Aku Penyandang Autis Ya?

Siang tadi sepulang sekolah, Lukman bersantai baca komik pengetahuan seri Why, saya duduk disebelahnya, buka facebook di handphone saya. Melirik ada link trailer film tentang autisme yang saya share kemarin, Lukman tanya: “Itu apa?” Jadi saya klik link tsb, lalu Lukman nonton videonya. Selesai putar sekali, dia minta ulang diputar lagi. Saat masih berjalan videonya, dia tanya: “Aku penyandang autis ya Mama?”. Wah saya terharu, ini pertama kalinya dia tanya hal tsb pada saya.

Selama ini memang kami tidak pernah bicarakan langsung, tapi kami juga selalu terbuka tentang kondisi spesial Lukman. Kami sering datangi acara autisme bareng sekeluarga, Lukman tahu Mamanya suka baca-baca buku tentang autisme, dan pernah kami sekeluarga datang kesekolah kakak Reza untuk parent sharing session tentang kondisi autisnya Lukman. Ketika itu Lukman juga ikut, membacakan data diri didepan teman-teman kakaknya, dan tentunya mendengar penjelasan saya tentang pengalaman kami mengasuh Lukman sejak bayi, lalu apa yang kami lakukan setelah ia di diagnosa autis, sampai sekarang. Namun setelah acara itu Lukman tidak tanya apapun, tidak membahas.

Baru siang tadi Lukman bertanya, dan saya jawab: “Lukman memang penyandang autis, ada hal yang berbeda pada Lukman kalau dibandingkan dengan teman-teman, seperti ketika belajar bicara, Lukman setelah terapi baru bisa bicara. Tapi Papa, Mama dan Kakak sayang sama Lukman”. Saat itu tayangan videonya sampai pada adegan anak penyandang autis sedang tantrum karena babysitternya memakaikan baju tidak dengan urutan yang biasanya. Hal tersebut memang jadi ciri khas anak autis: rigid, sangat tidak fleksibel, perbedaan sedikit saja dari kebiasaan bisa membuat mereka tantrum.

Melihat itu, Lukman bertanya: “Kenapa anak ini?” saya jawab “Dia sedang tidak nyaman karena dipakaikan baju tidak seperti biasanya”. Lalu Lukman tanya lagi “Aku dulu seperti itu ya?” Saya jawab “Dulu Lukman tidak bisa pakai baju yang kaku bahannya, atau yang terasa kasar. Lukman dulu tidak mau pakai seragam sekolah. Tapi sekarang sudah bisa kan? Lukman semakin besar memang semakin pintar, dan mau terus belajar”.

Habis itu Lukman lanjut lagi baca buku Why tentang transportasi dari masa ke masa. Seperti biasa, Lukman selalu bahas apa yang dibacanya kepada saya. “Lihat Mama, Benz (penemu cikal bakal mobil Mercedes Benz) diledekin orang-orang karena menciptakan kereta tak berkuda”. Kesempatan buat saya mengatakan “Memang Lukman, orang-orang suka meledek segala sesuatu yang nampak berbeda. Tapi orang yang bisa berfikir dan menerima perbedaan justru biasanya jadi berhasil. Contohnya Karl Benz ini. Dia punya ide yang berbeda, bahwa kereta bisa dijalankan tanpa kuda. Dan ternyata ini menjadi awalnya tercipta mobil yang sekarang sangat diperlukan masyarakat” Lukman manggut-manggut. Ia lanjut membaca, dan tunjukkan lagi pada saya bahwa Daimler, yang nantinya akan bekerja sama dengan Benz membuat mobil, juga dicemooh karena membuat hal baru, mesin sepeda yang pertama. Saya lanjutkan, “Jadi kalau melihat ada sesuatu yang berbeda, kita tidak boleh meledek. Siapa tahu itu hal baru yang kita tidak ketahui, karena itu kita harus selalu mau belajar supaya makin pintar” Lukman manggut-manggut lagi.

Setelah itu, tidak ada lagi pertanyaan dari Lukman, ia main diluar rumah, lalu nonton tivi, sebagaimana biasanya di sore hari. Tidak ada pertanyaan lagi tentang autisme. Tapi saya sudah bersiap, lain kali Lukman ingin bicara lagi, saya akan tanggapi lagi agar ia juga punya pemahaman tentang dirinya.

#luvmyson

#autismawareness

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s