U A S

Kalau tahun-tahun sebelumnya saya masih belum terlalu memikirkan perlunya Ujian Akhir Semester (UAS) bagi Lukman, di semester ini saya mulai kawatir kalau ia tidak mau mengikuti UAS seperti teman-temannya. Bisa dibilang kelas 4 bagi Lukman adalah awal baru dimana ia mengikuti kelas bersama teman-temannya. Sebelumnya Lukman sempat di kelas Pelangi, dimana ia belajar one on one (baca postingan kelas Pelangi). Karena itu di kelas 5 ini saya berharap Lukman sudah lebih mantap lagi dan bisa mengikuti UAS.

Di semester ganjil, ada beberapa hal yang menyebabkan Lukman masih belum mau, masih menolak UAS untuk beberapa pelajaran. Di semester genap ini, saya bertekad Lukman harus bisa mencoba melakukan UAS seperti teman-temannya. Ini tidak terlepas dari rencana untuk mendaftar ke SMP di semester depan. Dimana untuk masuk SMP yang kami inginkan ada beberapa test yang Lukman harus kerjakan secara mandiri.

Karena itu ketika seminggu sebelum UAS dibagikan materinya, saya menemani Lukman belajar. Caranya dengan membaca bersama materi berupa rangkuman pelajaran yang akan diuji, dan juga berlatih dengan contoh soal yang diberikan. Lukman walau suka menawar: “sebentar saja belajarnya ya” tapi mau mengikuti permintaan saya untuk sama-sama belajar. Saya usahakan selain membaca bahan juga menambah info dari internet. Lukman senang sekali, jika ada hal yang kami cari lebih lanjut lewat hp. Misalnya untuk pelajaran IPA belajar tentang jenis tanah, kami cari foto contoh batu gamping, batu kapur, dll. Kalau untuk bahasa Inggris mencari arti kata sulit, pokoknya berbagai cara supaya Lukman tidak bosan hanya membaca.

Meskipun begitu, malam hari Minggu ketika mau tidur, Lukman sempat menangis ketika ingat besok akan UAS. Saya dan Papanya ajak bicara. Saya tanya kenapa Lukman menangis? Ia jawab “Aku tidak bisa UAS”. Lalu aku ajak Lukman duduk bertiga dg Papanya, dan bilang “Lukman, PapaMama tidak minta Lukman harus dapat bagus. Yang PapaMama ingin, Lukman mau mencoba soal yang diberikan, menyelesaikan sampai akhir, seperti teman-teman. Soal nilai tidak usah dipikirkan. PapaMama tahu kok Lukman itu pintar dan cerdas, hanya saja karena Lukman penyandang autis, cara belajarnya berbeda”. Lalu Papanya kasih tips kalau bertemu soal sulit, lewati dulu. Kerjakan yang Lukman bisa. Kalau masih ada waktu, baru Lukman kembali ke soal yang belum dijawab tadi.

Setelah pembicaraan itu barulah Lukman terlihat tenang, dan langsung mau tidur.

Keesokan harinya saya ulangi lagi yang dibahas semalam, dan juga kasih yel-yel “Semangaat!” seperti kalau Lukman lagi teriak🙂

Alhamdulillah, sepanjang 4 hari UAS Lukman mau mengerjakan dengan tenang dan konsentrasi. Sempat sih di hari pertama ia mengeluh bosan dg ujian pada guru sesudah selesai UAS hari itu, tapi besok dan besoknya bisa disemangati, tidak ada menangis lagi.

Semangat, Lukman!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s