Warrior Moms

warrior

Ini saya ambil dari catatan di facebook tanggal 27 Agustus 2016 yang lalu🙂

Hari ini saya beruntung banget bisa ngobrol dengan ibu-ibu pejuang.
Bukan, bukan ibu pahlawan atau ibu pembela kemerdekaan negara kita, tapi ibu pejuang yang lain.

Ketika pagi ini saya menunggui Lukman terapi, ada dua ibu anak berkebutuhan khusus (abk) yg juga sedang menunggui anak-anaknya terapi, ngobrol lah kami. Karena punya banyak kesamaan dan pengalaman, obrolan jadi seru. Sebut saja namanya Ibu A dan Ibu B.

Ibu A anaknya baru berumur 3 tahun, rumahnya cukup jauh dari klinik. Beliau bawa abk-nya terapi 3x seminggu, dihari-hari biasa naik angkot ke tempat terapi, dengan juga membawa anak pertamanya, umur 5th. Bisa dibayangkan berapa waktu habis dijalan, dan berapa ongkos yg dikeluarkan. Hanya di hari Sabtu lah suami ibu tsb dapat mengantar dg mobil. Ibu A juga harus menghibur kakak yg bete karena bosan menunggu terapi adiknya dan juga mungkin letih dijalan.

Biaya yang dikeluarkan beliau utk keperluan 3 macam terapi perbulannya sangat besar. Namun ibu A sangat ikhlas, katanya nggak apa-apa makan dg lauk tempe/tahu setiap hari demi masa depan anaknya.

Sungguh salut saya kepada ibu A, beliau sejak dini sudah sudah menyadari kondisi abk-nya dan punya tekad harus melakukan yg terbaik demi masa depan anaknya tanpa mengeluh.

Ibu B anaknya kelas 1 SD. Perjuangannya juga tidak kalah mengesankan. Ia cerita pengalamannya terapi di RS milik pemerintah, sebelum pindah ke klinik yang sekarang.

Sistim pelayanan di RS tersebut harus antri ambil nomor sebelum dapat giliran. Untuk sehari yang dapat dilayani hanya 10 pasien. Mengantri dalam kondisi yang ramai tentu saja membuat anaknya bete, kadang bisa tantrum karena kesal menunggu. Antrian itu selalu terjadi, padahal lamanya terapi cuma 30 menit! Bayangkan, lamanya antri menunggu giliran, plus waktu habis utk perjalanan pulang pergi, tak sebanding dengan pendeknya waktu terapi, namun tetap ibu B jalani sampai akhirnya mendapat info tempat terapi yang sekarang.

Jadi teringat masa-masa Lukman baru di diagnosa, sama juga dg anak Ibu A dan Ibu B, Lukman menjalani terapi wicara dan terapi okupasi. Saya masih kerja dikantor waktu itu, sebelum akhirnya saya berhenti bekerja. Untuk satu hari dalam seminggu saya ijin (potong gaji, tentunya) untuk pulang setengah hari, mengantar Lukman terapi. Dari kantor saya pulang kerumah, menjemput Lukman, lalu ke klinik tumbuh kembang yang +/- satu jam perjalanannya, Lukman menjalani terapi wicara dan okupasi, lalu selesai menjelang Magrib, menunggu Papanya pulang kantor, dan bersama-sama kami pulang kerumah.

Hari Sabtu saya tidak ngantor, dan lebih leluasa mengantar Lukman terapi. Seperti kedua ibu tsb, lamanya waktu dijalan tidak sebanding dg waktu terapi yang hanya 45 menit per sesi. Namun seperti dua orang ibu tsb, saya juga bertekad harus mengusahakan semaksimal mungkin demi perkembangan Lukman.

Jadi, tidak heran kalau ibu-ibu anak berkebutuhan khusus biasanya kurang gaul, seperti selalu kekurangan energi, dan tidak sempat ‘me time’ karena berusaha mengejar perkembangan sang buah hati sedini mungkin. Eits, ini bukan bikin alasan ya, tapi kenyataannya memang begitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s