Belajar Mandiri

Sejak memulai rumah-tangga, keluarga kami selalu dibantu oleh para asisten. Dimulai dari satu orang pembantu yang hanya bebenah (karena saya baru hamil pertama) dan ketika Reza lahir mulailah jejeran babysitter menghiasi kehidupan kami dengan berbagai tingkah polahnya. Ketika hamil kedua, saya sempat bingung, gimana mengatur personil, namun karena Reza sudah 3 tahun dan tidak terlalu tergantung pada babysitter, saya pikir cukuplah formasi seorang pembantu dan seorang babysitter yang membantu dirumah. Itupun sebetulnya saya merasa tidak nyaman kalau kemana-mana harus diikuti babysitter. Karena itu ketika Lukman sudah lebih 1 tahun saya biasakan tidak membawa babysitter ketika pergi keluar kota.

Ketika Lukman di diagnosa autis pada umur 3 tahun saya memutuskan berhenti bekerja, babysitter saya berhentikan, dan anak-anak saya sendiri yang mengurusnya. Dengan begitu, anak-anak mudah diajarin, lebih terbiasa pada peraturan, lebih disiplin walau masih banyak dibantu. Semakin besar anak-anak, semakin saya usahakan mereka bisa mandiri. Namun sulit juga ya, apalagi ketika pembantu yang terakhir  sudah lebih 5 tahun ikut kami. Anak-anak jadi terbiasa diurusi, dan kurang tanggung jawab atas barang-barangnya sendiri. Kalau ada barang hilang, pasti yang pertama dicari si-mbak. Bukannya cari dimana biasanya barang tersebut diletakkan. Sering saya tegur, namun begitulah yang jadi kebiasaan mereka. Sudah sering saya memikirkan, bagaimana caranya supaya tidak tergantung pada asisten, namun rasanya perlu kekuatan ekstra ya untuk memulainya.

Kebetulan karena suatu kejadian, si-mbak yang sudah lama ikut kami itupun terpaksa diberhentikan. Karena mendadak, tentunya belum ada pengganti. Dengar-dengar dari cerita teman, juga pengalaman saudara, jaman sekarang ini memang susah mencari asisten yang cocok untuk rumah tangga. Kemajuan jaman, kecanggihan teknologi komunikasi, menyebabkan para calon tenaga kerja lebih menyukai kerja di pabrik, restoran atau toko bukannya dirumah. Supply yang berkurang menyebabkan tarif yang semakin aduhai. Baik tarif yayasan penyuplai tenaga kerja ini maupun tarif gaji yang diminta. Padahal, mengambil dari yayasanpun bukan jaminan kita akan mendapat tenaga yang betul-betul mantap sesuai permintaan. Seringkali tarif gaji yang aduhai tersebut tidak sebanding dengan kualitas pekerjaannya.

Ketika si mbak yang sudah lebih 5 tahun kerja itu berhenti, saya masih berusaha mencari gantinya. Dapat sih, namun baru satu minggu kerja dengan kapasitas pekerjaan yang sangat ringanpun dia sudah cari alasan utk pulang kampung. Lalu janjinya untuk kembali tidak ditepati, malah diundur tanpa kejelasan. Ketika si mbak-baru itu muncul sesudah beberapa hari tanpa kabar, saya cuma mengecek kembali ceritanya. Mendengar cerita yang bisa diacungi jempol utk karangan fiktifnya, akhirnya saya putuskan kembali tidak pakai asisten. Bye bye kepada si mbak baru, akhirnya saya pikirkan cara efektif untuk meringankan kerja dirumah.

Yang pertama saya cari catering rumahan, catering untuk makan sehari-hari. Syukurlah dapat yang cukup cocok selera dan sehat pengolahannya (tanpa penyedap, pewarna, pengawet). Anak-anak yang biasanya makan dengan ditanyai si mbak “Mau makan apa?” sekarang saya haruskan makan yang ada yang dapat dari catering. Untuk Reza tidak ada masalah, karena dia sekarang dalam phase pemakan segala: apapun dia mau coba dan bisa habiskan. Kalau Lukman yang masih picky memang masalah, namun tetap saya paksakan mencoba segala makanan yang tadinya dia tidak mau. Sedikit dimakannya tidak apa, yang penting ia mau mencobanya. Lama-kelamaan bertambah juga jenis makanan yang Lukman mau makan.

Beres urusan makanan, saya cari laundry kiloan. Dapat juga, dan bisa diantar-jemput cuciannya. Ini saya butuhkan untuk baju rumah anak-anak yang bisa belasan potong dalam seharinya. Namun saya tetap mencuci untuk pakaian dalam, pakaian halus yang penangananya perlu hati-hati dan juga segala handuk, serbet, washlap, dll. Dengan dukungan jasa luar rumah tersebut, saya tinggal konsentrasi pada bebenah, mencuci dan merapikan rumah.

Awalnya cukup perlu saya keluarkan kegalakan saya untuk membiasakan anak-anak lebih mau merapikan segala keperluannya. Taruh tas,  buku-buku, pakaian  pada tempatnya, merapikan buku, mainan sesudah dipakai, merapikan tempat tidur dan selimut saat bangun tidur, merapikan lemari baju jika berantakan. Begitu juga sehabis mandi, rapikan kembali botol shampoo, sabun dan handuk ditaruh ditempatnya. Handuk tidak hanya pakai sekali langsung cuci. Lalu tidak becek-becek dilantai kamar mandi yang seharusnya tipe kamar mandi kering😀

Kalau Lukman, karena masih kecil dan mudah dibentuk, tidak banyak protes. Dia menurut saja kalau disuruh ini itu. Bahkan ketika diminta merapihkan lemari, dia tidak protes, padahal saya pikir dia akan mengeluh. Dengan rapih satu persatu bajunya dilipat kembali. Lukman cukup rapih kalau mengerjakan segala sesuatu yang penting sabar untuk mengajarkannya, dia pasti bisa akhirnya.

mandiri1s

Nah kalau kakak Reza, karena sudah terbiasa dari kecil diurusi, lalu sekarang juga usianya masuk usia puber yang segalanya serba diprotes dan selalu ada maunya sendiri, tentunya saya lebih sering harus beradu argumentasi padanya. Namun lama-kelamaan, bisa juga ia dibentuk agar lebih mau membantu, bahkan sadari bahwa beberapa hal memang sudah jadi tanggung jawabnya.

Contohnya membereskan tempat tidur. Reza membereskan sekaligus tempat tidur mereka berdua (karena jadi satu, model tingkat). Awalnya ketika ia protes “Kenapa Reza sih yang membereskan, adik kok nggak?” padahal adiknya tetap saya suruh membantu kakaknya, walau memang tanggung jawab tetap di Reza. Akhirnya saya dapat jawaban jitu “Waktu Reza seumur adek kan nggak disuruh beresin tempat tidur juga”. Karena jawaban itu masuk diakal, Reza tidak bisa membantah lagi, sekarang tinggal diingatkan saja, langsung ia beranjak merapikan, tanpa protes lagi.

mandiri2s

Selain itu juga ada jawaban saya lainnya yang juga cukup jitu. Ketika saya minta Reza rapihkan sofa depan tivi, dan Reza protes: “Bukan Reza yang berantakin” saya yang lagi mencuci piring bekas makan menjawab “Ini piring-piring juga bukan Mama yang pakai” kebetulan saya mencuci piring bekas makannya Reza dan Lukman. Lagi-lagi Reza cuma bisa diam, dan menurut merapikan sofa.

Tidak selamanya saya bisa kasih jawaban dengan cool seperti contoh diatas. Kadang kalau saya lagi lelah, keluar juga nada tinggi. Seperti ketika sudah dari pagi lakukan ini-itu, jemput adiknya, belanja keperluan di supermarket, dan akhirnya pulang kerumah dengan cukup letih, ketika saya bilang “Sampai dirumah nanti Reza kasih makan Milo (kucing kami) ya). Biasa dong, Reza protes “Kenapa Reza terus sih?” Wah keluar deh omelan mamanya “Mama sudah kerjakan ini itu dari pagi, belanja, menyetir, jemput bulak-balik, Reza cuma disuruh satu aja masih nanya kenapa Reza?” dengan malu tapi cemberut akhirnya Reza kerjakan juga apa yang disuruh.

Tidak selamanya sih Reza protes seperti itu. Kalau moodnya lagi baik, dia adakalanya juga menawarkan “Perlu aku bantu?” atau kalau disuruh “Angkatin dong cuciannya ke atas” atau “Bukain dong botolnya” dia kerjakan dengan tanpa protes karena senang dianggap kuat.

Begitu juga Lukman. Pernah saat saya lagi menggoreng didapur, Lukman yang baru selesai mandi sepulang sekolah bilang “Bajuku habis” padahal ada sih baju rumahnya, namun masih didalam plastik dan ditumpuk saja sepulang dari laundry. Saya katakan “Ada kok baju Lukman dikamar, diatas drawer tapi masih di plastikin, buka aja”. Lukman masuk kedalam, dan belum keluar-keluar. Selesai menggoreng, saya masuk kamar, dan tercengang melihat Lukman bukan hanya membuka plastic laundry dan mengambil bajunya, namun meniru yang biasa saya lakukan ia menaruh baju-baju ditempatnya: baju kakak di lemari kakak, bajunya dilemari sendiri. Waaah, tanpa disuruh ia punya inisiatif seperti itu, senangnya bukan main.

Kesimpulan, walau cape juga ya tanpa adanya asisten rumah tangga, tapi positifnya: anak-anak jadi bisa lebih tanggung jawab dan mandiri. Mereka juga jadi lebih peduli dan mau menolong jika dibutuhkan. Mau mencoba?🙂

3 thoughts on “Belajar Mandiri

  1. Salam kenal Mba🙂
    Hihi, typical anak sulung ya…sama juga yang terjadi pada keluarga kami. Sebuah keuntungan memiliki anak yang berdekatan umurnya, jadi 1 instruksi bisa berlaku untuk semuanya, apalagi kalau diminta tolong membereskan peralatan yang telah mereka gunakan😀 Kalau si sulung sempat mengeluh, saya tunjukkan bahwa adiknya pun dimintai hal serupa juga hahaha.
    Betul Mba, semua yang kita lakukan ini untuk melatih anak lebih mandiri dan bertanggungjawab, tidak selamanya mereka menjadi raja kecil.

    • Salam kenal juga mbak Gina, senang bisa ketemu sesama ortu Tetum Bunaya di wordpress🙂
      Dulu saat mereka kecil2, rasanya nggak tega saya menyuruh mereka rapikan mainan, apalagi perlu waktu lama, karena saat merapikan eh liat mainan yg asik jadi main lagi, lupa deh dg tugasnya, dan nggak rapi2 akhirnya… harus extra sabar, dan sedikit tutup mata kalau hasil kerja mereka kurang sempurna hehehe…

      • Senang membaca pengalaman mbak Rosa bersama dua jagoans🙂
        Haha betul Mba…tutup mata aja, sambil meyakinkan diri bahwa kurang sempurna adalah bagian dari proses😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s