Yakin, Memang Autis?

Tulisan dibawah ini saya buat ketika ada pembaca yang bertanya kenapa saya yakin Lukman autis, bukannya terlambat bicara?

Sebetulnya hal ini sudah saya ceritakan di Lukman’s Story, namun untuk jelasnya saya ulang kembali disini. Diagnosa autis bukanlah hanya dugaan/perkiraan saya kepada Lukman. Diagnosa itu kami dapatkan dari Ibu Alzena Masykouri, psikolog yang berpengalaman menangani anak-anak berkebutuhan khusus, dan mengeluarkan diagnosa tersebut dengan acuan DSM-IV.

Sebelum mendiagnosa Lukman, beliau sudah kami kenal sebelumnya karena pernah juga mengobservasi kakak Reza. Dari beberapa psikolog yang kami pernah kami temui beliau ini salah satu yang sangat kami hargai saran dan pendapatnya. Karena itu, ketika kepala sekolahnya Lukman minta kami konsultasi pada beliau untuk mencari tahu penanganan yang tepat bagi Lukman, tidak ada keberatan sama sekali dari pihak kami, bahkan kami senang dapat bertemu kembali dengan beliau.

blog

Meskipun begitu, ketika diagnosa itu diberikan, awalnya kami juga masih ragu-ragu. Seperti yang saya tuliskan pada Lukman’s Story: tidak semua karakteristik penyandang autis ada pada Lukman. Karena itu tidak heran, ketika kami mencari second opinion pada Prof. Hardiono D. Pusponegoro diagnosa yang diberikan adalah PDD Nos. Namun baik saran dari Ibu Alzena maupun Prof. Hardiono tentang apa yang harus kami lakukan untuk perkembangan Lukman kurang lebih sama, sehingga kami berpikir: tidak perlu memusingkan ‘judul’nya, yang penting kami teruskan intervensi dini agar perkembangan Lukman membaik.

Ada satu momen dimana akhirnya saya menemukan kekhasan Lukman yang menunjukan ciri autistiknya. Dan pada saat itulah saya pada akhirnya betul-betul menerima bahwa memang Lukman itu autis, bukan hanya terlambat bicara, bukan juga PDD Nos. Cerita ini bisa dibaca pada postingan berikut, cerita Baju Hijau. Sejak momen itu, saya jadi lebih mempelajari tentang autisme, dan makin kesini makin terlihat kecocokannya dengan diagnosa tersebut. Dari perkembangannya memang menunjukkan, sampai di umurnya yang hampir 9 tahun ini Lukman memanglah autistik.

Sepanjang waktu itu kami terus konsultasi dengan Ibu Alzena, karena beliau memang partner dari sekolahnya Lukman. Dari waktu ke waktu selalu ada pertemuan tiga pihak (kami, Ibu Alzena dan pihak sekolah) yang membahas berbagai hal yang berkaitan dengan perkembangan Lukman. Kami bersyukur mendapatkan kerjasama yang sangat baik dari team ini, sehingga Lukman mendapat penanganan yang optimal di sekolahnya.

Memang saya kerap mendengar banyak kesalahan diagnosa yang terjadi diluar sana. Karena itu orangtua harus hati-hati, jangan hanya menerima diagnosa dari dokter/ahli begitu saja. Pelajari baik-baik apa yang menjadi keistimewaan/keunikan anak kita dan selalu pertimbangkan baik-baik segala tindakan yang disarankan para ahli tersebut bagi anak kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s