Peribahasa Dan Konsep Abstrak

Catatan yang tertinggal dari kelas dua…

pribahasa

Malam itu saya sedang mendengarkan lagu dari cd gitaris Jubing Kristianto, yang beberapa minggu sebelumnya berkunjung ke sekolah Lukman. Ia menunjuk cover cd dan bilang “Itu om Jubing. Tadi disekolah aku belajar peribahasa, ada om Jubing”. Wah surprise juga, saya pikir Jubing kembali berkunjung ke sekolah Lukman. Saya tegasin: “Om Jubing di sekolah?” Lukman jawab: “Iya, di buku peribahasa, kak Endah ceritakan. Pelajaran IPS untuk kelas Venus Farra, bersama Pandya, Rafii, Sari dan Vina”. Seperti biasa, kalau ada cerita Lukman yang beda dari biasa saya lalu ketik di handphone. Lukman melihat saya mengetik ikut membacanya, dan minta “Kirim ke kak Endah ya” hahaha dia sudah terbiasa melihat saya kirim cerita ke Papanya di kantor. Jadi kali ini dia minta saya kirim ke kak Endah, alias Ibu Endah, kepala sekolahnya yang mengajar pelajaran IPS.

Berikut ini jawaban Ibu Endah di email:

Mama Lukman

Peristiwa yang diceritakan Lukman terjadi dua hari setelah kita ketemu Jubing.

Saya mengajarkan peribahasa ke kelompoknya, dengan memakai buku cerita pendek. Di sana ada cerita tentang “air cucuran jatuhnya ke pelimbahan juga”. Saya ambil cerita itu sebagai sample peribahasa, karena tokoh ayahnya bernama Pak Jubing, pemain biola. Di cerita itu P Jubing ingin anaknya belajar biola tapi si anak tidak mau, dan lebih suka belajar bikin kue. Dia bisa bikin kue enak.

Semula Pak Jubing kecewa, tapi akhirnya menerima, karena istrinya juga pandai masak. Dia menerima, bahwa bakat anaknya lebih mirip istrinya.

Kemudian anak-anak saya minta cerita apa yang mirip antara kesukaan mereka dengan orang tua mereka. Lalu mereka bikin komik di kardus bekas.

Lukman terlihat enggan, geraknya lamban, sampai saya minta duduk dekat Vina biar bersemangat. Tapi tetap saja sama.

Saya cek ke Kakak2, pramuka melakukan apa. Apakah terlalu melelahkan, sampai Lukman kecapekan. Mereka bilang balap karung dan Lukman sangat bersemangat.

Lalu K Septi melanjutkan mendampingi anak-anak, karena saya ada tamu.

Siangnya saya lihat pekerjaan mereka, dan saya bangga karena hasilnya bagus-bagus.

Lukman mengartikan peribahasa secara harafiah. Dia menggambar air mengucur dengan bak tampungan, walaupun ada cerita tentang Papa dan Mama.

Kalau Mama Lukman ambil rapor, bisa dilihat gambar itu.

Rupanya peristiwa itu muncul kemarin ya Mama Lukman, dan berkesan buat dia, sampai minta disampaikan lagi ke saya.

Saya ingat cerita Osha di acara kita dulu. Betapa waktu sekolah dia kesulitan memahami “Ada ubi ada talas”.

Apakah Lukman seperti itu juga? Mungkin keengganan dia, itu karena tidak “tune in”. Oh ya hari itu saya juga mengecek ke Mbak Indah, kira-kira apa yang dilakukan Lukman di weekend, atau apakah dia ada gejala sakit. Biasanya saya mendapatkan Lukman kooperatif.

Saya jawab lagi email tersebut sebagai berikut:

Ya ampuuun… Saya pikir kejadiannya kemarin, karena dia baru ngomong kemarin malam.

Seperti biasa, kalau ada omongan Lukman yg nggak biasa kan saya langsung rekman, diketik di hp. Karena saat itu Lukman lagi saya tungguin mau tidur, dia juga baca apa yg saya ketik. Sekarang Lukman sdh cepat membacanya, walau huruf kecil2, jadi saat saya ngetik itu dia ikuti terus sampai selesai. Sesudah itu langsung minta : “Kirim utk kak Endah dirumah, ya” Itu permintaan yg biasa, karena dia juga tahu kebiasaan saya kirim-kirim cerita ke Papanya, dan kalau ada cerita baru langsung kirim ke Papanya

Saat ngetik nama-nama murid Venus Farra yg disebutnya, awalnya saya nggak ngetik nama Lukman, kan dia yg lagi cerita. Tapi lalu dia minta “Lukman juga” ya sudah, saya tambahkan paling depan. Tapi dia nggak mau, katanya “Aku dekat Vina” hahaha jadi saya pindahkan nama Lukman dekat Vina… Ternyata itu yang sesuai dengan kejadiannya ya….

Jadi pingin liat gambarnya hahahaha….

Memang bagi anak autis, memahami sesuatu yang abstrak itu sangat sulit. Jadi buat mereka kalimat peribahasa seperti ‘Membeli kucing dalam karung’ atau yang diajarkan di kelas Lukman diatas: ‘Air cucuran jatuhnya ke pelimbahan juga’ ya di artikan secara harafiah, dan akibatnya yang Lukman gambar ya tetesan air yang jatuh ke pelimbahan. Kemudian karena kesulitan menangkap pelajaran peribahasa itu, Lukman jadi agak-agak moody, dan tidak bersemangat mengikuti pelajaran🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s