Cerita Dari Rumah Sakit

Iya, Lukman lagi-lagi dirawat di rumah sakit, kali ini sebabnya karena radang tenggorokan. Awalnya tidak terlihat gejala apapun, masih tetap ceria dan aktif seperti biasa. Setelah hari Minggu yang lalu kami pergi mengunjungi Festival Jak-Japan Matsuri 2013 di Monas malamnya Lukman mulai muntah. Awalnya kami pikir dia cuma masuk angin, karena di Monas yang cuacanya panas banyak dipasang kipas angin-air. Sampai pagi hari Seninnya Lukman masih terus muntah tiap kali makan dan minum. Akhirnya usai Subuh dibawalah ke emergency karena badannya mulai demam.

Sampai dirumah sakit, diperiksa oleh dokter emergency lalu dokter spesialis anak, Lukman dibolehkan pulang lagi dengan catatan kalau muntahnya tidak berhenti ya mau tidak mau harus dirawat. Senin malam Lukman sudah tidak demam, lalu mulai bisa minum. Menjelang tidur makin banyak yang diminum, lalu saya coba beri bubur. Masuk sih, ada lima suap, sebelum akhirnya Lukman muntah lagi. Tidak cuma satu kali, tapi berkali-kali muntahnya walau makanannya sudah keluar semua. Lalu saya biarkan Lukman tidak makan, yang penting minum terus. Air putih, teh hangat, dan larutan Pedi**** berganti-ganti sedikit demi sedikit. Saat pagi hari Selasa dicoba beri bubur lagi, tetap dia muntah-muntah, dan kali ini mengeluh perutnya sakit.

Yah tidak ada pilihan, kembali lagi kami ke emergency hari itu. Begitu dokter spesialis anak yang memeriksa kemarin ditelepon, dia sarankan untuk diinfus dan dirawat saja. Mendengar itu Lukman langsung menangis, sudah tahu bakal ditusuk. Tapi karena ditanya: “Mau sembuh kan?” djawabnya “Iya” dan saya bilang “Kalau mau sembuh ya harus diinfus, supaya berhenti muntahnya” Akhirnya Lukman bilang “Aku mau diinfus” dan tidak menjerit ketika dipasang infusnya.

page1

Kami dapat kamar rawat inap yang isinya dua pasien, disebelah kami ada pasien bayi berumur 1 tahun yang lagi bawel-bawelnya. Adek bayi juga dirawat karena banyak muntah, karena sedang batuk pilek. Nah cerita lucunya ada disini. Ketika sang bayi muntah, awalnya Lukman cuma mendengarkan, lalu ia melihat suster langsung datang untuk membantu sang ibu membersihkan bekas muntah dan menenangkan bayinya. Ketika adek bayi muntah lagi, Lukman spontan pencet bel untuk memanggil suster (memang saya taruh disebelah tangannya). Saya tanya: “Kenapa Lukman pencet bel?” Lukman jawab “Supaya ada suster bantu adek bayi” Hahaha rupanya walau badannya sendiri sedang tidak keruan, Lukman tetap care dengan sekelilingnya. Ketika suster menjawab lewat aiphone, saya bicara “Adek K muntah lagi, suster” dan Lukman menimpali “Ayo cepat-cepat kesini” bikin saya senyum lebar, Tidak lama susterpun datang, memenuhi panggilan Lukman🙂

Sang adek bayi silih ganti tertawa, babbling dan menangis, Rupanya sudah 5 hari ia dirawat, tidak heran kalau ia bosan dengan suasana kamar. Lucunya, bukannya Lukman merasa terganggu dengan rengekan dan tangisan adek bayi, Lukman malah membuka korden pemisah dan bilang “Jangan nangis, tenang ada aku disini” waduuuh gaya banget! hahaha….

page2

Silih ganti suster yang datang mengecek Lukman dan adek bayi, mengukur suhu, menyuntikkan obat. Rata-rata memang ramah, dan perhatian pada pasien kecilnya. Bahkan ketika Lukman sudah kelihatan lebih segar, mereka mengajak bercanda, menggoda Lukman. Biasanya Lukman ikut senyum dan tertawa. Tapi ada satu suster yang begitu ia masuk, Lukman langsung duduk tegak dan menatap mukanya. Lalu Lukman bilang: “Itu dia, dia suster yang marahi aku!”

Saya bingung juga awalnya, marahi kenapa, kan Lukman saya dampingi terus. Lukman terus bicara “Aku dilarang naik tempat tidur tinggi-tinggi” Naaah baru ngerti mamanya, rupanya ketika dirawat beberapa bulan yang lalu (baca: Sakit Liburan), ketika saya sedang mengurus administrasi saat mau keluar rumah sakit, Lukman yang sudah sehat dan kebosenan nonton tivi melulu jadi memanfaat tempat tidurnya yang bisa turun naik untuk dijadikan mainan. Ketika suster masuk kamar dan lihat tempat tidur jadi tinggi diatas tentu dia takut pasien ciliknya ini akan jatuh, dan menyuruh Lukman turunkan tempat tidur. Rupanya Lukman masih ingat sampai kemarin itu, dan kasih tahu mamanya suster itulah yang ‘memarahi aku’ hahaha…. Susterpun ingat, dan bilang “Nggak marah lah, tapi memang kaget lihat tempat tidurnya jadi tinggi sekali”, Lalu Lukman dan suster toss, mereka berdamai.

IMG-20130912-03174

! Biiig smile, ready to go home!

Haduuuh ada-ada saja ceritanya Lukman, memori nya sangat kuat mengingat wajah, dan dengan polosnya bicara, bikin kaget sang suster.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s