Test Kecerdasan dan Autisme

Masih dalam rangka bulan peduli Autisme, saya menerjemahkan satu artikel dibawah ini. Artikel aslinya The Hidden Potential of Autistic Kids bisa dibaca di: http://www.scientificamerican.com/article/the-hidden-potential-of-autistic-kids/

Tentang Test Kecerdasan dan Autisme

“Banyak peneliti mulai memikirkan kembali seberapa banyak yang dapat kita ketahui tentang penyandang autis dan kemampuan mereka. Para peneliti ini mengambil kesimpulan bahwa kita mungkin meremehkan apa yang mereka mampu sumbangkan kepada masyarakat. Autisme adalah penyakit spektrum dengan dua ujung yang sangat berbeda. Pada satu ekstrim adalah “high function/berfungsi tinggi” orang-orang yang dapat melakukan pekerjaan, mempunyai teman dan bisa bergaul dengan baik di dunia. Di sisi ekstrim lainnya “low function/berfungsi rendah” adalah orang-orang yang tidak dapat berkegiatan sendiri. Banyak dari mereka yang didiagnosis dengan keterbelakangan mental dan harus dijaga dengan perawatan tetap. Tapi diagnosa ini berfokus pada apa yang tidak bisa dilakukan penyandang autis. Sekarang semakin banyak ilmuwan yang beralih dari cara pandang tersebut untuk melihat apa yang dapat dilakukan penyandang autis dengan baik.

Tumbuh dewasa dengan dua saudara kandung penyandang autis, saya bisa menyetujui kesimpulan Laurent Mottron, seorang psikiater di University of Montreal bahwa mungkin autisme bukanlah penyakit melainkan hanya cara yang berbeda dalam memandang dunia. Ketika saya melihat bagaimana kedua saudara saya belajar di sekolah-sekolah umum, menjadi sangat jelas bahwa ada perbedaan besar antara apa yang guru harapkan dari mereka dan apa yang bisa mereka lakukan. Tentu saja, autisme membuat mereka mempunyai kendala dalam beberapa hal yang membuat mereka sulit belajar, namun juga memberikan mereka cara yang berbeda dalam melihat dunia – yang sering tidak muncul dalam tes kecerdasan standar.

Mengapa tidak muncul pada tes kecerdasan standar? Karena pengujian kecerdasan pada penyandang autis sulit dilakukan. Orang lain pada umumnya dapat duduk dan mengerjakan tes lisan dalam waktu terbatas tanpa terlalu banyak masalah. Tapi untuk penyandang autis dengan kemampuan bahasa yang terbatas, yang mungkin mudah terganggu oleh informasi sensorik, tugas ini sangat sulit. Tes kecerdasan yang paling umum diberikan, Skala Wechsler Intelligence untuk Anak-anak (WISC) tampaknya dirancang untuk memberi hasil buruk pada penyandang: karena tes nya benar-benar verbal, dalam waktu terbatas, dan sangat bergantung pada pengetahuan budaya dan sosial. Tes tersebut memberikan pertanyaan seperti “Apa yang kamu lakukan jika menemukan amplop dijalan yang di lem, ditulisi alamat dan ditempeli perangko?” atau pertanyaan “Apa yang kamu lakukan jika jarimu terluka?”.

Tahun ini, sebagai bagian dari tes, seorang wanita memberikan pertanyaan yang diajukan kepada saudara saya yang menyandang autis, “Anda mengetahui seseorang akan menikah. Apa pertanyaan yang tepat yang diucapkan kepadanya?”

Jawaban kakakku: “Apa jenis kue pengantin yang Anda sediakan?”

Si wanita menggeleng. Tidak, katanya, itu bukan jawaban yang benar. Coba lagi. Saudaraku mengernyitkan alisnya dan berkata, “Saya tidak punya pertanyaan lain. Itulah yang akan saya tanyakan” Dan setelah itu saudaraku tidak mau menjawab pertanyaan lain, dan sang wanita tidak mau melanjutkan jika pertanyaan tadi belum dijawab. Saudaraku gagal menjawab pertanyaan itu dan pada akhirnya tidak menyelesaikan test tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s