu Rosa!. Saya sangat senang bisa berbagi cerita dengan bu Rosa mengenai perkembangan anak2 kita. Mudh2an pertemanan ini akan byk sekali manfaat-nya. Request-nya dah di konfirmasi..Trim’s lho…
    Mumpung lg nongol disini, sekalian aja curhatannya ya…Disekolah Andra belum bgt mengikuti aturan sekolah, misal: setelah masuk ke dlm kelas, sepatunya dibuka alias nyeker..(ha..ha.). Ini mgk krn faktor ‘kebiasaan’. Karena, klo masuk ke rumah, kita harus buka sendal/sepatu’kan?. Nah, dlm anggapannya, kelas itu adl ruangan yg hrs bersih, jd tdk boleh kotor. Dulu klo mo ke supermarket jg bgt…sendal dilepas..(weleh..2x tp, skrg dah gak lg…). Nah..ditambah lg kebiasaan waktu msh di TK, murid2 hrs buka sepatu dan sepatu diletakkan di rak. Jadi, keterusan deh…ini memang butuh penyesuaian..dan pengertian secara perlahan…
    Mengenai pelajaran disekolah, Andra masih tergolong biasa-biasa. Walo, dia udah bisa mnulis dan membaca, tp berhubung dia belum mengerti akan perintah gurunya ( pemahaman bhs-nya msh kurang), terkadang dia tdk mengerti apa yg harus dikerjakan. itu sebabnya, pada 6 bln pertama saya minta ijin ke gurunya utk bisa duduk didalam kelas agar mempermudah proses belajarnya. Untungnya, si Guru mengijinkan..skrg, sy cukup berdiri diluar, didekat jendela, agar bisa memantau Andra. Apabila dia tdk mengerti, sy cukup memberi ‘aba2’ dr luar…(andra duduk disamping jendela jg).
    -Ada lg ‘kebiasaan’ di TK dulu yg sempat menganggu…Apabila pekerjaan soal (mis: MTK) nya sdh selesai, Andra lgsg keluar kelas untuk minta minum/makan (bontotnya biasa sy siapkan dr rumah) tanpa menunggu waktu bel istirahat berbunyi..tp sekarang.., sudah jarang. Andra betah dikelas, apalg klo ada guru favoritnya (ha..ha..)
    -Hal lain yg ‘tdk mengikuti aturan’ adalah : Andra suka-suka sendiri dalam melakukan tugasnya. Misal: MTK. Penambahan ke samping : 12+18+20 =…Nah, si Andra menulis penambahannya ke bawah…walo hasilnya benar tp tetap aja gak ngikutin perintah’kan???..kemudian utk soal B. Indonesia misalnya..Apabila lelah, kita perlu….??.(soal isian) tp Andra menulis dg caranya sendiri yaitu dengan cara : pilihlah jawaban A,B atau C yg tepat. Jd, dia menambahkan jawaban spt : a. istirahat b.bermain c. nonton TV..
    Wah..wah…untung gurunya sabar..ha..ha…
    Itu tadi sekilas info mengenai kebiasaan Andra di kelas…Oh..ya..mengenai kebiasaan Lukman yg masih suka sering kabur klo disuruh nulis/baca menurut saya mgk karena Lukmannya blm PEDE aja. Dia merasa blm paham, lantas jadi MINDER..ketimbang gua malu, mending kabur ah..pura2 cuek …he..he..(Ini menurut saya lho bu) atau malah karena dia merasa udh mengerti, jd malas ah belajar yg itu..itu..melulu…Andra dulu juga begitu lho bu…Jd, yang sabar aja ya bu Rosa…Percaya deh, nanti Lukmannya pasti nurut..

    Ibu, cukup dulu ya utk hari ini, Andra dah mulai minta : Makan..Makan.. ikan Lele..ikan Lele..he..he..Saya ke dapur dulu..Salam..!!

    • Dear mbak Deski,

      Trimakasih sudah add saya di facebook. Senang sekali membaca cerita2nya Andra, banyak kemiripannya dengan Lukman. Soal ‘kaku’nya mereka pada rutinitas, soal ‘suka2’nya disekolah, sama banget deh.

      Masalah membaca betul juga sepertinya mbak Deski, Lukman sepertinya belum pede, dan lebih suka kabur kalau diajak membaca. Padahal kalau lagi keluar nih mood mau membacanya, terbukti kok dia sudah punya kemampuan utk membaca. Hanya saja kita harus pinter2 memancing agar dia mau memperlihatkan kemampuannya itu. Untung guru-guru dan terapisnya yang sabaaar dan kreatif utk mencari alternatif cara mengajar Lukman😀

      Wah Andra sudah pinter minta digorengkan ikan lele ya hihihi kok sama sih kesukaannya sama mama Lukman?
      Salam….

  6. Assalamualaikum mba rosa,saya herni mamanya reihan pengen shariing nih anak saya 34 bulan bicaranya telat,sebetulnya sejak usia 18 bln sdh pgn periksa tapi mertua melarang dgn alasan cucunya yg lain juga sama begitu umur 2,5 thn baru bs bicara tapi ditunggu2 ga kunjung bisa bicara byk,umur 32 bln baru bs bilang udah,susu,buka,tutup,ambil,mandi,minum,mau,pake,papa,mama,ini,itu,bobo,sini,sana,beli,permisi,akhirnya sy bw ke klinik tumbuh kembang anak lalu anak sy diminta untuk terapi tanpa ada diagnosa apapun(sambil diobservasi ktnya),reihan itu kontak mata sangat bagus,senang main dgn teman,manja sama sy n teman2nya(suka pura2 jatuh n minta dibantu berdiri)senang becandain sy (seneng liat sy jijik waktu dia ngasih upil =D) tapi dia kalo lagi main dgn mainannya susaaah banget nengok kalo dipanggil,trus kalo apa yg dia mau ga dikasih suka jerit2,sukaa banget dgn mainan org lain dan suka pgn nuker dgn mainannya,n susah makannya itu lho bikin sy stress meski dari berat badan tergolong normal (17 kg usia 34 bln)ga pernah mau makan nasi,n tidurnya larut malem,bagaimana menurut mba rosa apa anak sy tergolong anak autis ? Lg bingung sy mba coz dr nya ga ngasi diagnosa ato mungkin harus diobservasi dulu ? Memang kalo dari info yg sy baca ada beberapa ciri anak autis yg ada di reihan kaya ga nengok kalo dipanggil dan jalannya sering jinjit,ada tantrum meski ga paraaah banget,please i need a opinion =(

    • Dear mbak Herni,
      Kalau saya lihat Reihan cukup bagus ya sudah ada perkembangan bicaranya sebelum mulai terapi (koreksi kalau saya salah menangkap ya) sudah cukup banyak kosakatanya, walau mungkin masih minimal untuk seumurnya. Terus saja distimulasi dirumah, mbak, sepertinya walau terlambat bicara tapi Reihan dapat terus berkembang baik walau belum di terapi.

      Soal diagnosa, kalau pengalaman saya diagnosa itu ditetapkan setelah anak diobservasi pada awal pertemuan dg psikolog/dokter. Pada dua klinik tumbuh kembang yang saya datangi ketika Lukman umur 2,5 dan 3 tahun, mereka mengobservasi diawal. Lukman diobservasi dg diajak bermain, dan dilihat reaksinya saat diajak komunikasi. Kami ortunya juga ditanyai baik sebelum maupun sesudah Lukman diobservasi, dan psikolog/dokternya memberikan diagnosa setelah itu.

      Untuk mengenali autis/tidaknya Reihan, mbak Herni dapat berkunjung pada psikolog/dokter yang sudah berpengalaman. Tidak sembarangan orang bisa mendiagnosa apakah seorang anak itu autis/tidak, hanya ahli yang sudah berpengalaman yang bisa melakukannya. Tentunya orang awam seperti saya sendiri juga tidak bisa mengatakan apakah Reihan autis/tidak.

      Demikian, semoga jawaban saya bermanfaat ya…

      • Saya bingung mba rosa kenapa dr nya tidak kasih diagnosa padahal sy bw reihan ke dr tumbuh kembang anak di salah satu RS besar di bandung,waktu itu dr nya cuma bilang reihan ada masalah interaksi sosial (tidak menoleh waktu dipanggil ) dan keterlambatan bahasa jadi harus di terapi,kalo sy perhatikan memang reihan tiap hari ada kosakata baru tapi belum bisa banyak merangkai kata paling bisa bilang mah ini (mamah sini) dan pah ini bobo (papah sini bobo),terus terang mba rosa saya gelisah mikirin anakku yang ganteng =),dr info yg sy baca anak autis itu tidak suka bersosialisasi tapi sy liat reihan suka dan nyaman berada di dekat anak lain,dia bisa ngikutin sy wudhu dan solat (meski cuma bs ruku dan sujud) bisa disuruh tutup pintu,tutup lemari,buang sampah,simpan barang,tapi saya juga tidak mau mengesampingkan fakta ada beberapa gejala autis pada reihan(tidak menoleh,jalan sering jinjit,belum bs bicara banyak), menurut mba rosa apa saya harus coba periksa ke klinik lain ? ada dekat rumah klinik yg dr nya sangat terkenal di bandung tapi biayanya juga mahal mba rosa ( well itu menurut kantong saya ) terus terang saja sy tidak sanggup,sdh sy tanya via phone dr nya aja 500 rb sekali periksa,kalo sekali periksa saja sih tidak masalah tapi ini pasti continue sy juga hrs memikirkan biaya kedepan,apa mba rosa ada referensi dr yg bagus dan terjangkau di bandung ?

      • Ooh kalau sudah dikatakan seperti itu, berarti diagnosanya adalah: masalah interaksi sosial (tidak menoleh waktu dipanggil ) dan keterlambatan bahasa. Dokternya mungkin tidak mau terburu-buru menggunakan label tertentu (autis atau lainnya) karena mau meyakinkan setelah ada hasil dari terapinya.

        Untuk autis, perwujudannya mencakup spektrum yang luas, dari yang parah sampai yang ringan. Autis yang parah seperti anak autis yang sering tantrum, sangat menarik diri (tidak ada kontak social), tidak bisa berkomunikasi, suka flapping dan stimming. Sedangkan autis yang ringan, seperti Lukman, bisa komunikasi, bisa memperlihatkan emosi dan kelekatan pada orang yang disayangi, tapi tetap ada gangguan komunikasi dan sosialisasi memiliki pendekatan sosial yang khas (berbeda).

        Untuk referensi dokter yang bagus di Bandung, sayang sekali saya tidak punya informasinya. Memang kita harus juga memikirkan sisi keuangan, karena biaya untuk pemeriksaan dan terapi tidak murah ya bu. Yang bisa saya anjurkan adalah ibu masuk kedalam komunitas orangtua anak spesial di Bandung, saya yakin pasti ada seperti di Jakarta ini. Dengan bertukar pikiran pada komunitas seperti ini ibu bisa mendapat banyak informasi, dan bisa menentukan langkah terbaik selanjutnya untuk sang buah hati.

        Tetap semangat ya bu, terus usaha yang maksimal untuk Reihan…

  7. Halo mba, salam kenal ya. Anakku juga, sekarang 2th8bln masih kesulitan bicara. Perkembangannya mirip sama Lukman, panggil mama baru umur 2th3bln dan mulai banyak kosakatanya sebulan yang lalu.

    Pertanyaan aku mba, terus terang aku masih bingung di bagian mana mba akhirnya bisa menyimpulkan kalau Lukman itu autis. Kalau baca cerita dan liat fotonya, seems no problem hehe. Mohon masukannya ya mba, apa aja sih yang harus kita cermati? Makasih mba

    • Salam kenal juga mbak Desina🙂

      Betul yang mbak bilang, kita orang awam kalau melihat Lukman sepintas tidak akan tahu kalau dia autistik. Tapi begitu berinteraksi, baru deh terlihat. Seperti yg saya ceritakan, orang pertama yang curiga kearah autisme adalah ibu kepala sekolahnya. Tentu beliau melihat dari keunikan Lukman berinteraksi disekolah: keengganan Lukman untuk bergaul, tidak mau masuk kedalam kelas apabila ada teman2nya, lebih suka ada diluar kelas. Baru mau masuk kelas jika kelasnya kosong.

      Kalau dirumah tentunya hal2 tsb nggak akan terlihat ya mbak (selain masalah bicaranya) karena memang problem anak autistik adalah dibidang komunikasi dan interaksi sosial. Sesudah lebih mempelajari tentang autisme, baru saya ngeh bahwa ada karakteristik yang pas banget pada Lukman. Contoh: rigidnya anak autis dengan rutinitas. Seperti kalau pergi dg mobil, sekali lewat route tertentu, maka harus lewat route itu jika mau ke tujuan yg sama. Kalau tidak? wah bisa marah, dan tantrum jika kita ambil jalan lain. Contoh lain, anak autis berusaha memahami kehidupan dg caranya sendiri, seperti ketika dia senang sekali pergi ke Puncak ketika memakai baju kaus hijau, maka saat dia dipakaikan baju tersebut dia akan berharap kami pergi ke puncak lagi seperti saat pertama ia memakai baju tersebut. Untuk jelasnya baca cerita “Baju Hijau”nya Lukman deh mbak (https://mamanya.wordpress.com/2014/01/10/baju-hijau/).

      Masih banyak cerita lain, yang akhirnya menyadarkan saya walau kelihatan okey, kecerdasannya baik, ternyata memang ada masalah saat Lukman berada diluar rumah, bergaul dan berinteraksi dengan dunia luar. Begitu mbak…

  8. maap bu..minta tolong alamat klinik kancil dimana ya..atwa ada CP biar bisa nanya2..krn rcn kita besok minggu 11 maret 2012 mau ke jakrta buat konsul masalah anak saya..kita tinggal di palu sulawesi tengah dan belum ada informasi mau kemana sejauh ini cuma tau bahwa ada klinik tumbuh kembang anak di RSAB harapan kita..mohon bantuan…

  9. salam kenal ya mama lukman…saya sangat terkesan sekali dengan cerita ibu..dan boleh dong saya sharing di sini. mungkin ceritanya agak panjang mudah2an ibu tdk bosan membacanya. Sebenarnya anaku didiagnosa autis sejak umur 3 tahun karena bakti dipanggil tdk mau melihat kearah org yg manggil tdk ngerti perintah, asik dengan dirinya sendiri dan setealh didiagnosa maka bakti autis. Pada saat itu kami orang tua dihadapkan dengan 2 pilihan apakah tetap di kota dimana dikota tsb kami bisa menterapi bakti dengan biaya seadanya atau ke daerah bisa disebut kabupaten tetapi terapi 2 x seminggu. Dan karena satu sisi kita membutuhkan dana utk by terapi maka kami mengambil keputusan ke daerah dan bakti tetap di terapi 2 x seminggu. Berarti kami ke kota untuk terapi bakti. dari daerah ke kota kami menghabiskan waktu 4 jam perjalanan. Dan Hal itu kami lakukan hanya sebulan karena kami diberi masukan oleh sesorang katanya nggak ada apa2 dengan bakti dan mgkn karena mgkn tdk sanggup krn jarak dan rasanya kurang efektif jika waktu terapi bakti dipadatkan selama 2 hari.
    Kemudian selama satu tahun kami tidak menterapi bakti dan baktipun tdk diet CFGF, kemudian kami pindah lagi ke daerah lain dan bakti diterapi oleh seorang terapis okupasi, tetapi sayangnya hanya bertahan 3 bulan dan tdk nampak perubahannya krn terapis tsb hrs pulang kampung. Dan setahun yang lalu umur bakti 4 tahun kami mulai memasukan bakti ke tempat terapi sekaligus tempat penitipan anak. Karena kami berdua kerja. Bakti diantar pagi dan sore baru dijemput. Dan alhamdulilah setahun terapi bakti menunjukan perkembangan dimana kontak mata sudah ada, dipanggil sudah ada respon meskipun kadang2 tdk , dan suka peluk2 dan cium bapaknya, suka ngajak kita bergurau. Tetapi kosa katanya hanya keluar mama2 dan papa.Menurut mama lukman gmana ya…seharusnya saya. Rasanya satu sisi tdk tega juga menitipkan bakti ditempat terapi dari pg sampai sore tetapi gmana lagi satu sisi kami membutuhkan dana utk bakti. Dan kami pasrah mudah2n ada mukjizat utk bakti. Tolong sarannya ya ma….Oh ya saya tinggal di daerah KEPULAUAN RIAU. Terima kasih sebelumnya.

  10. Salam kenal, mbak Rina….

    Memang ini jadi dilemma umum bagi ibu bekerja dengan anak yang berkebutuhan khusus. Disatu sisi ada rasa bersalah karena ingin lebih banyak meluangkan waktu untuk mendidik sang buah hati, tapi disisi lain kebutuhan finansial juga menjadi penghalang untuk berhenti bekerja. Memang biaya utk konsultasi, terapi dan juga kebutuhan lain untuk anak berkebutuhan khusus membutuhkan dana yang tidak sedikit.

    Alhamdulillah Bakti bisa mendapatkan tempat penitipan yang sekaligus tempat terapi. Dan terlihat pula ada perkembangan yang baik dg sudah ada kontak mata, sudah mau dipanggil dan bisa menunjukkan rasa sayang dan mulai berkomunikasi.

    Saya rasa untuk saat ini apa yang mbak Rina jalankan pastilah sudah yang semaksimal mungkin yang dapat dilakukan. Terapi itu harus terus ya mbak, karena sedini mungkin dan se konsisten mungkin anak berkebutuhan khusus di terapi maka hasilnya akan lebih baik ketimbang menunggu saat anak sudah lebih besar.

    Selain terapi ditempat penitipan, stimulasi di rumah juga penting. Kalau dirumah mungkin mbak Rina juga bisa ajarkan/terapkan hal-hal yang juga mendukung perkembangan Bakti. Contoh: mengajar Bakti toilet training, mandi, makan dan ganti baju sendiri. Pelan-pelan agar pada umur yg lebih besar dia sudah bisa melakukan sendiri. Tidak mudah memang, tapi ini perlu untuk kemandiriannya nanti. Juga sebisa mungkin Bakti diajarkan berkenalan dengan lingkungan diluar rumah/luar tempat penitipan. Dibawa ke pertemuan keluarga atau kalau ada acara dengan teman, dibawa ke pertokoan, pokoknya lingkungan yang situasinya berbeda dengan lingkungan sehari-harinya. Ini akan membuat Bakti lebih fleksibel, dan lebih mudah bergaul nantinya.

    Demikian yang bisa saya sarankan, mbak Rina, berdasarkan pengalaman saya sendiri. Semoga bisa membantu🙂

  11. hallo mama Lukman,
    saya mama Kevin yg waktu itu pernah ngobrol juga sekitar 2-3bln yg lalu,
    anakku kevin sdh mulai ada perkembangan,dia mulai terapi awal maret smp skrang.terapi SI dan trapi WI.
    sekarang kevin sdh 3th 2bln,puji TUhan anak sy sdh mulai byk kosakata.tatap mata sdh makin bagus.
    saya mempunyai kekawatiran,sy rencana mo memasukkan anak sy PG juli ini.waktu Lukman mulai ikut PG,apa yg terjadi.maksud saya apakah Lukman langsung mau?apakah ada shadow teacher yg mendampingikah ?sy jd agak2 kawatir nih,mama Lukman😦

    • Hai mama Kevin, senang sekali mendengar kemajuan perkembangan Kevin.
      Ketika mulai PG, Lukman belum mau masuk kedalam kelas, paling senang berada dihalaman, lari-lari atau belajar disana. Ketka itu Lukman didampingi shadow teacher. Saya pikir tidak apalah, yang penting Lukman kenal dulu dengan lingkungan sekolah, merasa nyaman dulu, dan berharap lambat laun ia akan mengikuti kegiatan dikelas. Ketika sudah TK, Lukman mulai dilatih untuk berada didalam kelas. Cukup heboh ya dia menangis, dan menolak masuk ketika teman-temannya didalam. Namun karena kesabaran para guru, walau tetap konsisten mengharuskan Lukman didalam kelas, ia akhirnya mau juga dan bisa berada dalam kelas dan memperhatikan kegiatan bersama teman-temannya. Begitu Mam🙂

      • hi Mam Lukman,
        sy mama Kevin lagi ni,
        sy mo curhat kembali prihal Kevin,anak sy awal juli akhirnya ikut PG.Puji TUhan mengawalinya tidak mengalami kesulitan..dia tertarik dan sangat antusias.dengan keterbatasan dia sbg anak PDD nos,dia mau mengikuti semua kegiatan..tapi belakangan ini mengalami suatu kemunduran..3minggu yg lalu anak sy kena demam,smp 6hr naek turun terus.ternyata dia terkena infeksi saluran pernafasan.selama 1 minggu anak sy tidak sekolah.
        setelah itu anak sy mengalami kemunduran.saya katakan kemunduran krn,ketika memulai untuk sekolah,dia tidak mau..menangis..:(
        membuat sy kaget..awalnya minggunya sy bwa ke gereja,ada skolah minggu buat batita.kevin biasanya mau mengikuti tiap kegiatan di dalamnya,bahkan antusias.namun setelah sembuh dari sakitnya itu,dia ‘ogah’.bahkan merasa tidak nyaman.
        keesokan harinya (senin),ketika memulai untuk skolah.Saya bingung karena dia terkesan tidak mau.nangis saja awal2nya.
        sampai sekarang sy perhatikan (klo sy tanyakan ke mbaknya yg nganter sekolah),kevin sempat tdk mau turun,tp akhirnya mau.

        Mama Lukman,apakah Lukman pernah mengalami pasang surut ya ?
        Sy agak2 bingung,apakah ada yg hrs sy ubah lg yaa..

        oh iya,apakah Lukman ada diet makanan yaa Mam ?

        terimakasih atas informasinya🙂

        salam,

      • Hi mama Kevin,
        Iya Lukman juga ada pasang surutnya. Sama seperti Kevin, kalau sedang sakit Lukman juga drop semua, nggak mau sekolah, kalaupun sekolah dia nggak mau ikut kegiatan, terapi juga nggak mau…

        Biasanya kembali pulih lagi kalau sudah sehat. Tapi bisa juga karena manja-manja saat sakit, jadi keterusan acting nggak mau ini itu. Jadi saya harus agak tegas sama Lukman, supaya dia kembali ke rutinitasnya.

        Soal diet, Lukman tidak diet CFGF, saya hanya pastikan yang dia makan itu sehat dan bergizi, tidak makan makanan dg MSG, tidak makan yg dg pewarna buatan, makan sayur dan buah itu harus.

        Begitu Mam Kevin🙂

  12. Hallo mba salam kenal.sy mamany akmal (3 th 2 bln).sudah ikut terapi 6 bulan.alhamdulilah sudah banyak perubahan.sudah menjawab jika dipanggil,kalau ditanya sudah menjawab misal”akmal sedang apa?”..dia menjawab”sedang main mobil,atau “sedang makan”..klo meminta sesuatupun sudah lengkap misalnya”mau makan sama ayang goreng”atau mau kue warna putih”.dia sudah familiar dg bentuk,warna,berhitung sudah bisa 1- 15,mengenal abjad pula A – Z..nah yg msh menjadi PR saya adalah akmal msh sulit sekali u/ mau besosialisasi.dia sperti tidak tertarik u/ berteman dg yg sebayanya.juli ini saya masukan dia ke playgroup.dia mau sih main gt breng2 walopun msh cuek skali.,masuk kelaspun mau.tpi ketika di kelas dia tidak mau bergabung.ketika teman2nya bernyanyi membuat lingkaran,dia lbh memilih duduk di kursi dan bermain puzzle.tapi ketika berbaris dengan temannya dia mau.kebetulan memang tidak ada shadow teacher tpi saya sendiri yg mendampingi jdi kadang saya stress sendiri.semua kegiatan di kelas dia mampu tapi dia sperti tidak mau melakukananya bersama teman2nya.adakah solusinya berdasarkan pengalaman mba.makasih ya mba!!

    • Salam kenal kembali mbak Anni…

      Kalau boleh tahu diagnosanya Akmal apa ya? Kebisaan Akmal sudah cukup banyak, hanya saja perlu lebih didukung untuk belajar bersosialisasi ya.

      Dulu disekolahnya Lukman juga seperti itu, lebih suka menyendiri. Namun berkat bantuan dari guru kelas untuk mengajak Lukman berkegiatan bareng teman-temannya juga mengarahkan teman-teman ‘normal’nya untuk mengajak Lukman turut serta bermain yang sangat membantu kemajuan Lukman dalam bersosialisasi disekolah. Jadi sangat perlu kerjasama dengan guru kelasnya. Tentu saja hal ini tidak dicapai dalam waktu yang sebentar, namun secara bertahap Lukman makin nyaman bersama teman-teman sekelasnya.

      Untuk usaha kami dirumah, Lukman selalu kami ajak kalau ada kegiatan diluar rumah, jika kondisinya nyaman untuknya. Sebisa mungkin setiap acara keluarga Lukman kami bawa, begitu juga saat berkunjung kerumah teman, atau sekedar berbelanja. Tapi jika kami perkirakan suasana dan kondisi tempat yg akan dikunjungi tidak akan nyaman untuk Lukman, kami pun tidak memaksakannya pergi. Ketika Lukman sudah mulai nyaman berteman disekolah, saya mulai atur acara main kerumah temannya (dengan saya tunggui), kadang saya bikin acara dengan ibu-ibu & teman-temannya supaya kami pergi bersama, dan alhamdulillah Lukman senang sekali kalau bisa pergi ramai-ramai seperti itu.

      Begitu sharing saya, semoga bisa jadi masukan untuk mbak Anni🙂

      • Wkt 1,5 th akmal blum ad kosa kata yg kluar,sy cemas lalu sy periksakan ke rs tumbuh kembang di daerah jakarta utara.tpi dokternya tdk bs membuat kesimpulan apa2.dia blng tunggu smp 2 th.akhirny sy tunggu smp usianya 2 th.memang kosa kata mulai ada.dia bs tahu gb hewan,dan benda2 dsekitarny,cukup bnyk tpi dia blum bs menggunakan kosa katany itu u/ berkomunikasi.2 th akmal baru bisa bilang”num (minum) dan susu (susu).dan satu lg akmal msh blum noleh jika dpanggil namany.salahnya saya sy biarkan itu berlanjut dg pemikiran mungkin nantipun akan ada perubahan.nah januari 2012 (akmal berumur 2 th 8 bulan),kekhwatiran sy makin bertambah,kn akmal ternyt perkembanganny stag.berdasarkan rekomendasi teman yg kebetulan memiliki anak autis + hyperaktif,sy periksakan akmal di slh satu tempat terapi di kota cirebon(kbtln saya tinggal dluar kota ikut suami dinas).2x observasi o/ psikolog,dan dokter kesimpulannya akmal sprtinya autis ringan dan speech delay.ya sudah akhirny akmal mulai ikut terapi bulan pebruari tpi terapisnya dteng k rumah sminggu 2x.singkatnya skrng sudah 5 bulan ya mau 6.terlihat perubahan yg cukup baik.sudah tau namanya jika dpanggil,sudah bs merangkai kata,dsb sprti yg saya sebutkan seblmny..cuma yaitu mslh interaksi sosial yg sperti belum ad perkembangan.di playgrouppun dia tidak mau u/ bersalaman dg gurunya.tpi dia sdh mulai kenal 1 temannya,itupun blum terlalu dekat.dikelaspun msh suka2 dia,blum mau mengikuti intruksi gurunya.tapi atas sarannya terima kasih ya mba.membaca blognya semakin menguatkan hati saya.kapan2 boleh sharing lagi ya mba?^^

  13. Syukurlah mbak Anni sepertinya cukup baik perkembangan Akmal. Perubahan ke arah yang kita harapkan pastinya tidak seketika, karena itu perlu kesabaran dari kita agar sang buah hati tetap termotivasi dan tetap semangat dalam melakukan kegiatan dan terapinya. Sering-sering diajak ngobrol, walaupun saat ini belum terlalu ‘nyambung’ ya mbak, karena walau tidak terlihat, anak kita sedang merekam apa yang terjadi dan didengarnya sehari-hari, dan suatu ketika nanti mbak akan terkejut ketika ia mengeluarkan ‘rekaman’nya tersebut🙂

    Tentu saja boleh sharing lagi mbak Anni, kalau berbagi cerita rasanya lebih ringan di hati bukan?

    Salam untuk keluarga…

    • Terima kasih mba..sudah skitar ampir 3 minggu skolah plus jeda libur lebaran.ternyt memang benar,walopun akmal msh cuek bebek dg lingkungan,tpi ternyt sy cukup kaget kn ternyta dia hampir hapal lagu2 yg di ajarkan gurunya di skolah.scr tdk sengaja sy mendengarny ketika mau tidur.bhkan yel yel sekolahpun yg sy tidak hapal,dia hapal dluar kepala.hehe..dan skrng sudah mau ikut baris dg temanny dan mengikuti senam stiap pagi smp selesai,walo kdng dia sk agk bingung dg bbrp gerakan yg dcontohkan gurunya.untuk di kelas ya masih bertahap.kadang dia mau ikut bergabung kadang memisahkan diri.tpi memang masih di dalam kelas.memang perlu ekstra kesabaran dalam membimbingnya.mudah2an saya bisa melaluiny sprti mba jg..makasih mba!^_^

      • Ya, seperti yang saya tulis sebelumnya, jangan disangka anak-anak yang sepertinya cuek ini tidak merekam apa yang terjadi, hanya saja dari luar seolah-olah dia tidak perhatikan, padahal dia mendengarkan, mengamati saat orang lain tidak bersamanya. Sepertinya Akmal nyaman ya dikelasnya, sehingga mau ikut baris, senam pagi, itu sudah pencapaian yang cukup baik mbak Anni. Semoga kedepannya Akmal makin nyaman dan makin mau bergabung bersama teman-temannya ya…

        Salam🙂

  14. Selamat pagi ibu’….saya msh baca2 blognya ibu’. Terus terang susah sekali mencuri waktu untuk sekedar buka internet…biasanya saya lakukan ketika sambil menunggu anak saya ammar terapi…kebetulan saya tinggal di kota kecil yaitu kab pati-jateng,dimana hanya ada satu tempat terapi.(syukur2 ada bu’….) sayangnya tidak ada terapi wicara… dengan membaca blog ibu’ saya jd terinspirasi untuk memberikan stimulasi sendiri pada Ammar….seperti pengenalan anggota tubuh saat smbil mandi ato bermain….. oh ya sedikit cerita ya bu…perkembangn ammar persis sprti lukman…semua normal dan sdh bs jalan waktu umur 11 bln…tp pd umr 12 bln Ammar terkena cacar dan saya bw ke dkter umum dkt rmh..stlh minum obat itulah Ammar diare berat selama 4 hr…dan tb2 semua kemampuanya hilang,tadinya Ammar sdh bisa panggil mama, papa,maem, mimik…muncul jg bahasa planet(sampe skrg masih) saya bener2 shock bu krn ciri2 nya sama persis dg anak kakak ipar saya yg autis. Kemudian ammar saya bw ke klinik tumbuh kembang dg diagnosa ADHD . Stlh 3 bln diterapi dan diobservasi diagnosa berubah jd autis dg hiperaktivitas. Krn Ammar itu hipernya tinggi sekali bu…jd saya musti hati2 dlm memberikan makanan…saya catat menu harian dan melihat reaksinya….pertanyaan saya ibu’ apakh lukman msh menjalankan diet saat ini? Terima kasih….

    • Lukman sejak saat didiagnosa tidak diharuskan ikut diet oleh psikolog. Hanya saja makanannya dijaga se-sehat mungkin: tanpa pewarna, pengawet, MSG dan ikuti menu 4 sehat 5 sempurna. Sampai sekarang masih seperti itu mbak Riyanah🙂

  15. Halo mbak, salam kenal ya… Anak saya Rayhan 2 th 8 bln, gejalanya sama persis seperti Lukman. Menurut psikolognya mild PDD NOS, dan sejak 2 bulan terakhir ini SI dan speech therapy. Mau dong mbak sharing pengalamannya. Boleh aku add di fb ya mbak.

  16. Salam kenal mba..

    Saya ingin bertanya, kira-kira mba ada info ga tempat terapi wicara yang bagus untuk daerah yogyakarta? Anak saya Vian punya masalah hampir mirip dengan Lukman. Saya baru beberapa hari yg lalu membawa Vian untuk diperiksa di dokter spesialis neurologi. Setelah diperiksa sebentar dan saya diwawancarai mengenai anak saya, dokter tersebut bilang klo Vian punya gejala ke arah autis. Pandangan matanya kurang fokus, klo dipanggil jarang noleh. Sampai umur sekarang 2thn 5bln dia belum bisa bicara, cuma bisa mengeluarkan suara2 aneh gitu, cuma bisa bilang ma ma ma atau pa pa pa. Vian anaknya pintar, cepat nangkap klo diajari sesuatu, misalnya dia udah bisa pake sepatu sendiri walau kadang terbalik masangnya. Mulai belajar pake baju dan celana sendiri jg. Makan juga udah bisa sendiri di meja makan. Klo dibilang temper sih ga jg, soalnya Vian klo udah dibujuk sebentar udah bisa tenang, cuma kadang dia suka lemparin barang2 ga jelas gitu. Anaknya penyayang, klo disuruh nyium bunda atau bapak langsung deh pipinya yg dikasi. Vian jg udah mulai ikut playgroup 4bulan yang lalu. Vian rajin ke PG nya, di kelas dia bisa mengikuti pelajarannya dengan baik, ketika anak2 lain di hari pertama masuk PG pada nangis2 ga mau ditinggal mamanya, dia malah pede aja ditinggal sendirian di kelas. Saya cuma ngantar jemput aja tugasnya. Setelah pulang sekolah saya jg sering sharing sama guru2nya, kata mereka vian anaknya gampang nurut dan fokus klo lagi ngerjain tugas hanya saja suka berlebihan misalnya klo ga lagi gilirannya dipanggil ngerjain tugas tetap aja dia yang maju duluan. Makanya waktu kemarin divonis gitu saya dan suami shock berat, suami malah sampai nangis setelah pulang kerumah. Makanya saya ingin cari tau tempat lain yang bagus untuk meneliti lebih dalam lagi tentang kasus anak saya dan penanganan seperti apa yang tepat untuk Vian. Saya ga mau dia di diagnosa serampangan dan seenaknya aja dirujuk untuk di ikutkan ke SLB. Jangan sampai nantinya hasil yang kami dapat ga sesuai dengan pengorbanan yang kami lakukan. Mohon sarannya ya mba. Makasih sebelumnya.

    • Salam kenal juga Mama Vian…

      Kalau membaca cerita Mbak diatas, saya juga sarankan minta second opinion pada ahli yang lain. Kalau Vian baik-baik saja di PG, apalagi mau ikut kegiatan kelas dan kerjakan tugas kenapa dirujuk ke SLB? Apalagi Vian sudah cukup mandiri, bisa makan sendiri, bisa pakai sepatu sendiri. Kebiasaan melempar barang mungkin karena apa yang dia mau nggak dipahami orang sekelilingnya, jadi dia emosi dan disalurkan seperti itu.

      Saya tidak tahu ahli atau klinik tumbuh kembang yang baik di Jogjakarta, saya tanya teman-teman dulu ya Mbak kalau nanti dapat infonya saya forward. Sementara itu saya sarankan mama Vian coba join ke group facebook yang namanya LRD Member, disana kumpul orangtua anak berkebutuhan khusus yang saling support sesama anggotanya dari berbagai kota di Indonesia juga para terapis dan dokter. Group tersebut terbuka utk umum, non komersil, sehingga bisa jadi tempat mencari dan berbagi informasi.

      Semoga membantu ya mama Vian, salam…

      • Mama Vian, saran dari teman di Jogja: coba datang ke Unit Konsultasi Psikologi UGM Di UKP ini nanti akan direkomendasikan tempat terapi yg sesuai dengan hasil diagnosa. Atau bisa juga ke klinik tumbuh kembang anak di RS Sardjito.

  17. Salam kenal Mbak,saya ibu dari seorang anak laki2 (Adit) umur 3 thn 8 bln.Anak saya persis seperti Lukman kalo diliat detail ceritanya mbak,ketika saya ke neurolog anak,DSA,Psikolog mereka gak mendiagnosa apa2 hanya kesimpulannya Adit speech delay.Saya sdh terapi wicara dan terapi SI sejak Adit usia 2 thn 4 bln,hingga skr utk motorik kasar & halusnya sdh berkembang cukup baik hanya mnrt saya terapi wicaranya stagnan.Kognitif,sosial,emosi sudah sgt baik hanya 1 kata pun blm keluar dari mulutnya.Menurut terapisnya,syaraf oralnya sgt lemah krn utk huruf vokal hanya bisa A.Ada bbrp pertanyaan:
    1.Sekolah tetum berarti sekolah inklusi ya?apakah untuk anak kebutuhan khusus disediakan shadow teacher dari sana/kita rekrut sendiri?saya berencana memasukkan Adit ke playgroup thn ini,mgkn agak telat tp pernah saya trial Adit di sebuah playgroup ternyata dia gak nyaman sama sekali,malah ketika Adit terapi di klinik tumbuh kembang anak dia lbh cpt beradaptasi
    2.Terapi wicara di rumah apa biayanya lbh mahal di banding di klinik tumbuh kembang anak?stlh terapi SInya selesai,rencananya akan mencari terapis yg datang kerumah yg sptnya lbh efektif & efisien.Mbak apakah punya info mengenai terapis yg bisa dtg ke rumah?

    Saya senang sekali bisa ktm blog ini & share,byk pertanyaan2 di benak saya yg akhirnya tercerahkan stlh baca post2 mbak.Trims sblmnya🙂

    • Salam kenal juga mbak Diana🙂
      Langsung saya jawab pertanyaannya ya,
      1. Sekolah Tetum Bunaya memang sekolah inklusi, kebijakan untuk shadow teacher sebaiknya langsung ditanyakan saja ke sekolah ya mbak, no teleponnya 021 7866365. Soal kenyamanan, memang perlu diperhitungkan karena semakin nyaman anak akan semakin baik perkembangannya.
      2. Secara umum memang lebih mahal terapi dirumah dibandingkan terapi di klinik. Faktor utamanya karena terapis harus mendatangi rumah klien, sehingga umumnya faktor biaya transportasi diperhitungkan. Sedangkan kalau untuk di klinik terapisnya tinggal menunggu klien datang, dengan biaya yang standar. Untuk info terapis yg datang ke rumah, mohon maaf saya juga tidak tahu yg up to date, karena Lukman sudah berhenti TW dari awal tahun 2011.
      Terimakasih sudah berkunjung mbak Diana, saya senang kalau tulisan-tulisan saya berguna bagi orangtua ABK lain. Tetap semangat ya mbak😀

  18. Dear Mbak Rosa,
    Ya,saya tertarik sekali dengan Tetum,sayangnya rumah saya posisi di Bekasi Utara.Saya sudah cari sekolah inklusi sekitaran sini hanya sepertinya blm ada.Apakah terapis wicara lukman didatangkan dari klinik tumbuh kembang anak tmpt lukman terapi dulu/mbak cari sendiri?Sekali lagi saya ucapkan terima kasih,salam untuk keluarga ya…

  19. Dear Mbak Rosa, terima kasih atas sharing-nya yang sangat bermanfaat. Saya merasa lega karena akhirnya tidak merasa sendirian lagi karena di luar sana banyak orang tua yang punya masalah serupa. Anak saya Emma (2 tahun 9 bulan), saat 2,5 tahun pernah divonis PDD-NOS oleh dokter neuro di salah saltu kinik tumbuh kembang ternama di Jaksel dan disuruh mengikuti terapi SI dan behavior. Ciri-cirinya memang mengalami lambat bicara (sampai 2,5 tahun belum bisa merangkai kalimat, hanya menyebutkan kata satu per satu walau kosa katanya sudah banyak secara bilingual) dan masih sering bicara dengan bahasa planet. Emma juga mengalami bingung bahasa karena sempat menghabiskan setahun pertama hidupnya di luar negeri. Setelah vonis itu, kami mencari second opinion ke Klinik Kancil, bertemu Psikolog Bapak Edward Andriyanto. Hasilnya ternyata bukan PDD-NOS, tetapi lebih pada golongan anak late bloomers. Beliau belum menyarankan terapi apa2, tetapi menyarankan Emma banyak bermain outdoor untuk mengembangkan sistem motoriknya dan kami konsisten berbahasa dengannya. Hasil assessment yang kurang lebih sama disampaikan juga oleh psikolog anak di sekolah Emma di Cikal. Bahwa masalahnya adalah di kemampuan reseptif dan ekspresif berbahasanya. Jadi mulai bulan ini Emma akan didampingi shadow teacher dan akan diikutkan terapi SI di sekolah untuk membantu melatih sistem motoriknya. Kami memang ragu mengikutsertakan Emma dalam terapi di klinik tempatnya divonis PDD-NOS karena selain beranggapan bahwa vonisnya terlalu cepat ditegakkan, sistem terapinya sangat mengejar target sehingga membuat Emma merasa kurang nyaman. Psikolognya di sekolah menyarankan untuk Emma juga mengikuti terapi wicara. Kami masih akan berkonsultasi lagi dengan Psikolognya di Kancil (Bapak Edward) untuk melihat segala kemungkinannya. Sampai sekarang saya masih suka khawatir karena takut langkah2 yang diambil tidak efektif untuk perkembangan Emma, tetapi sejauh ini kami masih terus memantau perkembangannya dan terus memberikannya terapi sendiri di rumah sesuai petunjuk psikolog di Kancil dan Cikal. Kalau tidak keberatan, nanti saya add di Facebook ya Mbak…Terima kasih banyak (Nita, Mamanya Emma)

    • Hai mbak Nita, salah satu yang membuat saya terus menulis adalah teman-teman baru seperti mbak Nita yang sedikit banyak punya kesamaan masalah perkembangan anaknya. Semakin hari sepertinya semakin banyak anak yang di diagnosa PDD Nos, autis atau development disorder lainnya.

      Sama seperti yang dialami mbak Nita sekarang, dulu begitu saya mendapat diagnosa untuk Lukman, kepingin sekali punya teman yang bisa bertukar pengalaman dan bisa saling sharing kesulitan/kendala yang dihadapi. Untunglah ketika itu saya memang punya satu dua teman yang sangat membantu, yang mau meluangkan waktu untuk ngobrol dan dari mereka saya juga dapat ‘suntikan’ semangat dan keyakinan bahwa kita harus usaha dan berikhtiar agar anak kita bisa berkembang lebih baik. Rasanya mengobrol dengan teman ini sama pentingnya dengan kebutuhan kita utk konsultasi dengan para pakar🙂

      Mengenai efektifitas dari langkah/keputusan yang kita ambil memang butuh waktu untuk membuktikannya. Selain itu memang perlu kesabaran dalam menunggu hasil dari terapi/stimulasi yang dilakukan. Tiap anak berkebutuhan khusus memang unik seperti setiap anak lainnya mereka berkembang dengan tahapannya masing-masing. Ada yang sebulan dua bulan terapi sudah terlihat hasilnya, tapi ada juga yang butuh waktu lebih lama sebelum terlihat perkembangannya. Kalau dari pengalaman saya, jangan terlalu kecil hati kalau merasa kok belum terlihat perubahan, atau kok lambat sekali ya perkembangan anak kita. Tapi jangan juga terlalu gembira ketika melihat anak kita sudah mencapai suatu tahapan, karena masih akan banyak lagi kendala atau kesulitan yang mungkin dihadapi dimasa y.a.d. Karena itu lah saya terus menulis, tidak hanya pengalaman yang menggembirakan, yang menyenangkan, tapi juga saat Lukman sedang drop, dalam kondisi menurun dibanding sebelumnya.

      Senang bisa bertambah teman baru, saya tunggu ya di facebook, peluk untuk Emma🙂

  20. selamat malam,salam kenal mbak,saya ibu satu anak.usia anak saya sigit saat ini 2tahun6bulan.sampai saat ini bahasa yang bisa diucapkan hanya papapapa saja.itu saja juga kadang2.ketika dia menginginkan sesuatu dia hanya menarik tangan seseorang yang ada didekatnya.tak perduli orang itu dikenal atau enggaknya.ketika keluar rumah dia hanya senang berlari2 sendiri meski disekitarnya banyak anak yg seusianya.dipanggil pun dia tak menengok atau merespon.selama ini saya hanya bertanya2 pada orang lain mengenai anak saya ini.untuk membawanya ke ahli terapi atau dokter spesialis sama sekali belum pernah kami lakukan karna keuangan kami yang tak berlebih.mohon saranya dari mbak atau ibu2 yang lainnya bagaimana cara menangani anak saya selain membawanya ke ahli terapi.terus terang untuk membawanya keahlinya kami masih bingung mengenai keuanganya.terimakasih

    • Salam kenal juga mbak Surti…

      Salah satu hal yang perlu disadari orangtua dengan anak berkebutuhan khusus bahwa pendidikan anak dirumah adalah yang terpenting dari berbagai usaha yang dilakukan. Terapi, ya tentu perlu, sekolah, apalagi. Tapi jika kita hanya melepaskan anak kita dengan usaha diluar, dan tidak mengupayakan mendidik dirumah agar anak mandiri, agar anak lebih mau bersosialisasi, tentunya hasilnya tidak akan optimal.

      Jadi jangan terlalu ‘patah hati’ dengan kondisi keuangan yang tidak memungkinkan mbak Surti membawa anak ke klinik untuk terapi. Banyak kenalan saya ibu-ibu hebat yang menerapi anaknya dirumah sendiri, baik karena alasan yang sama dengan mbak Surti, maupun karena memang tidak ada klinik dilingkungan tempat tinggalnya, dan mereka dapat membuat perkembangan anaknya menjadi lebih baik.

      Karena itu tetaplah semangat utk bertanya dan cari tahu cara penanganan bagi sang buah hati, kalau memang bisa ber internet, bergabunglah dengan komunitas2 pendukung anak berkebutuhan khusus, dan cari tahu dimana bisa mendapatkan bantuan, seperti ke Rumah Autis yang dapat memberikan beasiswa terapi (http://www.rumahautis.org) atau ke Yayasan Mpati yang memberikan buku-buku dan video gratis (http://autismindonesia.org/). Mungkin masih banyak lagi yayasan dan orang-orang berhati mulia yang tidak segan membantu siapapun yang membutuhkan.

      Tetap semangat mbak Surti!🙂

  21. Salam kenal Bu Rosa, saya punya anak 2 tahun2 bulan, bln dec lalu didiagnosa PDD NOS oleh dr hardiono. Disarankan terapi SI (sensory integration) sekali seminggu. waktu itu anak saya sudah terapi SI selama 1 bulan tetapi hasilnya kurang maksimal (mungkin juga karena saya masih sibuk dengan kerjaan di kantor jadi kurang bisa maksimal melatih anak saya di rumah).

    Akhirnya saya dan suami putuskan utk mengirim anak saya ke Jogja selama 1 bln (disana ada neneknya dan bude nya dan sepupu2nya yang umur TK-SD) dan juga diikutkan terapi (semacam SI juga dan terapi wicara-2 kali seminggu di klinik tumbuh kembang RS dr Sardjito jogja), hasilnya jauh lebih baik dari yang sewaktu di Jakarta (dia banyak meniru kakak2nya, sudah mengerti beberapa kalimat perintah: buang sampah, pakai sandal, dll).

    Weekend kemarin saya dan suami memutuskan untuk menjemput anak kami di jogja dengan bebrp pertimbangan (walaupun sebenarnya kami sedih membawa dia kembali ke jkt krn perkembangannya selama di jogja baik sekal). Nah sekarang saya bingung…saya harus membawa anak saya terapi ke mana di jkt, selain di klinik anakku…setelah saya baca tulisan ibu, saya mulai mempertimbangkan utk membawa anak sya ke klinik kancil.

    sewaktu konsultasi denga psikolog di RS sardjito jogja, disarankan juga untuk ikut PAUD. Utk playgroup tetum, menurut pengalaman ibu apakah lukman bisa mengikuti kegiatan2 sekolah, dan apakah ada kendala dalam dia mengikutinya? saya agak khawatir apakah nanti anak saya bisa mengikuti atau tidak…
    Terima kasih.

    • Salam kenal juga Bu Fira,

      Membaca cerita Ibu, saya menyayangkan sekali sang buah hati sudah dijemput kembali dari Jogja sementara di Jakarta ini Ibu belum memutuskan akan melanjutkan terapi kemana. Seandainya saya jadi Ibu, seandainya lho🙂 karena saya tidak tahu kendala yang Ibu hadapi, saya belum akan menjemput anak dulu tapi mencari dan memutuskan dulu akan terus di klinik mana. Karena bukan hal yg mudah mencari tempat terapi yang cocok, kalaupun dapat yang cocok belum tentu langsung bisa mulai karena penuh jadwalnya. Nah setelah dapat tempat terapi yang cocok, baru saya jemput anak saya ke Jogja.

      Kenapa begitu?
      Karena sangat penting untuk mempertahankan konsistensi terapi, kalau sampai terputus, bisa dibilang harus mundur dulu dari tahap sebelumnya, atau mulai dari awal lagi. Begitu yang saya alami dg Lukman dan begitu yang saya dengar dari pengalaman teman-teman sesama ortu anak spesial.

      Juga sangat penting untuk mengejar perkembangan selama anak berada dalam masa emas perkembangan. Ya walaupun anak kita berkebutuhan khusus, namun sebisa mungkin kita usahakan sebelum 5 tahun anak kita sudah ada perkembangan yang berarti. Lebih dari 5 tahun, tantangannya akan lebih banyak.

      Untuk sekolah, Lukman baru mulai sekolah ketika sudah ada perkembangan wicaranya. Saat ia sudah mulai punya cukup banyak kosakata, saya memutuskan memulai sekolah di Tetum. Kalaupun ada kendala, kita bisa bicarakan dengan guru dan kepala sekolah, bahkan ketika itu tidak hanya kerjasama orangtua dg sekolah, tapi juga dengan terapisnya. Dan ini terus berlanjut sampai sekarang, karena dengan kerjasama semua pihak, perkembangan Lukman jadi sangat terarah.

  22. Alhamdulillah senang sekali menemukan blog ini mama Lukman. Sepertinya Lukman ada kemiripan dgn anak sy Kenzie (2thn10bln)
    Pd saat usia 2,5thn saya bawa menemui dokter Tumbang dan psikolog di daerah kami.Diagnosanya ADD (attention defycit disorder). Saat ini krn penuh-nya jadwal di RS tsb, Kenz hanya diterapi wicara dan OT (okupasi terapi-perilaku-atensi). Banyak sekali perkembangan Kenz setelah diterapi, bisa menyanyi meskipun ga lengkap dan jelas (yg penting nadanya benar! hahahaha.. ) Banyak kosakata (meski artikulasi kurang) dan bisa memanggil saya “Bunda”. Kenz kesulitan dalam L (bola jadi boa), N (naik jadi baik), akhiran R dan L (motor jadi motong, mobil jadi mobing)
    Setiap hari (kebetulan sy dirumah) stimulasi sy dgn membacakan dongeng, menyanyi, mengenalkan kosakata flash card benda dan anggota tubuh, main puzzle, cuma ya itu..koq seringnya dia tdk minat ya, mainnya mobil2an yg selalu dinaikinya hampir sepanjang hari.
    Yg saya cemas, hingga saat ini Kenz blm bisa menjawab bila ditanya atau “ngobrol” 2 arah, meskipun itu pertanyaan sederhana. “Sudah makan belum”, atau menunjuk sesuatu dan bertanya “ini apa”
    Oiya, waktu itu yg bikin sy shocked psikolog ya mengobservasi Kenz bilang bhw Kenz cuma babbling dan kosakata yg diucapkannya adalah sekedar meniru atau dia hapal, bukan karena dia paham. Karena Kenz bisa menyebutkan benda (dgn media gambar atau kartu flash card) tetapi jika benda langsung dia tdk menjawab).
    Juli nanti Kenz tepat 3thn mau masuk PG,semoga perkembangannya lebih baik.
    Mudah2an perkembangan Kenz jg bs sebaik Lukman.🙂 saya ajukan pertemanan di FB, mohon di approve ya mama Lukman

    • Hai Bundakenz, senang punya kenalan baru… saya sudah add di facebook ya…
      Bunda, kemampuan tanya-jawab itu memang kemampuan yang sepertinya paling akhir dari perkembangan wicara balita. Untuk menuju tahapan ini pastinya mereka sebelumnya harus mengerti dulu apa yang dibicarakan, jadi bukan hanya bisa meniru saja. Kalau dari pengalaman Lukman memang ditekankan pemahaman ini oleh terapis okupasinya. Coba sampaikan pada terapis okupasi tentang apa yang ditemukan oleh psikolog, dengan demikian terapis bisa menerapkan program yang sesuai untuk temuan tersebut.
      Memang saat kita berhadapan dengan beberapa profesi, kita juga harus menjembatani komunikasi diantara mereka supaya hasilnya optimal untuk anak kita, bunda. Juga demikian kalau Kenz sudah mulai sekolah, temuan-temuan dari apa yang dilakukan disekolah menjadi masukan lebih lanjut yang sebaiknya bisa dibahas dengan para terapis agar ada kesinambungan antara pihak sekolah, terapis dan bundanya Kenz.
      Begitu Bunda, semoga membantu ya jawaban ini, dan terus semangat ya…🙂

  23. berkesan banget abis baca crita mbak ros..jd pengen ikutan share&tanya2..anak kedua saya ‘cecil’ usia 2th8bln sepertinya mengalami hal yg hampir sama dgn Lukman..saya uda add fb mbak,tolong di approve ya..biar sy bisa nanya2 lebih lnjt lg..salam kenal.makasih

  24. salam mama lukman, saya widi-pemain baru di dunia ABK…anak saya fatih 3 th, baru dua pekan saya terapi….hasil diagnosanya speech delay dan behaviornya agak kurang patuh untuk diminta mengerjakan sesuatu kalau sdh asik dengan barang/sesuatu yg menarik buatnya (mirip lukman), cerita2 mama lukman makin menambah semangat saya untuk kemajuan terbaik buat fatih anak saya….thanks🙂

    • Hai mbak Widi, senang punya kenalan baru…
      Selamat datang di dunia ABK, senang kalau cerita-cerita Lukman bikin mama Fatih makin semangat…
      Kalau bisa berkenalan dengan sesama ortu anak spesial memang akan lebih menambah semangat mbak, saya sarankan bergabung dengan parent support group untuk ABK.
      Salam untuk keluarga🙂

  25. Hi Mama Lukman,
    Sy mama Kevin.. lamaa banget tidak ngobrol2 nii :)…hehehe
    pengen curhat lg mengenai anak Kevin,..per Juli kemaren Kevin masuk TK A..senang dia sdh byk peningkatan berkomunikasi..dia bersosialisasi dengan tmn2nya abangnya *yg kebetulan 1 antar jemput..meskipun msh keluar bahasa planetnya sdikit2 tp kdg2 dia brusaha unt bermain ataupun berinteraksi dgn tmn2 tsb.kalau ada sodara sepupunya datangpun dia senang skali turut serta bermain..bahkan senang sekali bermain petang umpet..pas awal2 petang umpet dia ikut2an menghitung..lambat laun dia sdh mulai terbiasa dlm arti ada yg jaga ada yg ngumpet (sdh mulai mengerti)..
    cuma ada yg bikin sy kawatir,dia paling susah untuk pelajaran mewarnai.tadi sy kesekolahnya sy datangi gurunya..bliau blg kevin masih suka jln2 or ga betah duduk diam.. sy agak2 down dengernya.
    Jadi PR sy sekarang,bagaimana kevin bsa ‘maksimal’ dlm pelajaran mewarnai dan duduk diam dlm waktu yg agak lama.
    Apakah mama Lukman pernah mengalami hal yg sama yaa ketika Lukman berada di kelas TK A ?
    sy cukup lemes denger info itu dr gurunya..cuma sy jg kadang berpikir,bukannya anak yg normalpun pd kondisi TK A jg ngalamin hal yg tidak betah duduk diam..hehehe..*pembelaan diri sndri..

    thanks ya Mam Lukman buat mau dengerin curcol mak Kevin ini :)…

    salam,

    • Hi juga Mama Kevin🙂
      Terus terang sampai sekarangpun Lukman juga tidak akan betah jika hanya duduk didalam kelas. Salah satu alasan saya memilih sekolahnya sekarang ya itu: mengerti kebutuhan bergerak anak. Jangankan untuk anak TK, anak SDpun ada yang masih butuh banyak bergerak. Karena itu orangtua memang harus memahami tipe belajar anaknya, dan memilih sekolah yang sesuai dengan tipe anaknya tersebut. Begitu Mam, semoga membantu ya…

      • Mam Lukman,
        maap ada yg terlewatkan juga,
        bagaimana mama Lukman menangani ketika pelajaran mewarnai or menulis..apakah juga melakukan terapi okupasikah ?
        terimakasih Mam Lukman🙂

      • Betul Mama Kevin, sejak awal terapi langsung: terapi wicara dan terapi okupasi. Terapi okupasi semakin berperan ketika Lukman mulai SD.
        MamKevin, saya kirim informasi ke inbox facebooknya, sudah diterima kah?

  26. salam kenal mb rosa..
    saya setuju dg pendapat mb rosa bahwa seorang ibu lebih tau anak kita dibanding seorang ahli apapun.
    anak saya laki2, usia 31 bulan, kosakatanya banyak sekali, banyakk sekali nyanyian yg dia hafal ( kalo diajari lagu baru gampang hafalnya), kontak mata ada (terutama dengan orang2 dirumah), suka bercanda dengan saya, papahnya, adiknya, dan pengasuh. waktu dikenalkan kartu2 bergambar, dengan cepat dia hafal dan mengulang sendiri tanpa disuruh. pengenalan angka dan bentuknya dari 1-10.
    hanya saja komunikasi 2 arahnya kurang sekali. hanya yg rutin dan sederhana saja yg dia bisa. misal ini kita dijalan apa. itupun kalo pas dia mau jawab. sudah bisa mengutarakan keinginannya, meski kalimat sederhana : mario mau mimik air putih, mario mau sabuk papah.
    dia juga sering bicara tidak sesuai konteks.
    untuk kemandirian belum bisa makan sendiri, tapi sudah bisa melepas pakaian dan meletakkan didalam keranjang.
    1 taun yang lalu saya sekolahkan dia di sekolah berbahasa inggris. disana dia sudah bisa mengikuti semua lagu, hafal 3 jenis doa yg lebih dari 3 kalimat. hanya saja untuk kegiatan mewarnai, matching shape, color, dia tidak mau mengikuti. intinya yg berbentuk pelajaran dan duduk dia susah.
    sekarang dia saya pindahkan ke sekolah berbahasa indo. menurut gurunya dia kadang mau duduk diam mendengarkan, tapi kadang susah. saat dipanggil namanya, ya dia cuek aja.
    sehingga saya ikutkan terapi untuk konsentrasinya. beberapa kali terapi, gurunya bilang kl anak saya itu ada delay dalam pemahaman kata2. jadi apa yg kita ucapkan ke dia, banyak yg dia bingung. sedangkan kalo diajari kegiatan yg membutuhkan konsentrasi, dia susah, kadang matanya malah melihat ke arah lain, ato pikirannya mengembara. sehingga untuk 1 kegiatan, gurunya bisa memberikan perintah berulang2.
    yg saya kuatirkan, gurunya bilang kalo hal seperti ini tidak segera dikejar, bisa jadi autis.
    menurut mb rosa, apa benar ya mbak… saya tu jadi kepikiran terus…
    mohon pendapatnya y, mb rosa….
    maaf kalo kepanjangan..

    • Kalau menurut saya lebih baik mommymario konsultasi dengan dokter tumbuh kembang atau psikolog yang biasa menangani anak berkebutuhan khusus. Kalau orang awam mungkin hanya bisa menebak-nebak apa masalah perkembangan anak kita, tapi kalau mommymario pergi ke ahlinya mereka punya tools untuk mengetest dan observasi yang mendalam dari permasalahan anak kita. Lebih cepat diketahui apa penyebab permasalahan anak lebih baik mommymario, agar bisa ditetapkan treatment apa yang tepat untuk mendapatkan perkembangan yang lebih baik.
      Begitu ya mommymario, semoga saran saya bermanfaat🙂

  27. terimakasih sarannya, mb rosa.
    dulu siy waktu mario sekitar 15bulan, saya pernah bawa ke klinik KTK. karena pada saat itu saya lihat kok kosakatanya masih minim. hasil observasi dokter, kurang konsentrasi dan kurang stimulasi dlm pembicaraan 2 arah. disarankan untuk terapi okupasi yg dilanjut terapi wicara.
    saya coba sampai 3x pertemuan, yg ada anak saya malah nangis sepanjang terapi. malah baru dekat ruangan aja dia sudah menangis.
    akhirnya kami putuskan untuk berhenti dan mau diajari sendiri dirumah. kebetulan dia juga sudah mulai saya sekolahkan, tapi memang di sekolah berbahasa inggris.
    menginjak sekitar 2 taon memang kosakatanya bertambah. sehingga saya tidak terlalu kuatir. tapi memang saya akui untuk pembicaraan 2 arahnya kurang saya kejar. hingga akhirnya seperti ini.
    rencana minggu depan saya akan bertemu dengan psikolog anak. rasanya menunggu sampai minggu depan itu seperti bom. saya kuatir dengan hasilnya.
    mohon bantu doa yah, mb rosa.
    terimakasih.

    • Mommymario tidak usah panik atau terlalu kawatir utk pertemuan dg psikolog. Kan selama ini sudah ada hasil yang positif, ananda sudah bertambah kosakatanya. Kalaupun memang perkembangan bahasanya tidak secepat anak-anak lain ya jangan cemas, memang tiap anak itu unik, tidak bisa disama-samakan satu dengan yg lainnya. Ini yang membuat saya selalu bisa berfikir positif, Mommymario, karena apa yang saya lihat adalah perkembangan Lukman sendiri. Mensyukuri kemajuan2 yang diperolehnya walau mungkin bagi orang lain itu kecil atau tdk ada artinya. Dengan punya pandangan positif seperti itu, kita nggak akan cepat panik, dan kawatir tentang segala sesuatunya.
      Apalah arti diagnosa atau label, yang terpenting: kita tahu kondisi sesungguhnya dari anak kita, apa yang jadi kebutuhannya, dan kita kejar terus sesuai dengan kecepatan anak kita. Nggak usah pedulikan omongan orang lain, tapi tetap punya target agar anak kita terus berkembang lebih baik lagi… Ayok semangat, Mom!😀

  28. Iyaaa nih, mbak. Kuatir terus bawaannya. Sampe gak pengen ngapa2in.
    Mb rosa, mau tanya lagi, kalo bertemu dg psikolog selain interview dg orang tua, kan pasti anaknya juga diobservasi.
    Lah padahal anak saya kalo sama orang baru susah diajak komunikasi. Boro2 mau jawab pertanyaan, dipanggil namanya aja belum tentu mau menoleh.
    Terus gimana tuh..
    Terimakasih.

    • Psikolog yang baik akan tahu kok Mom bagaimana pendekatan kepada klien cilik spt Mario🙂 Apalagi kalau sudah terbiasa dengan anak-anak berkebutuhan khusus, ya harusnya tahu betul anak itu bagaimana reaksinya dengan orang yang baru dikenal…

      • Ktm lg dg mama lukman hampir 1 th sejak anakku akmal playgrup..alhamdulillah skrng akmal sdh tk a,skrng sdh tdk sy temani lg,jdi benar2 mandiri.bbd dg wkt playgrup,walopun di kls dia msh sibuk sdri dg mainan,skrng sdh hampir totali duduk dg teman2ny,mulai asik mendngr guru bercerita,mengerjakan tugas menulis,bhkn mewarnai..1 th kmren itu memang benar2 masa sy sbg ibunya u/ mempersiapkan dia msuk tk.sempat sy was2,mengingat klo pg dulu cm 1,5 jam belajarny,smntr pas tk dia hampir 4 jam.alhamdulillah sdkit demi sdikit dia menyesuaikan diri,walo pd awalny msh susah2.bersosialisasipun sdh mulai ad perkembangan,dan yg terpenting dia sdh mandiri,dlm arti dia sdh tau kapan hrs duduk memperhatikan guru,kapan hrs mengerjakan tugas,kpn wktny istrht makan,kapan waktu pulang,kn itu sempat yg membuat saya khawatir di awal dia masuk tk a.kebetulan tipe anak saya memang tipe yg penurut,artinya stiap hari sblm k skolah dia hrs djelaskan dulu apa yg hrs dlakukan dan apa yg tdk boleh.sy pun slalu berkonsultasi dg guru dkelasny.sy sempat ketar ketir karena dskolahny ini 1 kls ada 20 orang anak dan hanya ada 1 guru,bbd dg wkt playgroup.tpi alhamdulillah anak saya bs mengikuti walopun ga sempurna,kdng dlm seminggu ad 1 hri dia tdk maximal,dlm arti dia tipe gampang putus asa,jdi klo dia ga bs,biasannya menangis ato marah2,ini yg msh menjdi pr saya,tpi itu hampir jarang tjdi,trus pr saya yaitu anak saya ini klo dlm aktifitas dluar sperti bermain bola,ato instruksi u/ berlomba dg temanny sprti lari estafet dll dia msh ga mudeng,jdi msh ky cuek gt,apalgi itu aktifitasny dluar dmana bnyk hal yg mendistraksi konsentrasiny,ini jg pr buat saya..duh jdi curhat..tpi sjauh ini alhamdulillah walopun perjuangan saya msh panjang..

      • Ya Bu, wajib kita mensyukuri perkembangan anak sekecil apapun itu. Untuk menangis atau marah-marah ketika tidak maksimal, mungkin itu caranya mengungkapkan ketidak mengertian atau ketidak nyamanannya. Jadi mungkin bisa dibahas dengan guru kelasnya, siapa tahu ada penyebab yang mungkin beliau sempat perhatikan.

        Begitu juga dg cueknya saat berlomba dengan aturan, karena ini juga jadi masalahnya Lukman sampai sekarang. Saat dia hanya mengikuti gerakan tanpa aturan ya dia senang-senang saja, tapi saat ada lomba dengan aturan yang dia belum paham jadinya cuek saja Bu, atau tidak mau mengikuti.

        Betul perjalanan masih panjang, perlu energi positif yang banyak dari kita Bu, jadi jangan lupakan kebutuhan pribadi kita sendiri, karena jika kita terlalu sibuk mengurus anak spesial kita dan melupakan bahwa kita sendiri perlu ‘me time’ butuh istirahat, butuh waktu yang menyenangkan diri sendiri, hingga jika terabaikan maka mudah sekali kita menjadi frustasi, putus asa dan akibatnya juga dirasakan anak kita nantinya.

        Salam hangat🙂

  29. salam kenal bunda….sy senang baca cerita ini, semangat terus. Anak saya, ammar 5 th 9 bln, baru beberapa kali mengikuti terapi okupasi dan sensoris integritas. Terapi ini disarankan oleh psikolog di sekolah anak saya. Kata psikolog, anak saya termasuk anak yang pintar, cuman belum bisa mengelola emosinya. Alhamdulillah, setelah beberapa kali terapi, anak saya sudah bisa mulai mengontrol emosinya, mulai mau disiplin menaati aturan, walaupun kadang-kadang masih saya ingatkan untuk lebih disiplin. Atas saran psikolog dan terapisnya, anak saya diminta untuk membatasi menonton televisi dan main game/gadget, lebih banyak permainan outdoor. Untuk membatasi main game dan nonton televisi sedikit agak susah, karena saya bekerja dan anak saya di rumah dengan pembantu. Akhirnya, saya coba untuk membawa semua jenis gadget di rumah ke kantor saat saya bekerja, kemudian saya juga berpesan ke pembantu di rumah untuk membatasi jam menonton teve anak-anak. Sebelum berangkat, saya juga berusaha mengulang lagi aturan yang harus dijalankan anak selama di rumah. Selain itu, saat saya di kantor, saya usahakan untuk menelepon ke rumah untuk mengetahui aktivitas apa saja yang dikerjakan anak saya di rumah. Saya juga mencoba untuk menerapkan disiplin pada aturan dengan cara memberikan bintang yang ditempel di dinding setiap hari jika anak berbuat baik. Jika melanggar aturan yang ada, saya tidak kasih bintang atau hanya saya kasih bintang setengah tergantung pelanggarannya seperti apa. Nanti, setelah bintang yang ada itu terkumpul banyak, saya membuat kesepakatan dengan anak untuk memberikannya reward karena sudah bertingkah laku baik. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit anak saya mulai menunjukkan perubahan. Walaupun mungkin perubahan yang ditunjukkan itu hanya sedikit, hal itu sangat berarti bagi saya. Buat bunda2 yang lain, tetap semangat ya….

    • Terimakasih sudah menuliskan sharingnya bu Esti🙂
      Memang kalau sedini mungkin anak di intervensi, di terapi, dididik dengan kemandirian, hasilnya pasti akan terlihat sedikit demi sedikit. Konsistensi pengasuhan juga sangat diperlukan, sehingga dimanapun anak berada ia akan terus berperilaku sesuai dengan yang diterapkan dirumah.
      Semakin besar anak, semakin banyak pula tantangannya, dan ini kami alami sendiri. Hal yang sepertinya bukan masalah di usia balita, nantinya ketika umurnya bertambah akan menjadi kendala yang tak dialami sebelumnya. Karena itu, semakin cepat anak di kenalkan dengan ke disiplinan, kemandirian, akan lebih baik perkembangannya.

  30. Menangis membaca ini.. antara terharu akhirnya saya (mungkin 90%) tahu apa yang terjadi sama anak saya, sama antara saya sedih karena kecurigaan saya anak saya autis ringan adalah benar.. semua ciri2 mas lukman rata-rata 90% ada pada anak saya.. saya dan suami baru saja mau membawa anak kami terapi (bulan Januari 2014)..tapi entah kapan karena sepertinya suami kurang bisa menghadapi kenyataan, selalu bilang nanti saja.. nanti saja, anak kami baik2 saja..on the other side.. saya respect sekali sama mbak dan keluarga dan sangat terima kasih sama sharingnya, dan satu kata buat mas lukman: HEBAT!!🙂

    • Dear mbak Erina, sikap suami yang seperti itu memang umum terjadi. Cukup banyak bapak-bapak yang menganggap tidak ada yang perlu diseriusi dari kondisi anak, dan berbeda pendapat dengan sang istri. Padahal kalau memang sang buah hati membutuhkan di terapi dan stimulasi khusus, jika lebih dini dimulai maka perkembangannya akan lebih baik.
      Coba saja di diskusikan lagi mbak, atau jika tidak mempan secara langsung mungkin mbak Erina bisa coba bicara dengan orang yang biasanya didengarkan oleh suami, sehingga suami mbak bisa tergerak hatinya dan mau membawa anak ke ahli atau klinik tumbuh kembang.
      Ikut mendoakan dari jauh…

  31. Mama,,ceritany inspiring sekali.memompa kembali semangat saya..
    Anak sy cwe,kinanty umur 20bulan,tpi blum bs bicara.2xsaya ikutkn terapi okupasi dan behavr,tpi sy kurang suka,kinant nangiz truz soalny,anak segini dsruh duduk maniz mgikuti instruksi terapis,aduuuuh isinya nangiz aja dr awal terapi mpe akhir..tapi kata ayahny,sy harus tega demi masa depanny nanti..
    Skrg lagi mmpertimbangkn untuk memasuxkn kinant k KB.
    Bunda facebookny apa?boleh brteman d FB bun,,

    • Hai mbak Desy, umur sekecil itu memang harus dibikin nyaman dulu, dijaga supaya tidak trauma. Ada kalanya harus tega, namun diperhatikan juga faktor kenyamanan sang buah hati.
      Saya sendiri tidak mau memaksakan Lukman ketika baru mulai terapi. Memang sih namanya anak-anak pasti menangis ketemu orang baru dikenal, ruangan baru didatangi, jadi harus dibikin nyaman dulu.
      Dulu itu saya selalu menunggui, saya dengar berapa lama nangisnya Lukman. Kalau nangisnya tidak berlarut-larut, bisa dilanjutkan. Tapi kalau sudah 30 menit masih menangis, saya minta break dulu sama terapisnya, saya masuk ruangan dan bikin dia tenang dulu. Biasanya kalau terapis yg kooperatif mau mengerti.

  32. Hai Mama Lukman yg Luar biasa…
    Saya mengalami hal yg sama saat zidan usia hampir 3 thn.
    Tadinya zidan sudah baik bicara dsb, tiba2 usia 2 thn kira2, dia jarang bicara
    Bicaranya enggak karuan.
    Kontak mata juga susah
    Sampai2 pernah berkunjung ke daerah yg banyak anak2 usia 5-6 thn dan mereka bilang : eh, anak itu ngomongnya pake bahasa inggris ya? Hehe krn mmg tdk jelas. Saya kesian sekali liatnya. Lalu kami bawa ke dokter tumbuh kembang, dan hasil analisa nya, zidan susah kontak mata dan speech delay. Saat itu poin nya hampir autis. Tp msh belum bs dibilang autis. Mmg dia super aktif juga. Dan dokternya mengatakan : terapi yg paling sempurna adalah dengan Bunda dan Abi nya. Lalu TV yg berbahasa inggris semua diganti 1 bahasa saja. Akhirnya kami memutuskan pakai bahasa indonesia semuanya.(sempat zidan diajarin bahasa inggris dan Arab sejak bayi). Dokter bilang : belajar bahasa asing nanti saja, cepet kok. Tp klo seusia ini kurang “latihan” yang ada Malah anaknya bingung bahasa, dan seterusnya. Usia 3thn kami sekolahkan playgroup. Tadinya ga mau, tp Akhirnya mau. Dan terakhir Malah marah2, Smua barang dibuang. Gurunya memanggil saya, katanya : ibu jangan berbicara dg suara keras sama zidan, akibatknya dia tdk mau dipanggil. Bla Bla Bla.. Sampe saya pengen nangis. Wong saya tdk pernah kayak gitu sama zidan.. Akhirnya singkat cerita,kami sekolahkan di sekolah alam, yg guru2nya terlatih mengatasi anak2 spt zidan. Semua diperlakukan sama, dan lbh telaten ke anak2 spt zidan. Setelah kombinasi antara terapi “keluarga” dan sekolah, zidan sembuh lhoo..! Dia bisa berantem, ngotot, membalas,dst di usia 4 thn. Ngomongnya Dah jelas, walaupun lompat sana sini. Jd yg penting, keluarga dan sekolah kudu sinergi ya mom’s!! Tetap semangaaat!!!

    • Senangnya mendapat pesan dari ibu anak spesial yang bersemangat spt mbak Ika ini…
      Betul mbak, karena semangat ini penting sekali bagi para orangtua agar dapat mengasuh anaknya dengan baik.
      Dan betul sekali yang dikatakan pak dokter: terapi yang terbaik adalah dengan bunda dan abi-nya. Dukungan para ahli tentunya tetap diperlukan, namun nomor satu yang menangani tentunya orangtua dirumah.
      Alhamdulillah dapat sekolah yang memahami anak ya bu, kerjasama sekolah-rumah itu jarang bisa kita temui, banyak sekolah yang mengaku inklusi, menerima anak berkebutuhan khusus namun pada prakteknya masih belum memahami para murid spesialnya.
      Buat kami pun kerjasama rumah-sekolah-terapis yang sangat baik menjadi salah satu faktor majunya perkembangan Lukman sampai saat ini.
      Salam untuk keluarga mbak Ika, dan peluk utk Zaki🙂

  33. hai mbak salam kenal,, anakku umur 2th 2bln masi blum bs bicara,kalau meminta lebih sering merengek malah mungkin itu bahasanya dia,, sedih deh kalau dia sudah gabung dgn sepupunya ky beda sendiri. akhirnya aku konsul ke dr.sudjatmiko ktnya speech delay,, dia sih kasi petunjuk aki harus cerewet dll,, pdahal aku cerewet, dan dia kasih option klo aku penasaran aku dikasih rekomendasi ke psikolog ibu ngatini gt,,dia malah blg anakku ada kecenderungan aktif bkn hiper tapi,, anakku seneng bgt jalan jauh, kalau liat tangga suka pengen naik turun terus,, dia blg klo anakku g diterapi bs jd autis😦.. akhirnya aku terapi, pertemuan ptama berjalan lancar danakku diajak bermain untuk bkin dia fokus, dan aku ulangi drmh apa yg dlakukan terapis,, ptemuan kedua terapis menyuruh aku nunggu dbeda ruangan supaya anakku bs konsen g ngeliatin aku terus,, akhirnya aku keluar,, sempat khawatir anakku nangis krn terapis mengajak dia ngucapin kata aaa..mmmaaa… mgkn anakku g mau tp lama kelamaan anakku g nangis cm aku g denger suara anakku terapisnya spertinya mancing dia dgn kue yg aku bawain tk terapi,, gak lama atang anak hiperaktif teriak2,, anakku kaget sepertinya dia nangis dn gak mau belajar,,akhirnya anakku dibawa keluar, terapisnya blg sdh g konsen sehak temannya itu datang,, karna anakku memang gak suka suara petir, petasan atau teriakan anak2 kalau lg main,, tp dia gak taku ketemu orang malah kalau ada anak yg usianya lbh tua misal anak TK dia ajak main dgn bawa bola atau kadang ngajak salim.. nah skrg masalahnya dia rewel terus semenjak pulang terapi trakhir kmr,,dan drumah aku ngerasa kok pipi kanannya kayak yg bengkak ya,, dan agak kemerahan,, aku jd khawatir jgn2 anakku dicubit wkt ddlm tadi,, jd bingung,, suamiku malah marah dia ga setuju di terapi mnurutnya drmh aja sdh cukup,krn terapis mgkn tlalu memaksa sdgkn kalau ortunya sdr pasti lbh kenal anakknya,, pdahal anakku itu malas sekali buka mulut atau meniru ucapan rengekan itu senjatanya tuk dapetin apa yg dia mau,,hiks,, aku takut anakku jd ga bs dkendaliin emosinya,,
    oya ada rekomendasi tmpt terapi daerah pamulang atau bsd mbak?aku add ya fb nya ^^

    • Hi mbak Tyas, salam kenal kembali….

      Ada bbrp hal yg saya lihat jadi poin dimessage mbak…

      Pertama “dia blg klo anakku g diterapi bs jd autis” ini saya nggak mengerti, krn keterlambatan bicara tidak selamanya ciri autisme. Tapi mungkin psikolog tsb juga melihat gejala autisme pada anak mbak?

      Yg kedua, untuk kejadian pipi bengkak dan merah selesai terapi, lebih baik ditanyakan daripada mbak curiga tapi mendiamkan, lalu tidak merasa anak mbak aman terapi disana.

      Apakah memang satu ruangan terapi dipakai dua klien? Saya dulu pernah protes ke klinik karena anakku digabung dg anak lain, yg berbeda kasusnya. Akhirnya klinik minta maaf krn itu kesalahan koordinasi penjadwalan ruang. Kalaupun digabung, biasanya diminta ijin dulu pd orangtua, dijelaskan kenapa perlu digabung. Karena pernah juga anakku digabung dg klien lain, namun dijelaskan sebelumnya oleh terapis bahwa tujuan penggabungan tersebut adalah untuk melihat bagaimana interaksi diantara keduanya. Biasanya penggabungan dilakukan pada klien dg kasus yg mirip, misalnya sama2 terlambat bicara atau sama2 autis, begitu mbak.

      Untuk ketidak setujuan suami, apakah ketika konsul ke dokter/psikolog suami mbak juga ikut? Sebaiknya begitu, agar suami juga mendengar kenapa diperlukan terapi utk anak mbak. Jika berhalangan ikut, jadi mbak yang harus mencoba memberi pengertian kenapa diperlukan terapi. Kesamaan pandangan sangat mendukung perkembangan buah hati loh mbak🙂

      Monggo, silahkan jika mau berteman di facebook…

  34. Salam kenal mba Rosa…sebelumnya trimaksh atas begitu banyak masukan ttg bagaimn mengatasi
    anak Autis…anak sy racher sekarang umur 3, 2 thn suspect PDD NOS saat dia usia 2 thn 9 bulan dan
    sekarang sedang menjalani terapi SI. Sampai saat ini sudah 5 dokter yg saya datangi untuk menilai anak sy…3 menyatakan pdd nos, 2 tidak. Sy bukan menolak menerima tp sy ingin terapi yg benar
    Unt anak sy agar tdk salah langkah krn Anak sy Racher tdk spt anak2 autis lain. Dia tdk sptvanak nirmal, mau dipeluk, tau kalo sy kesel (melihat expresi muka sy ), bs merajuk dgn ksh pipinya unt
    Di sun dan akan memaksa Sy Jika sy tdk mau men cium dia. Kalo tdr maunya dipeluk erat2, diusap2, disayang2 , tdk tkt pasir, kapas, rumput, beras, mau tiup suling, buble, mau cium tangan, mau main
    Ciluk ba sampai terbahak2, main bola dgn ponakan umur 6thn, bisa sy suruh2 walau tdk bnyk, ngerti
    Dan mau makan dimeja makan, byk lg deh mbak….dia kontak mata lama ke sy atau orang2 yg dikenal
    dan dipanggil jg tp memang terbatas hanya orang yg dikenalnya, sm roda mobil , Kipas tp kalo sy larang unt memainkan hanya dgn “eeiiitt” , dia langsung berhenti dan menengok pd sy sambil tersenyum berharap sy gak marah. Kata2 yg diucapkan sangat sedikit spt “itu ikan, itu mobil, itu ayah, itu ibu, itu hebat” sekitar 20 saja dan minta sesuatu msh menarik tgn dan jika benda itu ada diatas, dia minta gendong atau menunjuk kearah benda tsb. Dari penjelasan sy kira2 menurut mbak anak sy autis tidak ? Trus sy harus terapi apa? Oya kalo disuruh belajar gak mau tp kalo ke mall, main bola, pikoknya main, jagonya dia. ..gitu aja mbak terimaksh bnyk ilmunya. Smg Allah mbalas kebaikan mbak. Amin2 YRA

    • Salam kenal juga, trimakasih sudah mampir di blog ini🙂
      Untuk menjawab pertanyaan “apakah menurut mbak anak saya autis tidak?” saya tidak berkompeten untuk menjawabnya. Walaupun saya ibu dari seorang anak penyandang autis, seperti yang mungkin mbak Iin sudah tahu, kasus antara satu anak autis dengan yang lainnya berbeda-beda. Jadi sebaiknya pertanyaan ini mbak tanyakan kepada ahlinya, orang-orang yang berpengalaman dalam menangani anak autis.
      Saya agak heran, kenapa sampai mbak mendatangi 5 (lima) orang dokter untuk menilai Racher, apakah penyebab utama yang membuat mbak merasa ananda harus diperiksa/dilakukan asesmen? Apa karena masih sedikit kosa katanya tersebut?
      Kalau boleh saya sarankan, daripada mbak mencari-cari pendapat apakah ananda autis atau tidak, sebaiknya konsentrasi pada hal-hal yang disarankan oleh para ahli tersebut. Lakukan terapi yang disarankan, apakah itu terapi SI yg sudah dijalankan, maupun misalnya terapi wicara. Lalu apabila memang disarankan mulai sekolah ya coba saja sekolah. Karena dengan begitu ananda akan mulai bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang-anak lain diluar lingkungan rumah. Ini juga bisa menjadi petunjuk bagaimana ananda menghadapi hal-hal yang baru dipelajarinya. Begitu ya mbak, semoga jawaban ini membantu…

  35. salam kenal dg mamanya lukman
    senang sekali sy menemukan artikel ini….hari ini anak sy Sean umur 3 th 4 bln…punya hampir kesamaan dg lukman sebelum terapi. sy uda sethn ini terapi Si dan Wi di sebuah rumah sakit jakarta barat…hari ini sy rencana mau cari tempat terapi yg lain..Terima kasih mama lukman artikel ini sgt membantu sy dan meyakinkan sy utk mencari terapi yg lebih baik utk Sean. selama ini sy agak santai, sy pikir sean uda terapi toh…jd kita serahkan aja sama terapisnya…Sean sampai sekarang komunikasi 2 arahnya masih blm ada, di panggil ga nenggok walalupun kosakatanya uda byk, tp blm bisa merangkai kata2 atau blm bisa 2 kata…sekali lagi terima kasih mama lukman.🙂

    • salam kenal juga mbak santy🙂
      senang kalau tulisan ini bisa membantu dan menyemangati para orangtua.
      Seperti yg mbak santy katakan, kita tidak bisa melepaskan pendidikan anak hanya pada terapis saja, karena mayoritas waktunya adalah dirumah, bersama kita. Jadi dicari saja cara yg menyenangkan utk mendukung program ditempat terapi, dengan cara yg natural saja dan tanpa dirasa anak kita melatihnya kembali dirumah.
      Semangat ya mbak….

  36. wah.. mungkin saya satu-satunya bapak yang ikutan comment dsini.
    salam kenal mbak, saya kurniawan ayah althaf (anak ke 2). sebenarnya saya menyadari anak saya pada waktu umur 11 bulan.(th.2012) waktu dipanggil atau berhadapan di depan nya, selalu menghindar. ketika umur 13 bulan saya konsultasikan ke dr.KTA, kemudian disarankan test bera (pendengaran), alhamdulilah normal. kemudian kami bawa kembali ke dr.KTA dan diagnosa autis ringan (karna diberi balok mampu nyusun sampai 5 tingkat, dihancurkan dokternya, disusun lagi..).
    setelah itu kami disarankan untuk terapi (di surabaya – karena kami tinggal di surabaya), namun hanya sebentar sekitar 2 bulan saja karena istri saya tidak tega yakni dilatih fokus dalam ruangan uk 2×1 sampai nangis” bahkan anak saya tahu klo dia waktu mau berangkat dari rumah pasti sembunyi.
    kemudian kami berpendapat untuk keluar dari terpai tersebut. Waktu ara umur 2 tahun kami sekolah kan di play group (day care) milik unesa… awalnya ditungguin oleh istri , kemudian pembantu saya (saya+istri kerja) selama 2 bulan dan akhirnya bisa ditinggal. banyak kemajuan (oleh saya) disana bisa melakukan dadaaa.. (sambil melambaikan tangan), cium jauh.. mulai mau fokus menatap orang (hanya dikenal). terkadang bisa mengucapkan mama atau ayah.. tapi itu pun kalau pas dia terdesak (lebih” pas sakit).
    sayangnya, lagi senang”nya sekolah, saya dipindah tugas ke balikpapan awal tahun ini.
    disini saya adaptasi dulu dengan kota, baru mulai mencari sekolah” yang bagus dan akan ke dr.KTA lagi (mungkin minggu depan). saat ini althaf sudah umur 3 tahun, dan dia benernya tahu kalau misalkan saya larang.. ara, tidak boleh ya… ayuk pergi… dia sangat merespon, namun tetap tanpa suara…
    stress memang, kadang kalau tidur malam saya tatap, apa ya salah saya dulu kok sampai ke anak saya…

    semoga anak saya bisa mengikuti jejak mas lukman, bisa mempunyai keinginan dan kemampuan untuk mengatasi hal tersebut (begitu juga dengan kami sebagai orang tua), bahkan istri saya sudah berencana mau keluar dari kerjaan juga (istri ikut pindah kerja juga di balikpapan)

    amien…

    • Ayah yang hebat ini…. Saya kasih jempol yg banyak utk bapak Kurniawan, yang mau menyempatkan untuk meninggalkan pesan di halaman ini. Memang kebanyakan para ibulah yang sibuk dan berinisiatif untuk mencari informasi dan berusaha menemukan metode pengasuhan yang terbaik untuk buah hatinya. Banyak anak yang berhasil tumbuh kembangnya karena ibu-ibu yang hebat seperti itu.

      Namun kalau ayahnya ikut bersama mencari informasi, berdiskusi dengan pasangan untuk menelaah mana metode dan terapi yang tepat, ikut menunggui ketika anaknya terapi disaat ia punya waktu luang dari tempat kerja, percaya deh, sang anak akan jauh lebih baik lagi berkembangnya.
      Begitulah pengalaman yang saya dengar dari cerita-cerita orangtua yang hebat disini.

      Bagus sekali ya Ara sudah paham komunikasi walau baru searah, baiknya memang sering diberi stimulasi/rangsangan agar anak bisa dibikin ‘terpaksa’ bicara. Dulu kalau Lukman minta sesuatu dengan menarik tangan atau menunjuk tanpa bicara saya selalu pura-pura tidak mengerti, misal dia mau ambil buah apel dikulkas, nah saya belagak tidak mengerti, didepan kulkas saya bilang “Lukman mau apa? Telor? Tomat? Apa? Bilang sama Mama” nah kalau sudah mau menyebut baru saya berikan. Biasanya ya dia kesal sekali, tapi lama kelamaan akhirnya mengerti kalau dia harus menyebut baru dapat yang diinginkan.

      Salam untuk istri ya Pak, semoga dengan perhatian penuh dari ayah-ibunya Ara terus berkembang dengan lebih baik. Aamiin y r a…

  37. Selamat sore, mama lukman..
    Membaca blog ini membuat saya terharu, semoga perkembangan Lukman semakin meningkat terus. Saya juga mengalami kasus yang hampir sama. Anak saya Darma sampai saat ini (3 th) belum bisa berkomunikasi dg baik. Beberapa kata yg bisa diucapkan hanya: mama, daddy, memang, iya sih, apa, uwah (panggilannya). Hanya saja kata2 tsb diucapkan tanpa makna, hanya sekedar ocehan saja. Cara dia berinteraksi biasanya dg merengek, dan terpaksa berteriak “mamamamaaaaa…” bila saking kesalnya karena tdk dimengerti.
    Sy pernah ajak terapi pd saat usia 1 th 5 bln, tapi terapu hanya berjalan 4 x, terapis menyarankan utk dilanjutkan di rumah saja, krn kasihan uwah nanti tertekan nangis terus, pada prinsipnya tdk ada masalah hanya blm fokus saja. Hanya saja tidak ada perubahan stelah itu. Akhirnya sejak Januari lalu saya ikutkan terapi lagi di tempat lain. Terapisnya mengatakan akan dilakukan terapi okupasi dulu dan terapi pijat, karena uwah blm bs diam dan ototnya lembek.
    Sampai saat ini terapi berjalan sudah 4 bulan.
    Saya sering bingung, menangis, dan putus asa. Dari sisi upacara agama, saya sudah lakukan semua upacara yg harus dilakukan, termasuk mengganti nama. Sekarang uwah sudah tidak minum susu formula lagi, karena harus diet susu dan tepung terigu.
    Sungguh, mbak saya akan tetap lakukan apapun, tapi di satu sisi saya..entahlah bagaimana harus mengatakan..
    Senang sekali bisa berbagi, mbak..semoga Tuhan memberkati..

    • Sebelum terapi, apakah Darma sudah diobservasi oleh tenaga ahli seperti dokter tumbuh kembang, psikolog, atau ahli syaraf anak?

      Kalau ya, saya sarankan jika sudah beberapa lama terapi kembali lagi pada ahli tersebut, laporkan apa yang menjadi kendala.

      Lebih baik lagi jika terapi dilakukan diklinik atau lembaga yang memang dimonitor oleh ahlinya, sehingga secara berkala akan ada laporan perkembangan Darma kepada ahli tsb dan bisa ditindak lanjuti dengan program terapi yang mempertimbangkan perkembangan anak yang terakhir.

      Saran saya begitu Mama Darma, semoga membantu ya…

      • Iya, memang di klinik tsb ditangani oleh seorang psikolog, ibu retno (klinik pradnyagama) stelah konsul pertama kali, kemudian ditentukan terapi2nya. Kemudian 3 bulan observasi lagi, ditentukan ada terapi tambahan lagi.
        Setelah terapi, perilaku dan fokus darma smakin baik, sdh mulai mengerti perintah, dan kontak mata agak meningkat.

      • Wah kalau begitu bagus ya, makin lama makin banyak perkembangannya, teruskan saja terapinya dengan konsisten, mama Darma🙂

      • Baik, mam..trimakasih atas supportnya..
        satu hal yg ingin sy diskusikan, mungkin bisa dibantu bagaimana cara melatih anak agar mau diam, selama ini darma susah sekali diam, terkadang sampai harus intonasi suara kita meninggi atau marah.
        hanya saja saya sadar, hal spt itu mungkin tdk banyak membantu, krn darma bisa jadi ngambek/takut..

      • Diam dalam situasi dan kondisi apa Mam? Pada dasarnya anak balita perkembangan fisiknya dalam keadaan yang baik-baiknya. Artinya memang anak balita memang suka bergerak dan bermain untuk mengoptimalkan perkembangan fisiknya. Jadi bukan hal yang aneh ketika anak merasa tidak betah diam.
        Kalau orang dewasa dapat duduk berjam-jam, anak balita tentunya belum bisa seperti itu karena mereka masih butuh banyak bergerak.
        Untuk terapipun saya tidak setuju jika anak harus duduk diam, nyatanya ketika Lukman masih balita ia memang lebih betah terapi baik wicara maupun SI yang pelaksanaannya tidak hanya duduk diam.
        Terapis wicara minta Lukman duduk hanya beberapa menit, kalau ia ingin bergerak terapisnya mengikuti, mau duduk dilantai hayok, mau sambil melihat keluar jendela juga bisa. Apalagi terapis SInya, beliau bahkan suka terapi dihalaman rumah. Telapak kaki menyentuh rumput, bermain lempar tangkap bola dihalaman, pasti lebih asik ketimbang didalam ruangan. Begitu Mam…

  38. salam kenal yaa mama lukman..cerita tentang lukman membuat saya menjadi semangat lagi karena anak saya juga mengalami hal yang sama.Anak saya 3 th, deva, mengalami speech delayed dan sudah menjalani terapi sensori integritas memasuki bulan ke-3 di klinik CMC kayu putih..

    Mama lukman..boleh di-share, dimana lukman melakukan terapi dan konsultasinya ke dokter mana saja .( dr neurologi nya, dr spesialis anak, dr psikolognya )..

    terima kasih sebelumnya yaa ma..

      • mama Lukman..hehe..yang klinik kancil itu yaa..recomment dokternya yang ANM itu ya..
        Mba..bagaimana dengan pola makan lukman dan vitaminnya.. kalau anak saya deva..roti, biskuit,kentang dan sejenisnya suka tetapi kalau makan nasi selalu menolak dan malah jadi tidak nafsu makan dan agak ngambek..

        bagaiman yaa mba

      • ANM itu psikolog ya mam, bukan dokter…
        Lukman tidak diet, tapi makan makanan sehat yg tdk berpengawet, tdk berpewarna, tdk pakai MSG dan sebisa mungkin makan makanan segar. Permen, juice2an dalam kemasan, minuman kaleng, minuman bersoda, tidak kami berikan padanya. Karena sudah terbiasa dari kecil, Lukman juga tidak pernah minta atau ngambek kalau tidak dikasih.
        Ada makanan yang memang masih sulit dimakan Lukman: sekarang masih berjuang utk bisa makan sayur, bisa muntah kalau dipaksakan. Saya beruntung karena sekolah Lukman sangat concern dg pola makan anak muridnya, sehingga kami saling mendukung agar Lukman mau lebih kenal dengan sayur-sayuran. Syukurlah sekarang sudah lebih bervariasi makan sayurnya, walau masih lebih suka yang berkuah. Ngambek dan marah pasti ada, tapi saya dan gurunya pakai strategi tarik ulur,sehingga tidak dibiarkan maunya saja, pelan-pelan terus diusahakan agar ia lebih bervariasi makan sayurnya.

  39. Hi..mom salam kenal aku Tiara, anakku awi umurnya 3th blm bs ngmg dan gandruung bgt sm gadget. Pernah dibawa ke dr hardiono didiagnosa pdd nos. Udah di terapi 1x 1minggu di klinik cmc, tp kyknya gak ada progress.. PR dr terapisnya gak pernah berubah : jalan, sedot-tiup, main play dough. Kebetulan kami membesarjan anak tanpa pengasuh, sy FTM dan jauh dr keluarga.. awi sangat2 dimanja oleh ayahnya. Semua yg awi mau di beri, kalau masuk supermarket sy tdk boleh melarang awi (ayahnya yg melarang) awi jd sering sekali makan permen,snack yg menvandung msg, diperburuk awi gak mau makan sayur,buah.:(.

    awi seneng bgt gadget nonton youtube video anak2 menyusun balok/membuka bungkus permen. Awi tau alfabet,shapes,numbers. Tp sy bingung bgmn cara mengajarkan awi krn diaselalu di beri gadget oleh ayahnya dan dia jg suka main game. Skrg malah kl dilarang dia memukul kepalanya sendiri. Awi sebenarnya pernah sy sekolahkan di montessori selama 1bln dr awal sekolah dia sudah bs di tinggal. Tp sy harus ikut ayahnya pindah dinas. Skrg dia masih menggunakan bahasa planet terus menerus. Sy rasanya seperti gak ada tmn berbagi,melihat suami sy pun cuek sekali ( ayahnya berpikir anak pasti bisa ngomong kl udah waktunya). Boleh minta alamat fbnya mba? Sy bener2 butuh teman sharing. Huhu. Maaf curhat panjang lebar mba.. terima kasih

    • Konsistensi pengasuhan memang sangat penting untuk kemajuan perkembangan anak. Jangankan anak berkebutuhan khusus, anak yang ‘normal’ saja kalau orangtuanya saling berbeda pendapat dalam hal pengasuhan akan mengalami kebingungan, dan akhirnya hasil pengasuhan tidak se optimal yang diharapkan.
      Sebisa mungkin ‘tarik’ ayahnya Awi untuk memahami kalau ia perlu stimulasi yang baik agar bisa berkembang kemampuan bicaranya. Kalau bicara langsung tidak mempan, mungkin cari orang yang bisa mempengaruhi pandangan beliau.
      Apakah Awi sudah pernah di observasi di klinik tumbuh kembang?
      Tidak selalu keterlambatan bicara harus di terapi, kadang ada kasus (seperti salahsatu ponakan saya) dimana hanya diberikan petunjuk oleh ahlinya bagaimana caranya menstimulasi anak dirumah.
      Dan setahu saya, ketergantungan gadget dimasa batita memang dapat menambah keengganan anak untuk berkomunikasi. Asik main sendiri, asik nonton tivi sendiri menyebabkan ia tidak butuh berkomunikasi.
      Begitu mbak Tiara, semoga membantu ya.

  40. Selamat sore mama lukman
    Anakku farrel usia 21bln smpai skr blm bisa bicara. Kalau dipanggil jarang dy menoleh apa lg kalau dia sedang asik nonton atau main. Dia jg sangat cuek dengan teman sebayanya kecuali org2 yg sudah dy kenal.. kalau diajak ngomong msh sering tidak menatap.. rencana sy pengen cek ke KTK. Mama lukman blh sy mnta no tlp klinik kancil? Yg sy mau tanya.. apakah anak kita disebut anam autis atau bagaimana yah mba ? Apakah bs kembali menjadi ank normal seperti ank lainnya ? Untuk sekolah apakah butuh sekolah khusus atau bs tetap disekolah umum ? Mohon masukannya yah mba..

    Terima kasih

    • Info Kancil: http://www.kancilku.com
      Rukan Duren Tiga Kav. 20, Jl. Duren Tiga Raya No. 7J
      Jakarta, Indonesia 12760 telp (021) 79190447 / 0812-1073-428

      Bila gejala autisme dapat dideteksi sejak dini dan kemudian dilakukan penanganan yang tepat dan intensif, kita dapat membantu anak autis untuk berkembang secara optimal.
      Untuk dapat mengetahui gejala autisme sejak dini, telah dikembangkan suatu checklist yang dinamakan M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers). Berikut adalah pertanyaan penting bagi orangtua:

      1. Apakah anak anda tertarik pada anak-anak lain?
      2. Apakah anak anda dapat menunjuk untuk memberitahu ketertarikannya pada sesuatu?
      3. Apakah anak anda pernah membawa suatu benda untuk diperlihatkan pada orangtua?
      4. Apakah anak anda dapat meniru tingkah laku anda?
      5. Apakah anak anda berespon bila dipanggil namanya?
      6. Bila anda menunjuk mainan dari jarak jauh, apakah anak anda akan melihat ke arah mainan tersebut?

      Bila jawaban anda TIDAK pada 2 pertanyaan atau lebih, maka anda sebaiknya berkonsultasi dengan profesional yang ahli dalam perkembangan anak dan mendalami bidang autisme.

      Untuk sekolah, nanti dilihat dari perkembangan anaknya, mbak Maya, apakah ia siap mengikuti sekolah biasa ataukah sebaiknya disekolah khusus…

  41. Mama Lukman, terimakasih atas blognya dan atas kesediaannya memberi support dan info buat tmen2 semua. U r really a blessing. Boleh ikut sharing ya, saya mamanya Saga 17 bulan. Meski belum saya bawa ke klinik tumbuh kembang utk diperiksa, saya sdh penasaran dan sedang mempersiapkan hati utk menghadapi sgl sesuatunya. Smpai sekarang Saga masih babbling bahasa planet dan belum ada kata bermakna. Dia jg tdk mau menunjuk, kalau minta tolong menggunakan tangan orang lain, eye contact kalo dia mau bagus, kalo ga mau ya ga mau, dipanggil jg tdak konsisten responnya, kadang menoleh, kadang tdk (kalo sdang asik tdak akan menoleh). Interaksinya bagus, suka memberi, suka mencium dan kalau disuruh bisa (kalau lgi mau). Saya kadang bingung dia ini cuek sekali atau memang spesial, krn kadang sangat mudah memanggil dan menyuruhnya. Bulan depan akan saya bawa utk diperiksa. Meski sudah mencoba utk siap, semoga saya bsa menghadapi diagnosanya dgn tabah. (Meski ttp berharap Saga hanya speech delay). Doakan saya ya🙂 Btw saya ingin add FB ibu tp ko tdk melihat alamat fbnya ya? Terima kasihhh

    • Saya senang dengan Ibu yang semangat positif seperti bu Martha. Siap untuk bertindak, siap untuk menghadapi kenyataan, itu modal awal yg luar biasa. Anak yang di intervensi sejak dini (di observasi, di terapi jika diperlukan) akan lebih baik perkembangannya. Catat apa2 saran ahli (kalau saya biasanya bawa notes supaya tdk lupa begitu keluar ruangan prakteknya) baik itu tindakan yg perlu dilakukan, atau bagaimana cara menstimulasi ananda. Terus semangat ya bu!🙂

  42. Mama lukman, terima kasih ceritanya, you’re a great mom!🙂 sy pya cerita yg sedikit sama, sy ibu baru, tanpa pengalaman mengasuh adik, ponakan atw siapapun. Memberanikan diri untuk tdk tinggal dgn ortu dan tdk ada baby sitter. Anak sy berusia 19 bulan, sejak sebulan lalu sy mencurigai anak sy Satria menderita autisme, krn beberapa sebab berikut:
    1. Tidak dapat bicara 1 kosakata pun. Selalu mengeluarkan suara tp tanpa arti.
    2. Sangat aktif
    3. Tidak pernah menoleh saat dipanggil
    4. Tidak mengerti saat dilarang melakukan sesuatu dgn bahasa positif atwpun negatif
    5. Sering berputar dan flapping
    6. Sering terpaku pada benda yg berputar spt kipas angin, roda mainan bahkan roda motor atw mobil
    7. Selalu tenang bahkan terlena saat memegang sesuatu yg berbulu
    8. Terobsesi pada cicak dan kucing
    9. Tidak takut pada binatang apapun bahkan kecoa dan cacing
    Namun Satria ini senang dipeluk dan bersosialisasi dan msh ada kontak mata. Jadi apakah anak sy ini termasuk autis ringan? Apakah terlalu dini jika sy membawanya k klinik tumbub kembang dan mulai melakukan tetapi wicara? Sy berencana melakukan tes sidik jari agar sy dpt mengetahui keadaan otaknya dan apakah tes sidik jari jg bs menunjukan keadaan autism seorang anak? Mohon sarannya.. terimakasih. Maaf curhatan sy agak panjang.. tambahan, sy bekerja 2 hari seminggu sbg guru SMA beberapa murid sy mmg ada yg autis, bbrp tahun mengajar sy menemui brbagai macam autisme, hiperaktif, pasif, low function atw high function, sy tau keadaan mereka saat usia remaja, tp sy tidak tau keadaan mereka saat kecil..

    • Salam kenal mbak Gaprel🙂

      Sepengetahuan saya deteksi dini bisa dilakukan sejak usia 18 bulan namun umumnya orang menunggu sampai usia anak 2 tahun, karena diharapkan sebelum usia 2 tahun sudah ada perkembangan bicaranya.

      Saran saya lebih baik membawa ananda ke klinik tumbuh kembang yang sudah biasa menangani kondisi autisme. Soal test sidik jadi saya tidak terlalu tahu, yang saya dengar test itu untuk mengetahui gaya belajar, minat dan bakat ya jadi sepertinya kurang pas untuk menunjukan kondisi autisme (dikoreksi ya jika saya salah)

      Memang autisme adalah gangguan perkembangan yang berupa spektrum, mencakup dari yang severe atau low function sampai ke high function. Jadi tiap penyandang autis tsb unik satu sama lainnya, sehingga penanganannya pun berbeda tiap anak. Namun semakin cepat dideteksi dan diberi intervensi dengan terapi, stimulasi, maka umumnya perkembangan penyandang autisme akan lebih optimal.

      Begitu mbak, semoga membantu jawaban ini ya…

  43. Salam kenal mama lukman..
    Terimakasih atas share pengalaman perkembangan Lukman hingga sedetail ini..
    beruntung Lukman dan Reza memiliki orang tua yang begitu memperhatikan perkembangan mereka..
    Sy Anthi, mahasiswa magister profesi psikologi yang sedang berjuang menjadi psikolog (amiin)
    sy izin kutip kisah Lukman dan kisah orang tua lain yang sudah di share disini untuk data awal tesis saya yang membahas mengenai fenomena keterlambatan bicara, apakah tidak berkeberatan?

    Terimakasih sebelumnya.

    • Salam kenal juga Anthi…

      Untuk data tesis menurut saya sangat menghargai privacy para orangtua yang menulis disini. Jadi baiknya secara etis diminta ijin ke masing-masing orangtua langsung.
      Bisa dijelaskan nama lengkap, di universitas mana dan judul tesisnya apa?

  44. Terimakasih mama lukman atas responya

    Saya Susanthi Pradini Mahasiswa Profesi Psikologi Klinis Anak UNPAD
    Tesis saya mengenai penyusunan alat ukur kemampuan bahasa anak usia 3 – 5 tahun
    Mungkin yang sy ambil disini untuk data gambaran fenomena keterlambatan bicara pada anak secara umum. Untuk identitas anak dan ibu tidak saya cantumkan dalam naskah tesis.

    Saya boleh add facebook mama lukman untuk berdiskusi?🙂

    Terimakasih.

  45. Hallo mama .m senang ktemu n baca2 sharingan mama.. sy jg pnya cerita anak saya dylan umur 5 tahun 4 bulan.. sbelumnya dylan jg telat berbicara hingga usiany 4 tahun bru bs mengelurkan kata2. Hingga saat ini dylan masi terapi wicara dan si.. sy mo nnya ma apa lukman mengalamj kesulitan dalam bljr ga..karna anak sy klau diajak mengenal huruf dan angka sprti nya dia tdk tertarik. Sempat stress sy gmn ya ma mo skola sd .. skg dylan sdh masuk tk n diskola jg dia mau ikutin dan ga rewel ataupun gangguin temennya a.. 1 lg dylan blm bs bak dan bab sendiri ini jg bagaimana ya ma biar bs mandiri secara umurnya makin taun makin gede..

    • Tentu saja Lukman mengalami kesulitan belajar di sekolah. Yang paling utama adalah kesulitan menyesuaikan diri didalam kelas, karena ia sensitif pada suara keras, dan juga benturan. Selain itu, bersosialisasi merupakan hal yang memang jadi kendala bagi anak-anak autistik dengan berbagai problem sensori yang dimilikinya. Banyak sekali tulisan saya tentang bagaimana Lukman belajar menyesuaikan diri di TK dan SD, mungkin bisa dilihat di daftar isi pada halaman Contents.

      Kalau tidak ada hal-hal yang mengganggu, Lukman bisa belajar dengan baik, jika ia memahami dan tertarik untuk melakukan instruksi. Saya sengaja tulis “tertarik melakukan instruksi” karena Lukman tidak bisa diberi instruksi lalu dia mau saja langsung melakukan. Harus ada cara yang dilakukan gurunya agar ia tertarik.

      Tentu saja hal tsb sulit dilakukan jika belum ada hubungan yang baik dengan gurunya. Karena itulah bagi anak-anak berkebutuhan khusus sebisa mungkin mendapatkan sekolah dan guru yang memahami kekhususan mereka. Tidak mungkin memaksakan anak berkebutuhan khusus agar bisa belajar dg cara yg sama seperti cara anak-anak lain belajar.

      Saya sendiri tidak terlalu ngoyo dan mengharuskan Lukman bisa seperti anak-anak lain seumurnya. Bahkan ketika TK pun saya bersiap jika dikatakan ia belum mampu untuk sekolah di SD, dan harus mengulang di TKnya. Sikap tersebut saya ambil karena memahami kekhususan Lukman, dan cara belajarnya yang berbeda.

      Untuk belajar menulis, membaca dan berhitung, anak akan lebih cepat bisa jika melakukannya dengan senang hati. Karena itu berhati-hatilah memilih sekolah, jika persyaratan dan tuntutan untuk masuk sekolah tsb lebih tinggi dari kemampuan anak kita sekarang, maka sekolah tersebut belum menjadi sekolah yg tepat bagi anak kitam dan kita perlu mempersiapkan anak kita terlebih dahulu, tidak memaksakannya masuk ke sekolah yang belum sesuai dengan kemampuannya.

      Untuk toilet training atau mengajar BAK BAB mandiri, banyak hal yang harus dipersiapkan. Untuk mudahnya saya ambil salah satu artikel dibawah ini, mungkin bisa dibaca dulu:
      http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/balita/tips/6.trik.toilet.training/001/005/359/1/1

      Salam….

  46. Salam kenal Bunda, Anak saya sekarang usia 2,5 tahun . bicaranya blum terlalu lancar dan jalannya masih takut sendiri( minta dipegangin hanya jari kelingkingnya aja), bikin gemes, klo gak ingat dia jalan sendiri, klo inget dia merangkak, sekarang mengikuti terapi wicara dan terapi jalan di rehabilitasi medik di RSU Dr soetomo Surabaya, Uda 1 bulan ini, Alhamdulillah skrg uda bisa bilang iya, engga, dan mau minum dari gelas,
    Cerita Bunda menginspirasi sekali membuat saya jadi bersemangat, Apa bunda ada FB, saya boleh add ya

  47. Salam kenal bunda…..bun ank sy umur2thun 1bln…juga blom lancar bicranya…dolo wktu umu15bln…sudah bs pnggil mama…ank saya sering jtuh krn anknya hiperaktif skali…skrng umur 2thun 1bln.kok jd gk bs panggil mama..apa krn sering terjdi benturan dikepala jd anksy skrng sulit bicra ya bun…diumurnya 2thn1bln. Br bs kata papa,udah,jatuh,hujan,kuda,becak,mobil,cecak maem,mbah,susu,buka,dada.bobo….tp blom bs merangkai kata…klo mt sesuatu tarik tarik tangan papanya…klo dipanggil nengok sih….sy jd kwatir…kok umur udah 2thun blom bs bicra seperti ank lainnya…aplgi hiperaktif sering jatuh kejedot ..udah kebal mgkin krn sering jtuh nangis juga bentar..sudah sy terapi sudah berjln 1bln ini.. semingu2x…. blom ada perkemngannya bun…..sy masukkan penitiipan ank bun..masuk paud blom bs ktnya hrs 2,5thn..jd masuk penitipan ank..maksud hati..biar sosialisasi sm tmn tmn lainnya..biar bs cepet bicranya…. Dirmh udah bnyk bcra…tp bhsa planet bun….mohonnya sarannya ya bun…apa lg yg hrus sy lakukan..biar ank sy bs bicra…seperti ank lainnya…

    • Sudah di terapi berarti sudah pernah diperiksa atau di observasi dokter tumbuh kembang atau psikolog ya mbak? Hasil pemeriksaan tsb apa mbak? Lalu utk kekawatiran cedera kepala juga pernah diperiksakan?

      Untuk terapi 1 bulan memang itu baru mulai, belum bisa diharapkan ada hasil yang cepat, apalagi anak usia 2 thn 1 bln perlu penyesuaian pada situasi baru. Jadi saran saya untuk mbak bersabar menunggu hasilnya, juga kalau ingin lebih intens lagi, tanyakan apa usaha yang bisa dilakukan dirumah pada terapisnya. Saran tersebut dilakukan dirumah, sebanyak mungkin, sambil bermain, dalam kondisi yang menyenangkan utk ananda.

      Pengalaman saya sih, usaha dirumah itu sangat menentukan keberhasilan terapi. Jangan berharap bisa cepat ada perkembangan kalau hanya menyerahkan pada terapi saja, tapi stimulasi lah ananda juga dirumah.
      Semangat ya mbak…🙂

  48. Salam kenal mama Lukman,
    Saya Erwin, Papanya Alif (2th 7bln), Saya ingin sharing sedikit mengenai Alif anak saya.
    Alif lahir normal, cukup bulan dan BB nya. Memang tidak mengalami fase merangkak, dan umur 12 bulan sudah bisa berjalan dengan baik dan banyak memiliki kosakata seperti mama, papa, kakek, dan bila minta susu pake Dot dia bisa bilang dot, trus klo lihat air mancur bisa bilang ‘mancun’, lihat mobil besar bilang ‘besak’, dan banyak lagi kosakatanya pada umur 12 bulan tersebut. Tapi pada umur 18 bulan, Alif di opname karena ering muntah-muntah, demam tapi tidak kejang dan diagnosis gejala tipus, Setelah sembuh perlahan-lahan kemampuan bicara alif hilang, kosakata yang dimilikinya tidak ada lagi. cuma bisa Papapa, mamamma, babababa, bila dipanggil tidak menoleh, sering lari kesana kemari, tidak mau berteman. Dari yang saya baca, ciri-ciri tersebut termasuk ciri autis. Tapi seperti yang mbak ceritakan pada Lukman, anak saya tidak tantrum, dan sangat suka sekali dipeluk, tidak menyakit diri sendiri ataupun orang lain. Sekarang Alif sangat suka menumpuk benda-benda, bila diberi pulpen atau pensil sangat suka mencoret kertas ataupun dinding. Sekarang baru saya bawa ke klinik terapi wicara dan okupasi. Terapisnya bilang pada observasi awal memang autis. saya memang belum memeriksakan ke dokter spesialis anak.
    Tapi apapun yang terjadi pada anak saya, mudah-mudahan selalu diberi kekuatan untuk bisa menjalaninya. terima kasih.

    • Salam kenal juga🙂
      Kalau boleh saran, diperiksakan pada dokter tumbuh kembang untuk dapat diagnosanya, Papa Alif, walau terapis memang banyak pengalaman sehingga bisa mengenali kekhususan pada anak, namun untuk diagnosa sebaiknya diperiksakan pada dokter tumbuh kembang yang sudah berpengalaman dengan anak berkebutuhan khusus seperti autisme ini.
      Banyak-banyak cari informasi ya pak, semangat!🙂

  49. Salam kenal mama Lukman..
    Saya Dewi..asal Pangkalpinang-Bangka Belitung
    saya punya anak umr sekarang 4 thn 8bln..laki-laki..sampai saat ini Aldira (nama anak saya) belum bisa berjalan sendiri…tpi bisa dgn berpegangan di dinding..atau lebih seringnya merangkak kemana-mana…bicara pun masih blm jelas…pernah saya bawa ke dokter tpi untuk kaki tidak ada masalah apa-apa..hny terkadang klo kita gandeng untuk berjalan..kaki nya sedikit mengenjit (sebelahnya saja). terkadang sering melepas tangan ,,berdiri saja tanpa pegangan..hny sekitar 5 detik lalu kembali pegangan..(mungkin keberaniannya ya ???)
    Pernah disarankan dokter untuk dibawa kejakarta ke klinik tumbuh kembang anak..(klo bisa kata dokternya dibawah usia 5 tahun ) karena masih mengumpulkan dana..maka saya kdg2 masih membawa ke tradisional saja seperti diurut.
    untuk sosialisasi..dia lebih pemilih dalam berteman…misalnya klo anak kecil yang suka mengganggu dia..dia lebih cenderung minder dan memilih bermain sendiri..tpi misalkan teman bermain yang baik hati dia bisa berinteraksi dgn anak tsb.
    tapi klo untuk musik dia sangat suka sekali bahkan bisa bernyanyi mengikuti irama lagu dgn lirik yang tidak jelas.
    Mohon dibantu mama lukman,,,untuk cara2 terapi drmh dulu…bagaimana cara agar bisa merangsang nya..saya sangat membutuhkan bantuan anda mengingat mungkin anda memiliki pengalaman dibanding saya…Apakah anda saya mengalami gejala autis ??
    Apakah masih bisa berkembang jika kemungkinan saya membawa anak saya ke jakarta ..kira-kira ketika usianya menginjak 5 thnan ke atas.
    (klo mama lukman jarang buka blog nya bisa dibantu masukan buat saya via sms …)

    terimakasih…

    • Salam kenal juga mbak Dewi…
      Mohon maaf mbak, saya hanya share pengalaman berdasarkan anak sendiri dengan kondisi autisme. Saya bukan dokter, apalagi pakar tumbuh kembang. Untuk kondisi Aldira yang belum bisa berjalan sendiri, saran saya sama juga seperti dokter yang menyarankan untuk dibawa ke klinik tumbuh kembang. Lebih baik mendapat saran dan bantuan dari ahli yang betul-betul memahami kondisi Aldira.

      • klo untuk berjalan sii bisa mbak di pangkalpinang,,cuma untuk perkembangan otak saja harus dibawa ke jakarta ..jadi pernah saya pernah terapi untuk berjalan di salah satu rumah sakit di kota saya..malahan dari semua anak hanya Aldira yang mendingan..setelah di sinar / dipanaskan kaki nya..eh malahan dia yg sibuk megang tangan therapis nya buat jalan2..tpi ya itu tadi dia ga mau lepas sedikit pun pdhl yg dipegang kdg hny secuil baju atau kelingking nya aja…
        hehehe iya mbak sama2 saya juga minta maaf….maksud saya ,,saya ingin tau bagaimana cara membuat dia respon ketika saya memanggil dan sebagainya …
        Terimakasih mbakk..

      • Untuk tahapan awal memulai komunikasi silahkan dibaca postingan di blog saya yang satu lagi mbak linknya sbb: https://mamanyajuga.wordpress.com/2013/09/15/imitasi-verbal/#more-492

        Sedangkan pada tahapan berikutnya, ketika anak sudah mulai bicara satu kata, ada beberapa tips yg msh saya ingat ketika mengikuti workshop dari ibu Dyah Puspita:
        1) Menuntut anak sebut lebih dari satu kata. misalnya: baju-> baju yg mana? baju merah atau baju coklat?
        2)Menambahkan kalimat yg benar. Misalnya anak cuma menyebut kata pertama & terakhir, sisanya bergumam. Kita sebutkan kalimat lengkapnya & minta dia mengulangi.
        3)Berikan waktu untuk dia bicara dengan lebih lengkap
        4)Memberi contoh bicara kalimat yg lengkap, misalnya: “ini gambar kucing”, bukan “ini kucing” contoh lain: “taruh bunga didalam pot” bukan “taruh itu disini”

        O iya, nambah lagi, kita juga harus agak lebay supaya anak kita juga terbawa banyak bicara. Contoh, dulu saya kalau mengantar anak sambil setir mobil, apa yg dilihat dijalan saya komentarin saya ajak anak saya lihat & dengarkan komentar saya. Sekarang? anak saya ngoceh terus dimobil, apa yg dia lihat, apa yg dia baca, dikomentarin. Gak sia-sia melebaykan diri sendiri dulu itu

  50. Assalamualaikum
    Salam kenal mama lukman saya umi nya aji yg kebetulan ada keterlambatan bicara pd anak saya. setelah saya baca tulisan mba ini saya ingin sekali sharing.Aji ini terlambat bicara dikatakan karena pernah demam tinggi di atas 41 lebih di usia 1 thn. jalan lebih cepat bisa dari bicara.sblm menyadari ada keterlambatan bicara aji pernah mengalami proses bubbling seperti anak lainny sampai mendekati usia 2 thn tidak terlihat perkembangan yg lebih kami bawa aji konsul ke tumbuh kembang anak dan akhirnya ikut terapi sensori tidak lama kemudian lanjut terapi wicara. Pada awal terapi pada usia 2 thn 4 bln sekitar bln feb 2014 dan terapi wicara masih berjalan smpai saat ini.oktober lalu 2014 kami akhirny niatkan memasukan aji ke kelompok bermain tidak ada hambatan d sana aji sangat menikmati sekolahnya.hasil dr perkembangan terakhir terapi wicara aji Baru” saja aji bisa menirukan apa yg di ucapkan org lain,kosakata sdh mulai banyak tp tidak sebanyak anak pada usiany.
    Dr hasil laporan sekolah aji pada saat laporan kegiatan sekolah Guru d sekolah menyarankan utk tetap melanjutkan terapi wicara dan kemudian saya ikuti sarannya.
    Nah mama,menurut pendapat mama kapan waktu yg tepat utk berhenti dr terapi wicara ini?
    Sebetulny saya malah jd merasa tidak pede utk melepas aji dr terapi wicara.krn kemampuanny utk menyampaikan brupa kalimat biasa saja blm mampu msh kata perkata dan itupun belum jelas.
    Terimakasih sblm ny saya boleh share disini.jika berkenan mama bs membalas jawaban via email.
    Wassalam

    • Kapan seorang anak berhenti terapi? Saya pernah baca artikel kalau tidak salah yang ditulis oleh Prof. Hardiono. Beliau mengatakan anak berhenti terapi, kalau hal apa yang menyebabkan ia terapi sudah bisa diatasi.

      Untuk Lukman saya hentikan terapi wicaranya ketika umur 6 tahun. Apa alasan dan bagaimana kelanjutannya bisa dibaca di cerita: It’s Time To Move On https://mamanya.wordpress.com/2011/01/06/its-time-to-move-on/

      Jangan lupa setiap anak mempunyai “KEUNIKAN” sendiri sendiri dalam hampir semua aspek, termasuk reaksi-nya atas metode dan penanganan apapun.

      Semoga membantu🙂

  51. Assalamualaikum, salam kenal Bunda Lukman
    Saya seorang ayah dari putri saya yg bernama Qonita, cerita Lukman mirip sekali dengan anak saya. Usia 21 bulan anak saya cuma bisa babbling tetapi kalau dipanggil namanya dia tidak menoleh sama sekali. Qonita orangnya aktif sekali kalau di atas kasur dia sukanya loncat-loncat, naik ke meja, lari-lari. Dia saya suruh mengikuti omongan saya dengan dipegang kepalanya, matanya akan melirik ke atas. Tapi bukan berarti dia tidak mau kontak sama sekali, sesekali dia mau kontak mata dengan saya. Qonita sering tidak bisa memperhitungkan bahaya bila dia sedang bermain. Kemudian saya bersama istri pergi ke dr. Sp.A, anak saya didiagnosa speech delay+hiperaktif, karena saya sendiri seorang dokter yg baru lulus, saya tetap penasaran dengan diagnosa anak saya. Saya bawa anak saya ke sekolah anak berkebutuhan khusus, disitu saya disuruh untuk dilakukan assessment terhadap anak saya dan dikenai biaya yg cukup besar. Saya kira anak saya anak di assessment oleh dr.KJ. Malahan anak saya di assessment oleh terapisnya sendiri, si terapis dengan modal alat peluit dan memanggil-manggil saja langsung mendiagnosa anak saya autis atau gangguan pendengaran. Saya pulang dengan hati yg kecewa karena gampang sekali memberikan diagnosa “seumur hidup” terhadap anak saya. Selanjutnya saya ke dr.Sp.A yg sedang mendalami ilmu neurologi anak, anak saya disuruh untuk melakukan tes BERA. Sebelum tes BERA, telinga Qonita dibersihkan dulu untuk menghilangkan serumen. Besoknya Qonita di tes BERA, awalnya Qonita mendapat giliran no 3 untuk tes. Qonita diberikan obat penenang melalui dubur dan diminum. Anak saya cepat tertidur sedangkan anak yg giliran pertama dan kedua belum tertidur karena saking aktifnya. Alhamdulillah tes BERA anak saya dinyatakan pendengaran kedua telinga normal. Hasil tes BERA dibawa kembali ke dr.Sp.A ahli neuro anak,qonita didiagnosa speech delay. Tapi dalam hati saya anak saya kemungkinan menderita pdd nos. Sekarang qonita sedang menjalani terapi wicara terlebih dahulu, disarankan oleh kepala yayasannya untuk menjalani terapi wicara karena bila langsung diterapi ABA takut qonita trauma karena dia masih kecil. Terima kasih sekian sharing dari saya,
    Untuk Mama Lukman Facebooknya namanya apa ya?facebook saya namanya Akhmad Rudiannoor,tolong diadd ya,trims

    • Waalaikum salam wr wb, salam kenal juga ayah Qonita..
      Begitulah pak yang kerap terjadi pada orangtua anak spesial. Ketika kita sedang galau, butuh bantuan dan konsultasi, bertemu lembaga maupun personil yang kurang berkualitas, dan mudah mengambil kesimpulan dari pengamatan singkat saja. Setahu saya (koreksi ya jika tidak begitu) seorang terapis saja bukanlah orang yang tepat untuk memberi diagnosa.

      Banyak sekali gejala seperti autisme yang disebabkan oleh gangguan-selain-autis. Karena karakteristik autisme sangat luas, dari yang autis ringan sampai berat, cara terbaik memeriksakan adalah dengan satu tim dokter, umumnya: ahli neurologi, psikologi, ahli terapi wicara, dan ahli terapi okupasi. Karena itulah lebih baik anak kita periksakan ke klinik tumbuh kembang. Dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan dan wawasan mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam men-diagnosa autisme. Hasil pengamatan sesaat belumlah dapat disimpulkan sebagai hasil mutlak dari kemampuan dan perilaku seorang anak. Masukkan dari orang tua mengenai kronologi perkembangan anak adalah hal terpenting dalam menentukan keakuratan hasil diagnosa.

      Saya sarankan ayah Qonita bergabung dengan group FB: LRD member. Disana anggotanya ada cukup banyak yang anaknya speech delay. Bukan hanya ortu anak spesial yang ada disitu, tapi juga ada dokter, psikolog, terapis, guru yang kerap berdiskusi. Ada banyak dokumen yang dapat dibaca untuk referensi lebih lanjut. Semoga membantu…

  52. Mlm mama lukman,, salam kenal dari saya mama’nya lionel.. ªķΰ juga pengen curhat nih,, sekarang ªķΰ baru åd̲̮̲̅͡å dimasalah ƔªϞğ mama lukman pernah alami,, anak ke 2 ku lionel sekarang umur 2thn5bln masih belum jelas juga ngomong’nya.. ƔªϞğ saya dengar hanya kata hakk.. Sama aem.. Itu’pun tidak sering keluar dari mulutnya.. ªķΰ sekarang baru cari” info juga seputar keterlambatan bicara,dan ªķΰ temukan cerita lukman ini sangat meng’inspirasi ªķΰ banget,, semoga ªķΰ tetep S̤̥̈̊є̲̣̥є̲̣̣̣̥♍ªªηGªª†̥†̥̥ memperjuangkan masa depan lionel,doain ªķΰ ya dukung ªķΰ juga biar ƍªƍ patah S̤̥̈̊є̲̣̥є̲̣̣̣̥♍ªªηGªª†̥†̥̥..

  53. Salam kenal mama Lionel, kalau bisa ananda segera diperiksakan ke klinik tumbuh kembang, agar dapat mengejar kemampuan bicaranya. Semakin dini di intervensi, akan semakin membaik perkembangan anak. Para ahli sering menyebut tahun-tahun balita adalah tahun keemasan bagi anak, karena pada periode tersebut perkembangan anak sangat pesat. Juga ada hasil penelitian yang telah menetapkan bahwa tingkat pembelajaran dan pengembangan manusia paling cepat di tahun-tahun prasekolah. Jadi jangan tunggu lama-lama, ayok semangat!😀

  54. siang mamanya lukman. salam kenal. saya mau tnya ni..anak saya skrg umurn6a 2.7bln jg blm bs bicara. apakah saya harus bawa ke klinik tumbang dlu utk dianalisa ya? klo lgsg mendatangkan terapis wicara gmn ya?

    • Kutipan dari website IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia):
      http://idai.or.id/public-articles/klinik/keluhan-anak/keterlambatan-bicara.html

      Keterlambatan bicara dapat disebabkan gangguan pendengaran, gangguan pada otak (misalnya retardasi mental, gangguan bahasa spesifik reseptif dan/atau ekspresif), autisme, atau gangguan pada organ mulut yang menyebabkan anak sulit melafalkan kata-kata (dikenal sebagai gangguan artikulasi). Untuk menegakkan diagnosis penyebab keterlambatan bicara, perlu pemeriksaan yang teliti oleh dokter, yang terkadang membutuhkan pendekatan multidisiplin oleh dokter anak, dokter THT, dan psikolog atau psikiater anak.

      Cara penanganan keterlambatan bicara bergantung pada penyebabnya, dan juga melibatkan kerja sama antara dokter anak, dokter spesialis lain yang terkait, terapis, dan tentunya orangtua.

      Jadi ke dokter tumbang dulu Bu🙂

  55. halo Mamanya Lukman.. membaca cerita lukman, anak saya darren (2 tahun 2 bulan) mirip sekali. Boleh minta nama dan kontak klinik dan terapis wicara (junior) yang melatih lukman. terima kasih sebelumnya.

  56. Hai mama lukman, anak saya nada usianya 7 thn, skrg dia sdh kls 1 sd, tapi bicaranya masih blm jelas, nada sdh pernah di observasi oleh psikolog dan dianjurkan untuk terapi wicara, btw mama lukman bisa tlg add saya di fb?

  57. Salam kenal mama lukman, senang sekali bs menemukanblog ini .anak sy raphael (2th 4 bln) pd usia 2 th 2 bln di diagnosa pdd- nos (dr specialis neurologi & tumbuh kembang anak ) di rs lmyn ternama di jaksel.
    Sejak usia 23 bln mmg sy sdh khawatir krn tdk ada 1 kata yg berarti pun hanya bubbling tiada henti. Tetapi DR belum bs kasi diagnosa apapun waktu itu & meminta sy kembali setelah usia 2 th.
    Ciri2 raphael :
    1. Blm mampu mengucapkan 1 kata yg berarti, Hanya bubbling ‘dede’ dsb
    2. Dipanggil kadang menoleh kdg tidak. Kalo lg asyik sering tdk menoleh.
    3. Kontak mata minimal, dg sy sj yg kadang lama
    4. Menyukai mainan yg banyak & warna warni misal pencil, kapur, dll
    5. Suka main lego, coret2 dimanapun
    6. Tidak takut bersosialisasi ( sdh masuk sekolah sejak usia 23 bln ) dan sk berteman suka meluk temannya, suka dipeluk siapapun, suka bermanja2 ngusap2 pipi saya minta di kiss.
    7. Tidak ada masalah dg pola makan / pola tidur.
    8. Hiper aktif, suka lari2 keluar rmh.
    9. Tidak masalah dg mainan pasir, slyme / play dough, beras, tanah dll malah suka mainin itu lama.

    Efektif 1,5 bln – 1 minggu 2x mengikuti terapi SI + stimulasi di Rmh. Ditpt terapi dia bs ngikutin arahan terapis walaupun kadang2 bengong krn bosan dg permainan yg itu2 aja ( misal masukin bola2) . Ditempt terapi yg skr kurang efektif, dari 1 jam terapi paling2 efektif nya hanya 30 menit. Rencana nya sy ingin mencoba tempat terapi yg lain yg mudah2 an bs lebih cocok ( tanpa menghentikan terapi diklinik yg sekarang dijalani karena dekat rmh. Kalo berkenan info tempat terapi & terapis nya ya mam.
    Terimakasih, selamat mlm.

    • Maaf baru balas, lokasi rumah di jakarta selatan ya bu?
      Klinik yang pernah kami pakai jasanya adalah Klinik Pela 9 Kebayoran dan Klinik Liliput di Cipete. Untuk alamat dan telepon bisa di google saja, sepertinya sekarang setiap klinik ada websitenya.

  58. aslm..mamanya lukman..sy ibu epi dr makassar..sy sudah keliling dr anak di makassar tp belum.dapat hasil yg memuaskan..anak saya 2tahun 4 bulan.kalo dipanggil tidak menoleh walau dengan suara yang cukup keras..tp dia pintar bicara..lagu2..tolaal.badru,surat annas..lagu dudidam dihapal..mau main.sm.kakaknya..saya harus kedokter apa yah??kalo.haus..minta teh..air..kopi..pintar meniru..kira2 kedokter mama saya harus berobat

  59. Dear mama lukman yang hebat…baca kisah lukman dan coment2 di blog ini saya merasa tidak sendirian..saat ini sepertinya perjuangan saya baru dimulai..anak kedua ku Darrel tanggal 27 feb kemarin genap 2 tahun..serasa dapet gong di sini waktunya, sepertinya darel perlu “penanganan khusus” mirip dengan lukman kontak mata ada hanya jarang, dipanggil tidak menoleh, bisa bernyanyi “cicak2 di dinding : tapi dengan kata yang tak jelas, misal: nginnga nginga ngi ngingi…” bernyanyi lagu “topi saya bundar : hanya meragakan gerakan saja tanpa keluar suara” lagu “balon ku ada lima : saat lirik meletus balon hijau..dia hanya mengangkat tangannya ke atas tanpa bilang :dooorr” yaa begitulah darrel…
    Mengingat tentang autis, dari keluargaku ada yang autis hiperaktif saat ini usianya 18thn dan sepertinya orang tuanya “gagal” sampai saat ini dia hanya di dalam rumah dengan pengasuh laki2 dengan alasan supaya kuat mengatasi kalo sedang tantrum…dari keluarga suamiku ada 2 yang satu sepertinya sudah masuk sd, kalau yang satu masih terapi…dari cerita saya di atas membuat saya semakin takut bbrapa hari ini mama lukman…hiks..maap kan daku jadi curhat…rencananya minggu ini saya mau bawa darrel klinik tumbuh krmbang anak…semoga saya bisa sekuat mama lukman…#peluuk..salam buat lukman..Gbu

    • Dear Mama Darrel, saya sangat mengerti perasaan Mama saat ini. Namun saya salut, Mama justru mau bertindak, dengan membawa Darrel ke klinik tumbuh kembang. Lebih dini kita bertindak, akan lebih baik perkembangan ananda. Jangan patah semangat jika mendengar diagnosa, apapun itu nanti. Yang penting kita usahakan perkembangan ananda se optimal mungkin.
      Semangat ya Mam, dan jangan ragu ikut belajar, cari informasi sebanyak mungkin, bergabung dengan komunitas pendukung, agar tidak merasa sendiri, dan dapat support dari banyak pihak.
      Salam hangat🙂

      • Trimakasih mama lukman…oya saya juga mau bertanya langkah awal yang harus kita lakukan ketika mau ke ktk apakah harus membawa hasil tes dr.THT mama lukman? Trims 😊

  60. Hai mama lukman … kamu keren banget mom..anakku jg sama kayak lukman baru 3 tahunan mom aku mau tny apakah anak bgini harus diterapi terus? Atau emang ada suatu saat bisa stop?

    • Hi Jenny..
      Maksud ‘anak begini’ apa ya?
      Anak yg terlambat bicara/speech delay, atau anak penyandang autis?
      Kalau maksudnya anak yg terlambat bicara, terapi sampai bisa bicara lancar, pengucapan sdh jelas, sdh bisa tanya jawab. Lukman berhenti terapi wicara umur 6 tahun.
      Kalau maksudnya anak penandang autis, terapinya sampai tidak ada lagi kebutuhan utk terapi. Misalnya anak di terapi SI hanya karena problem di motoriknya. Kalau sudah dpt diatasi masalah motoriknya, ya sdh bisa dihentikan terapinya.
      Biasanya kita perlu konsultasi dg ahlinya (dokter tumbuh kembang, psikolog atau ahli syaraf ybs) utk memutuskan sudah bisakah anak kita berhenti terapi, dan langkah apa yg perlu diambil utk perkembangan seterusnya.
      Salam…

      • Autis ringan mom.. anakku di diagnosa dr hardiono.. dikasi obat konsentrasi mom.. tp saya tidak kasih anak saya… takutny ada efek samping mom.. apakah terapi harus diterapkan seumur hidup ya mom?

      • Tapi mom kalao anak autis ringan + hiperaktif sih anak saya.. tapi anaknya ga bisa kayak anak normal kan mom? Paling bisa mendekati kan? Mom bole add fb nya mom? Mau sharing ..😦 makasih ya replynya mom

      • Sama saja, autis maupun ADHD terapi terus atau tidaknya tergantung kebutuhan.Kalau dirasa masih perlu, ya masih terus. Tapi kalau dirasa sudah cukup, sudah tidak ada keluhan yang bikin harus di terapi ya selesai.
        Tentang ‘kayak anak normal’ itu apa ya hehehe, sekarang anak mba Jenny seperti apa, kelihatan uniknya dimana?
        Silahkan kalau mau add fb🙂

  61. Hi Mama Lukman,
    Terima kasih atas sharingnya yg sangat komprehensif dari lahir sampai sekarang. Anak saya sekarang umur 2th sudah menjalani terapi SI selama 1,5 bulan di klinik anakku. Namun anak saya tidak di diagnosa apapun hanya dikatakan bahwa fondasi anak saya belum kuat, akan tetapi perkembangannya mirip seperti Lukman kecil dulu, berbicara belum jelas & hanya menguasai <10 kata itu pun hilang timbul & tidak jelas, koordinasi badannya belum kuat (masih suka berlari spontan tanpa waspada rintangan disekitarnya). Anak saya juga bermasalah dengan makannya, saya benar2 literally pusing memikirkan kondisi anak saya ditambah lg pressure dari keluarga dekat. Saat saya berkonsultansi ke Dr. Lies (orgnya cantik & baik bgt) di Klinik Anakku, PRnya banyak sekali, ke Dr. Gizi untuk terapi makan & terapi floor time. Akan tetapi dikarenakan klinik terapinya full maka dipercayakan untuk terapi floor time dirumah & SI di Anakku.

    Kisah Lukman ini jg mengingatkan kepada teman satu asrama saya saat kuliah S1 diAustralia. Saya pertama kali berkenalan dengan dia saat rapat komite, ia langsung menjelaskan bahwa ia mengidap autis ringan (ia menjelaslan jenisnya tp saya lupa yg mana) & menjalani terapi sampai junior high school, bersekolah di sekolah umum "jadi harap maklum kalau saya terlihat agak aneh ya". Orangnya memang sangat spontan, namun mempunyai banyak ide yg bagus untuk kemajuan komite kami. Ia juga sangat berprestasi di universitas & memiliki banyak teman di lingkungannya. Malah kadang saya berpikir dgn sohib saya kalau kita sikapnya lebih aneh dari dia..hehehe..

    Saya doakan agar Lukman sukses di dunia & akhirat ya Bu. Salut sama perjuangan Mama Lukman!

    • Hai ‘mamabelajar’🙂
      Senang sekali dapat cerita dari sesama ortu abk yang bersemangat spt mamabelajar… tetap semangat ya mam, dan ikuti saran dokter, memang pasti berat di awalnya, apalagi saat masih balita. Namun yakinlah, usaha mama tidak akan sia2, karena intervensi sedini mungkin menyebabkan perkembangan anak yg lebih baik lagi. Apalagi dalam masa emas balita, memang banyak yg harus dikejar, namun memang kita harus berkejaran dg waktu.
      Banyak cerita yg saya dengar, karena terlambat ditangani, abk kurang berkembang optimal. Jadi ingat saja pepatah, bersakit2 dahulu, bersenang2 kemudian🙂

      Terimakasih utk cerita ttg teman di Australia-nya. Cerita2 spt ini selalu memberikan harapan bagi ortu abk, dan bikin kami tidak putus semangat.
      Salam utk keluarga ya mam❤

  62. selamat malam mama lukman..
    terima kasih sudah menginspirasi melalui tulisan2 tentang lukman sehingga saya secara pribadi sangat termotivasi…

    saya terinspirasi untuk menulis seperti mama lukman, sebagai pengingat untuk kedepannya nanti

    anak saya umrunya 7 tahun juga termasuk berkebutuhan khusus meski saya belum yakin masuk dalam kategori autis ringan atau termasuk autis berat… kadang anak saya menampakan perilaku normal seperti bermanjaan, mengucap salam, menggoda dan mengerjai saya, meski begitu sering juga menampakan gejala autis seperti sering berlompat tak henti2, tantrum kalau sedang marah, suka mengepak2kan tangannya jika sedang senang atau melihat sesuatu yang menurutnya “seru”, tidak bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya, dan suka membanting barang.

    anak saya sudah sejak umur 2 tahun diterapi, dan pernah saya periksakan juga di RSUP Sardjito Yogyakarta, pernah tes Bera dan semua hasilnya lolos. anak saya pada saat itu dikatakan bukan anak autis.. tapi lama kelamaan saya melihat anak saya berkebutuhan khusus meski saya bingung mengelompokkannya kemana.

    saya dari kota yang sangat jauh di ujung timur, tepatnya di Jayapura.. jujur saja disni masih sangat terbatas soal akses informasi dan rujukan untuk anak berkebutuhan khusus, tempat terapinya pun boleh dikatakan ada meski jarang sekali.

    anak saya saya ikutkan terapi di jogja 1 tahun terakhir ini, meski sekarang saya bawa pulang lagi kejayapura.

    saya sangat senang membaca tulisan mama lukman,
    saya juga sangat terbantu dengan tulisan mama lukman, karena saya jadi tau lebih banyak tentang autis dan referensinya

    terima kasih sekali lagi mama lukman,
    semoga selalu diberkahi Tuhan..
    🙂

    • Hai mba Ria, salam kenal ya…
      Memang masalahnya di Indonesia ini klinik tumbuh kembang dan tempat terapi masih terpusat di kota2 besar. Kalau dengar pengalaman teman2 di lokasi jauh dari pusat, biasanya ibunya belajar utk menjadi terapis anaknya, dan mereka yang melatih sendiri anak berkebutuhan khususnya.
      Tapi kalau memang ada kesempatan ananda di terapi di Jogja, kenapa tidak diteruskan mbak?
      Kalau mau ikut group facebook untuk support anak berkebutuhan khusus, saya sarankan ikut group facebook LRD member. Disana tempat berkumpulnya para orangtua anak berkebutuhan khusus (autis, ADHD, CP, MR, macam2) dan juga para terapis, guru, psikolog, dokter, dan lainnya. Anggotanya tersebar diberbagai kota. Yang dibahas segala macam ada, mulai dari terapi, masalah pengasuhan sehari-hari, resep makanan untuk yang menjalani diet CFGF, bahkan hanya curhatpun akan dapat tanggapan di group ini. Saya sendiri merasa banyak dapat informasi dari group tsb. Cari saja namanya group facebook LRD Member, atau cari facebooknya ibu Any Sonata atau ibu Siwi Parwati A. Basri, mereka berdua pendiri dan admin group tersebut. Minta saja pada mereka untuk dimasukkan ke group. Mereka baik banget, dan banyak ilmunya🙂

  63. Selamat pagi mama lukman, apa kabar?
    salam kenal saya mama Arqa, terima kasih atas sharing story nya yg sangat menginsfiratif.

    mama lukman,saya mau tanya,anak saya berusia 2 thn 9 bln,dan speech delay,tanda2 ke autis sih ga ada .tp dia anaknya aktif bgt,kontak mata bagus,interaksi bagus,pendengaran bagus,disuruh apa2 ngerti dan nurut cm ga bs diam aja.
    bahasanya udah mulai banyak tp blm jelas,kebanyakan ujungnya aja.yg jelas mama,ayah,mata,kue,gajah,ga ada,mana,uwa,abang,.yg lainnya lbh banyak tp ga jelas cenderung ujungnya aja. itu gmna ya ma?apa perlu diterapi?satu lagi sm ada masalah makannya susah,arqa ini picky eater kayaknya ma, pemilih bgt,nasi ga mau,tp keripik,kerupuk sekalipun keras mau.
    dan juga baru keliatan arqa ini tongue tie dan lip tie,apa itu ngaruh ya?
    mama lukman kira2 punya referensi dokter tumbuh kembang yg bagus ga di bandung?kebetulan aku tinggal di kalimantan pedalaman yg jauh dr kota,makanya susah buat cr terapis di kotanya,mau ga mau hrs pulang ke bandung.
    saya tunggu respon nya ya mama lukman, terima kasih.
    semoga mama lukman sekeluarga sehat selalu.

    • Maaf baru sempat membalas, mama Arqa…
      Kalau menurut saya lebih baik Arqa dibawa ke klinik tumbuh kembang, lebih baik menangani problem2 sedini mungkin agar kedepannya tumbuh kembang bisa lebih lancar tanpa hambatan.
      Mungkin nanti bisa diketahui apa yang jadi kendala bagi Arqa dan mendapat saran ahli tentang bagaimana sebaiknya penanganan dirumah.
      Mohon maaf saya tidak punya saran klinik tumbuh kembang di Bandung. Tapi kalau mama Arqa punya facebook dan mau bertanya di group facebook LRD Member, disana saya rasa ada banyak membernya ortu anak spesial yang bertempat tinggal di Bandung. Mama Arqa bisa mencari informasi klinik tumbuh kembang dan bisa baca-baca informasi lain yang diperlukan.
      Saya sendiri merasa banyak dapat informasi dari group tsb. Cari saja namanya group facebook LRD Member, atau cari facebooknya ibu Any Sonata atau ibu Siwi Parwati A. Basri, mereka berdua pendiri dan admin group tersebut. Minta saja pada mereka untuk dimasukkan ke group. Mereka baik banget, dan banyak ilmunya:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s