Masalah Cinta Individu Autistik

Minggu yang lalu kami mengikuti acara rutin Parent Sibling support group yang diadakan London School Centre of Autism Awareness (LSCAA). Ini sudah kesekian kalinya saya ikut acara LSCAA dan tiap kali selalu dapat manfaat dengan mendengarkan nara sumber dan juga tentunya sharing dari orangtua yang hadir.

adriana

Pemberi materinya adalah Dr. Adriana S. Ginanjar, MS. Dmkn yang sudah sangat dikenal oleh komunitas autisme. Berbekal ilmu sebagai psikolog dan pengalamannya sebagai orangtua remaja spektrum autisme (SA) ditahun-tahun terakhir beliau sering didatangi remaja SA yang mengalami masalah dalam berteman, hambatan komunikasi dan bullying.

Membuka pembicaraannya, mbak Ina – panggilan akrab beliau – menanyakan: bisakah individu SA jatuh cinta? Dari sharing orangtua yang hadir, jawabannya jelas: bisa. Untuk individu SA verbal, biasanya banyak bertanya tentang pujaan hatinya, bisa juga selalu minta menelpon, bahkan mengatakan ingin berpacaran. Bagi yang non verbal terlihat dari perilakunya, seperti selalu menatap atau ingin berdekatan terus.

Kemudian mbak Ina lanjut, menanyakan: sebetulnya apa sih cinta itu? Para peserta menjawab dengan berbagai pendapat. Mbak Ina lalu memperlihatkan gambar “Teori Segitiga Cinta”. Teori ini dikembangkan oleh Robert Sternberg yang menyatakan cinta dalam konteks hubungan sosial terdiri dari tiga komponen:

Picture2

  • Intimacy (Keintiman) – Yang meliputi perasaan akrab, dekat, keterhubungan dan keterikatan emosi
  • Passion (Nafsu) – Yang meliputi dorongan untuk berperilaku romantis, daya tarik fisik, dan dorongan seksual
  • Commitment (Komitmen) – Yang meliputi keputusan untuk bersama dan selanjutnya saling berbagi rencana hidup bersama

Pada individu SA umumnya cinta itu hanya sebatas passion, karena untuk sampai ke elemen Keintiman dan Komitmen ada berbagai kendala yang dialami individu SA. Inilah yang dibahas berikutnya: Mengapa individu SA sulit membangun hubungan romantis?

Picture3

Sulitnya Interaksi Sosial

Kesulitan utama dalam interaksi dengan orang lain adalah memahami aturan sosial yang kompleks dan sering berubah. Individu SA merasa tidak memiliki “insting sosial”. Interaksi dengan orang lain menimbulkan kecemasan karena menuntut kontak mata, kemampuan bicara yang baik, dan respon yang tepat.

Perkembangan Interaksi

Pada masa kecil, anak SA lebih suka berinteraksi dengan benda atau binatang peliharaan sebab bentuk interaksinya lebih sederhana & dapat dikontrol. Selanjutnya terbentuk hubungan yang dekat dengan anggota keluarga, terutama ibu dan pengasuh. Interaksi dengan teman sebaya dapat berkembang secara sederhana, tetapi dapat menimbulkan trauma karena pengalaman bullying dan diabaikan. Dalam hubungan romantis individu SA banyak mengalami kegagalan karena kesulitan berempati & membentuk keintiman emosional

Selanjutnya mbak Ina membahas masalah umum yang terjadi dalam hubungan romantis individu SA:

  • Kesulitan dalam mengungkapkan perasaan cinta atau ekspresi tidak tepat
  • Tidak menangkap sinyal-sinyal non verbal
  • Perlu diberitahu secara jelas tentang perasaan orang lain
  • Bicara apa adanya, tidak sadar bila menyakiti perasaan orang lain
  • Tidak suka pesta yang ramai, tidak pandai berbasa basi
  • Hanya tertarik mengobrol tentang hal yang diminati
  • Hipersensitif terhadap “dunia luar”

Mengingat masalah yang dihadapi individu SA tersebut, umumnya para orangtua menjadi bertanya-tanya, apakah anaknya boleh berpacaran? Lebih jauh lagi: apakah anaknya sebaiknya menikah? Dan pertanyaan yang sulit lainnya adalah: bagaimana membantu mereka memahami hubungan romantis?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, para orangtua perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut yang tentunya berbeda dari satu keluarga ke keluarga lainnya:

  • Karakteristik individu SA
  • Definisi pacaran dan pernikahan
  • Siapa yang menjadi pasangan
  • Dukungan terhadap pasangan
  • Kesiapan menghadapi konflik dan kegagalan

Menutup pembicaraan hari itu, mbak Ina memberikan quote:

Picture1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s