Finlandia

Saat lagi heboh-heboh diluar dengan adanya wacana ‘full day school’ dari Mendikbud baru, sehingga dunia sosmed kembali banyak menyebarkan artikel tentang perbedaan sekolah Indonesia dengan sekolah Finlandia yang diakui nomor satu di dunia, kebetulan sekolah Lazuardi GIS kedatangan tamu yang tahun lalu juga pernah berkunjung dan mengadakan seminar di sekolah-sekolah Lazuardi GIS seluruh Indonesia: Mr. Allan Schneitz, pakar pendidikan, direktur dari The Dream School Project, Finlandia.

Ketika mendengar Allan akan hadir lagi, kali ini untuk diskusi dengan para orangtua murid, saya juga langsung ingin ikutan. Tahun yang lalu, karena saya diminta jadi moderator sekaligus penerjemah, rasanya kurang puas menyerap sharing dari Allan, karena saya sibuk memikirkan terjemahan dari kalimat-kalimat yang diucapkan Allan (baca di Dream School Project, Setu Babakan dan Ancol 1).

Malam sebelum acara diskusi, saya mendadak dapat WA dari guru kelas Reza, daaaan, beliau sampaikan pesan bahwa saya diminta ibu Direktur lagi untuk jadi moderator/penerjemah. Niat mau santai-santai mendengarkan jadi batal, tapi  saya langsung menyanggupi permintaan ibu Direktur tersebut.

page

Keesokan harinya, cukup banyak orangtua murid yang hadir, walau tidak sampai 20 orang seperti perkiraan semula. Yang jelas, semua semangat ingin mendengarkan sharing dari Allan. Apa saja yang dibicarakan? Kali ini saya tetap membuat catatan, karena suasananya cukup santai, tidak formal seperti seminar tahun lalu yang dihadiri banyak undangan. Dibawah ini adalah catatan yang saya buat dari diskusi tersebut.

Focus Discussion at SMP Lazuardi GIS Jakarta

FINLANDIA sudah lama dikenal sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, mengalahkan negara-negara maju.

Hari ini orangtua SMP Lazuardi GIS Jakarta mendapat kesempatan untuk mendengar langsung sharing dari pakar pendidikan Finlandia, Mr Allan Schneitz, yang menjadi kepala The Dream School Project di Finlandia.

Tema diskusi adalah: How Finnish Education Prepares Learners To Be Successful in the 21st Century? Role of School and Parents.

Berikut ini cuplikan-cuplikan yang bisa saya ingat dari diskusi tersebut. Tidak semua bisa saya catat karena saya juga bertugas menerjemahkan secara langsung sharing dari Mr. Allan Schneitz tersebut 🙂

Menakjubkan untuk mengetahui bahwa untuk level SMP di Finlandia jam belajar pada umumnya adalah dari jam 08.15 – 14.30, dengan waktu istirahat total perhari 75 menit, belajar 5 hari dalam seminggu. Sementara liburan musim panasnya sepanjang 2,5 bulan. Jadi kalau dihitung-hitung dalam setahun murid SMP hanya belajar sekitar 180 hari.

Resep mereka untuk menghadapi abad ke 21: para murid harus dapat menikmati proses belajar, ditumbuhkan rasa ingin tahunya semenjak usia dini, ditimbulkan kreatifitasnya. Allan mengatakan, tidak ada yang dapat menggantikan rasa bahagianya sebagai guru jika melihat murid belajar dengan senyum lebar diwajahnya. Begitu juga orangtua, mereka akan merasa bahagia jika anak-anak mereka berangkat sekolah dengan senang hati

Guru di Finlandia percaya bahwa siswa butuh relaks dan tidak stress ketika mereka belajar di sekolah. Dan mereka percaya bahwa ketiadaan stress dapat menjamin prestasi dan pencapaian hasil yang baik

Selain itu, hubungan antara murid-guru dan orangtua didasari oleh adanya trust & respect. Menciptakan respect memang tidak mudah. Respect bisa muncul terhadap guru ketika guru tersebut menjadi teladan bagi siapa saja. Sedangkan trust kepada guru akan timbul saat guru tersebut menunjukkan profesionalisme. Jadi guru yang profesional dalam bekerja, termasuk mengajar, maka lingkungannya akan memberikan trust kepada guru tersebut.

Sudah jadi kesepakatan umum bagi masyarakat Finlandia bahwa tanggung jawab pendidikan generasi penerus ada ditangan semua orang, bukan hanya guru, bukan hanya sekolah saja, tapi juga orangtua dan seluruh masyarakatnya.

Sekolah di Finlandia dibuat senyaman mungkin,bahkan sebisa mungkin dibuat seperti rumah (home). Tidak ada deretan bangku2 dan meja yang menghadap guru didepan. Karena guru bukanlah nara sumber, guru hanyalah fasilitator. Guru bukan satu-satunya sumber kebenaran, semua yg ada di kelas adalah pembelajar. Murid bisa belajar dari guru, dan juga sebaliknya. Bukan pembelajaran searah tetapi dua arah, sehingga ada kesetaraan antara guru dan murid (dalam hal belajar).

Susunan meja berbentuk lingkaran atau fleksibel sesuai kebutuhan, kursi-kursi dilengkapi roda hingga dapat bergerak leluasa. Jika umumnya guru di negara kita menggunakan strategi ceramah di depan kelas dengan menyuruh para murid duduk tenang sepanjang pelajaran, maka strategi seperti itu justru dihindari oleh para guru di Finlandia.

Selain meja kursi belajar dan rak buku sudah jadi hal yang umum ada sofa yang melengkapi kelengkapan furniture didalam kelas. Biasanya sofa ini menjadi favorit para murid, sehingga minimal 3x dalam setahun harus diganti kain pelapisnya 🙂

Di Finlandia tujuan pendidikan bukanlah menjadikan para murid menjadi sarjana, master atau profesor. Tapi tujuan pendidikan adalah menjadikan murid menjadi orang terbaik dalam bidangnya, apapun bidangnya itu. Tidak hanya jadi dokter, insinyur atau pengacara, tapi juga menjadi supir bus terbaik, montir terbaik, atau petugas pos terbaik.

*Foto-foto dokumentasi SMP Lazuardi GIS Jakarta, terimakasih pak Joko 🙂

13924870_10210176077699441_2454585328531776263_n.jpg

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s