Our First Family Camping

Ini bukan cerita berkemah-nya Reza atau Lukman tapi kami sekeluarga yang pergi berkemah, seru kan? Dimulai ketika tahun lalu kami berkenalan dengan Kampoeng Maen Cibubur (baca Fun Time @ Kampoeng Maen) Saat sampai di lokasi, bukan hanya area outbound dan berbagai permainan saja yang menarik perhatian kami, tapi juga camping ground-nya yang bersih dan rapih, menggunakan tenda-tenda yang bagus, lengkap dengan persiapan barbeque dan api unggunnya. Kami sempat mengamati tenda sementara Reza dan Lukman tidur-tiduran di hammock-nya. Rasanya bakalan asik banget kalau kami berkemah disitu. Namun karena baik Reza maupun Lukman belum punya pengalaman berkemah sebelumnya, kami simpan dulu ide berkemah itu untuk waktu yang akan datang.

Terus terang saya sendiri bukan tipe yang hobi berkemah. Seumur hidup saya cuma ikut berkemah ketika penutupan masa orientasi pendidikan di universitas. Dan yang satu kali itupun saya tidak menikmatinya hahaha… Namun menimbang berbagai manfaat yang didapat jika kami berkemah sekeluarga, ide berkemah itu jadi menarik untuk saya dan cukup siap untuk menghadapi kondisi yang tidak senyaman didalam kamar hotel🙂

Bulan Maret yang lalu Lukman berkesempatan ikut berkemah disekolahnya (baca Lukman Berkemah), dan sepertinya ia sudah cukup bisa menyesuaikan dengan suasana kemah, api unggun, dan tidur didalam tenda – diluar rumah. Walau sedikit takut ketika api unggun dinyalakan, untuk kegiatan lain Lukman cukup bisa mengikuti dan menikmati. Kakak Reza jadi lumayan jealous ketika kami mengantar Lukman berkemah dihalaman sekolah tersebut. Ya walaupun dihalaman sekolah, tapi melihat persiapannya bikin Reza kepingin juga kelihatannya. Sebetulnya sekolah Reza juga adakan kegiatan berkemah setiap tahunnya, namun karena berbagai faktor menyebabkan Reza belum pernah kami ijinkan berkemah walaupun ia ingin ikut. Karena itu saya jadi teringat lagi dengan perkemahan Kampoeng Maen, dan diskusikan sama Papanya untuk bikin rencana berkemah. Papanya setuju saja dan kami putuskan akan berkemah liburan semester ini.

Menjelang liburan Kampoeng Maen sudah mengeluarkan brosur informasi tentang akan diadakannya Kampoeng Maen Fair dan Family Camp seperti tahun lalu. Kami langsung daftar untuk ikutan diawal Juli, yang merupakan akhir dari masa Family Camp tersebut. Beruntung kami sudah mendaftar seminggu sebelumnya, karena beberapa saudara dan teman yang mendaftar beberapa hari sebelum weekend sudah tidak bisa ikutan karena sudah fully booked!

Hari Sabtu pagi semua bekal dan peralatan berkemah sudah lengkap. Setelah makan siang kami berangkat menuju Kampoeng Maen. Tidak sampai satu jam kami sudah tiba di lokasi. Terlihat tenda dan peralatan berkemah sudah siap menunggu walaupun waktu check in masih lama, jam 4 sore. Kami sengaja datang lebih awal, mengingat peserta pasti cukup banyak. Tapi ternyata tidak perlu kawatir, panitia sudah menyiapkan tenda-tenda, bahkan sudah dinamai oleh nama pemesannya, bahkan saat itupun kami sudah bisa masukkan barang-barang kedalam tenda walau masih belum jam 4. Tapi kami memilih untuk main dulu saja di Kampoeng Maen Fair, karena Reza dan Lukman sudah menarik-narik kami untuk bermain disana.

    

Setelah puas bermain, kami kembali ke camping ground, memindahkan barang-barang bawaan dari mobil ke tenda. Reza dan Lukman tidak lupa memakai topi cowboy yang sengaja dibawa dari rumah, karena lewat akun facebooknya panitia menyarankan kostum sesuai tema: Indian dan cowboy. Anak-anak heboh ketika kami registrasi ada salah satu panitia yang menggunakan Indian head dress. Lebih heboh lagi ketika head dress itu dipinjamkan, dan merekapun bergantian mencobanya.

 

Tanpa terasa malampun tiba, acara dimulai dengan pembukaan, lalu makan malam bersama. Makanan lengkap dengan porsi lebih dari cukup yang disediakan jadi tambah nikmat dengan suasana yang berbeda. Sekitar berkemah ground diterangi dengan lampu-lampu sorot besar, disediakan karpet-karpet besar dibeberapa lokasi selain beberapa bangku kayu panjang dan hammock yang jadi favorit anak-anak.

Selesai makan kami diajak berkumpul di lapangan sebelah camping ground, permainanpun dimulai dengan ice breaking games. Peserta dikejutkan dengan melompatnya sang kepala suku Indian kedalam lingkaran, berkostum lengkap dengan sorotan lampu senter yang digantung dilehernya! Hehehe. Lukman awalnya cukup terkejut dan menangis, namun ketika melihat semua peserta semangat ikuti permainan, lama-kelamaan Lukmanpun tertular, dan akhirnya ikut bermain juga.

 

Selesai permainan, kami kembali ke camping ground dan melihat tungku barbeque sudah disiapkan, begitu pula jagung dan sosis untuk dipanggang. Reza langsung berlari mengambil jagung (katanya “Karena jagung lebih sehat daripada sosis”. Good choice, Reza!) dan mulai memanggang. Yah namanya juga anak kota – tidak terbiasa dengan tungku – Reza berkali-kali menggosok-gosok matanya yang perih kena asap, dan berkeringat karena panasnya tungku. Ketika jagung pertama sudah masak, dia langsung lari ke saya dan bilang “Jagung pertama untuk Mama” oooow sooo sweet… Lalu ia mulai memanggang lagi, kepanasan dan gosok-gosok mata lagi hahaha. Sementara barbeque berjalan, ada sekelompok band yang mengalunkan lagu-lagu country, sang kepala suku mengajak anak-anak menari. Lukman yang tadinya main sama Papa rupanya masih sangat terkesan dengan sang kepala suku, sehingga mau diajak menari bersama! Melihat Lukman asik bermain, Papanya lalu tinggalkan dan mulai memanggang jagung juga🙂

 

Selesai barbeque,  dilanjutkan dengan acara menari-bernyanyi bebas, peserta bergantian menyumbangkan suara dengan berbagai jenis lagu: country, pop dan dangdut,  kemudian lanjut dengan menari poco-poco bersama. Dan kemeriahan itu ditutup dengan acara api unggun.

Para campers duduk melingkari api unggun yang dinyalakan, Reza terpesona dan duduk paling depan, sedangkan Lukman masih sedikit takut pada api unggun itu ngumpet dibelakang Mamanya hehe. Setelah api unggun berkobar, panitia menceritakan dongeng monyet dan bangau, cerita tentang persahabatan dan kesetiaan. Karena Lukman masih tidak nyaman, saya akhirnya tinggalkan arena api unggun membiarkan Reza yang masih asik mendengar dongeng, dan samperin Papanya yang masih asik memanggang jagung dekat tenda kami. Selesai makan jagung (lagi) yang manis itu, kamipun siap-siap tidur. Lukman sudah pules duluan, walau sempat bilang “Kakak Reza belum datang, Mama” katanya. Saya jawab “Nggak apa-apa, kakak nggak jauh dan tahu jalan kembali ke tenda kok”. Ketika hampir jam 12, Reza sudah kembali, tapi katanya “Masih belum mengantuk, Mama” hahaha ya iyalah, dia terlalu excited untuk bisa memejamkan mata. Karena Reza mau pipis, akhirnya kami keluar tenda lagi berjalan ke toilet, yang baru saya sadari cukup jauh dari tenda dan suasananya gelap. Hiiii….

Entah kenapa setelah semua terlelap, jam 2 malam saya terbangun, mendengar suara-suara hutan dimalam hari, dan… yaaaaah kok kebelet pipis lagi ya, hahaha… Akhirnya bergantian dengan Papanya ke toilet, sendiri-sendiri karena saya tidak mau tinggalkan anak-anak tanpa pengawasan. Berjalan sendiri dijalan yang gelap – walau sudah memakai senter – saya berasa sedang jurit malam, dan sepanjang jalan terbayang gimana kalau mendadak ada yang menyentuh punggung saya? Akhirnya setelah selesai urusan di toilet saya kembali ke tenda setengah berlari. Hahaha…

Jam 5 pagi Lukman sudah bangun, sudah puas tidur rupanya. Tidak lama Reza juga terbangun, rupanya walaupun telat tidurnya tapi ia nggak mau kehilangan suasana pagi di camping ground. Beberapa bocah saya lihat sudah main diluar tenda. Acara pagi itu seharusnya trekking ke danau di area Cibubur tersebut, tapi saya sudah menyerah sebelum mulai, rasa cape bermain seharian kemarin membuat energi terkuras, dan tidak kuat berjalan jauh pagi itu. Akhirnya memanfaatkan camping ground yang sepi ditinggal campers, kami bisa mandi dan jalan santai menghirup udara segar seputar Kampoeng Maen. Sepulang para campers dari jalan paginya, kami pun sarapan nasigoreng komplit yang sudah disiapkan panitia. Reza makan dengan lahap, sudah siap-siap kepingin naik andong lagi, sementara Lukman masih tidak mau bangun dari hammocknya🙂

    

Pagi itu kami bermain lagi di Kampoeng Maen fair, Reza minta flying fox lagi, tak hanya satu kali tapi meluncur dua kali, sementara Lukman maunya naik kuda saja. Lagi menunggu kuda, datanglah saudara Papanya sekeluarga: Ivo, Joel dan anak perempuan mereka Bita, yang mau main di Kampoeng Maen juga. Akhirnya Reza dan Lukman main lagi bersama Bita: naik kuda, face painting, membuat pin, kantung fantasi, dll. Kami juga bertemu rombongan keluarga teman-temannya Lukman, yang juga dari tahun lalu memang senang sekali main di Kampoeng Maen ini.

     

Tidak terasa sudah lewat waktunya check out – jam 11 siang. Kembali ke camping ground, kami lihat beberapa tenda yang sudah ditinggalkan mulai dibongkar. Selesai membereskan dan memasukkan barang-barang ke mobil, kamipun pulang kerumah. Lukman sempat menangis karena masih senang di Kampoeng Maen dan belum mau pulang, huu huuu huuuu…. cry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s