Sakit Liburan

Walau lebih banyak dirumah, ternyata Lukman sempat sakit juga liburan ini.

Awalnya di minggu terakhir liburan Lukman mulai demam di hari Minggu. Karena mamanya sendiri juga lagi radang tenggorokan dan batuk, mamanya sangka Lukman ketularan. Tapi kok panasnya tinggi sekali dan juga muntah-muntah cukup sering, bahkan tengah malam Lukman sampai menggigil kedinginan, dipakaikan tiga lembar selimutpun masih menggigil. Lalu mamanya kompres air hangat, Lukmannya masih bisa bilang enak air hangatnya, tapi ia tetap menggigil, bahkan sampai ujung jari-jarinya membiru. Kawatir Lukman bisa kejang karena dulu di umur 2 tahun ia pernah kejang demam, kami bawa ke emergency RSPI tengah malam itu. Sampai di emergency, Lukman diberi penurun panas dari dubur, diinjeksi untuk mengurangi muntah-muntah, juga di cek darahnya.

page1

Lucunya ketika ditusuk jarum untuk menyuntik dan mengambil darah, Lukman yang tadinya cukup bersahabat dengan dokter yang memeriksa dan perawat yang memasukkan obat penurun panas jadi berubah marah-marah. Lukman bilang “Kalian jahaaat… Kalian jadi tukang kipas saja… Kakak…. Kakak….” Saya jadi sempat senyum, ya habis teriaknya lucu begitu. Buat Lukman pekerjaan ‘tukang kipas’ alias dayang-dayang raja itu paling nggak banget deh. Suka ledek-ledekan dengan kakak Reza siapa jadi raja dan siapa yang jadi tukang kipas, berebut terus bisa sampai berantem… Tapi buat sang perawat yang baru denger kali itu, tentu aneh dan bikin ketawa teriakan Lukman itu.

Setelah kondisi panasnya menurun dan keluar hasil lab-nya, tidak ada hal yang perlu dikuatirkan, dokter pun memberi obat dan kami pulang kembali kerumah. Lukman tidur cukup nyenyak, bahkan harus dibangunkan jam 10 serta mau makan walaupun sedikit. Ia sudah tidak muntah, panasnya normal, tapi mulai diare sedikit. Saya masih tenang, karena biasa juga kalau panas Lukman ada sedikit diare spt itu. Namun makin sore kok diarenya makin sering, tiap diisi keluar lagi diarenya. Walaupun tidurnya nyenyak, pagi hari sebelum bangun sudah diare lagi Lukmannya. Dan disusul pula dengan muntah-muntah lagi. Kuatir obatnya tidak cocok, kami kembali ke dokter, kali ini yang sudah biasa menangani Lukman. Setelah memerika, tanpa saya perkirakan sebelumnya Lukman diminta dirawat saja untuk menstabilkan kondisinya, sambil menunggu hasil cek darah lagi. Lukman yang sudah lemas dan duduk di kursi roda cuma bisa mengangguk ketika dibilang akan tidur di rumah sakit. Dan untunglah tidak lama menunggu kami sudah mendapat kamar untuk ditempati.

page2

Untuk saja kakak Reza ikut menemani, jadi ketika masuk ke bagian rawat inap, harus ditusuk jarum infus, kakaknya yang menyemangati. Reza bilang “Teriak saja: Moksiiiiii!!! kalau terasa sakit”. Akhirnya ketika ditusuk jarum, keduanya teriak Mokssiiiii! bersama-sama. Suster yang mengerjakan sampai ketawa, dan bertanya Moksi itu apa. Reza yang menjelaskan kalau itu nama boneka kucing kesayangan Lukman😀

page3

Selama dirawat Lukman cukup cooperative, karena masih lemas juga tidak banyak permintaan apa-apa. Bahkan ia cukup berani untuk ditinggal sendiri dikamar, ketika Mamanya harus beli makanan. Setelah dua hari dirawat, kondisinya semakin baik. Akhirnya Lukman bisa pulang kerumah di hari Jumat, dan menurut dokter sudah boleh sekolah di hari Senin besok. Yeeey! Semoga cepat pulih ya Lukman, dan bisa berkegiatan dengan gembira di kelas 3 nanti!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s