Parent Sharing Session at SMP Lazuardi GIS Jakarta

Menjadi saudara dari penyandang autis itu tidak mudah, dan ini dialami Reza sejak kecil.

DSCN3991s

Mulai yang berantem kecil-kecilan karena adek Lukman tidak mau berbagi. Atau dipukul adek karena mereka berebut remote control televisi. Atau kejadian Reza marah besar karena tameng prajurit hasil karyanya yang susah payah dibuat beberapa hari menjadi hancur disobek-sobek Lukman yang sedang ngambek karena sesuatu. Maklumlah, mereka masih sama-sama kecil. Kita saja orang dewasa bisa sesekali tidak sabar, apalagi anak kecil yang belum memahami kenapa adeknya berbeda dengan anak-anak lain.

Namun kami terus usahakan pengertian dari Reza, menanamkan pemahaman mengenai kondisi adek Lukman yang berkebutuhan khusus. Awalnya Reza kerap kali tidak terima, dan merasa adek Lukman terlalu mendapat kelonggaran dari Papa Mamanya. “Kok aku umur 6 tahun sudah disuruh mandi sendiri, adek sudah umur segitu masih dimandikan?” itu contoh salah satu protesnya pada kami. Pelan-pelan kami berikan pemahaman bahwa adeknya tumbuh kembang dengan tahapan yang berbeda. Selain itu kami juga selalu usahakan Reza selalu mendapat perhatian yang cukup, tidak hanya mencurahkan perhatian pada adek Lukman. Sesekali saya dan Papanya mengajak pergi atau ikuti kegiatan diluar rumah berdua saja dengan Reza, sehingga pada saat itu ia merasa perhatian saya dan Papanya tertuju sepenuhnya pada dirinya, dan ia bisa berkegiatan tanpa harus memikirkan sudah harus pulang karena adek sudah bosan dengan suasananya.

Semakin besar, Reza semakin punya pemahaman tentang autisme dan ia tidak keberatan kalau kami ajak mengikuti berbagai kegiatan komunitas autisme sehingga melihat dan berkenalan juga dengan penyandang autisme yang lain. Ketika Reza kelas 4 SD, ia pernah diwawancara on air oleh penyiar radio yang sudah dikenalnya sejak kecil (baca: Obrolan Reza Tentang Lukman). Dalam rangka bulan Peduli Autisme, Reza ditanyai oleh sang penyiar tentang adek Lukman. Mendengar rekaman percakapan tsb, kepala sekolahnya Reza ketika itu minta saya menulis di bulletin sekolah tentang autisme. Saya ijin dulu pada Reza, bolehkan saya menulis artikel tentang Lukman, dan nanti teman-teman Reza tahu tentang kondisi khususnya adek. Saat itu Reza tidak ragu sedikitpun mengiyakan, sehingga keluarlah tulisan tersebut di bulletin sekolah, yang dibagikan ke seluruh orangtua murid (baca: Adikku Autis Dan Aku Sayang Dia) .

CIMG0274

Memang sekolah Reza dan Lukman berbeda. Reza waktu itu sekolah di SDIT di Depok, sedangkan Lukman di SD Tetum Bunaya, sebuah sekolah inklusi. Reza sendiri lulusan TK Sekolah Tetum Bunaya, sehingga ia sudah sangat dikenal oleh baik guru-guru maupun teman-teman Lukman. Namun Lukman jarang datang ke sekolah Reza, hanya sesekali kalau perlu menjemput. Karena sekolah biasa, dalam kesehariannya Reza tidak pernah bergaul dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Ia bisa berkenalan dan bicara dengan anak berkebutuhan khusus lain hanya saat kami ajak ikuti acara disekolah Tetum Bunaya atau di komunitas autisme.

11s2

Ketika Reza masuk SMP Lazuardi GIS Jakarta, kami sudah jelaskan bahwa sekolahnya ini sekolah inklusi. Reza akan berkenalan dan akan sekelas dengan murid berkebutuhan khusus. Kami minta ia bergaul dan mendukung mereka seperti bagaimana Reza dengan adek Lukman dirumah. Bisa dikatakan Reza itu idolanya Lukman. Apa yang Reza pelajari, Lukman juga ingin pelajari. Apa yang sedang jadi perhatian Reza, juga diperhatikan Lukman. Karena Reza selalu mau berbagi ilmu dan info dengan Lukman, otomatis wawasan Lukman juga bertambah dengan masukan dari Reza. Saat Reza tergila-gila dengan Mesir Kuno, Lukman juga ikut. Saat Reza senang pelajari tentang Hitler dan sejarah Perang Dunia, Lukman ikut tahu Hitler itu yang kumisnya berbentuk kotak. Ketika Reza bicara tentang legenda Nyi Roro Kidul di kelas bahasa Inggris baru-baru ini, selama seminggu Lukman tidak henti bicarakan topik yang sama🙂 Ilmu yang dibagi Reza itu juga bermanfaat bagi Lukman disekolah. Salah satu contohnya: karena senangnya dengan Mesir Kuno, ketika disekolah pelajaran agama sedang membahas Nabi Musa, Lukman bisa dengan fasihnya bercerita tentang kisah Nabi Musa, dan membuat teman-temannya kagum.

egypt

Beberapa minggu yang lalu, Reza ketika pulang sekolah tanya pada saya “Mama mau nggak datang ke kelas Character Building dan cerita gimana jadi orangtua anak spesial?”. Saya surprise dan terharu, kok bisa ya kepikiran begitu Rezanya. Ia lalu cerita, bahwa di kelas tersebut murid belajar tentang 20 Nilai Lazuardi seperti keberanian, kejujuran, dll. Nah ketika ditanya gurunya apakah ada orangtua yang bisa sharing apa saja yang berkaitan dengan nilai-nilai tersebut, Reza terpikir bahwa jadi orangtua spesial yang anaknya berkebutuhan khusus harus punya nilai-nilai seperti ketabahan, kesabaran, keberanian yang mungkin lebih dari orangtua lainnya. Saya jadi terharu, rupanya diskusi PapaMamanya bertahun-tahun dengan Reza tentang adiknya, dan juga bagaimana kami mendidik adiknya dirumah menjadi perhatian Reza, sehingga ia terpikirkan untuk sharing dikelas tsb.

Ketika saya bicarakan dengan Direktur sekolahnya Lukman, Ibu Endah WS Hudaya tentang rencana sharing tersebut beliau sangat mendukung, beliau bahkan menyarankan agar Lukman ikut memperkenalkan diri sendiri di kelas Character Building tsb, didampingi oleh salah satu gurunya. Memang sudah dari tahun yang lalu Lukman mau tampil didepan publik. Sebelumnya, jangankan tampil bicara atau menari, sekadar menginjakkan kaki dipentaspun Lukman tidak mau, dan bisa tantrum kalau dipaksakan. Tiap tahun sekolahnya adakan berbagai acara, Lukman tidak pernah mau naik panggung. Alhamdulillah sejak tahun lalu dikelas 3, dengan berbagai stimulasi di sekolah Lukman sudah berkembang dan mau ikuti berbagai kegiatan. Bahkan sudah pede tampil sendiri ketika family gathering di awal tahun ini untuk ceritakan aktifitasnya, dan dikesempatan lain membaca puisi buatannya sendiri ketika ada event Aku Pejuang Lingkungan Hidup dihadapan orangtua murid.

famgat

Dihari H Papanya kebetulan bisa cuti setengah hari dan bisa ikuti acara sharing tersebut. Baik Reza maupun Lukman semangat bangun pagi dan bersiap-siap. Reza berangkat duluan dengan mobil antar jemput sekolah, kami berangkat sesudah mampir dulu ke Sekolah Tetum Bunaya menjemput kak Lita, guru Lukman. Sampai di Lazuardi, kami disambut Teacher Maran dan langsung didampingi keruangan di library untuk siapkan bahan sharing. Reza muncul tidak berapa lama kemudian, Lukman senang sekali bertemu kakak disekolahnya. Setelah itu, masuklah murid-murid yang didampingi Teacher Liana, Lukman makin senang bisa berkenalan dengan teman-teman kakaknya.

Acara dibuka oleh Teacher Maran, kemudian kami minta Lukman perkenalkan diri sendiri. Ia bicara dengan panduan tulisan yang dibuatnya sendiri disekolah bersama kak Lita. Lukman nampak pede sekali, ia perkenalkan dirinya dengan suara cukup lantang dan jelas.

1s 0s

Setelah itu, saya putarkan cuplikan video ketika Lukman di terapi wicara saat masih umur 3 tahun. Berbeda dengan Lukman sekarang, ketika itu Lukman belum lancar bicara, baru bisa beberapa kata, ia juga sulit sekali fokus, nyaris cuek dengan terapisnya, asik main sendiri.

2s

Selesai pemutaran video, kami masuk ke slide show. Tidak jauh berbeda dengan halaman Lukman’s Story di blog ini, kami ceritakan bagaimana Lukman ketika masih bayi, lalu ketika di diagnosa autis, dan perkembangannya sampai sekarang. Slide shownya seperti dibawah ini

Selesai slide show, para murid diberi kesempatan untuk bertanya. Macam-macam pertanyaan mereka, dari “Bagaimana supaya Lukman bisa bicara seperti sekarang?” lalu “Selain sekolah, apakah Lukman juga ada les?” lalu “Bagaimana dengan teman-teman Lukman?” lalu “Bagaimana ulangan disekolah?” dan masih banyak lagi.

4s 3s

Setelah pertanyaan selesai dijawab, Teacher Maran menutup acara sharing dengan mengulang lagi poin-poin yang kami sampaikan di akhir slide:

  • Seperti anak lainnya, Lukman memerlukan kasih sayang, pendidikan dan lingkungan yang mendukung agar berkembang dengan baik.
  • Butuh kesabaran dan usaha yang konsisten agar Lukman dapat terus berkembang. Karena itu, setiap perkembangan sekecil apapun dari Lukman itu selalu kami syukuri.
  • Walaupun berbeda, Lukman punya kecerdasan dan potensi yang dapat dikembangkan untuk masa depannya
  • Lukman dengan segala keunikannya memberikan kami kebahagiaan, bahkan gelak tawa. Dan selalu ada kejutan yang membuat kami lebih memahaminya dan membuat kami yakin usaha yang dilakukan tidak akan sia-sia sehingga membuat kami terus semangat.

9s 18s

Tanpa terasa, waktu yang disediakan 1 jam 10 menit sudah berlalu, kami senang sekali bisa berbagi cerita dengan kelas 7 Kazakhstan, dan Lukman terlihat senang sekali. Kami berharap sharing tersebut dapat bermanfaat untuk para murid, dan dapat meningkatkan autism awareness mereka.

Selesai acara ada free time 10 menit untuk para murid, Reza mengajak Lukman melihat buku “Mahabharata” (topik yang lagi diminati mereka berdua dirumah) di library, dan Lukman tanpa canggung ikut ‘nyempil’ diantara teman-teman kakaknya😀

13s

Baca juga:

Sibling Love https://mamanya.wordpress.com/sibling-love/

Sibling Rivalry https://mamanya.wordpress.com/2009/04/23/sibling-rivalry/

Adekku Sayang https://mamanya.wordpress.com/2009/06/01/adekku-sayang/

Autis Itu Apa Sih, Mama? https://mamanya.wordpress.com/2009/01/04/autis-itu-apa-sih-mama/

Adikku Autis, Dan Aku Sayang Dia https://mamanya.wordpress.com/2011/08/08/adikku-autis-dan-aku-sayang-dia/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s