Public Holiday and The Lord Of The Rings

Anak-anak hari ini masih libur dalam rangka Tahun Baru Hijriah, dan…. mamanya bingung mencari kegiatan untuk mereka diluar rumah. Walau kemarinnya Papanya juga libur, kami tidak sempat mengajak mereka pergi, karena banyak acara dan keperluan yang harus dikerjakan Papa Mamanya. Seharian dirumah saja kemarinnya, saat hari ini ditanya mau pergi kemana, Reza bingung. Diajak ke museum, lagi nggak kepingin, katanya. Tapi lalu Reza minta ke toko buku saja, tidak pernah bosan pergi ke tempat yang satu itu rupanya. Begitu juga Lukman, saat ditanya mau kemana hari ini ia langsung sebut mall dekat rumah dan bilang mau beli mainan. Saya ingatkan bahwa Lukman baru saja beli pistol-pistolan (lagi!) dan hari ini tidak beli mainan dulu hanya boleh beli buku.

Sepakat mau nge-mall, Mamanya ajak Ayang dan uda Ivan yang juga masih belum ada rencana pergi hari ini. The more the merrier! Sampai di mall, langsung kami ke toko buku walau ada yang bilang “Ke Toys City saja…” hahaha, teteup usaha deh Lukman😀

Sampai di toko buku, melihat jejeran novel Lord Of The Ring dibagian depan toko membuat mata Reza langsung berbinar-binar. Kelihatannya ia tertarik, walau buku-buku itu tanpa gambar didalamnya dan jumlah halamannya sangat tebal, sekitar 400an halaman! Reza pegang buku-buku itu, membaca judul-judulnya, melihat covernya dan bilang: “Yang buku ini ada tokoh namanya Uruk-Hai diceritanya” *tuing-tuing* mamanya langsung dapat ide brilian, menangkap kesempatan utk menarik Reza mau membaca buku yg betul-betul hanya teks isinya.

Dari kecil Reza sukanya baca buku-buku yang scientific, tentang hewan, dinosaurus, global warming dan yang masih ditekuninya: tentang sejarah. Reza juga suka browsing, terutama wikipedia. Saya baru sadar kalau dia kurang membaca karya sastra saat melihat hasil karangannya: isinya detil dan penuh dengan fakta-fakta saja, kurang ‘bercerita’. Lalu saya mulai berusaha kenalkan Reza dengan buku tanpa gambar yang seri Enyd Blyton. Jaman dulu saya penggemar dan koleksi buku-buku serial tersebut. Tapi sayangnya Reza kurang tertarik, hanya baca sebentar lalu ditinggal. Makanya saya senang banget sekarang Reza sudah mulai mau baca novel Lord of The Rings ini.

Setelah melihat harga buku (teteup…) Mamanya menawarkan: “Kalau memang akan dibaca beneran, boleh diambil satu” Reza langsung senyum lebaar😀 dan ambil satu buku yang berjudul The Two Towers. Kalau Lukman puas dengan memilih Wizard of Oz (karena ada singanya hehehe).

Selesai beli buku, kami sudah cukup lapar dan mencari tempat makan. Sedang melihat-lihat, mendadak saya melihat dua anak sedang bermain, dan surprise melihat salah satu teman sekelas Lukman. Saya panggil namanya, dan Lukman juga ikut berseru “Ale! Kamu kesini juga ya” teman Lukman itu kelihatan senang dan teriak pada ayahnya yang sedang menuruni eskalator “Sebentar, ada temanku Lukman disini” tapi karena kami juga akan turun, akhirnya sama-sama lah kami turun eskalator. Lucunya saat lagi turun itu, Ale nyeletuk: “Makasih ya kemarin sudah diajarin” bikin hati saya berbunga-bunga. Rupanya ia teringat ketika saya menunjukkan cara membuat keranjang permen hari Rabu yang lalu dikelas Lukman (baca cerita: Dua…).

Sampai di basement, setelah menyapa dan berpisah dengan ayah dan ibunya Ale, kami pun makan siang lalu berbelanja sebentar karena ada yang perlu dibeli di supermarket. Lagi saya menunggu di kasir supermarket tsb, Lukman yang tidak betah menunggu lari-lari di depan swalayan tersebut. Kawatir Lukman ‘menghilang’ saya minta Reza mengawasi adiknya. Belum lama mereka menghilang dari pandangan mata, keduanya kembali lagi, Lukman menangis tersedu-sedu. Reza laporkan adeknya itu menubruk pilar beton karena berlari sambil menunduk (menirukan banteng) dan terkena bagian tajam dari pilar persegi tersebut. Saya langsung peluk dan periksa kepalanya Lukman, di bekas tempat kepalanya terbentu ada luka terbuka, dan mulai bengkak. Akhirnya saya langsung masuk toko obat, berniat beli obat luka. Oleh SPG toko tersebut saya disarankan beli obat luka yang pemakaiannya disemprot, supaya obatnya langsung kena kulit kepala.

Lukman saya minta duduk, dan obat itu langsung saya pakaikan di kepalanya. Sementara itu tangis Lukman sudah berhenti walau dia terus memeluk saya erat-erat. Sempat Lukman menolak di obati, namun karena ditegasi, akhirnya ia duduk lagi. Saya semprotkan obat yang berbentuk foam itu, berasa dingin di jari saya yang terkena juga. Lukman langsung menangis lagi, sambil bilang “Kepalakuuuu… huuu huuu… kepalaku dingin…. Huuuuu kepalaku dingin sekali, Mama..” dengan muka yang sediiih sekali dan bercucuran air mata.

Jangankan ikut sedih, saya jadi geli sekali mendengar keluhannya “Kepalaku dingin…” tapi masih bisa menahan ketawa. Sementara Ayang, Reza dan Ivan sudah ketawa-ketawa dari jauh… What a day!😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s