Momen Untuk Bersyukur, Panutan dan Para Guru

Hari ini saya sedang dalam kondisi yang bahagia, dan kepingin menuliskan supaya ingat rasanya bahagia ini dikala saya sedang dalam kondisi sebaliknya.

Kemarin ketika saya jemput Reza pulang sekolah, dia dengan gembira menunjukkan hasil tryoutnya yang ke empat. “Try out terakhirnya bagus hasilnya, Mama!”. Saya keep cool saja saat itu, karena memang saya tidak pernah terlalu gembira kalau hasilnya baik dan terlalu sedih/kecewa jika hasilnya tidak menggembirakan. Bukannya apa-apa, karena saya selalu menekankan pada Reza, kami PapaMamanya tidak menganggap nilai pelajaran itu yang penting. Buat kami yang jauh penting lagi adalah bagaimana prosesnya Reza mendapatkan nilai tersebut. Buat kami melihat Reza bersungguh-sungguh mengerjakan tugas, belajar serius untuk ulangan, atau rajin mencari bahan untuk karya tulis jauh lebih penting ketimbang ‘dapat nilai bagus’. Prosesnya yang kami perhatikan, bukan hasilnya.

Karena itu melihat angka-angkanya yang baik kemarin, saya bilang “Bagus Reza, kamu sudah pertahankan sampai tryout ke empat dengan nilai yang baik”. Setelah itu saya menyetir mobil, sementara Reza masih membahas dengan uda Ivan tentang urutan ranking nilai tryout dikelasnya. Menurut Reza selain dirinya dan satu orang anak lelaki temannya, lebih banyak anak perempuan yang menduduki ranking 10 besar untuk hasil kemarin. Saya katakan “Ya tentu saja, anak-anak perempuan memang biasanya lebih rajin” tapi lalu dibantah uda Ivan “Tapi kalau dikelas Ivan yang 10 besar sih nggak rajin-rajin amat, Aunty”. Belum saya jawab, Reza sudah menyamber “Reza juga nggak rajin-rajin amat”. Hmmmmm… Tapi uda Ivan menasihati “Nggak boleh gitu Reza, walau nilai-nilai yang lalu sudah baik justru makin dekat ujian makin harus sering latihan. Tiap hari latihan sendiri aja, Reza latihan nggak?” Reza dengan cengengesan “Dirumah nggak, cuma kalau bimbel saja. Kan disekolah sudah latihan terus”. Uda Ivan dengan kalemnya bilang “Nih seperti B. Indo, (kebetulan nilai B. Indo-nya Reza dihasil tsb menurun dibanding sebelumnya, walau secara total 3 matapelajaran meningkat) soal-soal B. Indo itu banyak variasinya, jadi selain kuasai teori juga harus banyak-banyak latihan soal. Cari deh buku-buku kumpulan UN yang lalu, latihan aja dari sana. Tau nggak, uda Ivan ngalamin ada loh yg keluar lagi di tryout bentuk soal yang sama dengan UN yang lalu”. Reza jadi tertarik mendengarnya. Saya tanya Ivan bukunya terbitan apa, dan tanya pada Reza “Mau nggak dibelikan buku kumpulan soal UN yang lalu” Ternyata Reza mau coba. Wah senangnya. Karena selama ini sepertinya Reza enggan latihan lagi dirumah, jadi saya memang tidak usahakan membeli buku-buku latihan sendiri, sayang jika akhirnya tidak dipakai. Tapi rupanya kalau kakaknya yang bicara jauh lebih menarik daripada kalau Mamanya yang menawarkan hahaha…

Sampai dirumah saya simpan hasil tryout tsb, digabungkan dengan hasil tryout sebelumnya. Membandingkan hasil dari tryout pertama sampai keempat kemarin, ternyata nilai totalnya secara keseluruhan terus meningkat. Wah saya sangat bersyukur, berarti Reza bukan hanya mempertahankan tapi bisa meningkatkan terus nilainya. Ini diluar dugaan saya.

Bukannya meremehkan kepintaran Reza, namun selama ini Reza sulit sekali mempertahankan konsistensi hasilnya. Jika midsemester baik hasilnya, saat UAS keteteran. Jika dikelas 4 nilai-nilainya bisa baik, dikelas 5 mendadak jatuh. Kalau saya perhatikan, motivasi belajarnya sangat tergantung dari guru kelas. Kebetulan dikelas 4 walikelasnya adalah guru senior yang pandai sekali berkomunikasi dengan muridnya. Kalau dikelas 5 memang gurunya bukan yang tipe dapat memotivasi dengan pendekatan pribadi. Sepertinya ketika itu Reza mengalami hambatan-hambatan dan tidak ada dukungan dari walikelas untuk dapat mengatasi masalahnya. Prestasinya membaik setelah kami coba menelaah masalah yang terjadi dikelas sehari-hari.

Untuk kelas 6 ini Reza mendapatkan walikelas yang sangat perhatian pada murid-muridnya. Itu tergambar baik ketika ada pertemuan, maupun ketika menanggapi pesan singkat lewat hp. Ketika bertemu untuk terima rapor semester ganjil, bu guru bukan hanya membicarakan nilai-nilai, tapi juga berikan saran untuk tugas akhir, lalu membicarakan keyakinannya Reza akan bisa melakukan presentasi dengan baik, karena ia sering ‘nguping’ dan memperhatikan ketika Reza ngobrol dengan teman-temannya. Buat saya perhatian seperti ini bukan main ya, ibu guru yang tugasnya pastilah sudah cukup banyak dan menyita waktunya, masih tetap punya perhatian pada muridnya seperti ini. Begitu pula komunikasi lewat telepon/hp. Setiap saya kirim pesan pasti dibalas, dengan jawaban yang jelas dan sesudahnya pasti ada action/follow up sesuai pembicaraan. Saya jadi merasa lega dengan komunikasi yang baik seperti ini, karena terus terang tidak semua guru bisa berkomunikasi dengan baik lewat telepon/hp, sehingga harus bertemu untuk membicarakan segala sesuatu dengan jelas.

Begitu pula dengan para guru di bimbingan belajarnya. Memang kebetulan bimbingan belajar yang kami pilih ini menerapkan metode belajar yang beda dari sekolah, menerapkan situasi belajar yang menyenangkan. Jika di cabang lain yang pernah Reza ikuti sebelumnya hasil yang dicapai tidak maksimal, dan komunikasi dengan guru-guru cabang tersebut kurang lancar, di cabang yang kini Reza ikuti guru-gurunya sangat perhatian. Pertama kali saya datang dan melihat hasil tryoutnya kurang baik saya bisa membicarakan dengan salah satu pimpinan disana. Mereka menanggapi dengan baik, dan dari obrolannya saya jadi tahu kalau merekapun memperhatikan style belajarnya Reza yang ‘nggak bisa diam seperti uler keket’ hahaha. Hal ini pun saya sampaikan pada Reza. Merasa diperhatikan sejak saat itu, dan seterusnya juga jika ada masalah baik dengan soal bimbel maupun pelajaran sekolah Reza bisa minta bantuan kapanpun, akhirnya hasil-hasil tryoutnya membaik, bahkan bisa mencapai peringkat satu untuk nilai akumulasi harian selama semester ganjil.

Saya jadi berpikir, apakah semua guru tahu hanya dengan sedikit perhatian pada pribadi anak muridnya akan memberikan hasil yang sangat positif seperti halnya Reza? Selama murid merasa ada yang mendukungnya, memperhatikannya, pastilah mereka akan lebih bersemangat belajar dan beraktifitas. Hanya dengan sedikit sentuhan, dan jiwa mereka akan bangkit dan memberikan yang terbaik.

Saya berharap semua guru tahu itu…. *menerawang*….

touches_a_heart_front

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s