What Will I Be

Dalam perjalanan pulang, saya jadi mbatin ‘Siapa yang bisa sangka, Lukman yang di umur 2 tahunnya belum sama sekali bisa bicara, di umur 7 tahunnya bisa berdiri didepan kamera di wawancarai untuk pameran foto-foto hasil karyanya’

Sekitar dua minggu yang lalu Ibu kepala sekolahnya Lukman menanyakan pada kami apakah foto-foto Lukman boleh disertakan dalam pameran yang akan diselenggarakan College of Allied Educators Indonesia (CAE). CAE adalah sebuah lembaga pendidikan yang memberikan pelatihan kepada para orang tua, guru dan pemerhati untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus dalam mendidik dan membantu anak-anak dengan kebutuhan khusus. Pameran dengan tema “What Will I Be” ini diselenggarakan oleh mereka sebagai salah satu kegiatan dalam rangkaian festival kampanye anak  berkebutuhan khusus. Karenanya tentu saja kami langsung setuju, kami senang kalau semakin banyak orang yang aware akan kemampuan anak berkebutuhan khusus, apalagi jadi bertambah banyak yang bisa melihat foto-foto yang dihasilkan Lukman.

Cerita tentang latar belakang dihasilkannya foto-foto Lukman itu pun unik. Tahun yang lalu sekolahnya Lukman mengadakan workshop fotografi . Selain belajar bagaimana memotret dengan baik, anak-anak kelas 1 dan 2 SD ini juga akan mempraktekkan hasil belajar di workshop itu dengan memotret obyek-obyek disekitar sekolah. Hasil pemotretan tersebut lalu dinilai oleh juri berdasarkan pada segi teknis, konsep dan keterkaitan dengan tema. Kami mengikutkan Lukman pada workshop ini karena memang ia sangat suka memotret. Kapanpun ia bisa memegang kamera maupun handphone, ia pasti memotret dengan asik.  Diluar perkiraan kami, foto-foto yang dihasilkan Lukman pada kesempatan workshop tersebut bisa masuk babak final (baca cerita Motret Yuuuk dan Masuk Final!)

Selain foto-foto Lukman, lukisan-lukisan hasil karya teman-teman sekolah Lukman yang mengikuti ekskul Art yang juga ikut serta pada pameran itu. Pamerannya diadakan di Mal Taman Anggrek, selama dua hari Jumat dan Sabtu tanggal 25 dan 26 Mei 2012. Karena ingin datang sekeluarga lengkap maka kami datang di hari Sabtunya.

Kami memang belum pernah datang ke Mal Taman Anggrek sebelumnya karena cukup jauh jaraknya dari rumah. Jadi tidak heran kalau Reza dan Lukman jadi terkagum-kagum melihat mall yang besar itu hehehe. Mulai masuk tempat parkir mobil, sampai masuk ke mall tersebut Lukman tak henti-hentinya mengucap “Subhanallah, besar sekali mall-nya”🙂 Begitu melihat atrium mall tersebut, tidak sengaja kami langsung melihat lokasi pameran, seperti dibawah ini. Setelah memotret pemandangan itu, kami pergi makan dulu karena sudah waktu makan siang. Selesai kami makan, handphone saya berbunyi, rupanya ibu kepala sekolahnya Lukman menanyakan jadikah kami ke MTA. Rupanya dari pihak panitia menanyakan, karena ada yang ingin menginterview anak berkebutuhan khusus yang karyanya dipamerkan.

Ketika kami sampai di lokasi pameran, Lukman langsung melihat foto-fotonya yang memang cukup menyolok diantara karya-karya yang dipamerkan. Ia langsung bilang “Ini foto-fotoku”. Setelah itu kami langsung bertemu panitia yang kemudian mengenalkan kami pada beberapa orang yang sudah menunggu. Rupanya ada reporter untuk TempoTV dan juga reporter dari majalan Superkids Indonesia.

Reporter dari Tempo TV langsung meminta Lukman berpose didepan foto-foto karyanya sambil memegang microphone untuk merekam suaranya. Geli sekali melihat aksi Lukman diwawancara untuk pertama kalinya, kelihatan pede sekali dan cukup banyak bercerita saat ditanyai. Sesudah Lukman selesai bercerita, sang reporter bertanya pada saya apa boleh mewawancara kakak Reza, dan tentu saja kami ijinkan. Rezapun bergaya didepan kamera, kelihatan santai betul karena sudah beberapa kali berkesempatan diwawancara seperti ini, dan… menjawab pertanyaan-pertanyaan sang reporter sambil mengantongi tangannya, gaya sekali😀

 

Selagi Lukman dan Reza diwawancara TempoTV, reporter dari Superkids Indonesia juga menanyai saya tentang Lukman dan foto-fotonya. Lalu wawancara ditutup dengan berfoto dalam berbagai pose. Setelah selesai, kami melihat-lihat karya anak-anak berkebutuhan khusus tersebut. Terharu ya melihat karya-karya yang indah tersebut. Semoga semakin banyak kesempatan bagi mereka berpameran diwaktu yang akan datang. Tidak lama melihat-lihat, Lukman sudah tidak sabar lagi minta turun kelantai dasar, jadi kamipun meninggalkan pameran yang sangat berkesan tersebut.

Hasil wawancara majalah Superkids Indonesia langsung tampil online hari Senin berikutnya. Dibawah ini screen capture dari halaman majalah tersebut.

2 thoughts on “What Will I Be

  1. Terharu sekali melihat perkembangan Lukman sekarang dan kagum sekali dengan kegigihan mba dan keluarga, saya mau cerita agak panjang ni mba, saya baru googling dan nemuin blognya mba tentang Lukman. Anak saya laki2 usia 2 th 3 bln bicaranya masih sedikit sekali : mama, papa, apa, mamam, bibi, dudu, caca, tata tapi belum merujuk kepada arti yang sebenarnya..(suami juga dulu baru lancar bicara usia 3th), saya khawatir apakah hanya speech delay atau ada diagnosis tertentu, anak saya cenderung aktif, kalau sudah mau sesuatu kekeh sekali, tidurnya juga larut malem (paling cepat jam 11 malam), bangun kadang pagi jam 7 atau 8 tapi kadang2 juga bisa lebih pagi sehingga tidur siangnya cukup lama bisa 3-4jam.

    Sampai saat ini masih mencoba telaten ajak ngobrol dan komunikasi 2 arah meskipun kebanyakan dia masih menggunakan bahasa tubuh seperti menunjuk, menarik dll. kebetulan aku tinggal di lampung, aku sudah coba kontak beberapa RS tapi fasilitas terapi wicaranya tidak ada, ada satu RS yang menyediakan terapi wicara tapi harus ambil paket sebulannya sekitar 5jt (include seragam anak), apakah mba ada info / link forum obrolan para orang tua mengenai anak2 speech delay agar saya bisa tau tempat terapi wicara yang ada di lampung? trims

    • Halo mbak Arfi, salam kenal…
      Kalau boleh saya sarankan, sebelum mencari terapis wicara sebaiknya mbak Arfi konsultasi dulu dengan ahli tumbuh kembang anak. Mengambil kesimpulan dari pengalaman saudara dan teman, tidak semua anak speech delay memerlukan di terapi wicara lho mbak. Tentunya tergantung dari kondisi sang anak juga. Kadang keterlambatan bicara bisa dikejar dengan stimulasi yang lebih banyak dari ibu dan orang-orang terdekat dirumah, tapi ada juga yang memang harus di terapi.
      Untuk forum sharing orangtua dengan anak berkebutuhan khusus saat ini saya ikut group LRD MEMBER di facebook. Disini berkumpul orangtua anak berkebutuhan khusus, terapis, ahli, dll yang saling bertukar cerita. Anggotanya berasal dari berbagai daerah, saya yakin ada juga yang dari Lampung. Grup ini terbuka, mbak Arfi bisa lihat-lihat percakapan didalamnya tanpa harus menjadi anggota terlebih dahulu. Semoga info ini bermanfaat ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s