Dream School Project, Setu Babakan & Ancol part 1

Ketika Lukman berulangtahun ke 10 di pertengahan bulan Maret yang lalu, kami sekeluarga punya skedul yang padat dengan beberapa acara dari pagi sampai malam.

Beberapa minggu sebelumnya Papanya sudah bisik-bisik merencanakan kami akan menginap di Ancol karena akan ada acara Annual Party kantor Papanya di salah satu hotel Ancol, kebetulan bertepatan dengan hari ulangtahun Lukman waktunya. Seperti tahun yang lalu, rasanya sayang pergi ke Ancol kalau tidak main dipantai, dan karena itu Papanya sudah booking satu kamar untuk kami menginap dihotel tersebut.

Beberapa hari kemudian, saya mendapat undangan seminar dari sekolah Reza. Memang acara Quality Time for Lazuardi Parents ini rutin diadakan beberapa bulan sekali, dan kali ini pembicaranya adalah Mr. Allan Schneitz, Koordinator Dream School Project dari FInlandia yang sedang berkunjung ke Indonesia. Tentunya saya ingin dengar sharing dari beliau, karena sudah seringkali saya membaca betapa hebatnya sistem pendidikan di Finlandia, yang diakui terbaik didunia. Berhubung dua kali acara sebelumnya di Lazuardi dengan pembicara Mr. Allan Schneitz ini tidak bisa saya hadiri, kali ini walau ada rencana ke Ancol, saya minta waktu pada Papanya untuk ikuti seminar dahulu. Papanya setuju, jadi rencananya saya ikut seminar, pulangnya dijemput Papanya dan anak-anak dan langsung cuss ke Ancol.

quality time

Tujuan Mr. Allan Schneitz berkunjung ke Indonesia adalah untuk mencari mitra untuk kolaborasi Dream School Project. Ketika berkunjung ke Lazuardi GIS beliau sempat mengobservasi kelas dari TK hingga SMP, dan sangat senang karena Lazuardi memiliki banyak kesamaan dengan sekolahnya. Karakteristik sekolah-sekolah dalam jaringan Dream School Project antara lain berfokus pada siswa, banyak interaksi, kolaborasi dan tatap muka, siswa dan guru sama-sama pembelajar, lingkungan sekolah yang hidup, ceria, bermakna, dan menyenangkan, pemanfaatan teknologi dalam proses belajar dan pendokumentasian portofolio siswa.

Beberapa hari kemudian, Reza beritahu saya bahwa ia mau kerjakan tugas proyek bulanan dengan temannya untuk meliput Setu Babakan, pusat perkampungan budaya Betawi dekat rumah kami. Memang anak-anak belum kami beritahu tentang rencana menginap di Ancol, mau diberikan sebagai kejutan. Namun dengan ada rencananya Reza, terpaksalah saya beritahu rencana ke Ancol tersebut. Lalu akhirnya kami putuskan Reza dan temannya diantar Papanya, sementara saya ikuti seminar. Lukman juga ikut mengantar kakaknya, ia pasti senang berkunjung lagi ke Setu Babakan.

Malam sebelum hari H saya mendadak di telepon oleh ibu kepala sekolahnya Reza. Beliau minta saya jadi moderator sekaligus instant interpreter untuk acara seminar yang memang sudah saya niatkan untuk datang. Namun tanpa disangka, karena moderator yang sudah direncanakan sakit, ibu kepala sekolah menghubungi saya malam itu. Walau tanpa persiapan, saya setuju untuk membantu di acara tersebut😀

Pagi harinya kami berangkat menjemput teman Reza, yang ternyata akan diantar orangtuanya juga ke Setu Babakan, lalu langsung kami menuju ke sekolah Reza dan saya di drop disana. Ibu kepala sekolah sudah menunggu, dan saya langsung dibawa bertemu Mr. Allan Schneitz dalam sebuah ruangan meeting, dimana juga ada bapak Haidar Bagir, pendiri dan ketua yayasan Lazuardi Hayati, ibu Iba Husein, direktur Lazuardi GIS, dan juga beberapa orang lainnya yang belum saya kenal. Saya sempat berbincang sebentar dengan Mr. Allan Schneitz tentang rencana penerjemahan presentasinya sebelum kami bersama naik ke lantai 3 ke aula Lazuardi GIS Jakarta. Saya jalan duluan, karena pak Haidar masih mengobrol dengan tamu-tamunya. Begitu masuk aula, wow, isinya penuh! Selain orangtua yang diundang untuk seminar, banyak juga guru dan kepala sekolah dari sekolah-sekolah Lazuardi cabang lainnya.

laz1 laz2

Acara dimulai dengan alunan musik dari orkestra Lazuardi. Menikmati musik yang indah cukup membantu menenangkan saya😀 Setelah itu acara dibuka dengan pembacaan Al Quran dan tilawahnya. Kemudian bapak Haidar Bagir menyampaikan pandangannya tentang dunia pendidikan. Setelah itu giliran Mr. Allan Schneitz menyampaikan presentasinya. Kami berdua naik ke panggung, namun setelah saya membuka forum, Allan turun dari panggung karena ingin lebih dekat kepada hadirin. Sayapun mulai menerjemahkan setiap kalimat yang diutarakan Allan ke bahasa Indonesia. Syukurlah aksen beliau tidak terlalu kental, saya masih mudah menangkap bahasa Inggrisnya. Saya ingat ketika masih bekerja dulu, mendengar berbagai aksen dari para pemegang saham dengan berbagai kebangsaan dari luar negeri, kadang cukup menyulitkan telinga Indonesia untuk memahami bahasa Inggris yang mereka pakai dalam pembicaraan. Sesekali, ketika Allan bercerita panjang, memang ada saya agak tertinggal menerjemahkan kalimatnya, namun melihat mimik saya yang masih belum menangkap poin kalimatnya, beliau dengan baik hati mengulang lagi😀

laz3

Inti dari presentasinya, menurut Allan pendidikan di Finlandia berawal dari pengembangan kreativitas melalui kegiatan bermain. Dengan bermain, anak akan terpancing rasa ingin tahunya dan menghasilkan anak yang suka belajar. Ia pun memaparkan, bahwa cara terbaik untuk belajar tidak hanya duduk dan membaca, tetapi juga bergerak, berbicara secara aktif, mengamati dari alam sekitar. Disana para guru (baca: pendidik) bertindak sebagai fasilitator, bukan nara sumber yang harus dicatat dan diingat setiap hal yang mereka ajarkan. Profesi guru adalah profesi yang sangat dihormati disana, untuk menjadi seorang guru tidak mudah. Tapi yang terpenting menurut Allan, bukan kepintaran seseorang, namun ‘hati’ sebagai seorang pendidik lah yang menjadi patokan apakah seseorang akan lulus menjadi guru atau tidak. Kemudian, ada hal yang sangat berbeda dengan Indonesia, dan sangat menyenangkan tentunya: di Finlandia siswa tidak dibebani oleh PR dan tes/ujian yang banyak seperti di Indonesia. Hanya satu kali ujian, yaitu ketika dari SMA akan masuk ke Universitas. Hmm sementara dari tahun ketahun kita mendengar banyak berita tentang stressnya para siswa menjelang UN di Indonesia. Semoga hal ini berubah di era Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah bapak Anies Baswedan😉

Pembahasan terakhir tentang sinergi antara sekolah dan orangtua, menurut Allan, untuk mencapai hasil yang maksimal dari pendidikan disekolah sangat penting untuk adanya kepercayaan antara orangtua dan guru. Mengapa? Karena dengan adanya hubungan yang baik antara orangtua dan guru akan membantu siswa merasa nyaman disekolah dan lebih sukses dalam pelajarannya.

Selesai tugas saya menerjemahkan, acara berlanjut dengan tanya jawab. Cukup banyak hadirin yang bertanya, dan mereka semua menggunakan bahasa Inggris, sehingga saya hanya perlu menerjemahkan pertanyaan mereka dan jawaban Mr. Allan Schneitz kepada hadirin kedalam bahasa Indonesia.

Akhirnya selesai juga acara Quality Time for Lazuardi Parents, kamipun berfoto bersama, dan diberi tanda mata dari Lazuardi. Tidak lama menunggu, saya dijemput oleh Papanya dan anak-anak, tapi tidak langsung ke Ancol. Rupanya Reza mengerjakan tugas proyeknya cukup lama, sehingga ketika menjemput saya disekolah mereka baru saja selesai, jadi kami kembali dulu kerumah untuk bersiap pergi ke Ancol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s