Reza Is Back On Track!

Semester lalu saya cukup galau memikirkan masalah sekolah Reza. Bukan karena rapornya jelek, bukan karena punya target nilainya harus bagus. Soal itu bagi kami nomor ke sekian. Tidak pernah kami mengukur prestasinya hanya berdasarkan angka-angka yang tertera di rapornya. Bagi kami yang lebih penting adalah: apakah Reza sudah memberikan usahanya yang terbaik. Kalau meminjam istilah manajemen kami ini orang tua yang process oriented.

Di semester ini kami cukup senang dengan perubahan yang diperlihatkan Reza dalam proses belajarnya. Ia sekarang mau mempersiapkan pelajaran sebelum diajarkan disekolah, ia juga mau belajar rutin setiap minggu mengulang tambahan pelajaran tiap minggu walau tidak ulangan, dan tiap hari ia mau meluangkan waktu untuk memikirkan kembali (review) dan melaporkan apa-apa yang dipelajarinya hari itu disekolah. Hal-hal itu memang baru kami lakukan di semester ini.

Untuk mendapatkan kerjasama seperti itu dari Reza jalannya memang tidak mudah, dan tidak indah. Semester lalu semua nilai Reza anjlok (baca Rainy Night What A Mellow Night) dan terus terang kami kaget dengan hasilnya itu. Padahal semester yang lalu itu Reza belajar di bimbel, dan kelihatannya dia cukup senang belajar disana. Karena kami pikir sudah cukup latihan disana, dan melihat nilai midsemesternya yang kualitatif cukup baik, tidak terpikir akan ada kejutan diakhir semester: nilai rapor Reza yang turun drastis. Bahkan pelajaran IPS favoritnya pun dapat nilai 6,80 padahal semester sebelumnya dapat nilai 9,14. Sempat bingung dengan penyebab dropnya nilai-nilai, kami konsultasi pada ahli, namun belum dapat juga mendapatkan penyebab problem Reza.

Pemecahan masalah sekolah Reza kami dapatkan ketika suatu hari Reza mogok belajar.

Hari itu setelah sarapan, Reza saya biarkan nonton tivi dulu sebentar, lalu saya ingatkan pagi ini belajar sebentar. Reza kelihatan sebel ketika saya ingatkan jadwal belajarnya. Saya kasih pilihan: mau belajar pagi lalu siang bisa main, atau belajar siang tapi nggak selesai-selesai karena ogah-ogahan belajarnya?

Dengan cemberut Reza pilih belajar pagi. Lalu masuk kamar mandi sambil dibanting pintunya. Saya panggil lagi, saya bilang: kalau sudah memilih, berarti nggak pakai marah mengerjakannya. “Kan sudah memutuskan  belajar pagi ini ya sudah, nggak pakai kesel dong, percuma nanti belajarnya juga nggak akan masuk. Jadi maunya Reza gimana?” Reza dengan muka tertekuk jawab: “Nggak mau belajar, nggak mau pagi ini”. Saya tanya, jadi mau besok belajarnya? Dia jawab: “Besok juga nggak mau belajar”. Saya tanya kenapa? Jawabnya “Males” tapi mukanya galau dan air mata bercucuran. Saya heran kenapa begitu, akhirnya saya ajak bicara bertiga dg Papanya, dan tanya Reza punya masalah apa, kalau ada yang mengganggu pikiran ngomong aja. Sudah dua kali minggu Reza selalu mau belajar saat weekend, kenapa sekarang jadi menolak?

Reza akhirnya ngomong, tapi sulit sekali ngomongnya, karena emosi banget sampai tidak jelas bicaranya. Dibawah ini summary pembicaraan, yang sebetulnya pembicaraannya terputus-putus karena Reza tersedu-sedu setiap bicarakan apa yang jadi masalah.

R: Reza males, pelajarannya banyak sekali

M: Memang banyak, tapi Reza kesulitan untuk menangkap yang banyak itu nggak?

R: Nggak

M: Dan dari kelas 3 sama kan, seperti itu juga banyaknya, kenapa jadi masalah sekarang?

R: Guru-gurunya nggak enak

M: Nggak enaknya kenapa? Kasih contoh deh

R: Seperti guru ****, galak banget. Kalau selesai baca, kan  guru-guru yang dulu membolehkan kita ngobrol, tapi kalau sama guru ini dibentak, suruh diem. Trus kalau kita nggak diem dia suka pukul meja.

M: Ya memang ada guru-guru seperti itu, Reza. Tidak semua guru punya sifat yang sabar dan menyenangkan. Justru Reza yang harus menyesuaikan diri.

Papanya: Dia galak sampai seperti apa? Ada pernah mukul/pakai hukuman fisik nggak? Kalau ya, Papa bisa laporkan kesekolah.

R: Nggak, dia cuma bentak dan pukul meja.

M: Reza, kalau ortu lain mungkin nggak akan keberatan lho gurunya galak seperti itu. Sebagian besar ortu yg bicara saat rapat ortu murid kemarin malah mengeluhkan pelajaran *** belum spt yg mereka harapkan. Malah ada yg sampai me-les-kan anaknya diluar sekolah.

Reza harus bisa hadapi tipe guru spt itu, belajar utk lihat apa yg dia tuju, maunya dia apa, dan usaha dari situ. Karena tipe guru spt ini ada aja lho nanti Reza ketemu. Nggak cuma guru SD, guru SMP, guru SMA, bahkan dosen juga ada yang emosi dan galak.

Lalu saya dan Papanya kasih contoh guru-guru/dosen-dosen yang ‘galak’ dan pengalaman kami mengatasinya saat itu. Karena ada yang lucu-lucu juga contohnya, Reza mulai bisa senyum.

M: Lalu apa lagi masalahnya? Dengan moving class gimana? Reza masih suka ketinggalan buku nggak saat pindah kelas? (Sebelum ini ada keluhan dari guru-guru kalau Reza suka ketinggalan bukunya ketika pindah kelas, dan bawa buku yg salah/digabung jadi satu. Sudah saya bantu dengan memberi map/folder tiap pelajaran, sehingga jika Reza pindah kelas tinggal ambil folder yg sesuai, tidak perlu pilih2 lagi. Ternyata hal itu cukup membantu).

R: Nggak, guru-gurunya aja nggak enak ngajarnya.

M: Contohnya gimana?

R: Kalau nyatat suka buru-buru. Kita suka disuruh nyalin dari papan lalu saat belum selesai sudah dihapus.

M: Ooh masih ada ya yang pakai mencatat dipapan. Tapi itu nggak masalah dong, kalau memang belum selesai, Reza lihat siapa teman yg sudah selesai, pinjam catatannya dan salin dirumah. Atau foto copy, dan salin lagi dibuku Reza.

R: Kadang temen-temen juga nggak selesai.

M: Ya mustinya guru kasih cukup waktu dong.

R: Kadang yang dicatat yang sudah ada dibuku.

P: Kalau gitu Reza nggak perlu catat semuanya, cuma yang nggak ada dibuku aja yang dicatat. Yang sudah ada dibuku di stabilo/digaris saja supaya menghemat waktu.

M: Musti cerdik supaya bisa mengatasi masalah spt itu Reza. Reza sudah tahu kelemahan Reza menulisnya lambat, jadi musti cari jalan keluarnya, jangan cuma kesal sama gurunya.

Papanya juga kasih ide-ide lain supaya Reza tidak tertinggal ketika mencatat, seperti: sudah mempelajari dulu bahannya, jadi sudah tahu kalau diberi catatan ‘oh ini sudah ada dibuku, gak perlu dicatat’ dan cukup ditandai. Jadi belajar sebelum guru memulai bab tsb juga banyak membantu.

Hal ini pernah terjadi juga, ketika belajar saat weekend, awalnya Reza nggak mau kerjakan soal pecahan, katanya sudah dipelajari dikls 3/4. Tapi saya minta dia bikin juga, utk mengingatkan lagi cara mengerjakannya. Ternyata keesokannya hal yg sama diminta kerjakan oleh gurunya, dan Reza senang sekali, melaporkan hal itu pada Mamanya ketika makan sore (lagi penuh mulutnya, padahal).

M: Selain masalah catatan, apalagi yg jadi masalah?

R: Nggg itu aja…

M: Nggak banyak kan masalahnya? Lagipula, Reza kenapa nggak bilang sama Mama sebelumnya? Kan tiap sore saat pulang sekolah Mama selalu tanya, gimana hari ini disekolah. Reza selalu nggak cerita, bilang ‘begitu2 aja, Mama’. Mustinya yg kaya2 gini Reza cerita sama Mama, apa masalahnya, seenteng apapun kalau Reza merasa nggak bisa mengatasi, kasihtahu Mama. Kan Mama tiap sore hampir selalu ada dirumah, kalau Reza ada kesulitan bisa langsung cerita.

R: (manggut-manggut)…

M: Kalau teman-teman, gimana, ada masalah dengan teman nggak?

R: Nggak, biasa aja…

Begitulah percakapannya…. Sesudah itu muka Reza sudah cerah lagi, sudah  bisa ketawa. Hari itu kami biarkan dia main, dan olahraga sama Papanya. Keesokannya sesuai janji ia bikin proyek dan belajar mengulang yang selama seminggu ini dipelajari disekolah.

Intinya dari diskusi bersama kami bertiga setelah kejadian mogok belajar ini kami jadi dapat memahami problem apa saja yang menjadi ganjalan bagi Reza, dan dari sana kami berikan bimbingan agar ia dapat memecahkan masalahnya, dan terus memonitor perkembangan seterusnya dari masalah-masalah tersebut. Kami bersyukur komunikasi dirumah cukup berjalan dengan baik. Walau tetap ada kejutan-kejutan karena tidak semua informasi didapatkan dengan mudah, dimana ada hal-hal yang mungkin Reza enggan ceritakan, atau hal-hal yang tidak sampai kepada kami karena Reza anggap tidak perlu dibicarakan (tetapi justru sebenarnya penting sekali dibicarakan) dengan baiknya komunikasi kejutan-kejutan itu dapat dihadapi dengan baik. Kami berharap semakin mereka bertambah besar, anak-anak akan semakin menyadari pentingnya menjaga komunikasi yang baik ini.

Dan yang terpenting, dari pengalaman ini Reza bisa mengambil hikmah bahwa sesulit apapun masalahnya dia akan bisa atasi, dengan latihan lebih rajin, dengan persiapan lebih baik sebelum sekolah, dan dengan usaha sendiri dia akan bisa mempertahankan bahkan meningkatkan prestasinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s