Lukman Berkemah

Bulan yang lalu ada kegiatan seru yang baru pertama kali diadakan disekolah Lukman: berkemah! Kegiatan ini memang sudah direncanakan sejak awal tahun ajaran baru, jadi orangtua pun sudah mengetahui rencana tersebut sejak lama. Namun karena belum pernah ada kegiatan ini sebelumnya, cukup heboh ya perbincangan antar ortu, apalagi kebanyakan murid belum pernah pisah tidur dari orangtuanya.

Saya sendiri cukup tenang, karena Lukman sudah pernah pisah tidur dari Mamanya ketika tahun lalu kakak Reza dirawat dirumah sakit. Ketika itu saya terus menunggui Reza, tidak bisa bergantian karena Papanya juga lagi sibuk sekali pekerjaan dikantor dan tidak bisa cuti. Alhamdulillah karena dukungan orang-orang yang menyayangi Lukman, selama 5 hari berpisah Lukman baik-baik saja, kalau saya kutip menurut ibu Kepala Sekolahnya:  “Walau terlihat kehilangan tapi dia berusaha tegar dan tetap gembira disekolah”.

Karena itu, ‘cuma’ camping satu malam disekolah buat saya tidak masalah. Yakin Lukman akan dijaga dengan baik oleh guru-guru sekolahnya tanpa keraguan saya langsung tandatangan formulir persetujuan mengikuti Persami (Perkemahan Sabtu Minggu) tersebut. Apalagi perkemahan itu juga dikaitkan dengan Earth Hour, sebuah kegiatan global dalam rangka mengurangi pemakaian energi dengan mematikan lampu/listrik selama beberapa jam pada tanggal 31 Maret. Kami sendiri sudah mengikuti kegiatan ini sejak beberapa tahun yang lalu. Membayangkan anak-anak melewati Earth Hour saat berkemah, wah pastinya seru sekali!

Lukman sudah cukup mengerti apa arti kegiatan berkemah. Beberapa film kesukaannya pernah menceritakan episode berkemah, jadi dia sudah cukup paham. Untuk detail kegiatan yang akan diikuti Lukman dibantu pemahamannya baik oleh guru kelas dan juga terapisnya dengan social story. Sehari sebelum berkemah, kebetulan saya berkunjung ke kelas Lukman untuk acara syukuran ulangtahunnya. Di akhir pertemuan hari itu, guru kelasnya Lukman kembali mengingatkan tentang rencana berkemah, bahwa nanti akan ada tenda, acara api unggun, anak-anak akan tidur dengan teman kelompoknya, dan lain-lain. Raut muka anak-anak itu terlihat antusias betul!

Keesokan harinya saya dan Papanya mengantarkan Lukman kesekolah. Wah sudah ada empat tenda yang terpasang rapi. Lukman langsung masuk-masuk kedalam tenda, terlihat senang sekali. Tidak lama acarapun dimulai, kami meninggalkan sekolah walaupun rasanya pingin terus disana, melihat kegiatan yang pastinya seru untuk anak-anak. Demi kemandirian anak, orangtua memang tidak diperkenankan melihat kegiatan, atau ‘menjenguk’ di saat Persami berlangsung.

Namun rasa ingin melihat kegiatan itu terjawab lewat akun twitter dan juga facebook sekolah. Ya, Sekolah Tetum Bunaya menggunakan twitternya ketika melaporkan kegiatan istimewa, baik itu ketika outing seperti saat berkunjung ke Kidzania, dan juga saat berkemah kemarin. “Semangat Persami… Senangnya adik-adik memulai kegiatan dengan menentukan tenda masing-masing” seperti ini lah kalimat demi kalimat dari twitter @tetum yang pastinya ditunggu-tunggu para orangtua. Juga ada beberapa foto kegiatan yang membuat orangtua melihat gembiranya anak-anak itu berkegiatan seperti dibawah ini.

Saya sendiri bisa tidur nyenyak setelah melihat foto dan pesan terakhir, waduuuh bukan main enaknya tidur di alam terbuka, mendengar desiran angin dipohon bambu dan nyanyian jangkrik. Saya bersyukur cuaca malam itu bersahabat, dan anak-anak bisa menikmati udara malam yang cerah.

Suara jangkrik, desis angin, obor di pagar bambu ... menjadi teman bagi mata yang mulai terpejam. Adakah bertemu Bunda di dalam mimpi?

Pagi harinya sudah ada laporan pandangan mata, ketika anak-anak mulai terbangun, ngobrol sambil nge-teh menunggu saatnya shalat Subuh, dilengkapi foto. Saya lihat ada Lukman yang juga sedang menunggu saat shalat, sepertinya baik-baik saja. Tanpa terasa sudah dekat waktu menjemput kesekolah. Sampai disekolah, sudah terlihat Lukman menunggu dihalaman, langsung lari melihat saya dan Papanya datang, langsung memeluk dan digendong Papanya! Hahaha, kangen juga ya semalam saja tidak memeluk badan kecilnya itu🙂

Laporan guru kelasnya membuat kami senang, Lukman bisa mengikuti semua kegiatan dengan semangat. Lukman hanya sedikit takut ketika api unggun dinyalakan, ini bisa dibilang karena dia trauma pada api kompor dirumah. Ketika beberapa minggu sebelum berkemah kompor dirumah rusak, sehingga tiap kali ada makanan menetes, apinya jadi besar sekali dan Lukman selalu panik melihatnya. Walau kompornya sudah kami ganti rupanya ketakutan tersebut masih terbawa ketika berkemah.  Lukman hanya takut sebentar, duduk dibarisan belakang teman-temannya, tapi ketika api mulai membesar, Lukman malah ikut senang seperti teman-temannya.

Ketika terbangun dimalam haripun ketika ada salah satu teman satu tendanya menangis, ia tidak terpengaruh. Tidak rewel, tidak ngompol dan tidak bilang “Kangen Mama”. Hanya satu kegiatan yang Lukman tidak mau ikuti: mandi! Hahaha… Rupanya karena biasa dirumah pakai air hangat setiap kali mandi, air keran disekolah jadi “Dingin sekali!” menurut Lukman (pakai gaya gemeteran saat dia cerita). Yah nggak apa-apa deh, berarti musti dibiasakan agak dingin air mandi dirumah supaya lain kali saat berkemah lagi mau mandi ya nak.

Dalam perjalanan pulang kerumah dimobil Lukman diam saja, tidak banyak cerita. Sampai rumah, sehabis mandi dan minum susu, langsung pulessss tidur, dari sekitar jam 10 pagi sampai jam 4 sore!🙂

2 thoughts on “Lukman Berkemah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s