Kasih Sayang Pembantu

Maaf kalau saya memakai istilahnya ‘pembantu’ bukan ‘asisten rumah tangga’. Saya hanya memakai istilah dari bacaan yang saya dapat di gambar dibawah ini.

Sebetulnya gambar tersebut sudah lama beredar didunia maya, sudah beberapa tahun yang lalu saya pertama kali melihat gambar ini. Namun karena baru saja diposting lagi pada sebuah grup yang saya ikuti, jadi teringat lagi dan kepingin menulis tentang ini. Saya kutip beberapa opini yang diberikan setelah melihat gambar ini sebagai berikut:

Opini pertama:

Ada  hal yang menarik dari gambar ini.

Yang pertama, dan yang paling jelas, adalah pilihan anak bahwa gambar itu mewujudkan kasih sayang seorang pembantu dan bukan kasih sayang dari seorang Ibu. Ternyata bagi anak ini, kasih sayang lebih didapatkan dari pembantu atau babysitter, ketimbang dari Ibu. Mungkin Ibunya kerja, pulang larut malam dalam keadaan capek, dan oleh karena itu, anak lebih terbiasa main dan merasa bahagia dengan pembantu. Menyedihkan sekali, tetapi barangkali ini merupakan kenyataan bagi banyak anak di bangsa ini, terutama di kota besar seperti Jakarta.

Opini kedua:

Peringatan bagi Ibu ibu yang mengabaikan kasih sayang pada anaknya, yang semua di serahkan pada pembantu di rumah, mungkin memang inilah yang anak-anak kita lihat setiap hari , maka jawabannya seharusnya benar

Opini ketiga:

Mungkin karena gambar si ibu memakai kebaya dan konde jadi si anak mengidentikannya sebagai pembantu, coba gambarnya foto wanita karir yang sedang memeluk seorang anak mungkin jawabannya akan dipilih: B. Ibu … Maaf loh anak sekarang kan melihat secara visual bahwa ibu-ibu mereka tidak pakai kebaya dan konde

Opini keempat:

Saya pernah menemukan anak yg menjawab soal seperti ini. Anak mengkonotasikan gambar ibu diatas sesuai persepsi nya. Dalam pemahamannya gambar diatas adalah gambar seorang pembantu rmh tangga. Karena ibu yg biasa dilihatnya berbeda dari gambaran tersebut. Meskipun teman lainnya ada yg menjawab sebagai kasih seorang ibu itu dikarenakan pemahamannya yang sudah jauh lebih baik.Jika soal ini diberikan pada anak yang lebih besar mungkin saja tidak ada anak yang salah menjawab. Jadi semestinya, yang membuat soal juga lebih arif, mesti melihat dari pemahaman anak kelas 1 juga. Jika benar si anak kurang mendapat kasih sayang seorang ibu kita semua ikut prihatin tetapi perlu ditelaah lagi sebabnya. Kan ada juga yang dari kecil sudah yatim piatu atau ibunya bekerja di LN jadi diasuh oleh nenek atau saudaranya, jadi dalam kasus ini sebenarnya anak juga tidak salah.

Begitulah beberapa opini menarik yang saya kutip dari grup. Menurut anda, mana opini yang paling sesuai?

Kalau menurut saya, opini nomor tiga dan empat yang pas sekali. Seperti dituliskan: karena penampilan konde dan kebaya, yang notabene bukan pakaian yang biasa dipakai ibunya, tidak salah dong kalau si anak memilih jawaban A. Pembantu. Nah kenapa jawaban itu disalahkan oleh gurunya? Apa menurut guru jawabannya harus: B. Ibu? Kalau ya, kenapa ditampilkan dengan kebaya dan konde, sedangkan ibu-ibu jaman sekarang sudah jarang sekali pakai kebaya dan konde kecuali pada kesempatan-kesempatan tertentu. Hehehe aneh sekali ya…

Lalu kalau kita bahas opini pertama dan kedua, yang langsung berpendapat bahwa si anak lebih merasakan kasih sayang pembantu. Opini ini pasti disimpulkan dengan alasan anak yang diasuh oleh pembantu adalah anak yang tidak disayang ibunya. Betulkah begitu?

Tentu tidak.

Banyak ibu-ibu yang terpaksa bekerja karena tuntutan kebutuhan. Bisa saja ia seorang single parent, bisa saja ibu tersebut suaminya sedang tidak bekerja, ataupun berbagai alasan lain. Hal ini sudah umum terjadi dimasa sekarang, tanpa melihat latar belakang pendidikan atau sosial tertentu. Yang bekerja bukan hanya para sarjana yang merasa sayang kalau tidak mempraktekkan ilmu yang sudah dipelajarinya bertahun-tahun, tapi juga para ibu-ibu yang lulusan SD bahkan yang tidak sekolahpun bekerja karena tuntutan finansial.

Lalu apakah dengan ibu bekerja lalu si anak tidak dapat merasakan kasih sayang ibunya?

Jawaban saya lagi-lagi: tentu tidak.

Buat saya, yang juga pernah mengalami sebagai ibu bekerja, banyak cara untuk mengkompensasi kurangnya waktu yang kita dedikasikan pada sang anak. Apakah itu dengan langsung menghandle urusan anak begitu sampai rumah, atau betul-betul menghabiskan weekend untuk sang anak, banyak cara untuk tetap mendekatkan anak pada ibunya. Sementara dalam sehari-hari ketika ibu sedang bekerja, otomatis pengasuhan anak diwakilkan pada orang lain. Bisa saja pada saudara, maupun pada asisten: babysitter dan pembantu. Tapi kontrol pengasuhan anak tetap pada sang ibu. Saya selalu menyempatkan telepon kerumah untuk bicara dengan para asisten, atau untuk bicara dengan anak ketika anak sudah bisa berkomunikasi lewat telepon. Dengan demikian saya selalu tahu kondisi dirumah. Sewaktu-waktu ibu atau kakak saya sidak kerumah, sehingga kebenaran laporan sang asisten bisa di cek kebenarannya.

Memang tidak mudah, karena didalam hati saya selalu ingin mendampingi anak-anak sejak mereka lahir. Tapi ketika itu tidak mungkin meninggalkan kantor, karena justru kondisi perusahaan membutuhkan saya memperkuat team kerja saya, sehingga mau tidak mau selesai cuti melahirkan saya kembali bekerja.

Untuk anak pertama, kondisi dirumah baik-baik saja, walau berganti beberapa kali kami bisa mendapat asisten yang punya rasa sayang tulus pada anak sehingga Reza bisa tumbuh kembang dengan baik, apalagi ketika mulai bersekolah playgroup hingga TK kami mendapat sekolah dekat rumah yang komunikasinya baik sekali. Sehingga kami bisa memantau dengan baik tumbuh kembangnya Reza baik dirumah maupun disekolah.

Lalu ketika hamil Lukman dan kondisi per-asisten-an cukup heboh ketika ia baru lahir, membuat saya lagi-lagi berpikir serius akan berhenti kerja, namun pada akhirnya kami dapat lagi babysitter yang sangat sayang pada anak-anak, dan kondisi dirumah cukup aman terkendali sampai ketika Lukman berumur 2 tahun. Perkembangan wicaranya Lukman yang belum terlihat sampai umurnya 2 tahun membuat kami membawanya ke klinik tumbuh kembang, dan saat itu Lukman di diagnosa speech delay, terlambat bicara. Mulailah hati ini tidak tenang, karena saya tahu untuk kondisi speech delay harus banyak stimulasi dirumah. Saya sudah mulai meragukan, sepertinya kondisi ini sudah bukan area-nya sang babysitter. Tentu saja mereka bisa saya didik untuk bisa menstimulasi, tapi tentunya kemampuannya terbatas.

Ketika dalam kondisi bimbang seperti itu, kebetulan saja dikantor ada perubahan iklim, ada investor baru yang akan masuk menggantikan pemilik lama. Para karyawan diberikan pilihan untuk terus bekerja, atau berhenti. Wah saya langsung diskusi dengan suami, dan dengan persetujuannya saya mengajukan diri untuk berhenti setelah proses pengambil alihan perusahaan selesai. Kira-kira setahun lamanya proses itu berjalan, sehingga saya juga punya cukup waktu untuk mempersiapkan diri betul-betul berhenti dengan baik. Dengan begitu, saat sudah dirumah, tidak ada lagi hal-hal yang perlu saya urus dikantor.

Pada akhirnya keputusan untuk bekerja atau tidak bekerja memang tergantung alasan pribadi masing-masing ibu. Namun yang perlu digaris bawahi adalah, tidak semua ibu yang terpaksa menyerahkan pengasuhan anak pada orang lain bukan karena tidak menyayangi anaknya. Mungkin ini yang harus dijadikan pemikiran sebelum kita memberikan opini.

Kemudian, untuk topik pelajaran, soal ulangan, terutama bagi anak-anak pelajar SD, kita orangtuanya harus ikut membaca dan mengamati isinya. Bukan rahasia lagi dari berita- berita yang beredar belakangan ini bahwa ada beberapa ‘kecolongan’ sehingga materi yang masuk kedalam buku pelajaran tidak sesuai dengan usia siswa. Menurut saya bahkan konsep yang dimasukkan dalam materi ajar juga sudah sepatutnya dinilai kembali kecocokannya dengan apa yang terjadi dalam masyarakat kita. Contohnya seperti konsep “Ayah bekerja, Ibu mengurus rumah” yang tersirat dalam materi IPS kelas satu. Sepertinya konsep seperti ini masih umum berlaku ditahun 60-70-an, tapi tentunya sudah berubah sekarang ini. PR untuk siapa kah ini? Itu yang jadi pertanyaan😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s