Sudah Libur?

Kali ini rasanya liburan datang lebih cepat. Apa karena semester ini berlalu begitu cepat, atau mungkin karena semangat liburan belum datang ya? Hehehe mungkin ya karena ada begitu banyak rencana yang harus kami dikerjakan bulan ini dan bulan yang akan datang, seperti salah satunya perbaikan rumah.

Sudah lama kami mencari kelompok tukang untuk perbaikan atap, ternyata tidak mudah ya. Pendek cerita, akhirnya kami baru dapatkan tukang bulan lalu, dan memutuskan pekerjaan dimulai akhir bulan ini. Walau lega akhirnya dapat tukang yang mudah-mudahan bekerja dengan baik, tapi yang terbayang: liburan, anak-anak dirumah seharian, tukang-tukang bekerja diatas, ketak-ketok, belum lagi ramenya anak-anak, waaaksss… Mau ditinggal keluar kota ya nggak mungkin, masa kami tidak mengawasi pekerjaan perbaikan tersebut?

Ya sudah, liburan ini berarti harus betah-betah dirumah, dan melirik tempat-tempat liburan yang dekat-dekat sajalah hehe…

Comic Café

Dihari Lukman terima rapor (kalau disekolahnya istilahnya Laporan Perkembangan) tadinya saya tidak rencana kemana-mana, hanya ingin menjenguk Omanya anak-anak yang sedang kurang sehat. Ternyata kami mendapat jadual terima rapor cukup pagi, sehingga sebelum jam makan siang sudah sampai lagi dirumah. Memanfaatkan waktu yang sedikit luang, akhirnya saya ajak Papanya dan anak-anak ke Comic café. Saya sendiri baru lihat infonya didunia maya, dan sepertinya tempatnya seru sekali. Karena tempatnya sejurusan dengan rumah Oma, pilihan ini cukup praktis untuk rencana jalan hari itu.

Sampai di Epicentrum Walk, mall tempat bernaungnya Comic café tersebut, anak-anak teriak gembira melihat trem yang melaju dipinggiran gedung. Wah seru juga ya naik kendaraan itu pastinya. Tapi karena perut sudah keroncongan kami terus ke café yang dituju. Tiba di Comic café, bukan hanya anak-anak yang senang, saya sendiri juga gembira melihat tempat itu begitu ceria. Tidak hanya dinding yang digambari tokoh pahlawan berbagai komik, namun juga langit-langitnya, meja makan, jendela sampai tidak ada lagi space yang kosong. Berbagai boneka dan mini action figure juga dipajang dilemari, digantung dilangit-langit dan dinding ruangan. Belum lagi menu-nya yang juga dibuat seperti komik. Pokoknya puas deh kami mencuci mata. Tidak hanya komik luar negeri, komik lokalpun mendapat tempat terhormat disini.

 

Soal rasa makanan ya lumayan lah, mungkin karena suasananya asik, selera juga terbawa positif. Pelayanannya cukup cepat, dan waitersnya ramah.

Selesai makan, kamipun mencari-cari tempat naik trem. Namun ternyata trem tersebut hanya jalan pada jam-jam tertentu, dan baru akan berjalan lagi disore hari. Akhirnya kami cuma menengok trem yang sedang di-charge (seperti hape ya hehe) dan diperbolehkan petugasnya naik untuk yaaaaa narsis sedikit lah😀

Rimba Baca

Tempat yang satu ini saya dapat infonya dari komunitas ibu-ibu dengan anak yang belum remaja. Tadinya saya hanya cari tempat kegiatan yang lokasinya dekat dari rumah, ternyata dapat tempat yang cukup langka yang ada di Jakarta: perpustakaan anak. Namanya Rimba Baca, lokasinya dekat dari rumah, dan dari foto-foto yang saya lihat wah homy sekali suasananya. Apalagi kebetulan hari ini mereka adakan kegiatan Clay Day. Makin semangat mau pergi kesana. Sukurlah anak-anak bangun cukup pagi, dan baik Reza maupun Lukman semangat saat diajak ke perpustakaan.

Tepat jam 10 kami sampai di Rimba Baca. Bangunan fisiknya terlihat masih baru, dan  begitu masuk langsung disambut ramah oleh petugasnya. Namun kami ternyata tidak dapat ikuti kegiatan Clay Day, karena sudah penuh yang mendaftar dari hari  sebelumnya. Tapi kami tidak kecewa, karena melihat jejeran buku yang menarik di lemari, kamipun langsung masuk keruang baca. Kesan pertama masuk ruangan ini: nyaman sekali. Karena dinding berjendela besar, otomatis sinar matahari leluasa masuk keruangan yang tak bertiang itu. Lantaipun dilapisi parquet, sehingga tidak dingin dan nyaman walau tanpa karpet. Disana sini ada boneka, sofa ukuran mini, dan juga beberapa rak tambahan berisi boneka puppet, dan puzzle. Koleksi bukunya sendiri ada 3 golongan: untuk anak umur 4-8 tahun, untuk anak umur 9-12 tahun, dan untuk para pendamping/orangtua juga ada di lantai dua.

Reza dan Lukman langsung mengambil buku-buku, gonta-ganti dengan asik. Koleksi bukunya sangat beragam dan semua buku dalam kondisi terawat baik. Buku-bukunya mayoritas berbahasa Inggris, namun yang berbahasa Indonesiapun banyak dan bagus-bagus, bukan hanya  yang sering saya jumpai di toko buku. Bahkan Reza mendapatkan sekelompok buku seri mitologi Yunani, waduh walau tempatnya di rak paling atas, ternyata Reza jeli sekali dan akhirnya bisa membaca sesudah minta tolong diambilkan petugasnya.

Sudah dua jam berada disana sudah sampai jam makan, belum ada tanda-tanda Reza maupun Lukman minta pulang atau merasa lapar. Saya tanya Lukman “Sudah selesai bacanya?” ia jawab “Belum, Sayangku” dan lari mengambil buku lain lagi. Saya tanya Reza “Memangnya belum berasa lapar ya? Kok Mama sudah lapar sih?” Ditanya begitu Reza baru sadar dan bilang “Yaa Reza sih udah agak lapar juga” Lalu saya tanya lagi “Mau makan apa?” secara langsung mengajak pergi, karena di Rimba Baca belum disediakan kantin atau tempat makan. Akhirnya Reza bilang “Kita ke Citos saja, makan disana”. Setelah itu kami pun meluncur ke Citos untuk makan siang.

Sepulang dari Citos, karena jalan TB Simatupang macet, kami putar balik, kejurusan Rimba Baca lagi. Lukman bertanya “Ke Perpustakaan, Sayang?” hahaha masa baru dari sana sudah mau mampir lagi. Saya jawab “Kapan-kapan kita kembali lagi kesana ya Sayang…”🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s