A Mothers Unconditional Love

Suatu hari ada yang menelepon saya di handphone, mengatakan ia wartawan dari koran Jakarta dan ingin wawancarai saya dalam rangka Hari Ibu, sebagai ibu dari anak berkebutuhan khusus. Saya tadinya tidak menjawab, dan katakan sedang menyetir. Namun sang wartawati sms dan mengulang lagi pembicaraannya tersebut.

Heran juga, kenapa kok bisa wartawan tersebut dapat nomor handphone saya dan tahu saya ibu dari anak berkebutuhan khusus. Tapi saya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk berbagi cerita dalam usaha meningkatkan autism awareness, karena itu saya minta sang wartawati mengirim email kepada saya untuk wawancaranya, dan menyertakan identitasnya.

Kenapa tertulis? Karena sudah beberapa kali bertemu dan diwawancara, saya seringkali mendapati bahwa wartawan tidak selalu mengerjakan pe er nya sebelum mewawancara. Dalam arti: tidak mempelajari dulu tentang autisme sebelum menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Jadi kadang apa yang saya jawab dalam wawancara disimpulkan dengan berbeda oleh sang wartawan, atau ada keterangan yang tidak sesuai. Karena itu sekarang kalau bertemu dengan siapapun yang ingin bertanya jawab tentang autisme, saya minta secara tertulis saja, takut salah memberi informasi, takut juga salah disimpulkan pernyataan yang saya ucapkan.

Kembali kepada cerita wartawati tersebut, saya mendapat emailnya menjelaskan ia wartawan koran Jakarta, dan ia lampirkan daftar pertanyaannya. Tidak lama saya membalas, dan menunggu berita lebih lanjut. Beberapa hari berikutnya sang wartawati katakan tulisannya akan keluar baik edisi cetak maupun online di bagian “Rona” dari Koran Jakarta khusus hari Ibu. Ia juga akan mengirimkan edisi cetaknya begitu terbit.

Tepat di hari Ibu yang jatuh pada hari Minggu tanggal 23 Desember 2013 saya baca di edisi online Koran Jakarta sudah ada artikel “A Mothers Unconditional Love”. Tulisannya cukup ringkas dibanding jawaban saya hehe, namun dapat menangkap poin penting yang saya sampaikan. Link dari artikel tersebut http://koran-jakarta.com/?1648-a-mothers-unconditional-love saya share di facebook. Tanggapan teman-teman biasa saja, sebagaimana kalau saya share artikel-artikel lain sebelumnya.

Ketika keesokan harinya saya dikirimi file edisi cetak tulisan tersebut dalam format pdf di email, kembali saya share di facebook. Imagenya seperti dibawah ini:

koranJkt1

koranJkt2

Setelah saya share image tersebut, wah tanggapannya luar biasa. Banyak yang mengomentari, apalagi yang memberi jempol ‘like‘. Bukan hanya teman-teman yang kerap bersapaan di facebook namun yang juga jarang muncul. Senang sekali saya dengan banyaknya tanggapan tersebut. Bukan karena ingin jadi terkenal atau selebritis seperti yang dicandakan beberapa teman, namun karena berarti banyak orang yang membaca artikel tersebut dan mengetahui bagaimana saya menyikapi ketika diagnosa autis diberikan kepada Lukman.

Saya banyak berkenalan dengan ibu-ibu muda yang anaknya baru di diagnosa dari blog ini, dan banyak sekali yang merasa down, malu, depresi dan sedih yang berkepanjangan. Sangat dapat dimaklumi memang, dan manusiawi sekali reaksi seperti itu. Namun saya ingin ibu-ibu tersebut segera terbangun dari kondisi malu, depresi dan sedihnya itu, lalu mencari intervensi sedini mungkin untuk buah hati mereka. Banyak hal yang harus dikerjakan, dan itu tidak mungkin dilakukan jika sang ibu masih belum dapat mengatasi perasaannya sendiri sehingga tidak dapat berpikir dan memutuskan tindakan terbaik yang perlu dijalankan untuk perkembangan buah hatinya.

Begitulah yang ingin saya sampaikan pada sharing di artikel yang mungkin hanya sedikit sekali space-nya. Namun saya senang apa yang jadi poin sharing saya tersebut ditulis dengan baik, dan tanggapan teman-teman saya sendiri setidaknya cukup baik.

3 thoughts on “A Mothers Unconditional Love

  1. Senang menemukan tulisan ini ketika iseng search di google dan nemu tulisan ini. Kebetulan saya wartawati tersebut. Sebenarnya ini merupakan tulisan terakhir sebelum resign dari korjak. Dan, sungguh tugas yg cukup membuat saya diliputi banyak ketakutan ,” pertanyaan seperti apa yg harus saya ajukan? ” “Apakah saya akan diterima dengan baik oleh narasumber?”
    Dan… terima kasih menawarkan wawancara melalui email yg sungguh sangat membantu saya waktu itu.
    Salam utk Lukman, mbak. Semoga selalu sehat🙂

    • Hai mbak Eka, senang sekali kita bertemu di wordpress…
      Ternyata kekawatiran itu dua belah pihak ya mbak, saya kawatir ada salah kutip, sedangkan mbak Eka kawatir pertanyaan yang diajukan tidak tepat dan mungkin tidak diterima dengan baik.

      Terus terang, ketika awalnya saya memang agak skeptis ketika mbak kontak dan minta wawancara. Pengalaman dg wartawan2 sebelumnya yang membuat saya jadi seperti itu.

      Namun ketika menerima email, saya patut acungkan jempol untuk mbak Eka. Pertanyaannya jelas, tepat pada sasaran dan sesuai dengan tema.
      Sekarang dimana mbak, keep contact ya, saya masih dinomor hape yang dulu itu, dan email address saya masih di: rosaelvina.salim@gmail.com

      Semoga kita diberi kesempatan untuk bertemu muka ya🙂

      Salam dari kami sekeluarga…

      • Insya Allah… amiin. Terasa menemukan keluarga baru akunya🙂.
        Sekarang aku lagi domisili di daerah transmigrasi pelosok jambi –5 jam dari kota jambi. Heheh, iseng buka les utk anak-anak sini.
        Dan selalu ada hal yg mengembirakan di dunia anak-anak. Suatu hari pengin banget bisa ketemu lukmam dan sang abang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s