Try Out, Outing and Me Time

Beberapa waktu yang lalu saya diberitahu teman di FeMale Radio bahwa akan ada acara klub dongeng lagi di akhir bulan, mengunjungi Museum Bank Indonesia. Wah saya langsung minta daftarkan Reza dan Lukman, karena sudah sering mendengar bagusnya museum yang satu ini. Reza yang saya beritahu rencana ini langsung gembira sekali. Sudah lama Reza juga ingin berkunjung kesana. Terakhir bahkan kami sempat parkir di sana, tapi tidak masuk kedalam, karena kami ada kegiatan yang cukup seru dengan kelompok Museum Ceria di sebelahnya: Museum Bank Mandiri. Selesai acara tersebut kami sudah cukup letih, sehingga batal melihat-lihat kedalam Museum BI, langsung pulang saja.

Awalnya kami ragu mengikutkan Lukman, karena Lukman kurang suka berkunjung ke museum. Gelap/temaramnya penerangan museum menjadi penyebab utama. Selain itu, di Museum BI tidak ada manusia/mahluk purba, yang biasanya jadi daya tarik untuk Lukman pergi ke museum. Setelah diskusi dengan Papanya, awalnya kami putuskan biarlah kunjungan ke Museum BI ini menjadi me time-nya Reza.

Me time untuk Reza sudah menjadi suatu kebiasaan yang kami lakukan dimana Reza bisa pergi ke tempat yang disukainya hanya berdua Papa/Mamanya saja, tanpa adek Lukman. Hal itu dibutuhkan juga, karena minat yang berbeda sehingga kalau mereka pergi berdua Reza kadang merasa tidak puas kalau harus cepat pindah tempat atau pulang, karena adeknya sudah tidak betah ditempat tersebut. Dengan memberikan me time pada Reza ada efek positifnya, karena Reza merasa diistimewakan pada kesempatan itu sehingga saat pulang kerumah biasanya Reza jadi baik sekali pada adeknya🙂

Beberapa hari sebelum hari H, kami menerima surat pengumuman dari sekolah Lukman, bahwa pada akhir bulan murid SD akan pergi berkunjung ke Museum BI. Wah kok kebetulan sekali ya? Akhirnya kami putuskan Lukman jadi ikut kegiatan klub dongeng FeMale radio, karena memberikan kesempatan pada Lukman untuk merasakan jarak perjalanan ke museum, merasakan suasana didalam museum sehingga kami harapkan ketika Lukman pergi dengan rombongan sekolah ia sudah lebih nyaman karena mengetahui kemana dan apa yang akan dihadapinya.

Lucunya, justru Reza yang tadinya sudah kami pastikan akan ikut sempat kami ultimatum tidak boleh pergi. Beberapa waktu sebelum hari H, kami menerima laporan hasil tryout Reza di tempat bimbingan belajar. Dalam satu semester ini Reza sudah mengalami 3x tryout. Hasil tryout pertama berantakan karena ia ketemu teman sekolah di kelas test, wah bercanda teruslah Reza sepanjang test, dan tidak menyelesaikan soal-soal dengan baik. Saat keluar hasil tryout pertama tersebut, Reza diajak diskusi Papanya, diingatkan lagi tujuan Reza ikut bimbel tersebut dan ditanya apa yang kesulitan yang dihadapinya di bimbel. Saat itu Reza kelihatan agak malu, karena seperti yang sudah saya duga, ia tidak kesulitan dengan bahan pelajarannya.

Tryout kedua dikerjakan Reza di hari Jumat, dimana pesertanya tidak banyak, dan sepertinya Reza cukup serius mengerjakan sehingga hasilnya pun membaik, bahkan ia jadi nomor satu di kelasnya dan mendapat hadiah (baca: Reza Juara! ). Lalu tryout ketiga, karena saya ingin Reza cukup siap, ia belajar dua hari untuk itu dan karenanya melakukan tryout dihari Sabtu lagi. Ketika saya jemput sesudah tryout, heran juga mendengar suasana peserta tryout yang riuh rendah didalam kelas. Walau sudah lewat batas waktu, Reza juga masih belum keluar. Saya tanya temannya, malah dapat laporan “Reza lagi menulis di papan, bercanda terus tuh”. Tapi ketika ia keluar kelas, Reza tidak mengakui kalau dia bercanda. Namun saya sudah perkirakan hasil tryoutnya pasti tidak memuaskan lagi.

Ternyata benar, setelah kami terima hasil tryout nya, 3 hari sebelum hari H – hari kunjungan ke museum – ternyata lebih jeblok lagi daripada hasil tryout pertama. Waduh, kecewa sekali rasanya. Walau Reza sudah cukup belajar, persiapan latihan dirumah juga tidak kurang, tapi karena ia kurang serius dan terbawa bermain seperti teman-temannya, hasilnya jadi seperti itu. Saya bicara dengan Reza cukup panjang di mobil dalam perjalanan pulang. Salah satu yang dibicarakan juga tentang kunjungan ke museum BI, yang terancam batal untuk Reza jika menurut pertimbangan Papanya Reza tidak bisa ikut – sebagai punishment. Malam itu saya juga sampaikan pada Papanya. Tapi karena Papanya memang sedang overload dengan pekerjaan kantor, tidak sempat bicara dengan Reza karena pulangnya malam dan pergi lagi pagi-pagi sekali.

Barulah di hari Sabtu Papanya bisa bicara, sehari sebelum hari H. Kebetulan Reza juga ada tugas dari sekolah, lalu juga ada pelajaran yang akan ulangan minggu depannya. Jadi selain mengingatkan Reza tentang tujuannya mengikuti bimbel, Papanya juga minta Reza selesaikan tugas dan belajar untuk ulangan hari itu. Jika tidak, Reza tidak bisa ikut keesokan harinya. Reza yang sudah terlihat cukup galau beberapa hari itu karena kuatir tidak bisa ikut ke museum BI, akhirnya mengerjakan tugas dengan cepat dan belajar serius sampai bisa ditanyai detail pelajarannya. Sore harinya Papanya putuskan Reza tetap bisa ikut ke Museum BI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s