Baju Hijau

Ada satu momen dimana saya seperti tersadarkan bahwa Lukman itu memang autis. Sebelumnya walau tidak menolak diagnosa autis tersebut dan menjalankan semua saran para ahli untuk penanganan Lukman, namun saya masih ragu-ragu, belum yakin betul. Momen istimewa itu saya dapatkan ketika sedang membaca buku Panduan Autisme Terlengkap karangan Theo Peeters. Berikut catatan yang saya tulis beberapa tahun yang lalu.

Baju Hijau 8 November 2009

Saat akan mengikuti seminar biasanya saya baca-baca buku tentang autisme kembali, me-refresh lagi memori, supaya bisa memahami apa yang akan disampaikan di seminar. Saya punya kebiasaan buruk: selalu membeli buku-buku yang saya nilai bagus untuk dibaca, tapi kemudian buku itu tidak tersentuh karena belum ada waktu luang untuk membacanya. Disaat baca-baca sebelum seminar ini biasanya buku-buku itu baru terbaca.

Kemarin, saya baru baca satu contoh yang sangat mirip dengan kelakuan Lukman beberapa saat yang lalu di buku yang saya baca. Ini dia kutipannya.

Makna baju hangat berwarna merah
Steven pernah berlibur dipegunungan bersama orangtuanya dan mengalami saat yang indah. Ketika itu dia benar-benar terpesona oleh salju, es, dan matahari, yang semuanya memantulkan cahaya putih. Setiap hari selama seminggu dia mengenakan baju hangat berwarna merah. Itu terjadi 2 bulan yang lalu. Hari ini ibunya memakaikan baju hangat berwarna merah itu lagi. Mula-mula ibunya tidak mengerti mengapa Steven menjadi sangat senang, tapi bagi Steven itu merupakan tanda bahwa dia akan pergi ke pegunungan dan melihat salju lagi. Dia menjadi gelisah sepanjang hari karena mereka masih juga belum berangkat dan pada malam harinya, ketika mereka masih tetap dirumah dia menjadi sangat marah.

(Dikutip dari halaman 33 buku Panduan Autisme Terlengkap oleh Theo Peeters, 2004 Dian Rakyat)

Hal yang sama pernah saya alami dengan baju hijaunya Lukman.

hijaus
Saat itu kami mengikuti acara family gathering, dimana dress codenya adalah baju berwarna hijau. Jadi saya memang belikan baju baru untuk anak-anak agar sesuai dengan dress code, dan pertama kali dipakai adalah saat acara itu, dimana kita pergi ke Puncak dengan rombongan dan menikmati acara menyenangkan bersama sekeluarga. Walaupun sudah pernah pergi berombongan seperti itu sebelumnya, mungkin baru pada kepergian kali ini Lukman betul-betul sudah bisa menikmati suasananya. Lukman senang sekali naik bis, hapal dengan nomor bis tersebut “Bis Dua” dan sampai hari berikutnya masih menyebut Bis Dua jika naik mobil untuk jalan-jalan.

Setelah acara itu, kami dibuat bingung oleh kelakuan Lukman yang tidak dari biasanya. Lukman jadi sering marah, tidak mudah menurut, sering mengatakan “Aku sedih” dan enggan sekolah. Tadinya kami pikir karena masih cape, dan mungkin tidak enak badan. Tapi sampai seminggu Lukman masih seperti itu (baca post Lukman Pagi Ini). Akhinya Lukman moodnya membaik juga, tapi tidak dalam waktu sebentar, dan secara bertahap. Setelah membaca buku kemarin, saya baru sadar kalau moodnya Lukman berantakan seperti itu rupanya karena berharap kembali lagi ke Puncak untuk acara yang menyenangkan.

Selama seminggu setelahnya memang Lukman ingin selalu pakai baju hijau itu. Bahkan pernah satu hari sampai tidak mau sekolah, dan terpaksa saya pakaikan baju hijau itu (padahal seharusnya pakai seragam). Untungnya ibu kepala sekolah dan guru-guru Lukman sangat pengertian dan tidak jadi masalah Lukman pakai baju hijau hari itu.

Semakin saya mengerti dimana penyandang autis memang bermasalah pada bidang komunikasi, sosialisasi dan perilaku yang unik. Walaupun sudah mulai bisa bicara, belum berarti Lukman sudah bisa mengemukakan apa yang ada dipikirannya. Bahkan untuk mengungkapkan keinginannya kembali bersenang-senang ke Puncak pun ia belum bisa saat itu. Setelah membaca buku itu kemarin, saya baru paham bahwa bagi anak autis seperti Lukman bahkan baju tertentupun menjadi alat komunikasi yang bermakna khusus. Karena pemikiran mereka sangat kaku, kurang fleksibel, maka kata-kata saja kurang berarti untuk mereka, dan benda-benda menjadi perlambang yang memberikan makna lebih jelas. Itulah yang menyebabkan anak autis sering salah mengerti, dan contohnya seperti kejadian baju hijaunya Lukman ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s