Lukman, MRT dan WhatsApp

Memperhatikan pembicaraan dari beberapa ortu penyandang autis yang non verbal didunia maya, dimana ada yang anak-anaknya lalu bisa berkomunikasi dengan menggunakan gadget, laptop dan sarana menulis lainnya, saya juga ingin Lukman bisa menggunakan handphone untuk komunikasi. Kalau untuk games, wah tidak diajarkan saja sudah cepat sekali ia menguasai, hanya dengan melihat kakaknya main saja ia bisa memahami buka menu apa dan bagaimana melaju dari satu level ke level lainnya.

Namun Lukman tidak kami biasakan main games, baik itu di computer, handphone atau gadget lainnya karena takut efeknya yang bisa membuat ketagihan. Lukman sudah tahu, handpone Papa-Mamanya itu tidak mengasyikkan karena tidak ada games didalamnya. Kalau handphone kakak ada Minecraftnya namun kakak jarang sekali mau meminjamkan pada Lukman. Sempat Lukman beberapa kali minta dibelikan handphone juga, namun dengan berbagai alasan kami masih dapat memberikan pengertian bahwa ia belum memerlukan handphone.

Akhirnya Lukman lebih senang menunggu giliran untuk meminjam tablet Papanya. Sepulang Papanya dari kantor, untuk beberapa menit Lukman boleh memakai tab tersebut, sebelum rutinitasnya bersiap tidur. Namun tak jarang Lukman tidak sempat pakai tab karena Papanya pulang malam, dan Lukman sudah waktunya tidur. Di akhir minggu lah Lukman agak leluasa meminjam tab tersebut, itupun kalau kami dirumah saja.

Selain main game yang tidak seberapa banyak didalam tab tersebut, Lukman senang sekali melihat video-video singkat yang biasanya Papanya dapat dari teman-temannya. Ada yang berupa film kartun pendek yang ceritanya menginspirasi, ada video tentang pembangunan proyek, juga ucapan selamat berbentuk animasi. Selain itu Lukman juga senang memainkan keyboard digital, mendengarkan berbagai lagu yang dapat dimainkan pada keyboard tersebut. Lukman jadi tambah luas wawasan musiknya, dapat mengenal lagu Sakura dari Jepang, Imagine-nya John Lennon, dan berbagai lagu klasik dari kegiatan ini.

Beberapa hari yang lalu dalam perjalanan menuju RS MMC (baca cerita: Lukman Bertemu Dr. Melly Budhiman, SpKJ) Lukman asik melihat pekerjaan yang sedang dilakukan di jalan yang kami lalui. Ketika melihat papan menutupi sebagian badan jalan, Lukman bicara seperti dibawah ini:

L: Di Jakarta banyak konstruksi ya Mama?

M: Iya sayang

L: Konstruksi MRT?

M: Iya beberapa jalan ada konstruksi untuk MRT

L: (melihat tiang-tiang monorel separuh jadi di Rasuna Said) “Itu konstruksi MRT ya Mama?”

M: Bukan sayang, kalau itu proyek monorel, tapi tidak jadi proyeknya, berhenti. Kalau proyek MRT di jalan Fatmawati.

L: Dijalan Sudirman juga ya Mama?

M: Iya betul sayang.

L: Ada stasiun-stasiunnya di Bunderan HI, Dukuh Atas, Setiabudi, Bendungan Hilir, Istora dan Senayan.

M: *speechless kok bisa tahu Lukmannya, apalagi urutannya betul sekali sesuai jalurnya* “Lukman tahu darimana?”

L (jawab dengan sambil lalu): “Dari Tab Papa”

Masih berlanjut pembicaraan tersebut, merasa diperhatikan topiknya Lukman membahas lebih lanjut.

L: “Alat untuk bikin jalan MRT dibawah tanah itu namanya cutterhead, Mama”

M: “Ooo itu ya namanya” sambil masih terheran-heran, dan merasa harus tahu juga soal proyek pembuatan MRT ini, supaya lain kali bisa ‘nyambung’ dengan obrolan Lukman😀

Saat Papanya sudah pulang, saya cek tab-nya, ternyata betul ada video dibawah ini.

Dari video tersebut Lukman bisa tahu (dan hafal!) stasiun-stasiun yang direncanakan untuk MRT, juga nama alat pengebor bawah tanah yang dipakai untuk membuat jalur MRT.

Selain untuk hiburan, Lukman pun mulai memanfaatkan gadget untuk komunikasi. Sering kali saat selesai membuat gambar atau foto yang ia buat, Lukman minta dikirimkan gambar tersebut untuk sahabatnya. Setelah itu ia mendengarkan Mamanya membaca komentar temannya yang dikirimi.

Dua hari yang lalu, Lukman yang sedang pinjam tab Papanya sibuk motret-motret berbagai obyek, termasuk boneka gajah kesukaannya. Ia lalu perlihatkan hasilnya pada saya. Melihat ada yang bagus fotonya, saya minta ia kirim ke handphone saya. Seperti yang saya duga, ia dengan sigap dapat mengirim dengan menggunakan WhatsApp. Lalu setelah dikirim, karena melihat tata kalimat Lukman sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya, saya sengaja ajak Lukman ngobrol lewat WhatsApp itu. Papanya sampai bingung, Lukman ngetik apa, dan kenapa ngobrol sama Mama lewat WhatsApp, namun ketika saya perlihatkan obrolan kami berdua, ia paham dan biarkan Lukman meneruskan. Walau topik pembicaraan masih meloncat-loncat saya lihat Lukman cukup baik mengetik, kalaupun ada salah ketik pasti ia hapus dan ulang kembali. Ia juga dapat memakai tanda baca, memakai emoticon yang tepat, walau ada juga yang salah pencet dan bikin kami berdua tertawa.

Dibawah ini saya attach obrolan saat itu😀

wa31

wa32

wa33

wa34

One thought on “Lukman, MRT dan WhatsApp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s