Klub Dongeng FeMale di Museum Bank Indonesia

44s 11s

Dipagi hari Minggu yang cerah 23 November yang lalu, kami berangkat ke Museum Bank Indonesia untuk berkumpul bersama klub dongeng FeMale radio. Perjalanan cukup lancar, kami tiba ditempat pada waktunya dan sempat mengambil foto-foto tampak luar gedung yang masih kinclong ini. Terlihat sekali perawatan gedung sangat prima, bahkan ketika mampir dulu ke toilet, didalamnya sangat bersih, dan wangi pengharum ruangan. Kagum, baru kali ini kami mendapatkan toilet museum yang sangat bersih, bahkan di gedung Museum Nasional yang tampak luarnya juga tak kalah megahnya saja kebersihan toiletnya sangat memprihatinkan.

Masuk kedalam museum, kami disambut panitia dan mendaftar ulang, anak-anak mendapat baju kaus tanda rombongan FeMale radio. Di ruangan tempat berkumpul kami melihat sudah cukup banyak peserta yang hadir. Tidak lama acara dimulai: pembukaan oleh Paman Gery dan Bubu Mini yang memberitahukan agenda acara untuk hari itu. Kami akan berkeliling museum terlebih dahulu, kemudian menonton film sejarah berdirinya Bank Indonesia, baru kembali lagi keruangan tempat berkumpul untuk mendengarkan dongeng, makan siang, dan lomba menggambar.

Yang terakhir ini agenda istimewa, karena biasanya acara klub dongeng tidak pakai lomba berhadiah. Kalaupun ada lomba, semua anak akan mendapat hadiah yang sama. Tapi kali ini berbeda, rupanya karena event kali ini disponsori oleh Kanwil Dirjen Pajak Jakarta Barat, ada hadiah yang dilombakan, juara satu mendapat sepeda, juara dua mendapat kamera, dan juara tiga mendapat satu kotak Lego seri Harry Potter. Reza yang suka sekali main lego sejak awal sudah berisik saja, dia ingin sekali menjadi juara ketiga supaya mendapat lego tersebut.

Ketika acara dimulai, anak-anak berbaris dalam dua kelompok, Lukman mulai was-was karena melihat ruangan museum yang temaram. Bahkan ruangan pertama cukup gelap, karena menunjukkan jaman penjajahan negara kita. Namun karena saya terus dampingi disebelahnya, akhirnya Lukman berhenti bilang “Aku takut…”. Bahkan ketika masuk ruangan yang ada gambar kapal-kapal dagang, peta nusantara jaman dulu dan juga miniature kapal jaman penjajahan Lukman jadi tertarik, dan mulai memperhatikan apa-apa yang dipamerkan diruangan tersebut. Ia coba memainkan touch screen, memutar-mutar globe, dan senang melihat seragam tentara Belanda yang displaynya justru di lantai.

17s 18s

Memang cara museum BI memamerkan benda-benda bersejarah itu sangat menarik, lebih interaktif dan tidak hanya diletakkan didalam lemari, atau rak seperti museum-museum pada umumnya, namun dengan berbagai display tiga dimensi membuat pengunjung menikmati ‘pertunjukan’ benda-benda bersejarah tersebut. Contohnya display seragam tentara jaman penjajahan tersebut, bukan diletakan dilemari, tapi di kotak kaca di lantai, sehingga kita bisa memperhatikan detailnya dengan seksama.

20s 21s 26s

Selesai jaman penjajahan, kemudian kita masuk ke jaman kemerdekaan. Saya tidak akan bahas detail apa yang dipamerkan, karena yang paling menarik untuk saya adalah bagian display saat krisis moneter. Ada bagian dimana diletakkan sepuluh layar yang menayangkan film dokumenter saat kerusuhan diwaktu itu. Filmnya sendiri sangat menarik, apalagi ditayangkan dengan layar banyak seperti itu, wah betul-betul pertunjukan yang mempesona.

Keluar dari bagian kris-mon tersebut, kamipun masuk kedalam ruangan Numismatik. Lagi-lagi displaynya sangat mempesona. Ruangan dibuat gelap, sehingga perhatian kita sangat terfokus pada  uang kertas mauapun koin yang dipamerkan. Lagi-lagi tidak hanya dipamerkan di dinding atau lemari kaca, ada display yang berbentuk lemari dengan banyak handle, dimana saat kita tarik handlenya, keluarlah lempengan kaca yang menjepit uang kertas dan logam yang dipamerkan. Dengan pengaturan lighting dan penempatan yang artistik, lemari sejenis ini sangat menarik perhatian pengunjung.

28s 31s 33s

Oh iya, sebelum masuk ke ruangan Numismatik yang gelap itu, kami melewati display batangan logam mulia yang dulunya memang disimpan di gedung museum tersebut. Tapi kemudian logam mulia tersebut dipindahkan, dan yang dipamerkan adalah tiruannya. Walau cuma tiruan, tumpukan itu kelihatan mempesona sekali hehehe… Bahkan anak-anak tidak melewatkan kesempatan untuk mencoba mengangkat salah satu batang emas (memang ada khusus disediakan untuk dipegang) dan Lukman bilang “Waw berat sekali, seratus kilo!” hehehe…

Selesai berkeliling kami masuk ke ruangan khusus untuk menonton film. Sebelum mulai anak-anak diajak bicara oleh staff museum yang sangat pandai menarik hati mereka, bahkan beliau sempat juga mengajak anak-anak gerak badan sebelum duduk tenang menonton film, dan akhirnya selesai pembukaan tersebut filmpun diputar. Topik filmnya adalah sejarah berdirinya Bank Indonesia, namun karena ditampilkan dengan film kartun yang menarik, anak-anak betah menonton. Bahkan Lukman bisa duduk tenang dan cukup menangkap isi film. Selesai pemutaran film, bapak staff museum memberikan quiz, melontarkan pertanyaan yang berkaitan dengan film tersebut. Reza mendapat kesempatan menjawab pertanyaan kedua, ia menjawab dengan benar bahkan lebih dari yang ditanyakan. Yang menjawab dengan benar diberi hadiah sebuah mug museum. Reza senang sekali, sampai keluar dari ruangan film itu masih senyum lebar.

40s

Kembali ke ruangan pertama, paman Gery dan bubu Mini sudah menunggu dan melanjutkan acara dengan dongeng. Beberapa peserta dipanggil untuk ikut berperan sebagai tokoh dongeng, dan selesai ceritanya pun dilontarkan pertanyaan, dan yang menjawab benar mendapat hadiah-hadiah yang menarik. Karena sudah cukup lelah dan lapar, Reza dan Lukman tidak ikut menjawab pertanyaan, tapi malah makan snack yang dibawa dari rumah. Setelah itu, acara lomba menggambar sesuai tema: pajak. Reza dengan semangat menggambar, lego Harry Potter jadi targetnya hehe. Unik juga cara Reza menggambar, dan dengan teliti ia warnai kertas tersebut sampai harus saya ingatkan waktunya sudah hampir selesai. Tak lama lombapun berakhir, nasi kotak untuk makan siang pun dibagikan, suasana jadi tenang, semua peserta: anak-anak dan orangtua makan.

Saat makan siang, bapak Kanwil Dirjen Pajak Jakarta Barat pun hadir. Rupanya beliau ingin melihat juga kegiatan tersebut, dan berkenan membagikan hadiah untuk para pemenang. Dengan hadirnya beliau, dimulailah pembacaan nama pemenang. Dimulai dengan pemenang ketiga… kejutaaan… nama Reza dipanggil sebagai pemenang ketiga! Wah tercapai juga keinginannya mendapatkan lego Harry Potter tersebut. Muka Reza tampak sumringah, tersenyum terus. Lanjut dengan pemenang kedua lalu pemenang pertama, mereka lalu diberi hadiah oleh bapak Kanwil dan foto bersama.

41s 43s page3es

Selesai pembagian hadiah, acarapun selesai. Tapi kami tidak langsung pulang, bahkan kembali kedalam museum untuk kembali berfoto-foto karena saat bersama rombongan belum ada kesempatan untuk itu. Untuk kedua kalinya didalam ruangan museum tersebut, Lukman sudah tidak takut lagi masuk ruangan-ruangannya. Hmmm minggu depan, saat sekolahnya berkunjung ke museum, Lukman pasti tidak kawatir lagi dan akan bisa menikmati outing bersama teman-teman sekolahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s