Paradigma Lazuardi dan Pendidikan Abad 21

Salah satu acara rutin untuk orangtua Lazuardi adalah Quality Time for Parents. Untuk bulan Oktober ini diadakan di Cinere dengan pembicara Bapak Haidar Bagir, ketua Yayasan Lazuardi Hayati. Saya kepingin datang, karena saya selalu mendapat masukan ketika mendengarkan pak Haidar bicara.

haidar

Contohnya seperti ini: kutip Bapak Haidar Bagir: ” Saya kepingin anak sekolah boleh bolos. Tapi bolos untuk apa? Bolos utk ikut orangtua bepergian, pelajari sesuatu. Misalnya anak ikut ke Jogja, kunjungi museum, makan gudeg, nonton Ramayana. Lalu tugaskan anak tsb bikin presentasi, share kepada teman2nya apa yang dia dapatkan dari perjalanan itu. Jadi guru harus yakinkan bahwa bolosnya itu bermanfaat, dan menambah pengetahuan sang anak.” Setuju banget, bukan?🙂

Kalau mendengarkan Bapak Haidar Bagir bicara, biasanya saya kesulitan membuat rangkuman, karena saking asyiknya mendengar sharingnya saya tidak sempat menulis catatan. Syukurlah beberapa guru dan orangtua murid menuliskan rangkuman, satunya dari Ibu Nurul Agustina, orangtua murid, yang menuliskan note yg sangat enak dibaca, yang saya sisipkan dibawah ini.

Akhlak, Kemampuan Berpikir Kritis, dan Sekolah Abad 21
Bismillahirrahmanirrahiim …
Ini catatan dari Quality Time for Parents – yang memang lumayan rutin diadakan sekolahnya Nayya – Sabtu, 8 Oktober kemarin. Catatan ini tidak akan seserius judulnya. Pertama karena materinya diberikan dengan santai sekali dan tak kalah kocak dibanding komedian SUCI, oleh Pak Haidar Bagir. Berbicara dengan runtut meski tanpa slide atau teks apapun, beliau menyampaikan pemikiran-pemikirannya yang bernas tentang konsep pendidikan di sekolah yang didirikannya tahun 1994 lalu – dimulai dengan hanya satu kelas di garasi rumahnya di bilangan Cinere hingga berkembang menjadi 16 sekolah tersebar di berbagai provinsi pada 2016 ini.

Tema Quality Time kemarin ditujukan untuk mengingatkan kembali keluarga besar Lazuardi mengenai motto sekolah, “Didiklah anak-anakmu untuk sebuah zaman yang bukan zamanmu” as known as (aka) “Educate your children for a time not yours”. Disclaimer kedua, catatan ini tidak sekadar notulensi. Akan ada beberapa catatan yang saya tambahkan di sana-sini untuk menjelaskan konteks. Jadinya juga tidak runtut amat, justru supaya hadir lebih utuh. Oh ya. Kemarin, karena waktu yang terbatas dan harus bicara di depan dosen-dosen di tempat lain, Pak Haidar hanya sempat menyampaikan materinya selama satu jam lalu dilanjutkan oleh Pak Sayyid Heydar. Jadi berikut ini catatan reflektif saya … Ada dua pokok penting yang dielaborasi sepanjang pemaparan Pak Haidar. Bukan hal baru, tapi tak pernah tidak relevan. Pertama “kegelisahannya” (ini tentu saja tafsir saya), tentang kemampuan berpikir kritis dan cara kita menggunakan media. Kedua kewajiban sekolah dan guru membangun akhlak yang mulia dalam diri murid-muridnya. Yang pertama dulu ya. Satu kutipan yang membuat saya dan Ratna Iwing kemarin terbahak adalah, “Kalau orang mengikuti semua artikel kesehatan di internet, bisa mati dia karena kebingungan.” Jadi alih-alih tambah sehat, hidup seseorang bisa kelar kalau semua advis di internet ia ikuti. Yang dimaksud Pak Haidar adalah ini: dalam era informasi berlimpah seperti saat ini, critical thinking adalah sebuah KEHARUSAN. Huruf kapital untuk menegaskan kepentingannya. Menurutnya lagi, “Salah satu sebab rusaknya umat Islam di Indonesia dan di dunia saat ini adalah karena hilangnya kemampuan untuk berpikir kritis.”
Nah, ini tambahan saya: pagi ini di Kompas Minggu, 9 Oktober 2016, halaman 6, saya membaca artikel yang takdirnya sangat pas dengan uraian Mas Haidar kemarin. Judulnya, “Saat Menilai dengan Emosi” ditulis oleh M Zaid Wahyudi. Saya kutipkan sebagian ya. “Masyarakat Indonesia adalah masyarakat emotif. Cara berpikirnya amat didominasi perasaan. Mereka cenderung enggan menalar atau mengolah informasi memakai akal karena proses itu rumit dan melelahkan bagi otak. Mereka lebih suka menerima sesuatu yang menyenangkan saja bagi dirinya. … Dominannya emosi membuat bagian otak yang jadi pusat pengatur emosi atau limbik membajak korteks prefrontal, bagian otak pengendali proses berpikir rasional. … Dengan kemampuan menalar rendah, masyarakat menilai seseorang berdasar informasi permukaan atau citra visualnya saja. ‘Nalar yang terbatas membuat kita mudah tertipu citra’, katanya” [Avin Fadilla Helmi, psikolog sosial UGM].
Kembali ke materi kemarin, jadi tugas terpenting sekolah adalah menumbuhkan daya pikir kritis pada murid-muridnya. Sayangnya, kata Pak Haidar, alih-alih fokus pada tujuan sejati pendidikan, banyak sekolah Islam yang terobsesi mengejar ranking ujian nasional. Tujuan pendiriannya pun semata untuk bersaing dengan sekolah non-Islam, alias sekadar untuk menunjukkan bahwa orang Muslim juga bisa. “Apa betul hakikat sekolah ada di situ?” kata Mas Haidar, retoris. Saya akan kembali ke kutipan ini nanti. Membangun critical thinking adalah tugas yang tidak main-main. Kesimpulan yang saya tarik dari forum kemarin adalah kemampuan berpikir kritis harus dimulai dengan membangun kecintaan terhadap proses belajar. “Memberi beban terlalu besar dan mengejar prestasi akademik adalah cara belajar yang keliru, karena itu akan membuat siswa hanya hafal sebentar lalu selanjutnya ia benci belajar.” Pak Haidar mengingatkan, banyak contohnya murid-murid yang selepas SMU atau universitas berkata, “Sekarang saya tidak perlu lagi belajar. Bebas …” Itu menunjukkan bahwa belajar baginya bukan hal yang menyenangkan. Padahal belajar adalah sebuah perintah seumur hidup.
Nabi SAW yang mulia menyuruh umatnya untuk belajar “mulai dari buaian hingga liang kubur”. UNESCO 16 abad kemudian keluar dengan konsep lifelong learning. Artinya semakin banyak orang sepakat belajar tidak boleh terbatasi oleh ruang dan waktu, apalagi lembaga pendidikan. Untuk itu salah satu pesan terpenting Pak Haidar kemarin adalah ini: Ajari anak caranya belajar. Kita cinta belajar kalau kita tahu caranya belajar. Di Lazuardi, salah satu pelajaran yang tidak boleh hilang adalah mata pelajaran perpustakaan. Di situ anak-anak diajarkan bagaimana mencari kepustakaan yang relevan, menggunakan indeks, menilai apa yang lebih dan apa yang kurang pada sebuah informasi, [cetak tebal dan miring karena menurut saya ini yang sangat krusial], hingga memanfaatkan informasi dengan benar. Diam-diam saya bersyukur bahwa sekolah peduli dengan bidang ini. Bukan apa-apa. Era ICT sekarang ini membuat plagiarisme adalah PR besar bagi guru dan dosen. Kemudahan melakukan copy-paste membuat orang lupa, bahwa ada konsekuensi hukum – tidak sekadar sanksi moral – yang harus dihadapi kalau seseorang “lupa” mencantumkan referensi. Termasuk dalam mata pelajaran perpustakaan ini adalah menumbuhkan kemampuan melakukan penilaian kritis terhadap teks. Pak Haidar mengingatkan, sudahkah kita mengajari anak-anak kita cara memilih buku yang bermutu? Ini mungkin kedengarannya sepele, tapi mungkin banyak yang belum tahu bahwa itu bisa dilakukan dengan membaca sinopsisnya, membaca daftar isi, pengantar, testimoni atau endorsement (dan siapa yang memberikannya tentu saja), hingga resensi yang ditulis orang atas buku itu. Sederhana dan hanya perlu pembiasaan.
Membangun kecintaan anak terhadap belajar dan mengajari mereka caranya belajar adalah faktor pertama dan kedua dalam membangun sikap kritis. Namun itu saja tidak cukup. Ada beberapa faktor lain yang tak kurang berpengaruhnya dan harus dikembangkan oleh pendidik. Nah, faktor ketiga adalah membangun kepercayaan diri, bahwa ia bisa menguasai materi yang diberikan. Saya perluas sedikit ya. Selain kepercayaan diri bahwa seorang anak bisa menguasai materi pelajaran, kepercayaan diri bahwa ia mampu mengatasi semua persoalan dalam hidupnya kelak juga harus dibangun sejak awal. Jadi self-confidence plus self-efficacy. Yakni kemampuan untuk berkata “tidak” pada pengaruh-pengaruh negatif yang seperti gelombang ombak yang siap menggulung dan menelan siapapun yang tidak waspada di semua fase kehidupan. Ini adalah life skill yang harus dipelajari seorang anak. Cara belajarnya mungkin menyakitkan, tapi percayalah itu adalah “vaksin” yang akan menguatkannya.
Keempat, selain critical thinking (dan problem solving), tantangan pendidikan di abad ini adalah keterampilan berkomunikasi (Communication), bekerjasama (Collaboration), serta memiliki kreativitas (Creativity) dan inovasi. Partnership for 21st Century meringkas keempatnya sebagai 4C. (Ssstt … ada satu hal lagi yang saya catat kemarin. Di Lazuardi, Pak Haidar meminta guru-guru mengizinkan murid-murid sesekali “bolos” untuk bepergian dengan orangtuanya. Tapi tentu pergi untuk tujuan yang positif dan edukatif. Misalnya berkunjung ke kota lain untuk mengetahui cara hidup, kebiasaan, tradisi, nilai-nilai luhurnya, dan hal-hal yang menurut masyarakat setempat dianggap membahagiakan. “Apa yang membuat mereka merasa senang dan tersenyum?” Setelah itu guru bisa meminta siswa yang bersangkutan membuat catatan dan mempresentasikannya di hadapan teman-temannya.)
Kebahagiaan itu perlu dilatih Tapi 4C itu HARUS dibarengi dengan akhlak. Sangat ironis bahwa di era informasi berlimpah ini umat Islam justru masih sangat banyak yang bodoh dan tidak punya akhlak yang baik. Ada satu kutipan yang juga sangat tajam dari Pak Haidar kemarin: “Jika kita tidak [belum] punya akal yang cerdas, maka berakhlaklah. Jika tidak punya akal dan akhlak, carilah guru yang dapat membimbingmu. Tapi jika tidak punya akal, tidak punya akhlak, dan tidak juga mencari guru, maka mungkin kematian seseorang itu lebih baik dari hidupnya.” …. *duuuhhh, daleeemmm*. Pujian tertinggi bagi sekolah Islam, dan sekaligus puncak keberagamaan seseorang, adalah akhlak yang mulia. Bahkan alasan paling dasar dari kerasulan Nabi SAW pun adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. “Dan tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak” (al-hadits). Dengan argumen itu Pak Haidar mengritik keras cara pendidikan yang mengejar nilai dan ranking. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana perbedaan akhlak siswa di sekolah ini dengan sekolah negeri? “Belum signifikan,” jawabnya. “Lazuardi masih memiliki banyak sekali kekurangan yang harus diperbaiki.” Di titik ini saya merenungkan betapa serius dan mulia tugas seorang pendidik. Karena seperti ulama, mandat utama pendidik adalah meneruskan mandat kenabian: membentuk akhlak mulia manusia. Pendidikan bukan untuk mengejar nilai, apalagi bersaing dengan kelompok agama lain yang juga menjalankan fungsi pendidikan. Akhlak adalah hakikat pendidikan yang sejati.
Pertanyaan yang mengundang refleksi dari Pak Haidar kemarin juga ini: apakah agama dan akhlak mulia sejalan dengan kebahagiaan yang menjadi impian, cita-cita, tujuan hidup seseorang? Pak Haidar menekankan tesisnya selama ini: bahwa kebahagiaan paling murni adalah ketika kita berbagi dengan orang lain. Tentu saja dengan tulus dan ikhlas tanpa embel-embel. Dan itu perlu dilatih. Jadi kebahagiaan itu bisa dan perlu dilatih. Orang perlu mau dan tahu caranya berbagi, melatihnya terus-menerus, dan dengan demikian ia memperbesar kapasitasnya sendiri untuk berbahagia. Ini “kena” betul untuk saya yang suka hitung-hitungan dalam berbagi dan membantu orang lain.
Demikianlah. Kesimpulan saya dari pembicaraan itu sih, pertama, agama dan cara berpikir kritis-logis tidak bertentangan. Memang beriman adalah perintah agama dan iman mencakup, sebagiannya, kepercayaan terhadap hal-hal ghaib (Allah sendiri, seperti malaikat, surga dan neraka, adalah ghaib bagi manusia). Tetapi sebagian besar perintah agama juga berkait dengan pengembangan fakultas akal dan nalar. Kedua, agama mengajarkan cara-cara untuk berbahagia. Agama yang kasar, keras, tidak menghargai kehidupan, terlalu menekankan pada aspek simbolik, tidak layak disebut agama. Itu, menurut istilah yang saya dengar kemarin dari Pak Haidar, adalah “agama yang tidak menghasilkan apa-apa kecuali kejauhan dari Allah SWT.” Referensi untuk bacaan Sebagai penutup, meski tidak membuat slide atau makalah Pak Haidar menunjukkan dua artikel menarik yang bisa dibaca lebih lanjut terkait topik yang dibahasnya kemarin. Silakan browsing sendiri ya:
Selamat membaca, merenung, dan mempersiapkan diri lebih baik (ini ajakan untuk diri sendiri juga), dan mohon maaf kepada Pak Haidar jika ada yang keliru dalam cara memahami materi kemarin.
Segala puji hanyalah milik Allah, Tuhan seluruh semesta.

 

 

Setelah Bapak Haidar Bagir, giliran Bapak Sayed Hyder berbicara tentang Pendidikan Abad 21, bicara tentang IT, project based learning, critical thinking. Beliau berikan contoh dengan sebuah wordless book berjudul “Zoom” karya Istvan Banyai, yang membuat para orangtua yang hadir sangat tertarik  Selain itu juga dibahas: 7C + A + 2D: character, curiosity, creativity, communication, critical thinking, collaboration/ cooperation, cultural & social responsibility, adaptability, digital & media literacy, decision making & problem solving.

sayed

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s