Mural Lukman

Sejak dua minggu yang lalu, ada yang berbeda digedung Sekolah Tetum Bunaya. Dari jauh samar-samar ada wajah mengintip dari balik dedaunan. Makin didekati makin besar, dan terlihatlah itu ternyata lukisan dinding.

m1s

Iya, itu wajah Lukman yang jadi lukisan dinding atau istilah seninya mural. Kalau mengintip Wikipedia, mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Nah kalau di sekolah Tetum Bunaya, mural ini dibuat bukan hanya untuk hiasan saja, tapi merupakan salah satu kegiatan yang berkaitan dengan tema pendidikan tahun ini, yaitu Aku Pejuang Lingkungan Hidup (baca: Pejuang Lingkungan Hidup dan Angkot).

Mural di dinding gedung kelompok bermain, gedung TK dan gedung SD sekolah Tetum Bunaya diambil dari hasil karya anak murid. Baik itu lukisan, gambar peta hijau, maupun hasil karya 3 dimensi taman kota.

Setelah peresmian dimulainya tema pendidikan tersebut, kami dihubungi ibu Endah W Soekarsono, pendiri yang sampai sekarangpun masih mengajar di sekolah Tetum Bunaya. Ibu Endah mengatakan berencana memakai foto Lukman untuk dijadikan mural pada dinding depan sekolah. Beliau katakan Lukman dijadikan ikon karena mewakili berbagai sosok di sekolah: anak berkebutuhan khusus, siswa yang sudah bersekolah sejak kelompok bermain sampai sekarang, dan orangtuanya telah menjalin hubungan baik dengan pihak sekolah sejak kakaknya bersekolah di Tetum.

Wah kami terharu sekali, dipilihnya Lukman dari sekian banyak murid dengan berbagai prestasi tentunya merupakan kehormatan. Selama ini kami memang selalu menganggap sekolah Tetum Bunaya sebagai partner kami mendidik dan mengasuh Lukman. Apapun prestasi/pencapaian Lukman hari ini adalah hasil kerjasama yang baik antara kami dengan pihak sekolah. Banyak hal yang jadi masukan untuk kami mendidik Lukman yang kami peroleh dari sekolah. Begitupun juga, pihak sekolah sangat mendengarkan apapun informasi yang kami sampaikan, baik itu berupa saran, kritik maupun hanya berbagi cerita. Komunikasi yang sangat baik ini sangat menunjang perkembangan Lukman, dan kami bersyukur mendapat partner yang begitu luas wawasan dan sangat open minded.

IMG-20141006-WA001 IMG-20141003-WA000

Nah setelah kami memberikan persetujuan, proses berikutnya adalah pengambilan foto Lukman. Sebelumnya saya dikenalkan dengan Guntur Wibowo, yang akan melukis mural di sekolah bersama teamnya. Kak Guntur ini sudah dikenal dikalangan seniman mural di Indonesia, dan beliau saat ini dosen di Institut Kesenian Jakarta. Selain kak Guntur, saya berkenalan juga dengan teman-temannya yang nanti akan memotret Lukman: kak Joshua dan kak La Ode (di sekolah Lukman kami memanggil kakak untuk para pengajar dan juga pengajar tamu). Entah kenapa, sampai dirumah saya salah informasikan kepada Lukman, saya katakan nama teman-teman kak Guntur: Johan dan La Ode.

Saya tidak sadar sudah salah menginformasikan, sampai ketika siangharinya ibu Endah kirim pesan ke saya dan katakan Lukman tidak jadi difoto hari ini. Rupanya ketika diberitahu nama teman-teman kak Guntur saat di kelas Mars, Lukman bilang “Kak Endah salah, namanya kak Johan bukan kak Joshua”. Karena Lukman jadi kesal dan marah sampai menggigit tangan ibu Endah, akhirnya ia dibawa keruangan kelas Pelangi untuk ditenangkan, dan kembali lagi ke kelas Mars saat sudah tenang. Tapi ia tetap masih kesal pada ibu Endah. Ia baru mau masuk kelas ketika sudah diyakinkan kak Endah tidak ada disana. Setelah itu Lukman bisa terus kerjakan aktifitas seperti biasa sampai pulang sekolah. Ketika sampai dirumah Lukman masuk kedalam tumpukan bantal-bantal ditempat tidurnya. Saya yang sudah tahu kejadian disekolah mulai tanya-tanya, supaya Lukman mau cerita. Tapi Lukman kekeuh tidak mau bicara, akhirnya saya pancing dengan Eboo boneka gajah kesayangannya.

ngumpet eboo

Saya tanya Lukman: “Lukman kenapa gigit kak Endah?

Lukman: “Karena kak Endah tidak mendengarkan aku”

Mamanya: “Bukan tidak mendengarkan, tapi mama yang salah kasih tahu Lukman namanya kak Johan. Padahal yang betul kak Joshua”

Mukanya Lukman terlihat malu.

Mamanya: “Kalaupun salah, Lukman cukup ngomong ‘Kak Endah salah namanya’ bukannya digigit”

Saat saya ngomong ‘digigit’ dia menggerakkan Eboo dan bersuara seolah-olah Eboo kaget. Jadi sesudahnya saya ngomong lewat Eboo

Mamanya: “Kenapa Eboo kaget?”

Lukman jawab (dengan suara Eboo): “Karena Lukman gigit kak Endah seperti vampire”

Mamanya: “Eboo, boleh nggak sih Lukman gigit kak Endah?”

Eboo: geleng-geleng kepala

Mamanya: “Jadi Lukman harus apa Eboo?”

Eboo: “Minta maaf sama kak Endah”

Mamanya: “Yang minta maaf Eboo atau Lukman?”

Lukman: “Aku” (suara Eboo)

Mamanya: “Eboo bukan murid Tetum Bunaya, Lukman yang sekolah disitu, jadi yang harus minta maaf siapa?”

Lukman: “Aku” (dengan suaranya sendiri)

Keesokan harinya Lukman minta maaf pada ibu Endah, dan ibu Endah juga minta maaf karena tidak mendengarkan Lukman. Walau begitu, saat pemotretan ibu Endah tidak muncul, karena kelihatannya Lukman masih saja kesal dan malu walau sudah saling minta maaf. Walaupun ikut ke kelas Pelangi tempat pemotretan, ibu Endah bersembunyi dibalik rak buku, bicara bisik-bisik dari sana kepada kak Guntur supaya tidak terlihat oleh Lukman🙂

m4 m3

Setelah pemotretan, kak Guntur dan team memulai pekerjaan mural dari gedung kelompok bermain, lalu gedung TK, lalu halaman gedung SD, dinding-dinding lain, dan terakhir baru lukisan Lukman.

Ibu Endah memperlihatkan foto-foto proses pembuatannya yang dilakukan di sore dan malam hari karena semua anggota team Mural punya kegiatan berbeda dipagi dan siang harinya, seperti kak Guntur sendiri harus mengajar dulu di IKJ.

IMG-20140925-WA000 IMG-20140925-WA001

Saya baru tahu bahwa pertama kali yang dilakukan adalah memproyeksikan foto benda yang akan dilukis ke dinding, baru dibuat sket dari lukisannya. Setelah sket selesai baru diteruskan penyelesaian lukisannya. Team kak Guntur menggunakan steger (scaffolding) untuk mencapai dinding yang tinggi, mereka sudah terbiasa bekerja dengan posisi ketinggian seperti itu.

_MG_7026s IMG-20141015-WA004 IMG-20141016-WA0001

Saya sendiri tidak pernah melihat langsung pembuatan mural tersebut, tapi sempat melihat kak Guntur demo melukis ketika acara pembukaan tema Aku Pejuang Lingkungan Hidup. Melihat beliau menggambar rasanya asik sekali, dan sangat cepat mengerjakannya.

Akhirnya sekitar 2 minggu yang lalu selesailah muralnya Lukman. Hari Seninnya Lukman diminta ikut melihat, ketika itu berkaitan dengan pelajaran IPS yaitu belajar tentang skala. Menurut gurunya Lukman terlihat malu melihat wajahnya, namun senang bisa naik-naik steger yang masih terpasang. Dirumahpun ia tidak banyak bercerita, seperti biasanya Lukman jadi malu kalau perhatian semua orang tertuju pada dirinya.

m2s

Rencananya saya akan kesekolah bersama Papanya yang belum sempat menengok selesainya mural, dan juga membawa Ayang dan -kalau ada kesempatan- Omanya Lukman juga untuk melihat mural tersebut🙂

Note:

Foto-foto proses pembuatan mural koleksi Sekolah Tetum Bunaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s