Poem for A Mom

Kemarin sore Reza membacakan sebuah puisi, dan meminta saya menebak siapa yang menuliskan. Puisinya manis sekali, dan saya tidak bisa menebak walau Reza sudah berikan clue: puisi itu ditulis tahun 1923.
Puisinya sbb:

MOTHER

“When your mother has grown older,
When her dear, faithful eyes
no longer see life as they once did,
When her feet, grown tired,
No longer want to carry her as she walks

Then lend her your arm in support,
Escort her with happy pleasure.
The hour will come when, weeping,
You must accompany her on her final walk.

And if she asks you something,
Then give her an answer.
And if she asks again, then speak!
And if she asks yet again, respond to her,
Not impatiently, but with gentle calm.

And if she cannot understand you properly
Explain all to her happily.
The hour will come, the bitter hour,
When her mouth asks for nothing more.”

Terjemahannya:

IBU

“Ketika ibumu sudah semakin tua
ketika matanya yang lembut
tidak bisa lagi melihat kehidupannya seperti yang dulu
ketika kakinya sudah semakin lelah
tidak mampu lagi membawanya berjalan

Maka pinjamkanlah tanganmu untuk menopangnya,
dampingi dia dengan perasaan bahagia
saatnya akan tiba saat kamu harus menemaninya di saat-saat terakhirnya.

Dan ketika ia bertanya kepadamu, maka berilah dia jawaban
dan ketika ia bertanya lagi, maka jawablah lagi
dan ketika ia masih bertanya lagi, berilah tanggapan lagi, bukan dengan ketidaksabaran, namun dengan kelemah lembutan

Dan jika dia masih belum bisa mengerti dengan baik,
jelaskanlah kepadanya dengan senyuman.
Waktunya akan tiba, waktu yang pahit, ketika mulutnya tidak bisa lagi bertanya apa-apa.”
……….

Puisi ini ternyata dibuat oleh Adolf Hitler!

Mengejutkan sekali, seorang diktator yang telah membunuh jutaan jiwa manusia, ternyata punya hati yang lembut untuk ibunya…. 

Klara_Polz_Hitler

Klara Pölzl Hitler

3 thoughts on “Poem for A Mom

  1. Wah, memang ya sosok Hitler ini nggak bisa ditebak bagaimana kepribadian aslinya. Sebelumnya yang saya tahu Hitler ini jago melukis dan hampir kuliah Arts tapi nggak diterima makanya pindah haluan ke ranah militer. Ternyata beliau juga sayang ibu dan sampai bikinin puisi ya, saya jadi makin bingung sama kepribadian aslinya >.<

  2. Puisinya menyentuh sekali. Saya sudah pernah membaca bahwa Hitler memang dekat sekali dengan ibunya. Bahkan dia sangat bersedih ketika ibunya meninggal dunia. Jika, andai saja jika ibu Hitler hidup lebih lama, mungkin ibunya bisa melembutkan hati Hitler sehingga tidak menjadi diktator.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s