Lukman Bertemu dr. Melly Budhiman, SpKJ

Tahun yang lalu, saat Lukman kondisinya sedang menurun di sekolah, saya jadi kepikiran apa lagi ya yang harus kami lakukan untuk mensupport perkembangan Lukman. Sebetulnya ada satu hal yang masih terpikirkan terus, yaitu: perlukah Lukman diet seperti umumnya penyandang autis: diet cfgfsf (diet casein free, gluten free dan sugar free). Sampai umur 10 tahun ini Lukman hanya pantang minum susu, kami tidak dietkan Lukman cfsf karena sejak awal di diagnosa Lukman tidak disarankan untuk diet. Lukman juga tidak ada masalah fisik, makan apapun ia bisa walau masih pilih-pilih selera, tidak ada efek samping apapun selama yang dimakannya itu sehat dan bergizi. Dirumah kami pun membiasakan ia makan yang sehat: tanpa msg, tanpa pewarna dan perasa buatan. Namun kalau kondisinya sedang turun, hal itu terus terpikirkan: perlu tidak diet ya?

AutismBanners

.
Akhirnya tahun yang lalu kami mendaftar ke dr. Melly Budhiman, SpKJ, pakar autisme dan ketua Yayasan Autisma Indonesia. Seperti yang dialami pasien lain, kami harus menunggu cukup lama dan nelihat jadwalnya, suster bagian pendaftaran mengatakan setahun lagi di bulan Juli 2015 baru kami dapat bertemu beliau. Sementara kami menunggu tersebut, perkembangan Lukman di sekolah membaik. Dengan belajar di kelas Pelangi, kelas khusus, Lukman menjadi pesat kemajuan akademisnya, lalu juga lebih tenang dan akhirnya lebih dapat bersosialisasi dengan baik di sekolah.

.
Ketika minggu lalu kami di telepon oleh suster rumahsakit MMC, saya ragu juga, perlukan kami konsultasi? Dan perlukan kami memutuskan diet atau tidaknya Lukman? Tapi karena kesempatan sudah ada, akhirnya kami putuskan konsultasi saja dulu, biarlah nanti kami pikirkan lagi soal diet tersebut.

.Hari Kamis tanggal 28 Mei 2015 kamipun bertemu Dr. Melly. Lukman ijin pulang lebih cepat dari sekolah, dan kami langsung menuju rumahsakit MMC. Setelah mendaftar dan makan siang, kamipun menunggu didepan kamar praktek. Dr. Melly datang sebelum jam perjanjian, namun tanpa menunggu beliau langsung panggil nama Lukman. Kamipun masuk kedalam ruang praktek. Beliau nampak seperti yang biasa kami lihat di tivi: ramah, bicara dengan suara yang menenangkan, dan selalu senyum. Dr. Melly langsung ajak Lukman bicara sambil masuk ruangannya “Lukman sudah besar ya, umur berapa sekarang?” Lukman jawab “Sepuluh tahun” dan ditanya lagi “Sekolahnya kelas berapa?” Dijawab Lukman“Kelas empat”. Dr Melly lanjutkan “Waah, kalau begitu sudah pandai ya, puzzle-puzzle ini terlalu mudah untuk Lukman, yuk duduk dulu” beliau menunjuk sederetan puzzle yang diletakkan dimeja sebelahnya.

.
Lalu kami duduk dan mulai ditanyai oleh Dr. Melly: “Ada masalah apa?”. Saya jelaskan bahwa sekarang Lukman tidak ada masalah, tahun yang lalu saat kami mendaftar utk konsultasi pada beliau memang Lukman sedang bermasalah disekolah, cukup sering marah dan tantrum, namun sementara sedang menunggu giliran konsultasi dengan dr. Melly kondisi Lukman membaik, bahkan banyak perkembangan sampai saat ini. Beliau lalu menanyakan sejarahnya, sejak Lukman di diagnosa sampai sekarang. Saya ceritakan semua, dan beritahu sekarang Lukman sudah bisa lebih kontrol emosi, sudah bisa ikuti kelas biasa lagi, bisa presentasi, bisa tampil dipentas, bisa travelling naik pesawat, dll. Sesekali memang masih ada marah, tapi tidak sampai tantrum.

.
Dr Melly bertanya lebih lanjut sambil mengamati Lukman, lalu berikan beberapa puzzle untuk Lukman kerjakan. Puzzle yang diberi makin lama makin sulit, tapi Lukman bisa kerjakan semua sampai selesai. Lalu dr Melly menanyai Lukman juga, seperti: “Siapa nama teman/sahabatmu disekolah?” Lukman langsung sebut: Vina, Abraar, lalu nama teman-teman sekelas lainnya. Kemudian untuk pertanyaan “Pelajaran apa yang susah?” tanpa banyak pikir Lukman langsung bilang “Matematika” dan setelah berpikir lebih lama, Lukman tambahkan “Bahasa Indonesia”. Yang lucu, ketika ditanya apa pelajaran yang mudah, saya pikir Lukman akan jawab IPA karena dia selalu excited kalau ada percobaan, dan suka sekali baca buku-buku yang berkaitan dengan IPA dirumah, namun ternyata Lukman menjawab “PKN”😆

.
Setelah cukup lama mengobrol, dr Melly simpulkan bahwa perkembangan Lukman sudah sangat baik, “Ibu tidak usah terlalu khawatir, sepertinya ibu tdk perlu konsultasi dengan saya”. Lalu beliau teruskan: “Kalaupun mau ada tambahan, dicoba saja ekskul atau les hobi apa yang Lukman sukai. Untuk olahraga saya sarankan renang, dan utamanya gaya bebas karena ada gerakan menyilang yang baik untuk brain gym”. Saya katakan Lukman biasa brain gym tiap pagi disekolah, lalu dr. Melly minta Lukman peragakan. Lukman dengan pede peragakan sambil bercerita pernah masuk tivi saat brain gym disekolah😀

.
Ada yang lucu di akhir pertemuan. Karena saya ketawa geli mendengar Lukman ‘pamer’ sudah pernah masuk acara tivi, Lukman bilang “Mamaku suka ketawa”. Lalu dr. Melly menjawab “Iya, ibu suka ketawa ya?” Lukman bilang (sambil menunjuk saya): “Dia, mamaku, suka ketawa karena lucu”. Dr. Melly menjawab lagi “Oh iya, panggilnya mama ya bukan ibu. Kalau ibu siapa?” Lukman berpikir lalu jawab “Ibu itu orangtua” dr Melly katakan “Saya ya Ibu” sambil menunjuk dirinya. Lukman menggeleng, sambil bilang “Bukan, kamu dokter” ketawa lagi lah saya mendengarnya, dan dr. Melly juga ketawa.

.
Terakhir, dr. Melly meresepkan minyak ikan untuk Lukman, yang dapat dibeli di kantor Yayasan Autisma Indonesia. Beliau katakan “Tidak perlu test-test, perkembangannya sudah baik, dan jaga saja makanan tidak usah yang terlalu manis”. Saya katakan dirumah memang membiasakan Lukman tidak makan permen, coklat, dan makan makanan yang sehat saja, beliau katakan “Ya mungkin itulah yang juga mendukung perkembangannya baik, teruskan saja”. Dalam hati saya lega, ternyata memang Lukman tidak harus diet.

.
*Cerita ini saya tuliskan berdasarkan kondisi dan pengalaman Lukman. Saya tidak memberi kesimpulan bahwa penyandang autis itu tidak perlu diet. Malahan saya lihat dari pengalaman sesama teman-teman ortu anak autis bagi sebagian penyandang autis memang sangat memerlukan diet cfgfsf untuk memperbaiki kondisi kesehatan dan perkembangannya. Lebih baik lagi jika memang sudah sejak balita anak autis dibiasakan diet, sehingga sudah terbiasa dan tidak sulit memantang makanan dan minumannya*

One thought on “Lukman Bertemu dr. Melly Budhiman, SpKJ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s