Idul Fitri dan Autisme

Umumnya para orangtua menjelang Idul Fitri merasakan kebahagiaan, setelah menyelesaikan ibadah puasa dengan baik, akan bertemu kembali dengan sanak saudara yang di hari biasa mungkin tidak ada kesempatan bertemu, dan mencicipi berbagai hidangan hari raya. Namun bagi orangtua dengan anak autis ada sedikit atau mungkin cukup banyak rasa khawatir menghadapi kegiatan di hari Idul Fitri.

Pengalaman saya ketika Lukman masih umur balita, masih banyak masalah sensori, ketika malam takbiran nomor satu yang terpikir adalah menenangkan Lukman yang sensitif dengan bunyi-bunyian petasan/mercon juga alunan takbiran dari musholla yang jaraknya dekat dari rumah kami. Lukman pasti gelisah, maunya tutup telinga terus, dan jadi tidak bisa tidur. Akibat kurang tidur, tentunya keesokan hari ketika ikut kegiatan silaturahmi Lukman jadi kurang fit. Apalagi ketika datang kerumah yang tidak dikenal, ramai dengan saudara-saudara yang jarang bertemu, makin tinggilah tingkat kegelisahannya.

Itulah yang jadi concern saya ditahun-tahun balitanya Lukman: bagaimana membuat ia nyaman, bagaimana agar kami tetap dapat bersilaturahmi, menjumpai sanak saudara (baca postingan :Too Much Going On + A Different Environment = Meltdown”). Sekarang Alhamdulillah perkembangan Lukman sudah lebih baik. Ia sudah paham kenapa suasana dirumah jadi ramai, kenapa kami berkeliling kerumah saudara-saudara. Walaupun kami tidak memaksakan Lukman untuk bersosialisasi, kami terus libatkan agar mau menyapa, setidaknya salim pada nenek/kakek, dan mau sekadar mencicipi makanan (walau tidak pada semua rumah ia mau makan hidangannya – picky as usual😀 ).

Pada keluarga terdekat kami, baik itu keluarga saya maupun keluarga Papanya, sudah cukup aware dengan kekhususan Lukman, dan mereka sangat mensupport Lukman. Kami juga seringkali bicarakan perkembangan Lukman dan juga topik yang berkaitan dengan autisme, sehingga kalau kami kedatangan sanak saudara dirumah atau kalau kami pergi kerumah Oma-nya, Lukman merasa nyaman dan bisa berinteraksi. Perkembangan yang terekam tahun ini: Lukman ikut senang foto bersama dengan ‘gaya heboh’. Padahal kalau hanya kami saja berfoto, setelah beberapa kali jepret ia pasti akan bilang “Sudah cukup fotonya, Mama” dan menolak difoto lebih lanjut. Namun di suasana lebaran ini, Lukman tidak menolak berkali-kali difoto😀

11052451_833166510102905_1346575497693956158_o(1)

Ketika berkunjung kerumah saudara, kami memang membatas berapa jumlah rumah yang dikunjungi. Tahun ini syukurnya para om dan tante sesepuh kami membuka rumah mereka untuk open house dan keluarga besar berkumpul disana sehingga kami tidak perlu berkunjung dari rumah ke rumah, cukup ikut berkumpul disatu tempat saja. Kebetulan Lukman sudah cukup familier dengan rumah paman-paman Papanya tempat berkumpul tersebut, karena selalu kami ajak kesana dari tahun-ke tahun. Cukup saya pesankan: “Jangan main keluar rumah ya” dan saya biarkan Lukman eksplorasi sendiri didalam rumah. Yang paling menyenangkan untuk Lukman adalah rumah paman Papanya yang ada kolam renang. Sudah bisa dipastikan celananya akan digulung dan ia cemplungkan kaki, menikmati sejuknya air. Karena itu kalau kerumah paman yang satu ini, kami selalu bawakan baju ganti😀

10944801_10207122236915330_3367800475332892524_o

Selain pengalaman yang menyenangkan, memang tetap saja ada hal-hal yang membuat saya merenung setelah berkunjung saat lebaran ini. Percakapan dengan saudara jauh yang belum memahami Lukman, salah satunya. Memang kalau belum kenal betul, hanya memandang Lukman, banyak yang tidak tahu kalau ia berkebutuhan khusus. Karena itu ekspektasinya ya Lukman bisa seperti anak lain. Disalah satu rumah keluarga yang belum tahu kondisi Lukman, seorang sepupu meminta anaknya untuk duduk dan main bersama Lukman. Ketika itu Lukman sudah selesai makan hidangan yang disajikan, dan untuk reward (karena ia sudah mau makan) kami berikan gadget sehingga ia main sementara kami masih mengobrol.

Ada beberapa hal yang saya tangkap di rumah itu. Pertama, salah satu suami sepupu mengomentari ketika melihat Lukman main gadget, mengatakan pentingnya mengontrol/membatasi kebiasaan anak bermain gadget. Orang tersebut terus membahas, walau Papanya sudah katakan Lukman itu berkebutuhan khusus. Sepertinya memang orang itu tidak terlalu paham apa maksudnya berkebutuhan khusus. Kalau sudah bertemu orang seperti itu, sayapun tidak berusaha memberikan penjelasan, apalagi cukup ramai suasana, tidak mungkin bicara dengan jelas.

Lalu pada sepupu yang minta anaknya main bersama, saya masih dampingi Lukman, sementara sang sepupu hanya mendudukkan anaknya disamping Lukman sebelum meninggalkan mereka berdua (berharap mereka bisa bersosialisasi sendiri) dengan berkomentar: “Sepertinya seumuran ya Fulan dengan Lukman, ayok main sama-sama”. Lalu ketika sepupu tsb bertanya umur dan sekolah Lukman, dan mengenalkan pada anaknya, Lukman spontan bilang “Aku suka anakmu”. Sang sepupu heran mendengar kalimat Lukman. Disitu saya masuk, saya jelaskan “Lukman ini bicaranya memang baku, umur dua tahun belum bisa bicara lalu kami ikutkan terapi. Jadi Lukman baru mulai bicara setelah di terapi. Karena itu bahasanya pun baku”. Sang sepupu setelah penjelasan itu melipir pergi. Sayang sekali😉 Padahal kalau saja ia mau mendengarkan dengan lebih lanjut, dengan senang hati saya akan lebih ajak ngobrol lagi tentang autisme.

Lain dengan pengalaman beberapa tahun yang lalu ketika kami bicarakan autisnya Lukman dengan paman-paman Papanya yang cukup aware dengan autisme. Walau sudah sepuh, mereka masih update dengan masalah tumbuh kembang anak, mungkin dari cerita menantu, keponakan, atau cucunya. Tanggapan mereka sangat positif, dan kami bisa mengobrol panjang dengan mereka. Tidak sulit untuk memulainya, jika lawan bicara sudah sedikit tahu tentang autisme, atau walaupun tidak tahu tapi bersikap ingin tahu tentang autisme.

Begitulah pengalaman kami ketika bersilaturahmi saat Idul Fitri, ada banyak hal yang harus diantisipasi, dan dipersiapkan, agar kami dan anak-anak tetap menikmati kebahagiaan ber hari raya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s