All About Asthma

Sejak umur 7 bulan, Reza sudah dirawat dokter karena sakit asma. Walau saya bukan pengidap asma, namun ibu saya adalah pengidap asma, dan menurut dokter dari generasi ke generasi penyakit ini menurun, jika tidak dalam  bentuk penyakit asma, dalam bentuk alergi lainnya.

Masa kecil Reza memang dipenuhi dengan batuk-pilek yang seperti tidak berkesudahan. Ketika umur balita, rasanya tidak pernah ada sebulan penuh yang Reza tidak sakit batuk/pilek. Bahkan baru saja sembuh, dua minggu kemudian bisa kambuh lagi sakit.  Sampai umur 5 tahun hampir setiap tahunnya Reza selalu ada dirawat di rumah sakit. Sayapun belajar untuk memberikan penanganan dirumah, membeli alat nebulizer dan mengenali tanda-tanda saat Reza mendapat serangan asma, kapan dia cukup ditangani dirumah, dan kapan kondisinya sudah harus dibawa kerumah sakit.

Namun untungnya walau penyakitnya seperti itu Reza tidak tumbuh sebagai anak yang kawatir sakit. Ia selalu penuh semangat ikuti kegiatan, kecuali kalau memang sedang kambuh sakitnya. Alhamdulillah dengan berjalannya waktu, sejak ia sudah lebih besar, ketahanan tubuhnya semakin membaik, dan sudah jarang Reza terkena serangan asma.

Karena itu, ketika dihari Jumat 2 minggu yang lalu saat bangun tidur Reza katakan dadanya sesak, saya bingung. Dari Senin sampai Kamis ia tidak sekolah karena libur Ujian Nasional. Selama libur Reza relatif tidak banyak keluar rumah, menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Iapun dalam kondisi sehat, tidak batuk atau pilek. Walau kondisinya tidak fit, Reza tetap ingin sekolah, karena ada tugas kelompok yang ia harus kumpulkan. Namun kami sudah janjian, setelah istirahat pertama saya akan jemput Reza pulang.

Walau bingung, saya tidak terlalu cemas, karena Reza tidak demam, tidak pusing, dan bisa berkegiatan spt biasa. Tapi ketika saya jemput ke sekolah dan Reza bilang sesaknya makin terasa, akhirnya saya bawa ia ke Emergency RSPI. Ketika sampai di rumah sakit, Reza merasa tidak sanggup berjalan dari satu gedung ke gedung tempat ruang emergency, jadi saya dorong dengan kursi roda. Sampai di emergency, diukur tensinya sangat tinggi. Saya makin bingung, apa penyebabnya.

Saat sudah dipasang selang oksigen di hidungnya, Reza bilang mendingan rasanya, tapi masih berasa nyeri di dada. Kemudian Reza di inhalasi. Selesai inhalasi, masih belum berpengaruh pada rasa sesaknya, Reza masih minta dipasang lagi selang oksigennya. Lalu dokter menyarankan agar dilakukan rekam jantung, juga cek darah. Selesai rekam jantung, dokter melihat ada elevasi yang akan dilihat lebih lanjut oleh dokter jantung.

PhotoGrid_1463226620139

Setelah hampir 5 jam kami berada di ruang emergency. Reza sudah merasa lebih enakan nafasnya, dan sudah mau makan. Selesai makan, dia sudah bisa iseng seperti biasanya, sehingga berkurang rasa cemas saya. Ketika dokter jantung datang, beliau katakan jantung Reza baik-baik saja, dan dari hasil cek darah terlihat adanya infeksi. Karena itu, disarankan Reza konsultasi dengan dokter yang biasa menangani Reza sejak kecil.

Ketika kami bertemu dokter Karel Staa, beliau memeriksa dengan teliti, dan menurut  beliau ada banyak lendir disaluran pernafasan Reza yang tidak keluar dalam bentuk batuk/pilek. Karena tidak keluar, menekan parunya dan ini yang membuat Reza merasa sesak. Tapi penanganannya cukup dengan makan obat saja, dan bisa rawat jalan. Hari Senin berikutnya pun beliau katakan Reza bisa sekolah seperti biasa, asalkan weekend Reza beristirahat dirumah saja.

Lega rasanya, ternyata sesaknya Reza yang lain dari biasanya ini memang dari asmanya juga. Minggu depannya Reza sudah berkegiatan seperti biasanya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s