Keluarga Penuh Cinta

Hari Sabtu 5 Desember 2015 kemarin, SMP Lazuardi GIS Jakarta kembali mengadakan kegiatan rutin Quality Time for Parents. Kegiatan ini terbuka untuk umum, tanpa bayar.

QT5

Beberapa hari sebelumnya, saya dihubungi Ibu Ira Dhaniari, Wakepsek Bidang Kesiswaan diminta untuk menjadi moderator, mendampingi Bapak Haidar Bagir. Ini kedua kalinya saya menjadi moderator acara Quality Time for Parents, setelah di bulan Maret 2015 yang lalu mendampingi Allan Schneitz dari Finlandia yang memberikan sharing tentang perlunya sinergi antara sekolah dan orangtua murid. Tentu saja saya senang sekali kembali mendapat kesempatan membantu suksesnya acara di sekolah Reza.

Di hari Sabtu kemarin, cukup banyak orangtua murid dan bapak ibu guru yang hadir. Tidak hanya orangtua murid Lazuardi, saya juga lihat ada beberapa teman yang anaknya sekolah di sekolah lain juga ikut hadir, begitu pula orangtua yang baru mengantarkan anaknya untuk ikut test penerimaan murid baru.

QT2

Acara dibuka dengan alunan gamelan dan dari siswa siswi Unit Activity gamelan. Senang sekali melihat anak-anak ini masih mengapresiasi budaya negeri sendiri, masih mau belajar nembang dengan fasihnya. Selesai gamelan, dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran beserta saritilawahnya.

QT3

Setelah itu dimulailah acara inti: sharing dari Bapak Haidar Bagir tentang Keluarga Penuh Cinta.

Dibawah ini saya tuliskan sedikit catatan dari sharing tersebut.

Selama ini ada pandangan umum bahwa agama Islam adalah agama yang keras yang berorientasi kepada hukum. Tidak usah jauh-jauh mengambil contoh, coba dengarkan khotbah Jumat di mesjid-mesjid, seringkali yang didengungkan adalah ancaman bila manusia berbuat dosa, pendosa akan berada di neraka selamanya, tanpa batas waktu. Pengenalan agama Islam kepada anak-anak kecil pun seperti itu, kadang menggelikan ketika seorang guru agama mengajarkan doa “Hapuslah dosa-dosa kami yang banyak ini…” padahal yang sedang belajar adalah anak-anak usia balita yang masih murni pikirannya.

Padahal inti ajaran Islam adalah cinta kasih. Sesungguhnya, cinta adalah sifat hakiki Allah. Dalam Al Quran tertulis, Dia telah mewajibkan atas diri Nya kasih sayang (QS Al An’am [6]: 12). Juga, Kasih sayang Ku meliputi segala sesuatu (QS Al-A’raf [7]: 156), dan Sesungguhnya Tuhanku adalah Yang Maha Pemurah, dan Yang Maha Penyayang (QS Hud [11]: 80). Didalam Al Quran pula, hanya ada 1 (satu) ayat yang menyebutkan Allah Maha Pembalas, bandingkan dengan 100 ayat yang menyebutkan Allah Maha Pengampun.

Begitu pula penggambaran kehidupan Rasulullah SAW. Pada pengajaran agama umumnya yang ditonjolkan adalah masa peperangan. Padahal sepanjang karir Nabi selama 23 tahun, waktu yang dihabiskan dalam peperangan adalah mungkin hanya 800 hari, sekitar 10%. Dalam peperangan sekalipun, Al-Quran selalu segera mengaitkan perintah berperang dengan perintah agar tidak melampaui batas, siap memaafkan, dan mendahulukan perdamaian. Bahkan, Al-Quran mengisyaratkan, umat Muslim tidak menyukai peperangan, Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci (QS Al-Baqarah [2]: 216).

QT1

Inti akhlak Rasulullah SAW adalah cinta dan kasih sayang, yang mengambil bentuk kemanusiaan pada tingkat yang paling tinggi seperti yang tertulis dalam Al Quran, Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS Al-Taubah [9]: 128)

Pada kesimpulannya, jika ingin menjadi Keluarga Penuh Cinta, tanamkanlah kecintaan pada Allah SWT dan pada Rasulullah SAW. Allah SWT menyatakan bahwa alam semesta dan manusia diciptakan dalam komposisi atau bentuk terbaik, Sesungguhnya, Kami menciptakan manusia dalam bentuk terbaik (QS At Tin [95]: 4). Dari Allah SWT tidak ada yang terpancar darinya kecuali kebaikan. Bahkan hal-hal yang buruk tampaknya sesungguhnya ada demi terciptanya suatu kebaikan yang lebih besar. Jadi kesulitan, musibah, adalah bagian dari sistem tersebut yang pada akhirnya menuju kebaikan. Tanpa ujian, tanpa kesulitan atau musibah kita tidak akan peka dan tidak akan meningkatkan kepekaan. Tanpa adanya cobaan dan ujian, kita tidak bisa naik kelas.

QT6

Selesai tanya jawab dan kesimpulan yang disampaikan oleh Bapak Haidar Bagir, acarapun ditutup. Saya mendapat bingkisan kenang-kenangan yang ternyata isinya buku-buku karya Bapak Haidar Bagir. Senang sekali, karena saat sedang sharing dan pak Haidar membuka salah satu buku, saya sudah lirik-lirik judul bukunya, untuk dicari nanti ditoko buku. Ternyata sudah dapat sebagai hadiah. Terimakasih Lazta!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s