Setelah Pertanyaan Itu

Setelah Lukman bertanya beberapa hari yang lalu “Aku ini penyandang autis ya Mama?” saya bicara pada pendiri sekolahnya Lukman, yang mengenal Lukman sejak sebelum di diagnosa. Ibu Endah Soekarsono adalah yang pertama kali melihat keunikan Lukman, dan ketika itu beliau (masih menjabat Kepala Sekolah) meminta kami membawa Lukman ke psikolog dan akhirnya kami mendapatkan diagnosa autis untuk Lukman di umur 3 tahun. Sejak itu kami selalu kerjasama dengan beliau, menjadi partner dalam mendidik dan mengasuh Lukman. Karena itu, beliau salah satu yang saya beritahu ketika Lukman bertanya tentang kondisi autisnya.

Esok harinya beliau kedatangan tamu, seorang dokter yang juga play therapist. Ibu Endah panggil Lukman, diajak  berkenalan dengan tamu tersebut. Lukman dengan lancar perkenalkan dirinya, nama Mama Papanya dan alamat rumahnya. Setelah itu Ibu Endah ajak ngobrol tentang film yang Lukman tonton. Lukman ceritakan, filmnya tentang anak autis. Lalu menyebut “Aku juga autis”.

Sesudah mendengar cerita itu saya jadi yakin bahwa Lukman sudah betul menyadari ia penyandang autis, bukan hanya komentar sesaat. Dan saya ingin Lukman lebih memahami lagi apa itu autisme, agar ia lebih memahami dirinya.

Selesai Ibu Endah bercerita tentang obrolannya dengan Lukman, saya sambung dengan mengirim foto buku komik yang saya dapatkan dari Mpati ketika mengikuti acara bincang-bincang Mpati minggu yang lalu (nanti saya akan tuliskan juga isi acara tersebut di postingan terpisah). Komik tersebut dibagikan untuk menyebarluaskan autism awareness. Ketika saya pulang dari acara tersebut, Lukman dengan ingin tahu mengintip komik tersebut. Namun saat itu saya tidak bicarakan apa-apa.

Mpati1

Kemarin setelah saya foto komik tersebut dan mengirimkan pada Ibu Endah, Lukman tertarik lagi untuk membacanya. Dia bawa keluar kamar, baca sendirian. Setelah selesai baca, ia kembalikan lagi pada saya. Saya lalu tanya: “Lukman suka komiknya?” dia jawab “Iya, tentang autis”. Lalu saya ajak duduk disamping saya, “Yuk kita baca bareng…”

Mpati2

Kamipun membaca komik tersebut bersama-sama. Selain membaca, saya juga bicarakan kondisi Lukman, cerita masa kecilnya dulu. Contohnya ketika di buku dituliskan tentang terapi, saya bilang “Lukman dari kecil juga terapi ya, terapi wicara sama bu Yanti sampai bisa bicara, lalu terapi okupasi sama mbak Indah, dan sekarang terapi SI di Pelangi”. Lukman manggut-manggut. Namun ada juga yang saya jelaskan bahwa Lukman berbeda dengan yang dituliskan di buku tersebut. Contohnya soal stimming, gerakan tertentu yang diulang-ulang ketika anak autis yang biasanya dipicu karena sedang stress, atau sedang kosong karena tidak ada kegiatan. Memang Lukman sejak kecil tidak ada stimming, memang ada sih menirukan gerak-gerik dan suara dinosaurus, tapi begitu saya bilang “Lukman lagi apa?” dia langsung berhenti sambil mesem-mesem malu, jadi bukan gerakan yang tidak dapat ia kendalikan.

Selesai membaca buku komik itu, Lukman tidak ada pertanyaan apa-apa. Ia keluar kamar dan menonton kartun favoritnya. Saya biarkan saja, karena memang harus pelan-pelan memberi pemahaman pada Lukman. Saya saja  belajar tentang autisme ini juga harus berulang-ulang, sampai sekarang pun masih terus belajar😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s