Lukman Dijahit

Senin pagi, Lukman saya bangunkan untuk sekolah. Seperti biasa Papa dan kakaknya sudah berangkat duluan, kami berdua saja dirumah. Lukman agak malas bangun, tapi ketika sudah saya usap dengan tangan yang dibasahi air ia mau berdiri. Tapi seperti biasa, Lukman masih manja-manja dan bercanda, pura-pura memejamkan mata, tapi tetap berjalan kekamar mandi sambil memeluk pinggang saya.

Sampai didepan pintu kamar mandi, mendadak Lukman berbalik, berlagak mau tidur lagi, tetap dengan memejamkan mata. Karena tidak melihat jalan, Lukman salah perhitungan, dan merunduk ketika belum sampai dipinggir tempat tidur. Akibatnya kepalanya terantuk pinggir tempat tidur, tanpa keburu saya cegah. Kaget juga melihat darah mengucur diwajah Lukman, sampai membasahi pakaian saya yang memeluknya bahkan sampai jatuh ke lantai.

Saya langsung tidurkan Lukman dengan posisi kepala lebih tinggi dari dadanya, dan berusaha mencari darimana darah tersebut berasal. Lukman menangis awalnya namun sesudah saya peluk dan bujuk berhenti tangisannya. Setelah Lukman agak tenang baru saya bisa lihat luka dihidungnya, tepat diantara mata. Saya tekan agak lama, sukurlah berkurang keluarnya darah dari luka tersebut. Sempat bingung mau diapakan karena lukanya sepertinya dalam, saya bbm Papanya yang masih diperjalanan menuju kantor.

Sesudah mendengar laporan saya, Papanya minta saya kompres lukanya Lukman dengan batu es, dan sarankan saya pergi ke rumah sakit yang dekat lokasinya. Namun saya pikir karena lukanya diwajah, saya katakan akan bawa Lukman ke  rumah sakit yang sudah kami kenal baik, dan yakin emergency disana pasti akan bertindak cepat. Papanya setuju, dan kami segera berangkat.

Dijalan Lukman cukup tenang, walau darah masih menetes pelan, bahkan ia bisa sarapan roti karena jalanan hari Senin sangat macet. Ketika masih dirumahpun saat dikompres dengan batu es, Lukman bilang “Ini seperti Dr Oz Indonesia (program kesehatan ditivi) anak perempuan itu benjol kepalanya dikasih es batu juga” haduuh Lukman, masih inget saja pada program tivi yang ditontonnya, berarti ia tidak pusing atau terlalu sakit karena lukanya.

IMG-20140224-04385

Sampai di RS Lukman ditangani dengan cepat, diukur tekanan darah dan temperaturnya, lalu diminta berbaring dahulu. Oleh suster Lukman langsung dimasukkan kedalam kamar tindakan, bagian terpisah dari ruang emergency utama. Ketika Dokter datang dan memeriksa kondisi Lukman beliau menjelaskan bahwa tulang hidungnya harus dirontgent dulu, dan jika tidak ada retakan atau patah pada tulangnya, maka Lukman akan dijahit karena lukanya cukup besar.

Mendengar itu Lukman langsung bilang “Aku tidak mau disuntik” dan dokter dengan cekatan menjawab “Om Dokter mau bersihkan aja, kok, tapi sekarang difoto dulu ya hidungnya”. Kamipun diantar suster ke bagian Radiologi.

IMG-20140224-04386 IMG-20140224-04388 IMG-20140224-04390

Karena sudah pernah dirontgent sebelumnya, Lukman tidak kuatir. Ia mau saja diajak masuk sendiri bersama operator radiologi tersebut. Selesai dirontgent, Lukman ikut melihat hasilnya, lalu kami kembali keruangan emergency, menunggu hasil rontgent tersebut dibaca dokter. Sambil menunggu, suster sudah mempersiapkan peralatan untuk menjahit lukanya Lukman. Lagi-lagi Lukman bilang “Aku tidak mau disuntik, suster” dan suster juga ikuti perkataan dokter “Nggak kok, nanti dibersihkan aja. Nanti ditutup pakai kain hijau ya mukanya, supaya dokter bisa lihat jelas lukanya”. Lukman mengangguk.

IMG-20140224-04392 IMG-20140224-04393

Tidak lama menunggu hasil rontgent, dokter kembali kedalam ruangan, dan katakan “Tulang hidungnya tidak apa-apa, sudah terlihat dari hasil rontgentnya”. Lalu beliau mengecek peralatan dan obat-obatan yang disiapkan suster. Ketika itu diruang emergency utama ada anak kecil yang berteriak-teriak, Lukman langsung tutup kuping dan bilang “Anak itu berisik sekali dokter” dan dokter menanggapi dengan menutup pintu pemisah ruang tindakan dengan ruang utama. Dokter bilang “Wah kamu sensitive sekali ya telinganya” sempat saya bisikkan kalau Lukman itu autis, dan dokter agak surprise wajahnya. Dokter bilang “Wah bagus sekali ya komunikasi dan kontak matanya”. Setelah yakin yang diperlukan sudah tersedia, dokterpun memulai proses penjahitan. Saya diminta memegang tangan Lukman sebelum dimulai, agar Lukman tenang.

Setelah wajah Lukman ditutupi kain hijau sehingga hanya nampak hidungnya, dokter membersihkan luka. Melihat caranya membersihkan, saya membatin ‘harusnya ini terasa sakit, karena luka terbuka ditotol-totol kain kasa lalu diolesi cairan beberapa kali’ tapi Lukman tetap tenang, cuma katakan “Cukup, cukup” ketika dirasakannya sakit, maksudnya supaya dokter menyudahi yang dilakukannya. Dokter menjawab “Sebentar ya masih belum selesai dibersihkannya”. Lalu dokter memberi kode pada suster untuk memegangi kepala Lukman karena beliau akan menyuntikkan obat bius lokal dilukanya Lukman. Suster yang satu lagi juga bersiap didekat Lukman, kalau-kalau sampai Lukman meronta ia siap memegangi badannya. Sementara saya tetap memegangi tangan Lukman dari bawah kain penutup wajah Lukman itu.

IMG-20140224-04394 IMG-20140224-04397

Saya lihat jarum sudah menusuk lukanya Lukman, dan ia tidak meronta, tidak berteriak, cuma berkata “Aduh, aduh” dokter menjawab “Sebentar ya, om dokter belum selesai” saya juga bilang “Sabar ya sayang, nggak lama lagi kok” Lukman lalu tenang lagi. Sesudah disuntik, dokter langsung meneruskan dengan menjahit luka. Satu demi satu jahitan dikerjakan, sambil tetap mengajak Lukman ngobrol: sekolah dimana, kelas berapa. Lukman menanggapi dengan antusias, malah ia bercerita mau pergi ke Taman Ismail Marzuki mau ke Planetarium. Oleh dokter ditanyai “Wah mau lihat apa?” Lukman bilang “Bintang, matahari dan planet” lalu dokter timpali lagi “Memangnya Lukman tahu nama-nama planet?” Lukman menyebutkan nama-nama planet “Merkurius, Mars, Bumi, Saturnus, Uranus…” dokter bilang “Waaah pinter ya, suster aja sudah lupa tuh nama planet” suster jadi tertawa. Karena senang diajak ngobrol, Lukman dengan spontan bilang “Makasih ya dokter, kau sudah bersihkan lukaku” dokter menjawab “Iya Lukman, wah kamu hebat sekali, pinter bilang terimakasih, seandainya semua anak seperti kamu, wah Indonesia akan hebat nanti” hahaha… Seperti biasa, dokter dan suster terkagum-kagum dengan bahasa Indonesianya Lukman yang baik dan benar. Ketika saya jelaskan Lukman dulu speech delay dan baru bicara setelah terapi wicara, makin terkagum-kagum mereka pada Lukman. Sampai-sampai ketika keluar ruangan tindakan, dokter bicara pada rekannya, bilang “Kalau mau bicara bahasa Indonesia yang baik, dengerin nih pasien saya ngomong” hahaha ada-ada saja…

IMG-20140224-04400

Selesai sudah hidung Lukman dijahit, dokter katakan agar jahitan dijaga tetap kering, dan juga akan diberi obat penghilang rasa sakit jika perlu dan antibiotik untuk menjaga lukanya tidak infeksi. Lukman boleh tetap berkegiatan, bahkan ke Planetariumpun boleh. Lukman senang tetap boleh pergi, karena memang ia sudah menunggu-nunggu kegiatan kunjungan tersebut.

Sampai dirumah saya siap-siap kalau Lukman mengeluh sakit, pusing atau demam. Saya pikir setelah efek biusnya hilang pasti Lukman kesakitan. Ternyata tidak begitu, Lukman hanya mengeluh “Aku cape” dan kelihatan memang agak lemas, tapi tidak mengeluh sakit.

Hari Rabu kami kembali ke dokter yang menjahit. Beliau memeriksa jahitannya, katanya “Merapatnya bagus, minggu depan sudah bisa dibuka jahitannya, Senin kembali ya”. Saya bisa lihat sendiri jahitannya memang tidak ada bengkak, tidak basah. Hari ini, hari Kamis, Lukman kembali sekolah seperti biasa.

umans

Baru kali ini kami mengalami kecelakaan yang cukup serius. Ketika Reza masih kecil ada sih kejadian jatuh, terluka dan benjol, tapi sampai perlu dijahit seperti ini memang pengalaman pertama dan mudah-mudahan tidak terjadi lagi, anak-anak selalu sehat terus.

Get well soon, Lukman sayang…

UPDATE

Tepat seminggu setelah kejadian, kami kembali lagi ke dokter, kali ini untuk membuka jahitannya. Prosesnya sangat cepat. Setelah plester dibuka, lukanya dibersihkan, dokter memutus benang jahitan dg gunting dan menarik benangnya, begitu tiap jahitan. Sukurlah Lukman tetap tenang, tidak mengaduh atau apapun. Setelah itu oleh dokter lukanya dioles salep agar tidak keloid, lalu diplester lagi yang bahannya seperti plastik, lalu dipesankan boleh dibuka sendiri setelah dua hari dan Lukman tidak perlu kontrol lagi.

nikon 339s buka2 nikon 343s

Akhirnya kemarin sore saya buka pelan-pelan plesternya, ternyata plester kecil itu sangat alot sulit dibuka, bagus sekali menjaga agar lukanya tetap kering. Saya coba bantuan pinset, terbuka juga plester itu. Senangnya melihat luka sudah merapat dengan baik, walau ada bekas jahitan namun tidak terlalu kentara.

buka4s

2 thoughts on “Lukman Dijahit

    • Iya bunda Hanif, Lukman memang sudah beberapa kali dirawat di RS tsb dan sikap personil rumahsakit tsb yang sangat ramah membuat Lukman tenang, alhamdulillah hal ini sangat membantu ketika harus dijahit… Sekarang sudah sembuh, ada bekasnya sedikit…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s