One Small Step Forward

Bulan lalu, kami dapat undangan dari keluarga untuk kumpul di acara syukuran ulangtahun pernikahan. Tentu saja saya senang sekali ketika diberitahu, karena acara ini istimewa, merayakan ulangtahun pernikahan ke 55 dari kakaknya Ayang (mama saya) yang dipanggil anak-anak Oma Padang karena memang tinggal di kota Padang. Opa dan Oma Padang datang ke Jakarta khusus untuk acara syukuran ini, berkumpul dengan anak, cucu, keponakan, keluarga besar dari pihak Opa Padang maupun Oma Padang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Yang bikin saya sedikit kuatir, lokasi syukuran tersebut diadakan disebuah cafe, dimana pada tahun 2011 Lukman merasa sangat tidak nyaman didalamnya sehingga terjadilah satu insiden yang membuat saya cukup galau ketika itu (baca cerita Anak Bandel? ). Namun kali ini saya optimis saja, memikirkan Lukman cukup banyak berkembang setelah kejadian tersebut, baik dirumah maupun disekolah, dan berharap kali ini ia setidaknya bisa cukup sabar sampai acara selesai.

Dihari H, kami tiba sesaat setelah acara dimulai. Keluarga besar sudah cukup banyak berkumpul, kami langsung duduk karena sedang diputarkan slide show foto-foto kenangan Opa Oma sejak muda dan masih single sampai foto-foto terakhir. Lukman cukup menikmati, ya tentu saja ada foto dan gambar rumah gadang, kemudian juga ada foto-foto Ayang, foto-foto Opa Oma Padang ketika berkunjung kerumah. Ia juga mau bersalaman, mau ngobrol sebentar dengan para saudara yang sudah sering bertemu. Bahkan mengelus rambut adik Fisya yang juga pernah bertemu ketika masih bayi. Ketika ia keliatan mulai bosan dan tidak tertarik mengikuti acara, Papanya keluarkan senjata pamungkas untuk bikin Lukman tenang: tablet😀 Walau ditingkahi musik yang riuh rendah Lukman tetap asik, dan mainkan games kesukaannya.

9

Selesai slide show, kami pun makan bersama, Lukman matikan tablet dan mau makan. Selesai makan, acara bebas, ada cucu yang menyumbangkan lagu, keponakan yang bernyanyi dangdut, suasana meriah dan heboh. Lukman selesai makan mainkan lagi tabletnya, tidak terganggu dengan kehebohan suasana.

Ketika itu ada seorang anak bernama Azka, cucu dari pihak keluarga Opa Padang yang walau badannya besar tapi umurnya sedikit lebih muda dari Lukman. Ia tertarik melihat Lukman main games, dan mulai merapat mengintip games yang dimainkan. Saya mulai waspada, karena selama ini Lukman kalau merasa terganggu lagi asik walaupun cuma dilihatin, dia  bisa bertindak yang agresif. Entah memukul, mendorong, dan ini harus diwaspadai kalau berada ditempat umum. Karena itu ketika Azka merapat, saya jadi betul-betul perhatikan Lukman.

Namun diluar dugaan saya, Lukman tidak merasa terganggu. Walaupun Azka mengajak Lukman bicara, Lukman tetap asik mainkan, dan ia bisa menjawab omongan Azka, walaupun saya tidak dengar apa yang diomongkan. Lalu yang bikin makin saya heran, sesudah beberapa saat Azka memperhatikan Lukman main, Lukman berikan tablet itu pada Azka. Hebat sekali, ia mau gantian bermain tanpa disuruh! Azkapun bermain sebentar, namun karena belum menguasai gamesnya sebentar sudah berhenti karena kalah, dan kembalikan tabletnya pada Lukman. Cukup lama mereka berdua bergantian main sebelum akhirnya Azka diajak pulang bundanya.

10

Yeeeeey, satu langkah maju lagi untuk Lukman. Walaupun ini baru satu kali kejadian, namun senang sekali saya Lukman sudah bisa menahan suasana ramai dan heboh, walau asik dengan tabletnya. Dan yang bikin bangga dia sudah mulai mau berbagi, suatu hal yang belum pernah dilakukan Lukman secara spontan sebelumnya kepada anak yang baru dikenal.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s