Drama

Hari Sabtu kemarin menjadi hari yang paling membuat perasaan saya naik turun seperti roller coaster. Sudah sejak sebulan yang lalu saya mendaftar untuk seminar yang perlu saya ikuti untuk kepentingan Reza. Saya sudah bikin rencana dengan Papanya untuk mengantar saya, lalu terus menemani Reza terapi seperti biasanya dihari Sabtu. Lalu kemudian datang surat undangan Family Gathering dari sekolah Lukman.  Waduh, harinya bertepatan dihari yang sama dengan seminar tersebut, padahal biasanya kami tidak pernah absen dari kegiatan ini. Apalagi kali ini family gathering diadakan di Setu Babakan, kawasan wisata cagar budaya yang dipelihara untuk menjaga warisan budaya asli Betawi.

coversz

Awalnya kami putuskan kali ini kami tidak hadir, mengingat Lukman tidak ada yang menemani. Namun ketika saya mengirim pesan pada ibu Endah, kepala sekolahnya Lukman,  beliau katakan “Sayang sekali kalau tidak hadir, karena Lukman akan diikutkan pertunjukan drama di acara tsb”. Wah, Lukman suka sekali ikut kegiatan drama yang baru-baru saja dilakukan disekolahnya. Yang biasanya Lukman harus ditarik untuk ikut kegiatan kelas, ketika ada tugas drama berkelompok ia ikut dengan semangat. Saya jadi bingung juga, ini ada kesempatan untuk menarik Lukman agar mau ‘manggung’ bersama teman-temannya, tapi kami juga sudah ada rencana yang sama pentingnya. Akhirnya saya katakan pada ibu Endah akan mendiskusikan dengan Papanya dulu.

Lukman selama ini belum pernah mau ikutan manggung disekolah. Pernah sih duluuu sekali ketika ia masih di TK dan ketika sekolahnya masih belum dilokasi sekarang Lukman mau ikut menari bersama teman-teman. Namun ketika sudah pindah di lokasi sekarang, dimana ada panggung khusus dilapangan sekolah, dan ketika jumlah murid juga semakin banyak, Lukman malahan tantrum ketika harus naik panggung untuk menari. Padahal ketika itu Lukman sudah cukup lama berlatih dengan ekskul menari, dan tiap kali latihan ia sangat enjoy melakukannya. Sayangnya ketika hari H, suasana yang meriah, musik yang bergema membuat Lukman tidak nyaman, apalagi ketika dipakaikan kostum menari, makin tidak mau Lukman dan akhirnya malah tantrum. Saya sedih sekali saat itu, tapi yang terpenting memang kenyamanan Lukman, akhirnya ia cuma membaca dikelas, sambil saya temani.

Sejak saat itu, berkali-kali ada kegiatan naik panggung Lukman selalu menolak. Bahkan di acara wisudanya pun Lukman tidak mau ikut menari. Tidak hanya di sekolah, di tempatnya les musik pun Lukman seperti itu, tidak mau manggung ikuti kegiatan. Ia mau sih naik panggung, tapi cuma duduk menonton teman-temannya beraksi. Akhirnya setiap ada kegiatan tampil di panggung, kami sudah cukup pasrah dengan kekeuhnya Lukman tidak mau ikutan. Bahkan kalau Lukman sedang turun kondisinya, sedang keluar moody-nya, kadang kami juga pertimbangkan apakah perlu datang ke acara atau tidak (baca: Datang Tidak Ya? dan: Apel Merah di Family Gathering).

Nah kali ini ada sedikit harapan, siapa tahu karena senangnya Lukman dengan kegiatan drama itu ia mau tampil di panggung bersama teman-temannya. Akhirnya setelah diskusi dengan Papanya, dan juga Ayang, ibu saya, diputuskan Papanya menemani Lukman ke Setu Babakan, sementara saya dan Reza diantar supir Ayang. Agak-agak kawatir juga sih, karena biasanya Lukman ke Papanya kalau mau main dan bercanda, sedangkan kalau merasa tidak nyaman yang dicarinya saya. Apalagi kegiatan diadakan di Setu Babakan, yang belum pernah dikunjungi Lukman, bahkan tidak gladi resik juga disana. Tambahan lagi dengan ramainya orangtua murid yang datang, kadang Lukman jadi menarik diri dan yang sudah-sudah lebih mencari tempat dimana dia merasa nyaman sendiri. Malam sebelum hari H saya sudah pesan yang banyaaak sekali pada Papanya, bagaimana melihat tanda-tandanya Lukman mulai merasa tidak nyaman, bagaimana cara menenangkan kalau Lukman mulai keluar emosinya, dan lain-lain. Khas ibu-ibu banget lah ya hehehe…

Di hari H Lukman bangun pagi dan bersiap-siap dengan semangat, senang ketika dipakaikan baju batik, dan dadah-dadah dengan senyum lebar ketika saya dan Reza berangkat duluan. Ketika seminar, saya sengaja tidak telepon/kirim pesan pada Papanya, karena tahu pasti di acara family gathering itu heboh dan ramai sekali, Papanya pasti tidak sempat melihat handphone-nya. Lagi pula kalau Lukman kenapa-kenapa Papanya pasti sudah hubungi saya. Kalau tidak ada pesan, berarti Lukman baik-baik saja. Betul juga, saya terima pesan ketika Papanya beritahukan sudah mau pulang kerumah. Saya cuma tanya: “Lukman tidak apa-apa?” dan lega sekali ketika Papanya bilang “Dia senang kok”.

Selesai seminar dan sampai dirumah, Lukman menyambut dengan gembira, sambil mengacungkan lidi hiasan ondel-ondel yang diambilnya dari acara. Saya tanya “Lukman ikut drama?” dia jawab “Aku sudah..” wah seneng sekali. Tambahan lagi dengar cerita Papanya kalau Lukman merasa nyaman sepanjang acara, mau ikut naik panggung walau lari-larian dan hanya ikut sebagian dramanya saja. Saya jadi senyum-senyum melihat foto-foto Lukman dengan teman-temannya, tidak bisa menahan ketawa melihat ekspresi Lukman di rekaman video (sebagian dari dramanya) dan terharu sekali melihat guru kelas Lukman yang terus mengajak Lukman untuk ikut berperan seperti teman-temannya, tidak menganggap Lukman mengganggu jalannya pertunjukan dan terus usahakan agar Lukman mau ikut.

Walau Lukman banyak lari-lari, dan hanya ikut sebagian drama tsb, bahwa dia menikmati acara family gathering kemarin dan sudah mau naik panggung merupakan pencapaian tersendiri untuk Lukman🙂

page1s ppbbs

page2s page3s page6s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s