With Age Come Wisdom

Ini catatan yang tertinggal dari percakapan berdua saja dengan si sulung di rumah sakit beberapa minggu yang lalu (baca: At The Hospital).

388494_10200781594243226_211984953_n

Di rumahsakit saat kondisi Reza sudah membaik kami berdua suka sekali menonton seri Dog Whisperer di NatGeo channel. Cerita tentang Cesar Milan yang sangat ahli mendidik anjing, dan mengerti sekali bagaimana cara anjing berinteraksi memang sangat menarik, dan Cesarpun dapat memberi solusi untuk masalah-masalah seperti anjing galak, anjing tidak penurut, anjing penakut, anjing hyperactive. Ia tahu sekali caranya supaya anjing-anjing bermasalah tersebut bisa dilatih jadi anjing yang penurut, tdk galak, tdk penakut.

Ketika Reza dijenguk oleh kakak Papanya, kami panggil dengan nama Buba (=Bunda) kami mengobrol cukup lama, sampai sempat bicarakan masalah sekolah, dan Buba sharing cerita juga dengan pengalamannya menjalani masa-masa sekolah ketiga anaknya tercinta. Masing-masing anak memang unik, berbagai masalah belajar pun dihadapi masing-masing anak. Memang tugas orangtua untuk mengupayakan yang terbaik untuk anaknya, sehingga ketika ada masalahpun orangtua yang harus menangani, mengusahakan jalan yang terbaik dengan pihak sekolah.

Reza tidak ikut bicara ketika kami bicara soal sekolah itu, hanya menyimak sambil terus menonton tivi. Saat Buba sudah pulang, kami berdua lanjut nonton lagi serial Dog Wishperer itu di tivi.

Mendadak Reza bicara: “Kalo didenger cerita Buba & Mama tadi, dibandingin dengan Dog Wishperer ini ada yang sama loh” (mukanya serius).
Saya bilang: Apa tuh yang sama?
Reza bilang: “Kan Cesar bilang: anjing itu galak/penakut/patuh/pemberani tergantung dari tuannya juga”. (Maksudnya kalau tuannya mengerti dengan baik bagaimana cara memahami si anjing, mengerti bagaimana bersikap untuk memancarkan energi positif, maka si anjing akan mendapat pengaruhnya). Lalu Reza lanjutkan: “Nah kalo guru, gimana caranya ngajar akan menentukan apakah muridnya bisa mengerti pelajaran sehingga masuk ke otak, atau pelajaran itu cuma masuk telinga kiri keluar telinga kanan”
Hehehe saya jadi senyum, wah analogi yang bagus ya…
Lalu kami jadi terus membahas deh, saya bilang: “Bagus kalo Eza bisa menyimpulkan seperti itu, jadi nanti Eza bisa tahu bagaimana bersikap jika menemukan suatu masalah. Contohnya gini. Kalau orang lain liat seorang anak autis yang sedang tantrum, mungkin mereka pikir anak itu nakal. Tp kalau Mama lihat hal seperti itu, Mama tahu anak itu ingin menyampaikan sesuatu tapi tidak tahu caranya karena memang disitulah keunikan anak autis. Karena anak autis itu memang bermasalah di 3 bidang: sosialisasi, komunilkasi & perilaku yang khas. Sosialisasi ya seperti misalnya: nggak ngerti gimana caranya berteman. Kalau masalah komunikasi seperti Lukman: harus diajarin baru bisa bicara, tidak seperti anak lain yang bisa menyerap sendiri lalu tahu-tahu bisa bicara, seperti Eza. Kalo masalah perilaku ya seperti ketika stimming, flapping, dll”.
Lalu Reza bicara tentang anak yang autis disekolah. Katanya untuk sosialisasi anak itu bisa, komunikasinya kaku seperti Lukman setahun yll. Nah kadang perilakunya yang menunjukkan perbedaannya, seperti: pada saat olahraga, anak itu nggak bisa ikut gerakan yang dicontohkan gurunya, malahan bikin gaya sendiri.

Menutup pembicaraan itu saya bilang: “Bagus banget Reza bisa bikin analisa seperti itu. Jadi Reza bisa memahami bagaimana harus bersikap. Banyak anak yang keliatan bandel, tapi kalau mencoba mencari tahu apa sih problem sebenarnya, kita bisa dapat pemecahannya, bukan hanya sekadar menghukum supaya jera dan tidak bandel lagi”.

Kalau dipikir-pikir sekarang, lucu juga ya, mendadak Reza bisa dapat menganalisa, memikirkan, dan membicarakan suatu topik dengan serius. Karena melihat roman wajahnya yang serius, saya juga menanggapi dengan serius, karena kesempatan seperti ini jarang terjadi. Yaah siapapun yang kenal Reza pasti tahu, gimana suka ngebodornya dia, gimana dia paling senang bikin kelas tertawa dengan lelucon-leluconnya. Tapi ternyata sesekali keluar juga keseriusan dan ehm kebijakannya. Who knows, kan kata pepatah: with age comes wisdom, ya mudah-mudahan dengan makin tambah umurnya, makin bijak juga buah hatiku ini🙂

*Mohon maaf sekali ya, jangan sampai ada yang tersinggung kalau dianalogikan antara manusia dengan anjing, tapi poinnya adalah tentang bagaimana mencari cara terbaik dalam mendidik dan mengasuh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s