Kelas Pelangi

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya di postingan Lukman Dapat Rapor Diknas perjalanan Lukman dikelas 3 ini tidaklah mudah. Selama semester pertama kami sering mendapat laporan Lukman menolak mengerjakan instruksi, ngambek ketika diminta ikut kegiatan kelas, bahkan sampai tantrum dan melampiaskan emosi pada guru bahkan temannya. Saya dan Papanya sangat prihatin, dan sempat ketika itu memboloskan Lukman dari sekolah. Saya kawatir kondisi Lukman yang sedang tidak fit membuat emosinya tidak stabil saat itu, sehingga sulit baginya untuk merasa nyaman dikelas, dan membuat kisruh dikelasnya.

uman2

Saya yakin semua orangtua tentunya mengharapkan situasi kelas yang aman, tertib agar anaknya dapat belajar dengan baik. Ketika itu dalam pandangan kami Lukman seringkali mengusik ketertiban dan kenyamanan dikelas, walau cepat ditangani guru. Sampai puncaknya di semester ganjil ada kejadian yang membuat kami jadi sangat down, dan terus terang bingung apa yang harus kami lakukan. Menurut kami sekolah sudah sangat cukup memantau Lukman, sudah pula mengurangi jam belajar Lukman agar ia tidak terlalu lelah dan merasa tidak nyaman, bahkan mendatangkan psikolog yang mengobservasi dan memberi masukan kepada sekolah, namun perbaikan yang diharapkan belum terjadi. Hati kami saat itu sangat galau, mengingat banyak sekali cerita sesama orangtua anak autis, dimana mereka dengan berat hati memilih untuk mengeluarkan anaknya dari sekolah dan menjalani homeschooling.

Namun saat itu saya diajak bertemu oleh Ibu Endah W S Hudaya, pendiri sekolah Tetum Bunaya, beliau ini sudah sangat memahami Lukman sejak masuk playgroup hingga sekarangpun beliau masih sangat memantau perkembangan Lukman dan juga mengajar untuk beberapa mata pelajaran. Dalam pertemuan itu beliau meminta agar Lukman tidak dirumahkan dan tetap ikuti kegiatan kelas. Untuk selanjutnya, Lukman akan didampingi oleh shadow teacher yang diharapkan lebih dapat memantau Lukman lebih seksama, dan diharapkan episode tantrum akan berkurang.

Memasuki semester genap, Lukman sepertinya lebih semangat ke sekolah. Ada pergantian shadow teacher yang sepertinya memberi efek positif pada Lukman, ia terlihat lebih komunikatif dengan shadow teacher barunya. Walaupun begitu tetap ada episode Lukman mencakar temannya, dan sayapun diminta datang kesekolah sesudah kejadian itu. Saya sudah pasrah, hanya bisa berdoa semoga ada jalan yang terbaik untuk mengatasi masalah Lukman. Menurut saya sekolah sudah cukup berusaha, dan kamipun tidak punya ide lain yang kiranya bisa menjadi solusi.

umanpulsekl

Ternyata doa saya dikabulkan, dalam pertemuan itu saya diberikan Program Pendidikan Individual (PPI) untuk Lukman. Jam belajarnya tetap lebih singkat, namun ruangan kelasnya terpisah dari kelas biasanya. Lukman nantinya akan belajar secara one on one, dengan guru yang berganti-ganti sesuai mata pelajaran. Targetpun disesuaikan dengan kebutuhan Lukman saat itu, namun secara akademis tidak ada perubahan, bahan pelajaran yang diberikan tetap sama dengan teman sekelasnya.

Walau tidak tahu bagaimana nantinya reaksi Lukman belajar di Kelas Pelangi (nama yang diberikan sekolah untuk kelas istimewa itu) namun saya sangat lega mendapatkan keputusan seperti itu. Jauh dari kemungkinan terburuk yang sudah terbayang dibenak saya. Dengan lega dan gembira saya ceritakan pada Papa Lukman perubahan program belajar Lukman, dan Papanya terheran-heran, karena sangat memahami akan adanya tantangan dalam mengatur jadwal guru dengan satu kelas tambahan seperti itu. Selain perubahan kelas, ada pula perubahan terapi. Yang biasanya Lukman hanya terapi dirumah 2x seminggu, dengan PPI ini ada perubahan, dalam seminggu Lukman terapi satu kali di sekolah dan satu kali di rumah.

Bagi kami, PPI dan Kelas Pelangi itu bukanlah seperti punishment karena kelakuan buruk atau karena Lukman mengganggu kenyamanan kelas, sehingga ia harus dipisahkan dari kelasnya. Kami sama sekali tidak berpikiran seperti itu. Malah kami berasa sangat lega ada jalan keluar dari permasalahan, bahkan merasa diistimewakan karena membayangkan Lukman akan belajar one on one dengan satu guru yang tentunya cuma bisa terjadi di Kelas Pelangi.

belajar menulis

Selama seminggu pertama di Kelas Pelangi Lukman terlihat gembira saja. Bagaimana tidak, suara teman-teman sekelas tidak lagi jadi tantangan baginya karena ia hanya sendirian dikelas, lalu ia mendapat perhatian penuh dari guru, semua instruksi diberikan dengan sejelas-jelasnya untuk Lukman. Terlihat perkembangannya cukup baik. Yang tadinya dia tidak mau disuruh membaca nyaring, karena sekarang sendirian dikelas jadi ia tidak malu kalau salah sehingga Lukman mau membaca nyaring. Masih lembut awalnya, namun yang terakhir sdh sangat lantang. Diberi PR untuk membaca nyaring dirumah juga dia semangat mengerjakan apalagi diminta membacakan buku cerita untuk kedua neneknya sambil direkam videonya.

77511_10200577709123863_1999879006_o 1939533_10200577709403870_1569604146_o

Setiap bulan saya bertemu dengan team sekolah: kepala sekolah, guru kelas, guru pendamping, guru terapis dan Ibu Endah, untuk membahas dan mengevaluasi PPI yang sudah dilakukan, dan menjelaskan target juga program bulan selanjutnya. Target akademis dan target dari terapi diformulasikan bersama, sehingga apa yang dilakukan di kelas terapi mendukung kebutuhan dikelas dan memberi masukan pada guru. Oh iya, ruangan kelas yang dipakai Kelas Pelangi tidak selalu sama. Kadang diperpustakaan, kadang diruangan Semut di gedung TK, kadang dikelas lain bahkan diluar, dihalaman dalam sekolah yang luas dan hijau. Ini diperlukan agar Lukman bisa lebih fleksibel, dan sukurlah Lukman bisa menyesuaikan, walau awalnya ragu-ragu jika mau masuk ruangan berbeda. Ketika terapi pun Lukman sering diberi tugas untuk mengambil atau mengantarkan sesuatu ke kelas-kelas yang berbeda. Awalnya ia harus ditemani, berdiri malu dibelakang guru terapisnya. Lambat laun ia sudah pede masuk sendiri, lalu mau masuk dan bicara dengan guru, lalu akhirnya masuk bicara dengan guru dan dengan teman yang bukan sekelasnya.

nikons

Untuk akademisnya, Lukman terlihat lancar-lancar saja. Tidak ada hambatan, dan Lukman bisa menangkap apa pun yang diberikan guru. Untuk hal-hal yang masih perlu diperkuat seperti menulis, matematika, Lukman menggunakan alat-alat bantu yang khusus. Untuk menulis menggunakan system Handwriting Without Tears yang menggunakan berbagai cara dan alat sehingga belajar memperlancar tulisan menjadi menyenangkan. Selain itu Lukman juga menggunakan alat bantu ajar Montessori yang sejak kelas 1 sudah diperkenalkan.

Masalah pergantian gurupun tidak jadi persoalan, siapapun yang mengajar tidak menjadi masalah bagi Lukman. Pelajaran yang disukai Lukman adalah jika melakukan tugas praktek, percobaan, terutama percobaan IPA. Biasanya oleh ibu guru Lukman dibekali bahan-bahan percobaan untuk bisa mengulang percobaan tsb dirumah. Lukman pasti langsung menagih pada saya untuk melakukan lagi dirumah. Banyak hal yang biasanya dilanjutkan dengan membuat booklet dimana Lukman menjabarkan apa yg dilakukan dan disimpulkan dari pelajaran yang baru didapatkannya. Lukman selalu semangat dan mau menyelesaikan tugas itu sampai selesai. Bahkan suatu ketika ibu gurunya katakan bookletnya dibuat besoknya, Lukman masih semangat dan katakan “Aku kerjakan hari ini saja, kak Lely”.

Ada beberapa tugas Lukman yang berbeda dari tugas teman-temannya dikelas Bumi. Contohnya tugas untuk melihat pameran lukisan di Taman Ismail Marzuki (baca postingan Belajar Mengapresiasi Karya Seni) . Lalu tugas berbelanja ke warung disekolah ditemani salah satu guru ke warung dekat sekolah dan dirumah berbelanja bersama mamanya ke pasar swalayan. Kalau Lukman dapat PR dari sekolah selalu jadi pengalaman yang menyenangkan untuk saya, karena selain PRnya selalu bervariasi, memperkaya hal-hal yang Lukman dapatkan disekolah -bukan pengulangan- dan saya jadi tahu seberapa dalam Lukman memahami materi pelajaran disekolah. Dibawah ini booklet Belajar Belanja yang Lukman buat dirumah.

11-horzs 13s 14s 15s

Selain tugas yang berbeda, di Kelas Pelangi ini kami juga diberikan buku komunikasi selain buku penghubung yang memang sudah jadi alat untuk menyampaikan pesan antara sekolah dan orangtua murid dan buku jurnal dimana murid mencatat topik yang dipelajari hari itu.Bedanya buku komunikasi Lukman dengan buku penghubung dan buku jurnal adalah detil isinya. Selain menuliskan topik yang dipelajari, guru Lukman juga mencatat bagaimana sikap Lukman menerima pelajaran, apa yang menjadi kesulitannya, apa yang disukainya dari topik tersebut, dan berbagai PR yang perlu disiapkan atau dilakukan dirumah. Hal itu diperlukan agar jika ada kendala yang dihadapi saya bisa tahu dan membahasnya dirumah dengan Lukman. Komunikasi seperti ini memang sangat diperlukan, karena walau Lukman sudah cukup lancar bicaranya, untuk hal-hal tertentu masih sulit ia ungkapkan, dan karena itu saya perlu intens berkomunikasi dengan gurunya.

15 11 12 14

Selain pelajaran, yang dibahas dalam buku komunikasi adalah makanan yang Lukman bawa untuk snack time, dan bagaimana dia menikmati snacknya tersebut dan juga catering yang disediakan sekolah, dan bagaimana gurunya membujuk agar Lukman menghabiskan makanan. Beda dengan anak lainnya, makanan yang dibawa Lukman untuk snack time ditentukan oleh sekolah, dan berbeda tiap harinya. Kenapa diatur seperti ini? Karena Lukman masih sangat picky, menyukai hanya sedikit makanan tertentu, dan marah jika ia diminta makan yang tidak disukainya. Ini salah satu kendala yang harus kami tanggulangi, mengurangi penyebab Lukman tantrum di sekolah. Alhamdulillah dengan berjalannya waktu makin banyak jenis makanan yang mulai Lukman sukai, walau awalnya agak sulit namun para guru dengan berbagai cara membujuk dan membuat Lukman mau mencoba dan menikmati makanan yang disediakan.

Walau nyaman berada dikelas Pelangi tersebut, bukan berarti seterusnya Lukman akan belajar disana. Target akhirnya jika Lukman sudah lebih pede dan lebih bisa menyesuaikan diri ia akan kembali bergabung bersama teman-teman sekelasnya lagi. Bahkan untuk kegiatan-kegiatan tertentu seperti program Seni Budaya & Ketrampilan yang ketika itu didatangkan guru tamu Lukman bergabung bersama teman-temannya. Pulang sekolah hari itu dan minggu depannya (dua kali pertemuan) Lukman terlihat gembira.

page

Selama ini memang Lukman tidak terlalu tampak kehilangan teman-teman namun ketika pada hari ulangtahunnya di bulan Maret, dimana biasanya ada prosesi ulang tahun memutari lingkaran dengan memegang globe sebagai simbol putaran kehidupan sambil dibacakan sejarah hidupnya, Lukman sempat bilang pada saya “Pasti teman-teman senang aku ulangtahun”, padahal acara hari itu ya seperti hari-hari sebelumnya dikelas Pelangi dimana Lukman tidak bergabung bersama teman-teman, dan Lukman menjalani prosesi disaksikan mamanya, kakak Reza yang kebetulan sedang libur dan kedua guru kelasnya.

hut20141-vert

Diakhir semester genap ini, ketika mengambil rapor Lukman dan diberikan kumpulan hasil karyanya kami sampai speechles melihat begitu banyak pencapaian Lukman, begitu banyak hasil karyanya dan melihat angka rapornya yang baik, apalagi ketika ibu gurunya mengatakan hasil Lukman semester ini beyond expectation, lebih dari yang ditargetkan. Selain itu kami melihat sendiri ketika Lukman tampil untuk presentasi hasil karyanya di acara family gathering menjelang akhir semester, ia bisa melakukan dengan penuh percaya diri, tanpa malu-malu dan terlihat relaks sekali (videonya ada di paling bawah halaman ini).

10383866_10203893651962724_4635283701178454097_o 10407999_10203938574165751_7305297161468594038_n

Kami sangat bersyukur Lukman bersekolah di SD Tetum Bunaya, sekolah yang memang berkomitmen untuk membuat cerdas tanpa menggegas, sekolah yang concern dengan tumbuh kembang anak secara seutuhnya, sehingga ketika anak kami bermasalah, ketika kondisi menjadi tidak nyaman, sekolah tetap memegang teguh komitmennya, dan dengan kreatif berusaha terus mencari jalan terbaik mengembangkan Lukman.

Terimakasih ya kakak-kakak untuk bimbingannya yang penuh kesabaran, terimakasih untuk kerjasama yang begitu erat dengan kami. Luv you all

Note:

Foto-foto kegiatan di sekolah koleksi Sekolah Tetum Bunaya

Foto-foto presentasi di family gathering koleksi bunda Uri Kendra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s