Jangan Tinggalkan Mereka

Ada beberapa hal yang bikin saya ingin menulis pagi ini. Diantaranya adalah obrolan dengan seorang kenalan baru, ayah dari anak berkebutuhan khusus, yang membuat saya membuka lagi tulisan-tulisan di blog ini, lalu juga adanya postingan di group parenting yang saya ikuti tentang apa yang perlu dipertimbangkan ketika mengajak anak menonton film di bioskop.

bioskop

Saya jadi ingat pengalaman sendiri, sulitnya mengajar Lukman mau dan bisa nonton di bioskop. Saya sendiri juga pecandu nonton di bioskop. Beberapa jenis film menurut saya HARUS ditonton di bioskop untuk mendapat efek optimalnya, baik itu film horror (yang bermutu ya, bukan yang garing tanpa jalan cerita yang jelas), film kartun 3D, atau film musical. Berbeda dengan suami saya, yang selain beda selera film juga lebih nyaman duduk di sofa dirumah dan menonton dvdnya saja. Untung saja suami sangat pengertian, dan mengijinkan saya nonton dengan teman atau keluarga ke bioskop untuk ‘me time’. Sesekali dengan bujukan, suami mau menonton berdua saya, untuk film-film yang spesial seperti My Name Is Khan, atau film yang pasti disukainya (karena banyak tembak-tembakannya😀 ) seperti Django Unchained. Lain dari itu suami saya hanya mau ikut ke bioskop untuk menemani anak-anak saja.

Kembali ke kenjadian hal pagi ini, dalam tulisannya di group parenting Dono Baswardono menyayangkan orangtua yang mengajak anaknya menonton tanpa memikirkan apakah filmnya akan menakutkan bagi sang buah hati. Kalau boleh saya kutip, beliau menuliskan seperti ini:

Cobalah belajar menjadi anak-anak kembali. Keadaan seperti apa sih yang menakutkan bagi anak-anak? Suasana seperti apa sih yang mencekam? Musik seperti apa yang membuat anak-anak merasa gentar? Apakah lampu-lampu gelap bioskop juga membuat anak-anak merasa sendirian? Apakah layar yang begitu besar dan gambar-gambar yang begitu besar dalam suasana sekitar yang gelap membuat anak-anak merasa dirinya berada di dalam adegan yang tengah berlangsung?

Saya jadi mbatin, kalaulah ini dibicarakan pada orangtua anak berkebutuhan khusus, pastilah mereka akan senyum. Jangankan ke bioskop, ketempat-tempat umumpun mereka sudah akan memikirkan terlebih dahulu kenyamanan anak-anaknya. Apalagi ke bioskop, tempat yang ‘hanya’ untuk senang-senang. Tentunya yang dipikirkan adalah: apakah anak saya nyaman didalam gelap, apakah anak saya suka filmnya, takutkah ia dengan suara keras dan sound effectnya.

Ketika pertama kali Lukman diajak nonton ke bioskop tahun 2010, wah strateginya disusun matang sekali. Saya pilih film dengan tema kesukaannya: Ice Age. Selain dengan anak-anak, saya ajak juga kakak dan ibu saya sebagai support team, jadi apabila terjadi yang paling parah: Lukman sama sekali tidak mau masuk kedalam bioskop, saya bisa temani dia diluar sedangkan Reza dan uda Ivan bisa lanjut didalam bioskop ditemani kakak dan ibu saya. Kami sengaja pergi kebioskop Blitz di Grand Indonesia, jadi karcis sudah dibelikan sebelumnya oleh Papanya yang berkantor disebelahnya, kami tinggal datang dan langsung masuk (tanpa menunggu/antri membuat Lukman nervous duluan).

Saat baru datang, Lukman masih gembira, lihat2 poster-poster film yang lucu-lucu. Tapi  saat masuk kedalam bioskopnya, sesuai perkiraan saya begitu kami masuk keruangan masih gelap, Lukman langsung wussss kabur keluar sambil menutup kupingnya. Saya harus lari menguber Lukman yang lebih kencang larinya, menangkap dan membujuk dia kembali kedalam, sementara Lukmannya menangis kencang. Untung filmnya belum mulai, penonton yang lain juga masih asik sendiri, jadi tangisan Lukman belum mengganggu penonton sekitar. Saat iklan2 mulai ditayangkan dimana biasanya yang diperlihatkan adalah bagian yang seru (sound effect terheboh), Lukman masih tersedu-sedu dan menutup erat kedua kupingnya ketakutan tapi sudah berkurang menangisnya. Ketika film dimulai, dimana ada hewan mammoth kesukaannya dan adegan2 lucu, tangisannya lambat laun berubah menjadi senyuman, dan akhirnya Lukman bisa menikmati film sambil ketawa2. Wah senangnya, pengalaman pertama Lukman nonton bisa sukses.

Setelah pertama kali nonton ke bioskop itu, Lukman tidak otomatis langsung mau diajak nonton ke bioskop untuk seterusnya, namun kami harus selalu punya strategi agar ia nyaman didalamnya. Begitu ia sudah beberapa kali nyaman menonton, baru kami pilih film yang tidak sepenuhnya favorit Lukman, namun tetap film anak-anak. Seperti Narnia, Lukman tidak suka film itu, separuh film ia tutup kuping dan menyelipkan kepalanya diantara kursi dan punggung saja. Namun selesai film itu ia bisa bilang “Aku juga suka” ketika kakak-kakaknya bilang mereka menyukai film tersebut🙂

Sebetulnya kalau dipikir-pikir, kenapa sih ya repot-repot mengajak Lukman pergi ke bioskop? Kenapa tidak ditinggal saja dirumah, dia tidak terganggu, kami juga bisa nonton dengan nyaman kan? Ya intinya karena kami tidak pernah meninggalkan Lukman, hanya dengan alasan tidak mau repot. Buat kami kesenangan dalam beraktifitas tidak akan maksimal jika anggota keluarga tidak lengkap. Selain itu jika Lukman sering dihadapkan pada situasi yang ‘menantang’ bagi problem sensorinya, makin lama ia akan semakin terbuka dan lebih mudah beradaptasi pada kondisi yang membuatnya tidak nyaman.

Hasilnya? Ketika Lukman sudah duduk di bangku SD, dan mulai ikuti kegiatan study tour, field trip, saya bisa melepasnya pergi bersama rombongan sekolah tanpa saya dampingi, dan memang ia bisa nyaman karena sudah terbiasa pergi keluar rumah, ke tempat-tempat umum bersama kami. Bisa dikatakan pengawasan para guru untuk Lukman tidak terlalu berbeda dari teman-teman lainnya. Hanya saja perlu dipertimbangkan kalau ia sudah lelah biasanya kemampuannya bertahan untuk kondisi tidak nyaman tentunya juga berkurang. Namun syukurlah guru-guru dan kepala sekolah nya sudah sangat memahami, dan pernah terjadi Lukman pulang tidak naik bus lagi bersama rombongan, namun diantar naik taxi langsung kerumah oleh guru2nya.

Kesimpulan, punya anak berkebutuhan khusus memang membuat kami lebih memikirkan terlebih dahulu apa yang nyaman dan tidak nyaman untuk anak-anak. Karena itu, siapa bilang dianugerahi anak berkebutuhan khusus hanya merepotkan dan membuat sedih saja? Malah kami merasa dengan dianugerahi anak berkebutuhan khusus membuat kami menjadi orangtua yang lebih baik. Insya Allah….

Baca juga:

Kasih Ibu (Maleficent) oleh Dono Baswardono disini

Nonton Ke Bioskop disini

Lagi-lagi Nonton disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s