Army, Weapons, and The Story Behind

Sejak mulai ‘jatuh cinta’ pada sejarah dunia, peperangan dan persenjataan, bisa dibilang dunia itu menjadi hobi yang paling Reza tekuni (selain Lord of The Ring, tentunya😉 ). Kalau ada waktu senggang, Reza suka sekali menggambar segala hal yang berbau peperangan. Entah itu prajurit, benteng, atau apalah.

page

Lalu kalau dirumah ada benda-benda yang bisa dimanfaatkannya menjadi bahan untuk menjadi senjata, tameng atau apapun, pasti dengan cepat dia bilang “Untuk Reza ya?”. Sampai-sampai saya suka isengin Reza dan bilang “Hmmm dirumah ini ternyata ada pemulung ya” tapi nggak dipedulikan oleh Reza yang sudah asik membuat ini-itu dengan barang bekas. Sekali waktu dia bilang “Yaaa hitung-hitung Reza membantu lingkungan hidup” Touche!

Salah satu foto barang-barang buatan Reza adalah dibawah ini: ada tutup ember, tutup kaleng yang dijadikan tameng, ada tutup kotak sepatu yang dijadikan topeng muka, ada juga dari plastik corrugated sisa yang dipakai Mamanya untuk tutup kandang kucing. Yah begitulah bagi Reza semua benda/barang bekas bisa menjadi sesuatu yang berguna baginya.

IMG-20131002-03360s

Mungkin bagi mata orang dewasa benda-benda yang dibuat Reza seperti tumpukan benda yang tidak bernilai. Tapi dimata anak-anak dengan imajinasinya, benda-benda itu saaangat berharga. Tidak boleh dibuang, kalau sobek diperbaiki, pokoknya dijaga betul. Kalau sampai rusak, waaah bisa perang dunia. Dan ini pernah terjadi, perang dunia dirumah kami karena rusaknya salah satu benda buatan Reza.

Suatu kali Reza membuat ‘baju besi’ dari kardus bekas mainan lego-nya. Cukup lama proses pembuatan baju tersebut, karena selain dibentuk, Reza juga mengecat kardus dengan cat pilox, lalu terakhir mengoleskan cat air sebagai finishingnya. Ada dua hari lamanya Reza membuat baju besi itu, lalu dengan bangga dia pakai dan dipamerkan ke neneknya sambil main dengan sepupunya, uda Ivan.

Sorenya seperti biasa Reza dan Lukman menonton tivi berdua. Tidak lama saya dengar suara mereka bertengkar, lalu Reza masuk ke kamar, mukanya kesal sekali. Reza mengadukan adiknya yang tidak mau nonton bersama, remote tivi dipegang terus dan Lukman berganti-ganti channel terus padahal ada acara yang menarik di salah satu channel. Itu masalah yang biasa terjadi, sudah berulang kali terjadi seperti itu. Jadi saya dengan kalem tanya sama Reza : “Menurut Reza, Mama bakal jawab apa kalau Reza ngomong seperti tadi?” Reza makin cemberut, merasa nggak bakal dapat bantuan. Saya tahu dia merasa adiknya terus yang dibela, dan itu saya bilang pada Reza : “Bukannya Mama belain adik Reza, cuma Mama maunya semakin besar kalian berdua, semakin Reza tahu cara menghadapi adek. Karena adek akan masih sangat lama, belum bisa Mama bayangkan, kapan dia akan bisa berubah. Adek itu walau sudah 8 tahun masih belum bisa berbagi seperti anak seumuran dia. Memang kita terus ajarkan sama adek, tapi sementara itu Mama juga mau Reza tambah pinter menghadapi Lukman. Reza belajar cara apa yang bisa bikin dia mau berbagi tanpa harus Mama yang turun tangan”.

Muka Reza masih berlipat-lipat, kelihatan sekali masih sangat kesal, dan marah pada adiknya. Cukup lama saya ajak Reza bicara, menurunkan emosinya, dan ketika terlihat sudah lebih kalem, baru Reza keluar kamar. Tidak berapa lama saya dengar Reza teriak-teriak pada adiknya. Keluar kamar, saya lihat baju besi kebanggaan Reza sudah sobek-sobek. Rupanya saat Reza masuk kamar mengadu, adiknya yang juga kesal sama Reza menumpahkan kekesalannya pada baju besi tersebut. Kebayang dong, marahnya Reza pada adiknya seperti apa? Ketika Reza teriak-teriak, saya diamkan, saya pikir perlu untuk Lukman tahu bahwa kakaknya sangat marah. Tapi ketika Reza bergerak mau ambil boneka kesayangan Lukman, saya cegah karena sudah tahu pasti Reza mau balas kelakuan adiknya.

Saya bilang sama Reza: “Mama mau bicara sama Reza dan juga adek, tapi nggak bisa kalau Reza masih marah-marah seperti itu. Mama tahu Reza marah sekali, jadi sekarang Reza pilih: mau lari-lari dulu diluar, atau mau naik-turun tangga, atau mau sikat kamar mandi, supaya keluar energi, marahnya reda dan bisa diajak bicara. Gimana?” Reza masih marah, dan jawab “Tapi adek harus ganti, harus yang sama baju besinya”. Saya jawab: “Nanti kita omongin kalau Reza sudah tidak marah-marah, jadi gimana? Mau lari, tangga atau kamar mandi?” Sambil menghentakkan kaki Reza jawab “Tangga aja!” dan naik turun tanggalah Reza, sementara saya bicara pada Lukman.

Lukman tidak berapa marah, yah cuma sedikit kesal karena kakaknya melarang dia mengganti-ganti channel. Sepertinya Lukman tidak paham seberapa marahnya kakak karena dirusakkan baju besinya. Saya coba bicara pada Lukman, bahwa merusak barang yang dibuat sendiri itu bikin sedih, sudah cape-cape membuat sampai beberapa hari eh sama Lukman dirusakkan. Yah memang ini salah satu yang masih harus terus diajarkan pada Lukman, sehingga omongan saya padanya tentang itu nggak ‘masuk’ dan Lukman masih tetap kelihatan kesal saja, tidak merasa bersalah. Akhirnya saya pun ganti omongan, saya bilang “Lukman tahu kan, semua orang dari kecil, dari bayi, jadi remaja, lalu jadi dewasa?” Ia mengangguk. Lalu saya teruskan “Lalu kalau orang sudah dewasa lalu jadi tua, dan seperti Angku (kakeknya) kemudian meninggal. Betul?” Lukman mengangguk ragu-ragu. Lalu saya teruskan “Papa dan Mama juga begitu, semua orang juga begitu, semua jadi dewasa, lalu jadi tua dan akhirnya meninggal. Jadi Papa dan Mama tidak akan selalu ada bersama Lukman” Muka Lukman mulai berubah, kepikiran. “Kalau Papa dan Mama sudah nggak ada, siapa dong yang jaga Lukman?” Lukman tidak menjawab, mukanya sudah mau nangis. “Kalau Papa dan Mama nggak ada ya kakak dong yang jagain Lukman, karena kakak sayang sama Lukman” Saat itu Lukman menangis, tersedu-sedu, bercucuran air matanya. “Jadi Lukman harus sayangi kakak seperti Lukman sayang Papa Mama”. Masih tersedu-sedu Lukmannya, saya nggak tahu apakah bagian terakhir bisa dimengerti, namun dengan omongan itu Lukman hilang kesal pada kakaknya. Akhirnya Lukman peluk saya, dan mau minta maaf pada kakaknya.

Tapi tidak saat itu, karena saya pikir percuma Lukman minta maaf, karena kakaknya masih meradang. Lalu saya suruh Lukman ganti bajunya yang basah kena air mata, dan ketika itu Reza sudah cukup cape naik-turun tangga. Giliran Reza yang saya ajak bicara. “Sudah cape? Sudah bisa bicara yang tenang?” Ia mengangguk. Lalu saya bilang “Adek nggak mengerti nilainya barang yang dibuat sendiri, adek masih belum sampai situ pemahamannya. Untuk Lukman, ngerusak baju besi itu sama aja dengan ngerusak gambar yang Reza bikin. Dia nggak tahu betapa bangganya Reza dg baju itu. Tapi nanti dia akan minta maaf, dan nanti Mama bantu Reza bikin lagi”. Reza protes: “Tapi kan baju besinya dari kardus bekas lego, bahannya nggak ada lagi” Mamanya (dengan sotoy) bilang “Kita cari bahannya, pasti ada yang seperti itu atau setidaknya kita beli kardus deh di supermarket”.

Jadilah di sore hari itu kami muter-muter ke beberapa toko buku mencari bahan untuk membuat baju besinya Reza. Setelah beberapa toko, barulah kami dapatkan bahan yang Reza mau, juga catnya. Malam itu juga Reza menagih janji saya untuk membantunya membuat baju besi. Karena sudah janji, walau kaki sudah pegel mencari bahan-bahan itu, saya bantu Reza bikin pola baju besi-nya, dan keesokan hari baru dicat. Dibawah ini kesibukan Reza menyelesaikan baju besinya.

page2

Karena pakai cat akrilik, makan waktu beberapa hari sebelum catnya kering dan akhirnya baju besi itu bisa dipakai. Senangnya Reza ketika pakai baju itu, sampai-sampai mau difoto, padahal biasanya paling alergi didepan kamera😀

IMG-20131005-03371b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s