Kemampuan Sosial Anak Autis

Tanggal 23 Juli 2016 kemarin saya mengikuti seminar yang diadakan Yayasan Mpati (Masyarakat Peduli Autis Indonesia) dengan topik “Bagaimana Mengajarkan Kemampuan Sosial Untuk Anak Dengan Autisme” dan pembicaranya Ibu Angie Siti Anggari, Spd, MSC.
Beliau sejak tahun 1996 sudah mengajar murid autis di Sekolah Australia di Jakarta, kemudian di Sekolah Madania dan kemudian menjadi pendiri dan Kepala Sekolah Tara Salvia.

IMG_20160723_110516

Ibu Angie Siti Anggari

Sebelum seminar dimulai, ibu Gayatri Pamoedji, pendiri Yayasan Mpati, menginfokan kegiatan Yayasan Mpati yang akan datang bekerja sama dengan Lotte Mart Indonesia, yaitu Pelatihan Sekuriti dibulan Agustus, agar jika ada penyandang autis yang hilang atau tantrum anggota security punya bekal untuk menghadapinya. Kegiatan lain dibulan September adalah program magang yang akan dibuka untuk penyandang autis berumur diatas 15 tahun, dimana pekerja magang ini nanti akan mendapat gaji dan sertifikat. Sebelumnya Yayasan Mpati telah bekerja sama juga dengan Lottee dalam pembuatan parcel Idul Fitri.

Selain info tersebut, ibu Gayatri juga menginfokan alamat PLAJ (Pusat Layanan Autisme Jakarta) Gedung Panti Balita Tunas Bangsa Jl. Raya Bina Marga No.79, Cipayung, Jakarta Timur. Telp : 021-22853827. Warga DKI bisa mendapatkan pelayanan asesmen gratis disini, yang ditujukan bagi warga DKI dari keluarga pra sejahtera.

Kemudian seminarpun dimulai. Ibu Angie memperkenalkan diri, lalu memulai pembahasan, dengan menyatakan “Learning is a Journey”. Belajar memerlukan waktu, dan dalam perjalanan itu, ada hal-hal yang terjadi. Bagi anak penyandang autis, tidak jarang mereka menangis ketika tidak dapat mengungkapkan isi hati, diejek karena berperilaku yang berbeda, bermain sendiri karena tidak ada yang mau berteman, bahkan sampai di bully karena keunikannya.

Belajar sendiri tujuannya adalah membentuk manusia yang berkembang seimbang, antara emosi, sosial, fisik dan intelektualnya. Belajar adalah proses sosial, karena anak belajar melalui pengamatan, anak dapat membelajarkan ketrampilan sosial, belajar akan optimal bilang ada kesempatan dan ada yang harus dikerjakan, belajar akan terjadi apabila ada penguatan, sehingga ketercapaian akademik dipengaruhi oleh perilaku.

Dukungan sekolah pada orangtua diperlukan, karena sekolah adalah tempat pertama anak bersosialisasi, sehingga sekolah harus membekali para murid untuk dapat memahami anak berkebutuhan khusus (ABK). Dari awal sekolah sudah harus menyatakan bahwa sekolah ini menerima anak berkebutuhan khusus. Kemudia diawal tahun ajaran sekolah mengenalkan kepada seluruh murid tentang ABK. Di Tara Salvia untuk mengawali tahun ajaran baru biasanya guru membacakan buku Russel, sebuah buku tentang seorang anak autis, yang dilengkapi dengan foto-foto sehingga anak-anak dapat memahami autisme dan efeknya pada keluarga yang memiliki anak autis.

Menurut ibu Angie, anak ‘normal’ yang belajar di sekolah inklusi akan berkembang toleransinya dengan sangat baik. Problem yang biasa terjadi pada sekolah inklusi salah satunya: ABK tidak belajar apa-apa. Padahal seharusnya sekolah tidak menerima ABK kalau tidak dapat memberikan apa-apa.

Dalam sekolah inklusi, pihak sekolah yang berkepentingan untuk mensosialisasikan tentang ABK kepada orangtua murid, pihak sekolah juga yang bertanggung jawab untuk mengedukasi orangtua. Orangtua harus tahu peraturan untuk melindungi ABK. Pihak sekolah juga harus punya idealisme, sampaikan kepada orangtua bahwa mereka punya hak yang sama. Kesempatan harus diberikan kepada ABK. Jika sekolah menerima ABK, makan dibutuhkan komitmen dan integritas dalam kesehariannya.

Umumnya anak autis bermasalah dengan interaksi sosial, komunikasi, perilaku emosi, dan perilaku dan minat atas permainan yang berulang dan  berlebihan. Menurut penelitian anak autis memiliki hambatan dalam memulai percakapan, mengajak bermain, bergabung dengan teman, berpartisipasi dalam kegiatan dan memahami aturan. Karena itu, hambatan bersosialisasi ini berdampak terhadap: kemandirian dan akibatnya menimbulkan masalah kesehatan mental (depresi, kekawatiran).

Kemampuan sosial yang perlu dipelajari anak autis pada umumnya adalah: berbagi (tidak hanya benda/materi, tapi juga berbagi perasaan, pikiran), kompromi, empati, menyelesaikan masalah, dan menunjukkan perasaan yang sesuai dengan kondisi. Dalam mempelajari kemampuan sosial, model atau teladan akan sangat penting bagi anak autis.

BIla ABK tidak berkembang kemampuan sosialnya, maka di sekolah ia akan rentan di bully, tidak berteman, tidak dipilih jadi anggota kelompok. Karena itu peran orang dewasa sangat menentukan perkembangan sosialisasi ini.

Untuk mengajarkan anak sebagai bagian dari lingkungan, guru/orangtua dapat mengajak anak lain sebagai bagian dari kegiatan. Kemudian mencontohkan memulai kegiatan dengan saling menyapa. Misalnya:  anak bertatap muka dengan teman dan gurunya, anak dengan temannya, anak dengan gurunya. Guru/orangtua berperan memberi contoh pada lingkungan. Anak dilibatkan dalam kegiatan, diterima sebagai anggota kelompok. Dalam hal ini, guru juga berperan dalam menentukan pembagian kelompok.

Sosialisasi harus dirancang, diatur dan dikontrol. Harus ada kerjasama untuk: membangun hubungan yang sehat, membangun sensitifitas, dan belajar dengan aturan. Untuk mengembangkan kemampuan sosialisasi yang sudah terlihat, guru/orangtua harus menciptakan kegiatan yang mendukung, dan harus membuat kondisi dimana anak dapat menyampaikan ceritanya. Dengan kegiatan tersebut, dapat dibangun rasa tanggung jawab anak, dapat dibangun rasa dibutuhkan, dan akhirnya anak dapat memahami kebutuhan orang lain.

Dalam mengajarkan interaksi sosial, guru/orangtua harus menunjukkan konteks sosial. Berikan respon yang sesuai, beri contoh perilaku yang baik (verbal dan nonverbal). Ketika mengajarkan empati, guru/orangtua dapat menciptakan situasi dimana anak memberi respon yang sesuai. Guru/orangtua juga harus mengajarkan kapan dan bagaimana menolong orang lain, anak diajarkan untuk memahami situasi lingkungan.

Guru/orangtua dapat melatih komunikasi dengan mengajarkan anak memilih topik diskusi dengan memakai buku. Penggunaan buku dapat membangun komunikasi dan melatih anak untuk menghargai orang lain dengan bergantian membahas topik.

Orang dewasa memegang peran penting dalam mendukung kegiatan sekolah mengembangkan kemampuan sosial anak. Lingkungan belajar yang mendukung akan membantu anak berkembang secara optimal. Kepercayaan diri dan kemandirian akan membantu anak menjadi pembelajar sepanjang hayat. Proses pengembangan kemampuan sosial membutuhkan waktu yang panjang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s