Berkenalan Dengan Wayang

Pagi hari ketika Lukman masih disekolah handphone saya berbunyi, ada pesan masuk. Rupanya dari bundanya Rakha kakak kelas Lukman yang sedang berada disekolah. Tiap bulan murid sekolah Lukman selalu bergantian menjadi pemimpin dikelas. Dalam periode mereka jadi pemimpin itu ada satu hari dimana orangtuanya berkunjung dan membuat kegiatan bersama teman sekelas anaknya.

Dari status facebooknya bunda Rakha pagi tadi saya tahu Rakha akan mendalang didepan teman-temannya disekolah. Hebat ya, kecil-kecil sudah bisa mendalang. Rakha memang suka sekali menonton pagelaran wayang kulit, dan pada kesempatan kunjungan orangtuanya pagi tadi Rakha beraksi jadi dalang cilik untuk pertama kalinya disekolah. Saya jadi kepingin tahu apa reaksi Lukman, karena bisa dibilang Lukman belum kenal dengan wayang kulit. Pernah sih melihat wayang golek di museum, tapi tentunya beda ya dengan wayang kulit, apalagi ketika wayang tersebut di’hidup’kan oleh sang dalang.

Ternyata Lukman antusias sekali melihat pertunjukan wayang kulit kakak kelasnya itu. Bunda Rakha mengirimkan foto saat Lukman serius sekali memperhatikan Rakha mendalang. Begitu juga ketika Rakha selesai beraksi dan anak-anak diberi kesempatan memainkan wayangnya, Lukman tanpa malu-malu bertanya pada ayah Rakha, melihat peralatan mendalang yang dibawanya itu. Bahkan ia juga mencoba kecrekan yang dimainkan dengan kaki oleh sang dalang.

Yang lucunya, Lukman tidak suka wayang yang berkarakter jahat. Ini diceritakan bunda Rakha, sebagai berikut:

Bunda Rakha: “Mam, Lukman lucuuuu. Dia nggak suka wayang buto”
Mamanya: “Hihihi takut dia? ”
Bunda Rakha: “Aneh dech, Lukman pas banget nggak suka wayang yang jahat. Koq bisa tau. Feeling-nya pas banget”
Mamanya: “Karena bisa lihat tampilan wayangnya? Mukanya merahkah wayang buto atau badannya besar dan perutnya gendut? “
Bunda Rakha: “Kan ada juga yang kecil mukanya baik tapi perannya jahat. Tapi Lukman nggak suka juga katanya. Bilang itu jahat”
Mamanya: “Oooh bisa gitu yah, padahal Lukman belum pernah lihat wayang kulit Bun…”

Ketika selesai acara kunjungan orangtua, Lukman bicara pada ayahnya Rakha sambil memegang salah satu wayang: “Aku suka yang ini, bolehkah ini untuk aku?” dan dengan baiknya ayah Rakha berikan wayang yang dimintanya itu untuk Lukman. Waduuuh mendengar itu saya bilang sama bundanya Rakha nanti akan dikembalikan lagi wayangnya. Tapi bunda Rakha malah bilang “Aku kan sering nonton pagelaran wayang kulit, jadi bisa beli lagi karena Rakha sudah ada langganan tukang wayangnya. Nggak apa-apa Mam, biar Lukman cinta sama wayang”. Waaah baik sekali ya ayah-bundanya Rakha, dan pancingan supaya Lukman cinta wayang itu berhasil sepertinya.

Ketika saya jemput, ibu guru kelasnya Lukman bilang ke saya “Mama Lukman, tadi Lukman bilang: kak Wiwik, bilang Mamaku aku suka mendalang. Aku mau mendalang” Wah… saya jadi senyum mendengarnya. Apalagi Lukman betul-betul senang dengan wayang yang diberikan ayah Rakha itu, tidak mau berpisah walau sebentar. Ketika sebelum pulang kerumah kami mampir ke swalayan untuk beli roti, Lukman ikut turun dengan tetap memegang sang wayang. Jadilah wayang itu ikut berbelanja di swalayan hehe…

Soal wayang yang dipilih Lukman, bunda Rakha bilang: “Lukman pintar deh sukanya sama Ontoseno, ksatria tampan dan sakti anak dari ksatria Pandawa yang bernama Bima. Ontoseno terkenal sifatnya jujur, pemberani, sakti dan sangat berbakti kepada orang tuanya. Walaupun bisa berbahasa krama halus, Ontoseno memakai bahasa Jawa umum karena menganggap semua manusia derajatnya sama dimata Tuhannya. Dan bahasa krama itu untuk jaman dulu hanya di pakai oleh mereka yang berketurunan ningrat. Filosofi wayang sangatlah bagus untuk di pelajari Lukman. Semoga Lukman menikmatinya”.

Hmmm Mamanya jadi kepikiran, hari libur yang akan datang sepertinya musti bikin rencana berkunjung ke Museum Wayang nih. Melihat tampilan website-nya saja, museum ini sepertinya bakal menarik sekali. Hayooo siapa mau ikut?🙂

3 thoughts on “Berkenalan Dengan Wayang

  1. waaah saya terharu sekali lho mbak. anak kecil sudah belajar mencintai kebudayaan negerinya sendiri. Saya ingin juga mengenalkan wayang untuk anak-anak. Kebetulan ayah mertua juga dulu side job nya mendalang🙂 tfs inspiring story…

  2. Iya mbak, kebetulan disekolah Lukman cukup sering ada kegiatan yang membuat muridnya mencintai budaya negeri sendiri. Kakaknya Lukman juga mulai cinta kampung halaman dari kegiatan yg dimulai disekolah tsb, lalu berlanjut dg tanya-tanya & dengar cerita dari neneknya dirumah. Sekarang dia bangga betul jadi ‘anak Minang’🙂 Dimulai dari yang dekat-dekat, dari narasumber sekitar, biasanya para eyang, kakek, nenek jadi narasumber yang top markotop. Apalagi kakek Atar suka mendalang, wah beruntung sekali Atar ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s