Maternal Instinct

Ketika baru hamil, dan akan menjadi ibu untuk pertama kalinya, saya baru sadar betapa banyak hal yang saya tidak tahu mengenai kehamilan, persalinan dan pengasuhan anak. Maklumlah ketika itu saya masih bekerja, lebih banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan masalah kantor, dan kurang bergaul dengan teman atau saudara yang sudah menjadi orangtua. Dipikir-pikir, ketika tumbuh dewasa pun saya kurang memperhatikan anak-anak. Bisa dibilang saya alergi pada anak kecil hahaha… Kalau ada pertemuan keluarga, ada kumpul-kumpul dengan teman, saya tidak memperhatikan para bocah-bocah itu, bahkan sebel kalau mereka teriak-teriak atau menangis, dan tidak mengerti kenapa sih teman-teman perempuan saya suka gemas kalau melihat bayi atau bocah yang lucu.

Karena itu masalah anak dan pengasuhan jadi topik yang asing untuk saya. Dan itu saya sadari ketika hamil, diluar pengetahuan dari buku-buku yang saya baca, saya cuma punya pengalaman nyata soal pengasuhan anak dari pengamatan pada keponakan saya, Ivan. Itupun hanya kalau bertemu saat diakhir pekan. Kakak saya ketika itu tidak bekerja, menangani anak sepenuhnya tanpa babysitter, dan yang saya lihat cuma repot dan capeknya mengurus anak yang masih balita. Yang terpikir oleh saya, kalau saya punya anak nanti akan seperti itu jugakah repotnya nanti?

Syukurlah saya bertemu dan berjodoh dengan Papanya -suami tercinta- saya beruntung karena Papanya lebih berpengalaman dengan pengasuhan anak. Keponakannya yang sudah lima orang, dan tiga diantaranya tumbuh besar dirumah neneknya dengan dibantu jaga oleh para om-om yang masih single, ternyata membuat Papanya lebih siap mental punya anak, lebih siap menjadi orangtua yang baik ketimbang saya hehe.

Saat hamil pertama, rasanya ego saya masih setinggi langit. Walau tidak sampai ngidam yang aneh-aneh, rasanya saya sangat minta perhatian pada Papanya. Kurang-kurang diperhatikan sedikit, wah bisa ngambek sehari penuh, diam tidak mau bicara. Apalagi ketika itu kami berdua masih periode penyesuaian, yang biasanya hidup sendiri, apa-apa memutuskan sendiri, sekarang sudah harus memikirkan segala sesuatunya berdua. Untunglah itu tadi, Papanya lebih siap mental dan cukup sabar menghadapi up’ n down-nya si ibu hamil ini. Tidak hanya support mental, Papanya juga suami siaga yang baik. Selalu antar ke dokter spesialis kandungan untuk kontrol, ikut menemani saat pergi berbelanja keperluan bayi, pokoknya mendampingi terus sampai saat melahirkan.

O iya, Papanya ikut masuk kedalam ruang bersalin, ikut merasakan sakit karena setiap kontraksi tangannya saya genggam sampai kuku saya nancep ditangannya! Karena tahu saya sangat kawatir menghadapi proses persalinan, Papanya hanya tinggalkan ruang bersalin ketika ibu saya ada untuk gantian menemani. Itupun hanya untuk makan dan shalat saja. Proses melahirkan Reza memang cukup lama, sekitar 12 jam. Kalau diingat-ingat, saking sudah tidak bertenaganya saya diakhir 12 jam itu, ketika kontraksi datang perut saya didorong seperti metro mini mogok oleh 3 orang suster. Karena posisi kepala Reza yang tidak menunduk ketika dijalan lahir menyebabkan ia harus di vacuum disaat akhir sebelum lahir. Dengan di vacuum artinya jahitan cukup banyak, dan ini juga menambah ketidak nyamanan sesudah melahirkan.

Belajar menyusui, belajar mengurus bayi kecil, mulai berhubungan dengan babysitter, bangun malam karena baby Reza menangis, ditambah nyeri akibat jahitan, semua membuat saya kurang fokus pada Reza. Tidak sampai depresi atau baby blues sih, tapi saat itu cuma letih yang terasa mendominasi. Egopun masih tinggi, saat Papanya pulang kantor dan yang ditanyai pertama Reza, saya sebel sekali, kok nggak nanyain saya yang juga masih merasa sakit? Pokoknya tetap merasa kurang diperhatikan.

Saya lupa berapa lama, namun semakin lama rasa letih dan sakit itu berangsur berkurang, dan Reza tumbuh semakin lucu dan menjadi smiling baby, saya mulai… jatuh cinta. Iya, dari buku-buku dan berbagai sumber yang saya bacapun saya jadi tahu, maternal instrinct itu tidak serta merta muncul begitu kita hamil, atau begitu bayi lahir. Perlu waktu juga sebelum kita betul-betul timbul rasa sayang pada anak. Ya memang tidak semua ibu seperti itu sih, kembali lagi kepada kesiapan mental dan proses yang dialami sampai sang buah hati muncul didunia ini. Untuk saya rasa itu timbul beberapa waktu setelah melahirkan.

Tanpa terasa, sudah habis masa cuti melahirkan, dan saya harus kembali bekerja. Waduuh berat sekali rasanya untuk kembali ke kantor. Apalagi saya masih belajar menangani hubungan dengan para baby sitter. Iya, ada beberapa baby sitter yang silih ganti menangani Reza, diganti karena saya tidak cocok dengan yang sebelumnya. Ketika saya melahirkan sudah dekat saat Idul Fitri dan sulit mencari babysitter yang cocok di masa itu. Problem babysitter ini juga jadi satu hal baru yang perlu saya pelajari, dan setelah beberapa kali kecewa, akhirnya saya bisa juga mendapat yang cukup bisa dipercaya. Walaupun begitu, saat Reza sakit dan saya harus tetap ke kantor, rasanya tidak tega untuk meninggalkannya dan menyerahkan pada orang lain untuk menangani Reza. Namun dengan segala kekurangan saya sebagai ibu, dengan segala permasalahan dengan pengasuhnya, Alhamdulillah Reza tumbuh jadi anak yang gembira, cerdas, pemberani, bawel, lucu, dan ada saja yang diperbuatnya yang menyenangkan hati PapaMamanya. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya, bahkan dalam kondisi sakitpun, ia tebar pesona dirumah sakit, membuat para suster gemas kepadanya.

Ketika Reza sudah berusia dua tahun, seperti biasa kalau kami pergi kemana-mana pertanyaan “Kapan kasih adiknya?” pun timbul dan semakin sering kami dengar. Walau cukup ragu, sempat mundur maju untuk hamil lagi dengan berbagai alasan, sampai ketika Reza sudah hampir 3 tahun sayapun hamil lagi. Hamil yang memang sudah direncanakan baik-baik. Kamar tidur sudah diperbesar, babysitter sudah disiapkan, dan ketika hamil Lukman, saya jauh lebih kalem. Ya sudah bertambah umur, tambah pengalaman, tentunya ada perubahan pada kehamilan ini. Sampai-sampai Papanya berkata: “Anak perempuan kali ya” dengan muka penuh harap hahaha.. maklumlah, dari ber-enam bersaudara dengan satu saudara perempuan membuat Papanya kepingin punya anak perempuan juga. Namun ia tidak kecewa ketika setelah USG di bulan kelima dokter spesialis kandungan katakan “Tuuu burungnya…”. Saya sendiri betul-betul tidak berharap perempuan atau laki-laki, yang penting sang bayi sehat, itu saja.

Yang paling berbeda pada kehamilan ini, saya sudah cinta anak-anak. Karena mengasuh Reza, saya jadi suka mengamati anak-anak lain. Sudah bisa merasakan ikut gemas melihat bayi atau anak  yang lucu. Senang mengajak bicara anak-anak, apalagi yang bawel seperti Reza. Hilang sudah, sifat alergi anak-anak dimasa single dulu, malah bisa dibilang saya jadi pemerhati anak, kemanapun saya pergi pasti jadi perhatikan anak-anak balita, memperhatikan pengasuhnya, ikut sebal lihat ibu yang cuek saja pada anaknya, atau babysitter yang kasar pada anak asuhnya.

Ketika Lukman lahir, saya sudah lebih siap mental, sudah tidak terlalu kawatir seperti persalinan pertama. Saya tunggu sampai benar-benar sakit, dan akhirnya baru membangunkan Papanya untuk pergi kerumah sakit, berdua saja. Tidak rame-rame dengan anggota keluarga lain seperti saat lahirnya Reza. Proses kelahiran Lukman tidak lama, tidak sampai 2 jam setelah kami sampai dirumah sakit, Lukman keluar, lahir normal dengan tangisan yang kencang!

Lukman tumbuh dengan fisik yang prima, semua milestone dilewati pada waktu yang seharusnya, berguling, merangkak, berjalan. Hanya bedanya Lukman lebih kalem dari Reza, jarang menangis, juga jarang tertawa. Kalau senang, Lukman akan senyum lebaaar sekali, tanpa suara. Ketika itu saya senang, saya pikir karena saya juga kalem semasa hamilnya, otomatis Lukman jadi anak yang lebih kalem daripada kakaknya. Saya tidak tahu, diam dan kalemnya Lukman itu lebih cocok dikatakan pasif, salah satu tanda dari gejala autistik pada bayi. Bagaimana kemudian kami mulai melihat keistimewaan Lukman, dan bagaimana proses yang kami jalani sebelum Lukman di diagnosa autis, ada ceritanya khusus pada halaman Lukman’s Story. Dan mulailah bab baru dalam cerita pengasuhan anak-anak kami.

Cerita diatas saya tulis tanpa sengaja. Awalnya saya ingin menulis tentang parent support group, bagaimana saya mendapat informasi baik tentang tumbuh kembang anak ‘normal’ maupun informasi khusus tentang autisme. Banyak sekali ibu muda kenalan baru saya dari blog ini yang kebingungan mencari informasi bagaimana pengasuhan yang baik untuk anaknya. Tentu saja sudah banyak ahli, baik itu dokter, psikolog, klinik tumbuh kembang yang sekarang bermunculan dan dapat kita mintai saran profesionalnya. Namun diluar itu baik sekali apabila kita bergaul dengan komunitas orangtua. Entah itu komunitas orangtua balita, komunitas orangtua dengan anak berkebutuhan khusus, banyak sekali yang bisa diikuti tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Tidak harus bertemu muka, lewat dunia mayapun sudah banyak group yang bisa kita ikuti. Ketika saya flashback untuk topik parent support group itu, yang keluar dari memori saya malahan cerita diatas, yang saya pikir juga menarik untuk diungkapkan.

Intinya bagi saya menjadi seorang ibu itu bukanlah hal yang instan. Ada proses yang dilalui, dalam waktu yang tidak sebentar. Tidak setiap perempuan sudah punya naluri keibuan dan kemampuan mengasuh anak yang baik sejak dari ‘sananya’. Namun jika kita berniat dan berusaha semaksimal mungkin, belajar dari siapa saja dan media apa saja, insya Allah kita setidaknya punya modal yang cukup untuk menjadi orangtua yang baik. Semoga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s