Pelatihan Menghadapi Tantrum

Tahun ini peringatan Hari Peduli Autisme sepertinya tidak semeriah dan seheboh biasanya. Hanya ada beberapa kegiatan, dan itupun diadakan bukan pada hari H, namun sebelum dan sesudahnya. Bisa dimaklumi, karena musim kampanye yang masih berlangsung mungkin menyebabkan banyak panitia mengundurkan jadual acara setelah kampanye selesai.

Salah satu acara yang sempat saya ikuti adalah Pelatihan “Bagaimana Mengantisipasi dan Mengatasi Anak Autis yang Tantrum”. Acara ini diselenggarakan MPATI (Masyarakat Peduli Autis Indonesia) dan hebatnya tanpa dipungut biaya. Saya tertarik sekali ikut, karena belum pernah mengikuti pelatihan khusus untuk topik ini. Mengingat Lukman dari waktu ke waktu masih sesekali tantrum, rasanya rugi kalau tidak memanfaatkan kesempatan ini.

oleh2A

Ketika saya datang ontime, ruangan training masih cukup lengang. Melihat daftar undangan, saya mengenali beberapa nama sekolah inklusi, juga institusi pendukung penyandang autis. Setelah lebih dari 30 menit menunggu, cukup banyak yang datang, banyak yang berombongan mungkin sekitar 70an orang peserta. Mayoritas adalah guru sekolah inklusi, lalu terapis, disusul orangtua dan beberapa pekerja social. Yang istimewa ada seorang ibu yang ikut karena anak tetangganya penyandang autis. Bukan main ya, ia ingin tahu bagaimana ikut mensupport anak tetangganya itu dengan ikut pelatihan tentang tantrum ini.

Materi disampaikan oleh Ibu Dini E. Oktaufik, beliau tidak memperkenalkan dirinya secara detil, namun ia sudah berkecimpung dalam dunia autisme sejak tahun 1995. Beliau sempat mempelajari tentang autisme di Australia, dan sekarang ini memimpin klinik tumbuh kembang di kawasan Jakarta Utara. Beliau membawakan materi dengan sangat menarik, kadang bercanda, kadang berbagi cerita yang bikin saya berkaca-kaca, kelihatan sekali begitu banyak pengalaman yang sudah beliau jalani.

Berikut ini adalah isi pelatihan yang saya ikuti.

Pelatihan dimulai dengan melihat faktor-faktor penyebab tantrum. Ibu Dini sampaikan bahwa tantrum tersebut pasti ada penyebabnya. Walau kadang kita merasa “Tidak ada apa-apa, kok anak ini tantrum ya” berarti kita yang mendampingi yang kurang memahami atau kurang cermat mencermati apa yang terjadi. Tantrum ada perwujudan salah satu dari: kemarahan, penolakan, rasa frustasi atau rasa sakit. Hal-hal yang mungkin jadi pencetusnya: internal (dari diri anak tsb: sakit/lelah), lingkungan, materi pelajaran dan cara pengajaran. Yang bertanggung jawab atas tantrum tersebut adalah siapa yang menghadapi anak yang tantrum tersebut sebelum terjadinya tantrum. Bisa jadi orangtuanya, terapis, pengasuh, guru kelas maupun keluarga.

Ibu Dini mengingatkan: tanpa memahami pemicu terjadinya tantrum akan SULIT untuk menghadapi dan menyelesaikan tantrum. Sekedar mengandalkan konsekuensi saja, hanya akan menimbulkan stress bagi kedua belah pihak.

Penjelasan lebih lanjut dari faktor penyebab tantrum adalah sebagai berikut. Untuk faktor internal: bisa jadi anak sakit/tidak enak badan, lelah, berekasi terhadap kejadian sebelumnya, atau bereaksi terhadap stress orangtua. Bagaimana kita mengetahuinya? Cermati, periksa fisik anak: apakah ia demam, luka, terlihat lelah/mengantuk. Bisa juga anak bereaksi terhadap sesuatu atau seseorang, dan bisa juga karena orangtuanya stress dan berakibat pada tantrumnya sang anak.

Untuk faktor lingkungan, tantrum bisa disebabkan karena: ada sesuatu yang baru, ada sesuatu yang menarik perhatian, atau ada sesuatu yang membuat stress. Untuk mengetahuinya cermati: apakah karena kecemasan di tempat baru, atau ada kemungkinan distraksi: visual/auditori/taktil/bau, dll. Mungkin juga muncul karena acara TV/DVD yang baru ditonton. Dan hal-hal lain yang didapatkan dari lingkungan.

Sedangkan untuk faktor materi pengajaran yang mungkin dapat menimbulkan tantrum, misalnya program yang diajarkan terlalu mudah, atau terlalu sulit, bisa juga karena tugas tidak dipahami. Karena itu orangtua bertugas untuk mencermati level kemampuan anak, cermati juga kemampuan/skill pendukung.

Selain faktor materi pengajaran, cara pengajaran juga bisa menimbulkan tantrum. Baik itu dari suara/intonasi, bahasa yang digunakan, alat bantu visual, kemudian penetuan waktu terapi/belajar, bagaimana dengan jenis dan system imbalan (reward yang sering digunakan terapi ABA). Cermati agar perinta yang diberikan singkat dan jelas, tidak diulang-ulang, kemudian apakah anak melihat dan mendengar perintah, cermati apakah terlalu lama waktunya dalam 1 pelajaran sehingga anak bosan, perhatikan apakah reward tepat waktu dan tepat jumlah. Selain itu apakah penampilan pengajar tidak mendistraksi: jenggot – pola baju – logo – bau/parfum, dll. Juga harus diperhatikan terjaganya keterikatan secara emosi antara anak dengan guru/terapis.

Setelah membahas topik-topik diatas, sampailah pada topik yang paling menarik perhatian hadirin: Ketika tantrum terjadi, bagaimana strategi penanganan secara fisik, lengkap dengan peragaannya.

Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan: The Rug, The Fold, dan The Prayer.

The Rug dilakukan untuk anak balita atau batita, yang badannya masih cukup kecil untuk bisa diletakkan dipangkuan. Lihat peragaannya dibawah ini. Taruh anak telungkup di atas lutut kita dengan kepala dan kaki menggantung. Jangan ditekan terlalu keras –perlahan lepaskan ketika anak mulai relaks.

IMG-20140405-04656

The Fold dilakukan juga untuk anak balita yang badannya masih cukup kecil, gendong anak dibawah lengan dan lututnya –tangan kita menyatu didepan – taruh siku kita diatas lutut – anak dalam posisi foetal (seperti janin) dan dalam deep pressure. Seiring dengan mulai relaksany anak, perlahan taruh pantat anak di kursi dan lepaskan. Jika anak tantrum lagi, segera gendong lagi.

IMG-20140405-04660

The Prayer dilakukan untuk anak yang lebih besar. Kita berlutut dibelakang anak yang dalam posisi duduk. Silangkan tangannya didepan, tahan dan tubuh kita agak menindih punggungnya kedepan. Bila anak mulai terasa relaks, lepaskan.

IMG-20140405-04662 IMG-20140405-04665

Strategi yang dipastikan gagal:

– Negosiasi – penguraian –penjelasan: anak mungkin tidak memahami; dan keterikatan ini bisa jadi imbalan yang salah

– Mengomeli – meneriaki – membentak: anak bisa menikmati peningkatan adrenalin

– Memukul – agresif: anak menjadi belajar kekerasan dari contoh

– Lebih sering dihukum karena salah, daripada diberi imbalan karena baik: anak bisa menjadi menyerah bahkan depresi.

Itu adalah akhir dari materi Tantrum yang disajikan pada slide Ibu Dini. Namun ketika slide selesai dan mulai dilakukannya peragaan, lalu ditambahi pula tips praktis dari Ibu Dini, wah makin semangat para peserta justru makin bertambah.

Selain tiga strategi diatas, Ibu Dini juga mencontohnya posisi untuk ‘mengunci’ gerakan anak yang sudah cukup besar, dan tantrum hingga memukul juga menggigit.

IMG-20140405-04668 IMG-20140405-04669 IMG-20140405-04671 IMG-20140405-04670

Urut-urutannya dari kiri ke kanan: jika anak melayangkan tangannya, kita menangkap dengan tangan yang berlawanan, lalu kedua tangan anak dibawa kebawah, disilang, sehingga gerakan anak terkunci. Orang yang berhadapan dengan anak ketika tantrum memalingkan muka, sebisa mungkin tidak memperlihatkan emosi atau tidak terkejut. Jika ada gelagat anak akan menggigit, bawa ke bahu salah satu tangan sehingga kalaupun si anak berusaha menggigit tidak akan sampai ke tangan kita.

Ada pertanyaan dari peserta, ketika ia melakukan posisi seperti dibawah ini, apakah boleh dilakukan.

IMG-20140405-04672

Menurut Ibu Dini sepanjang posisi tersebut aman untuk kedua pihak, dan tidak mencederai anak boleh saja dilakukan.

Ibu Dini sangat menekankan bahwa walau di Indonesia belum ada standard hukum khusus untuk masalah perlakuan orangtua/terapis/guru pada anak berkebutuhan khusus, namun agar sangat dijaga apa yang dilakukan ketika menangani tantrum tersebut tidak menyakiti atau bisa dikategorikan abuse pada anak berkebutuhan khusus.

Banyak lagi tips yang diberikan Ibu Dini pada peserta, namun karena saya ada acara keluarga lagi sesudah pelatihan ini, dengan enggan terpaksa saya tinggalkan ruangan tersebut.

2 thoughts on “Pelatihan Menghadapi Tantrum

  1. Mba rosa.. Terima ksh udh sharing byk di blog ini.. Gimana kabar Lukman skrg? pasti udh tbh pintar yaa.. arfie br mulai terapi nih doakan biar jd pintar spt kaka lukman.. Salam

    • Halo mama Arfie, trimakasih sudah membaca blog ini. Semangat ya jalankan terapinya, dan jangan lupa minta masukan untuk stimulasi dirumah karena sebagian besar waktu Arfie dihabiskan dirumah. Sedikit demi sedikit usahakan agar Arfie mandiri…
      Salam🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s