Datang Tidak Ya?

Sebagai orangtua dengan anak berkebutuhan khusus kami sudah cukup sering menghadapi situasi dimana kami harus pertimbangkan dengan matang apakah akan datang ke sebuah acara atau tidak, mengingat ada resiko Lukman akan merasa tidak nyaman bila suasana berubah. Banyak faktor yang bisa menyebabkan Lukman tidak nyaman, bisa karena jumlah orang yang datang ramai, bisa juga karena suara keras sound system, bahkan penerangan ruangan yang temarampun bisa membuatnya tidak betah dan memancing keluar moody-nya Lukman.

Seperti dua buah gaya yang saling tarik menarik, kami bisa putuskan mengambil resiko dan datang ke acara tersebut, atau play it safe dengan tidak datang sehingga kami bisa santai saja dirumah, acara tersebut pun berjalan tanpa gangguan. Tapi dengan tidak datang Lukman tidak mendapatkan pengalaman apa-apa karena tidak dipaparkan pada kondisi berbeda dari sehari-harinya, bahkan mungkin juga Lukman kehilangan kesempatan untuk menikmati suasana yang menyenangkan. Karenanya kami kerap mengambil resiko dan datang juga ke acara-acara tersebut, karena Lukman tetap harus diperkenalkan kepada berbagai suasana sosial agar ia terbiasa dan dapat belajar untuk lebih mampu mengatasi ketidak nyamanannya itu. Kadang kami bisa dibilang sukses, artinya Lukman bisa mengatasi ketidak nyamanannya, atau bahkan bisa menikmati acara tersebut. Tapi kadang juga kami harus pulang lebih awal karena Lukman tidak merasa nyaman, keluar moody-nya dan kami tidak mau paksakan berada di acara tersebut lebih lama lagi.

Itu pula yang kami pertimbangkan ketika hendak memutuskan akan datang ke family gathering sekolah Lukman dibulan ramadhan kemarin. Dari tahun ke tahun acara berbuka puasa bersama ini memang selalu seru, banyak ortu murid yang datang dan kami sekeluarga tidak pernah absen. Namun karena kondisi Lukman sedang turun, kami jadi sangat ragu untuk hadir dan cenderung memilih tidak datang demi kenyamanan bersama.

Seminggu sebelum acara family gathering tersebut ada acara pesantren kilat disekolah Lukman, dan ini kedua kalinya Lukman ikuti acara tersebut. Karena sudah pernah ikut sebelumnya, lalu ketika mencoba baju koko (lungsuran kakaknya hehe) untuk dipakai di acara tsb Lukman juga ok saja, saya tidak terlalu persiapkan Lukman untuk ikuti acara tsb. Hanya terapisnya saja yang memberikan social story pada Lukman sehari sebelum acara. Namun rupanya karena social story itu Lukman jadi tahu kalau ia tidak akan bersama kak Samsul, guru kelasnya, seperti kelas biasa. Tapi ia akan ikuti beberapa kegiatan dengan guru lain, dan rupanya itu tidak menyenangkan untuknya.

Ketika diganti bajunya sebelum berangkat kesekolah, Lukman sudah kelihatan ragu dan tanya ke saya “Mama ikut?” saya masih tanggapi biasa saja, dan bilang “Nggak, Mama nggak ikut, nanti Mama jemput Lukman saja ya”. Namun ketika diantar dan sampai disekolah, Lukman tumben nggak mau berpisah dan menangis ketika akan saya tinggal. Karena sudah biasa menghadapi Lukman seperti itu, saya tega-kan saja meninggalkan Lukman yang sudah didampingi salah satu guru.

Rupanya sepanjang acara pesantren kilat Lukman jadi moody, nyaris tak ada kegiatan yang mau diikutinya karena ia minta bersama kak Samsul, yang ketika itu tidak mungkin mendampinginya. Ketika teman-temannya memanggil Lukman agar ikutan kegiatan, Lukman semakin bete. Akibatnya salah satu temannya dicakar. Melihat itu Lukman dipisahkan oleh guru dari teman-temannya, ditenangkan dahulu di kelas sensori. Sukurnya Lukman cukup cepat membaik moodnya, dan akhirnya bisa tetap ikuti kegiatan wudlu, shalat magrib dan makan berbuka puasa bersama. Saat saya jemputpun Lukman kelihatan senang, saya tanyai dimobil Lukman bilang “Aku senang, Mama” jadi saya tidak tahu kalau disekolah Lukman sempat turun moodnya seperti itu.

Saat diberitahu Ibu Endah kepala sekolah Lukman kondisi saat pesantren kilat itu saya prihatin sekali, dan mengingat antara acara tersebut dengan acara family gathering hanya seminggu jaraknya, saya ragu sekali dan rasanya lebih baik memilih tidak hadir saja diacara tersebut. Apalagi ketika pada terapi berikutnya Lukman katakan ia tidak mau ikuti kegiatan-kegiatan di acara family gathering, makin kuat keinginan untuk tidak hadir itu. Ketika diskusi dengan Papanya, kami sepakat kalau Lukman memang tidak mau hadir kami tidak memaksakan untuk datang.

Saat menyampaikan kemungkinan kami tidak akan hadir, baik Ibu Endah maupun mbak Indah terapisnya menyarankan agar melihat dulu kondisi menjelang acara, bahkan mencari cara agar Lukman mau tertarik datang. Ibu Endah sampai menambahkan apel merah kesukaan Lukman pada menu makanan, (baca Apel Merah di Family Gathering http://mamanyajuga.wordpress.com/2012/08/26/apel-merah/ ) dan mbak Indah memberikan tambahan waktu terapi untuk menyiapkan Lukman dengan social story acara ini.

Akhirnya dengan berbagai dukungan tersebut Lukman berubah pikiran, ketika kami tanya malam sebelum acara apakah Lukman mau datang ke family gathering Lukman menjawab “Mau” sambil tersenyum, lalu menambahkan “Mama nanti makan apel merah ya”🙂

kompak berbaju merah sesuai dress code😉

One thought on “Datang Tidak Ya?

  1. saya selalu membaca semua cerita Reza dan Lukman dengan air mata nongol (sedikit kok…). walaupun anak saya Fay tidak autis, tapi sungguh perlu kesabaran untuk membuatnya melakukan kebiasaan sehari-hari. semangat buuuuu…^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s