Rainy Night, What A Mellow Night

Heavy Downpour

Akhir semester lalu kami dapat kejutan dari Reza: hasil rapornya turun, dan ini yang paling drastis turunnya. Bayangkan, nilai pelajaran IPS yang biasanya jadi favoritnya, dari nilai 9,1 di semester sebelumnya turun menjadi 6,8 disemester kemarin.

Sebetulnya kalau dibilang kejutan, yah nggak tepat juga sih… Sebulan sebelum UAS saya sudah rasakan Reza mulai terlihat lagi gejala ‘benci test/ulangan’nya. Kalau awal semester sampai pertengahan biasanya dia happy-happy saja, karena ya baru mulai belajar belum ada ulangan atau test harian. Ketika ulangan tengah semester, iapun masih dalam kondisi tenang dan cukup kerjasama ketika diminta belajar. Ketika laporan UTS keluar, kali ini sekolahnya menerapkan penilaian secara kualitatif. Tidak ada angka, hanya ada penilaian: (D) belum memenuhi target pembelajaran (C) sudah ada kemanjuan namun belum memenuhi target pembelajaran (B) sesuai target pembelajaran (A) melebihi target pembelajaran. Pada laporan UTS tersebut, dari 20 poin penilaian yang Reza peroleh adalah 11 nilai A, 7 nilai B, 1 nilai C dan 1 nilai D. Kalau melihat secara umum, bagus ya nampaknya. Tapi saya sudah mbatin ketika itu: bagaimana ya dengan nilai angkanya?

Ketika lewat pertengahan semester, dan ketika di bimbingan belajarnya Reza mulai ada tryout, mulailah nampak tanda-tanda enggan belajarnya. Walau ia mau diminta belajar, ketika mengerjakan soal Reza kerjakan dengan ngebut, dan lebih bermain-main dengan temannya. Ketika sebulan sebelum berakhir semester, Reza mulai enggan pergi bimbingan belajar dengan berbagai alasan, capek lah, pusing lah, kebetulan cuaca memang mendukung alasannya itu dengan hujan terus disore hari menyebabkan macet dan terganggunya kesehatan.

Saat sudah mulai UAS, Reza saya dampingi betul, karena gejala enggan belajarnya makin kuat. Namun ia masih mau diminta belajar, bahkan mau mengerjakan latihan yang saya berikan. Poin demi poin bahan yang diuji dapat dikerjakannya dengan baik. Namun ketika sedang berjalan dan salah satu hasil UAS dibagikan, saya kaget sekali. Hasilnya jauuh dari yang bisa dikerjakannya dirumah. Dari caranya menulis dan mengerjakan, bisa terlihat ia sangat tidak fokus. Bahkan pertanyaan yang dengan mudah dijawabnya dirumah nyaris tidak dijawabnya.

Langsung saya komunikasikan dengan guru kelas. Ternyata menurut gurunya, Reza terlihat tidak fokus dan ingin buru-buru keluar kelas karena ada beberapa teman yang sudah selesai dan keluar kelas. Waduh, saya betul-betul sedih jadinya, ternyata usaha latihan dirumah, latihan di tempat bimbingan belajar, jadi tidak ada artinya karena saat mengerjakan soal Reza tidak fokus dan melupakan yang sudah dipelajarinya dengan susah payah.

Saat menerima rapor, walaupun sudah menyangka nilainya akan turun, saya tidak sangka begitu banyak penurunannya. Saya sudah tidak bisa marah, bahkan jadi mengabaikan (untuk sementara waktu) soal nilai rapor Reza tersebut karena lusa nya akan pergi liburan bersama.

Ketika pulang liburan, dan saat Papanya masih cuti dirumah, barulah kami diskusi tentang nilai Reza. Hasil rembukan tersebut membawa saya pergi konsultasi pada seorang psikolog yang sudah mengenal Reza sejak masih playgroup dan masih mengikuti perkembangan selama Reza sekolah di SD. Beliau juga mengetahui kesulitan Reza menulis, perjuangan Reza di terapi untuk bisa menghasilkan tulisan yang ‘cukup jelas untuk dibaca’. Karena itu saya kembali lagi pada beliau untuk bertanya: apalagi sih yang harus kami lakukan, supaya masalah Reza dalam belajar bisa diatasi, supaya ia bisa fokus tanpa harus merasa terpaksa, dan apakah ada masukan utk pola pengasuhan kami, menimbang Reza juga mulai memasuki masa awal pubertas.

Hasil dua kali datang ke psikolog adalah sebagai berikut. 1) Beliau melihat Reza sangat berjuang untuk menulis, untuk bercerita ttg perjalanan dr rumah ke sekolah saja awalnya rapih dan kecil tp lalu jadi besar & berantakan. Kalau dia berusaha untuk rapih & kecil terus, dia akan lupa pd kontennya. 2) Selain itu, Reza tdk bisa menuangkan ide/pikirannya dengan lancar. Mengherankan, walau kecerdasan Reza sangat baik, memori bagus, tapi ia tidak bisa bercerita dengan baik. 3) Bicaranyapun ada yang terputus-putus, tidak smooth. Untuk lebih mendapatkan observasi yang lebih baik, selanjutnya Reza diamati oleh seorang terapi okupasi dan seorang terapi wicara, bertiga dengan sang psikolog Reza mengerjakan tugas-tugas untuk dilihat kemampuannya.

Hari ini kami pergi ke klinik tumbuh kembang untuk assessment tersebut. Dan hasilnya sebagai berikut. Menurut terapis okupasi yang sudah senior tersebut, Reza mengalami gangguan dyspraxia atau juga dikenal sebagai development coordination disorder. Beberapa tahun yang lalu saya pernah ikuti workshop tentang learning disabilities, dan mayoritas ciri-ciri anak dengan dyspraxia cocok dengan kondisi Reza. Karena itu saya tidak terlalu kaget, hanya saja dulu saya pikir Reza lebih mirip kondisinya kearah dysgraphia (kesulitan menulis) tapi semakin kesini saya makin tahu bukan hanya menulis saja kesulitan yang dihadapi Reza, tapi juga kesulitan untuk mengkoordinasi dan melakukan suatu gerakan tertentu dan gerakan tubuh. Baca: Apakah Dyspraxia Itu?

dyspraxia

Walaupun kecerdasan Reza (hasil dari test IQ) sangat tinggi, namun karena tidak sesuai dengan koordinasi motoriknya, timbullah kesulitan-kesulitan yang akhirnya terlihat ketika ia belajar. Karena cerdasnya, Reza sadari bahwa ada gap antara kemampuannya dengan hal yang harus dilakukannya disekolah. Contoh: kemampuan menulis Reza sekarang ini setara dengan anak kelas 2 bahkan kelas 1 SD. Oleh sebab itu, ketika ia harus menulis yang setara dengan kelas 5 sekarang ini, ia cenderung menghindar dan melakukan coping mechanism. Misalnya dengan membuat kelucuan-kelucuan agar orang teralih perhatian, atau menjadi pusat perhatian dikelas sehingga ia punya alasan untuk tidak menyelesaikan tugas yang diminta karena waktu habis, bilang cape/pusing sehingga tidak disuruh belajar, dll. Karena gangguan itu pula, ketika Reza disuruh menulis, bercerita, ia melakukannya dengan berusaha keras, bahkan ketika bercerita diujung ceritanya Reza jadi tersendat-sendat bicara.

Selain masalah-masalah diatas, hal yang terungkap ketika assessment tadi adalah adanya adanya ketidak seimbangan, sense of balance-nya yang berhubungan dengan pandangan mata, sehingga hal ini yang menyulitkan Reza untuk menulis dengan spasi yang tetap. Begitu juga ketakutan Reza untuk membuat kesalahan, yang mengakibatkannya enggan untuk memulai sesuatu yang menurutnya tidak bisa ia lakukan dengan baik.

Saran dari terapis okupasi adalah agar Reza melakukan lagi terapi SI supaya ia termotivasi untuk lebih baik, dan begitu motivasinya ada, ia akan lebih rileks, lebih dapat menghadapi challenge, dan tidak akan menghindar. Ini juga untuk menimbulkan kemampuan semi structure problem solvingnya: bahwa jika ia tidak bisa melakukan, harus dicarinya option lain, tidak stop berhenti begitu saja.

Sedangkan penilaian dari terapis wicara, untuk komunikasi Reza cukup baik, pemahaman bahasanya juga baik, namun untuk menceritakan kembali: jika hanya poin2nya Reza cukup baik, namun jika menceritakan dengan pengembangan belum cukup baik. Dan ini adalah areanya ortopedagog.

Jadi selain disarankan untuk melakukan terapi SI, Reza juga disarankan untuk terapi edukasi. Hal lain yang juga disarankan oleh psikolog adalah melakukan kegiatan olahraga rutin: renang, main sepeda.

Sepulang dari klinik, entah kenapa rasanya capeee dan sedih sekali. Masalah ini sudah pernah kami hadapi sejak Reza kelas dua, ternyata masih berlanjut juga sampai sekarang walau sudah ada usaha terapi yang dilakukan cukup intensif ketika kelas dua dan tiga, dan masih dilanjutkan sampai sekarang walau dengan intensitas yang berkurang. Yah mungkin karena seharian juga hujan turun, jadi suasananya gimanaaa gitu…

*rainy night, what a mellow night*

Related posts:

Rapor Semester Genap Reza Kelas 3

Rapor Semester Ganjil Reza Kelas 3 

Reza Dan Tulisannya Lagi

Nilai Reza Lagi

Nilai UTS Reza Kelas 2

Nilai Rapor Reza Kelas 1 

Tulisan Reza

4 thoughts on “Rainy Night, What A Mellow Night

  1. Mamanya reza & lukman, saya menemukan blog ini tidak sengaja tapi senang sekali membaca tulisan mamanya. Menarik sekali cara mamanya bercerita tentang reza & lukman. Keep writing ya.😀

    Khusus untuk tulisan dyspraxia ini, saya terkesiap. Karena ternyata waktu kecil saya jg mengalami ciri2 dyspraxia,bahkan sampai harus tinggal kelas. Hanya selama ini saya maupun keluarga tidak tahu bahwa saya memiliki kondisi tsb. Maklum lah ya, zaman dahulu akses informasi tidak sekencang sekarang. Jadi mungkin tidak ketahuan.

    Sampai sekarang pun saya terkadang masih mengalami beberapa kondisi dyspraxia dlm kehidupan sehari-hari (i.e. arah kanan kiri, spasial, tidak fokus). Tapi kekurangan2 itu ada saja cara menutupinya kok kalau sudah terbiasa :-p

    Yang terpenting mamanya reza tetap semangat ya memotivasi. Karena kondisi ini bukan harga mati. Saya bisa menyelesaikan S1 dengan tepat waktu, dengan IPK lumayan dan sekarang bekerja di instansi. Jadi anak cerdas dengan dyspraxia seperti reza pun bisa berkembang maksimal .
    Saya malah jd cerita panjang lebar begini. Hehehe, maaf ya mamanya. Salam hangat untuk reza & lukman.🙂

    • Ibu Wita, trimakasih ya sudah mampir di blog ini, dan memberi pesan yang membesarkan hati. Saya terharu membacanya, mau puanjaaaang juga gapapa bu, bikin hati ini tambah ringan.

      Terus terang mau mencari informasi tentang dyspraxia memang sulit sekali disini, ketika saya bertanya pada parent support group anak berkebutuhan khusus, adakah ortu dg anak dyspraxia, mereka malah bertanya balik: apa itu dyspraxia?

      Kalau dibandingkan informasi ttg autisme, sekarang sudah banyak sekali infonya yg bisa dicari di internet maupun dari buku-buku yang dijual. Komunitasnya pun sudah banyak, bahkan ada yayasan yang menaungi kegiatan se Indonesia.

      Tapi dyspraxia? Kebanyakan orang belum pernah mendengarnya. Ini yang bikin saya agak kesulitan, dan terpaksa mengambil info dari luarnegeri. Sayangnya fasilitas dan penanganan di luar negeri jauuuh sekali kondisinya dari disini. Jauuuh lebih baik. Bahkan untuk anak dengan learning disabilities saja sudah ada undang-undang yang memberikan hak kepada siswa tersebut utk mendapatkan program pendidikan khusus, program yang dirancang secara individu. Disini masih jauh dari itu ya Bu…

      Tapi gimanapun kita harus bisa berjuang dengan kondisi lokal ini, mudah-mudahan diberi petunjuk oleh Yang Maha Kuasa, dan kami terus dapat mengusahakan yang terbaik untuk Reza dan Lukman.

      Salam untuk keluarga ya Bu….

  2. Mamanya …… saya baru baca Blognya lagi dan yaaaaa kondisi yang saya khawatirkan terjadi pada Varo.

    terima kasih untuk share nya di FB tentang Learning Disablty , menambah semangat untuk terus menemukan metode belajar bersama varo terutama untuk baca dan menulis .

    Peluk buat Kakak Reza dan Lukman

    • Terimakasih perhatiannya, bunda Varo. Ya, ketika cari-cari penjelasan tentang dyspraxia memang agak sulit mendapatkan bahan-bahan ‘lokal’. Karena itu setiap mendapat artikel bagus, saya akan share di facebook, siapa tahu ada yang juga sedang membutuhkannya.

      Beruntunglah Varo bersekolah di institusi yang sudah memahami adanya learning disabilities, dan tidak mengabaikan keluhan orangtua dengan mengatakan “Anaknya kurang fokus Bu, dan terlalu banyak bicara dikelas”.

      Yuk kita sama-sama belajar, dan tetap saling menyemangati ya Bun…

      Thanks for stopping by🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s