Pubertas Dan Roti Gosong

Dua tahun yang lalu, saya pernah ikut workshop tentang pubertas remaja. Kenapa? Utamanya saya kepingin lebih memahami keponakan tercinta, Ivan, yang sudah masuk dalam periode puber ini tahun itu. Karena itu saya ajak kakak saya, bundanya Ivan, untuk ikuti workshop tersebut bersama. Selain untuk kepentingan Ivan, saya juga bersiap untuk datangnya masa puber untuk Reza. Saat ia sudah disunat dan masuk akil balig, saya juga mau bersiap untuk segala perubahan yang akan terjadi pada Reza saat puber nantinya. Dari pengalaman saya yang sudah-sudah, sejak balita, masuk ke masa anak besar, Reza karena cerdasnya selalu punya rasa ingin tahu yg besar. Karena itu saya merasa akan lebih baik saya sudah punya pengetahuan dulu tentang pubertas ini, dan bersiap untuk segala kejadian yang akan dialami Reza nantinya, ketimbang saat terjadi sesuatu baru grabak grubuk mencari jawabannya🙂

Saya bersukur sekali ketika ikut workshop itu ternyata pesertanya tidak sampai 10 orang. Dengan begitu, para peserta punya cukup waktu utk saling curhat, dan saya bisa mencatat (dalam hati) segala permasalahan yg mereka hadapi. Yang menjadi mayoritas permasalahan adalah komunikasi. Beberapa ibu merasa anaknya saat puber jadi susah diajak bicara, maunya menang sendiri, dan tidak bisa lagi diberi larangan. Kemudian ada juga masalah pergaulan dengan teman, anak tidak bisa dilarang main hape/bb, mulai pingin pacaran, dan sangat terpengaruh oleh teman sampai punya geng atau kelompok tertentu.

Ternyata dari penjelasan sang psikolog nara sumber, memang hal-hal itulah yang umumnya terjadi pada anak puber. Selain tanda-tanda perubahan fisik (pada anak laki-laki) yang nyata terlihat seperti: perubahan suara, dada jadi lebih bidang, tumbuh kumis dan jakun, mulai mengalami mimpi basah, ada juga perubahan psikologis. Akibat perubahan hormon terjadi peningkatan emosi yang lebih tinggi, mereka jadi lebih sadar diri dan merasa jadi pusat perhatian. Mereka mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, anak puber sukar diselami perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut. Kadang suka melamun, di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri. Perubahan psikologis inilah yang membuat dunia para ibu gonjang-ganjing hehe.

Saat ini Reza baru memasuki masa pubernya. Terlihat pertumbuhan badannya secara fisik sudah menunjukkan tanda-tanda seperti itu. Secara psikologis juga sudah mulai terlihat sifat ‘mau eksis’ dan ‘mau diakui’nya. Ada contoh yang mungkin sepertinya sepele saja bagi mata orang dewasa, tapi bagi si anak puber ini ‘masalah banget’ deh.

Sejak liburan yang lalu Reza saya minta mulai bisa memasak sendiri. Dari yang sederhana saja seperti bikin teh/kopi sendiri, menggoreng telor dadar, telor ceplok, masak mie instan – walau tidak boleh sering makan – saya minta bisa ia lakukan sendiri. Selanjutnya nanti Reza akan belajar bikin nasi goreng dan lain lainnya sendiri. Sehingga saat sarapan pagi Reza biasanya lebih semangat kalau makan buatannya sendiri.

Suatu ketika Reza membuat roti bakar sendiri untuk sarapan. Karena baru beberapa kali berlatih, kali itu rotinya agak gosong. Tapi lumayan lah, masih bisa dimakan. Nah ketika Papanya melihat roti gosong itu, langsung bilang “Jangan dimakan Reza, gak baik makan makanan yang gosong begitu. Ganti saja”. Ya maksud Papanya tentu baik, karena sudah diketahui kalau makanan gosong beresiko memicu kanker. Tapi buat Reza yang lagi bangga-bangganya membuat masakan sendiri, jadi patah hati ketika dibilang makanannya tidak baik. Awalnya Reza diam saja, lalu ia masuk kekamar. Tidak lama keluar lagi, tapi ia teruskan makan roti gosongnya itu, tidak dengarkan apa yang dikatakan Papanya. Lama-lama saya lihat matanya merah, dan ketika saya tanya “Reza kenapa?” pecahlah tangisnya, dan keluar kekesalannya disuruh ganti roti gosongnya itu “Reza kan sudah bikin cape-cape” katanya. Sementara Reza nangis, Papanya mukanya bingung. Yah akhirnya ketika Reza selesai makan dan masuk  kamar untuk mandi, saya baru bisa jelaskan sama Papanya “Reza lagi seneng-senengnya masak sendiri. Dia bangga punya ketrampilan baru. Jadi saat Papanya bilang rotinya gosong, jangan dimakan, dia antara malu dan kecewa”. Papanya baru mengerti, dan ketika Reza selesai mandi minta maaf padanya. Dasar masih emosi ya, Rezanya nggak mau kasih maafnya, yaaah jadi tugas Mamanya deh untuk kasih pengertian juga sama Reza,  bahwa kalau sudah dimintakan maaf ya harus berbesar hati utk memberi maaf, apalagi alasan Papanya memang benar.

Itu baru satu contoh ya, mungkin nanti-nanti bakal ada lagi peristiwa atau kejadian lain. Tapi mudah-mudahan bisa saya dan Papanya hadapi dengan sebijak mungkin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s